Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 83 { Season 2 }


__ADS_3

Flashback on…


Malam itu, ketika hujan


salju perlahan mereda mengingat fajar tak lama lagi tiba dengan sinarnya yang


hangat juga menentramkan hati bagi siapapun yang terpapar oleh sinarnya yang


penuh perhatian itu.


Gadis itu tidak menyangka bahwa


hal sepele seperti itu dengan cepat melahirkan perpisahan tanpa rencana. Kedua


kakinya protes, meminta si majikan untuk mengistirahatkan dirinya di kursi


taman sembari memandang langit malam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca


menampung penyesalan. Gadis itu tidak sendirian. Ditemani teman sekampusnya,


mereka berdua duduk. Suasana diantara mereka canggung sekali. Belum ada satupun


dari mereka yang memiliki nyali untuk mencairkan canggungnya atmosfer itu.


Sampai akhirnya, gadis itu sendiri yang memecahkannya dengan sebuah pertanyaan


yang terlintas begitu saja di benaknya.


“Hei, Morgan… Menurutmu,


diabaikan itu menyakitkan ya?” tanyanya tanpa menoleh sedikitpun. Saat ini,


gadis itu enggan membagikan pandangannya ke berbagai arah kecuali pintu museum yang


telah tertutup dan terkunci. Tadinya, dia dan teman dari dunia fantasinya


berniat mengunjungi museum itu. Sekedar hiburan saja. Namun, sangat disayangkan


bahwa niat mereka harus berakhir dengan perpisahan yang tidak gadis itu sangka.


Gadis itu tidak tahu harus menyalahkan siapa atas apa yang telah menimpanya di


hari senin ini.


“Sakit…” jawab Morgan


singkat.


“Kau benar. Mungkin inilah


kesalahanku padanya. Aku mengabaikannya yang jelas-jelas ingin sekali


mengajakku berjalan-jalan. Maaf, aku tidak bermaksud menyalahkanmu tapi… Inilah


yang kurasakan saat ini. Kau mengerti, kan?”


Morgan mengangguk pelan,


“Ya, aku mengerti. Tapi, perginya Black Aura bukan berarti salahmu. Bisa saja


dia ada urusan mendesak di Carnater. Kita ‘kan’ nggak tahu Aura itu punya saudara


atau tidak.”


“Haa… kalau itu aku jelas


nggak tahu. Aku merasa, nggak berguna saat ini. Yang kulakukan selama ini hanya


menyusahkannya saja. Aku egois ya.” Chloe mendesah pasrah kemudian bangkit dari


kursi taman. “Morgan, aku kedinginan. Bisa temani aku pulang?”


Morgan tersenyum disertai


anggukan kecil. Pria itu ikut bangkit. Dengan lembut menggenggam tangan Chloe


yang kedinginan. “Tanganmu dingin sekali.” Katanya agak terkejut.


“Yah, begitulah…”


Untuk beberapa saat, mereka


membiarkan kesunyian menemani kesendirian mereka. Mereka bersama. Kedua tangan


mereka jelas sekali sedang bergandengan saat ini. Namun, tidak ada suatu


dorongan yang biasanya membuat jantung itu berdegup kencang.


Bosan rasanya menghadap


depan terus, Chloe memilih berjalan dengan kepala yang menunduk ke sepasang


sepatu bootnya sampai dirinya dan Morgan tiba di depan rumah Midnight.


Kebetulan sekali Morgan yang tidak sadar itu melintas di depan rumah Midnight


ditambah dengan Chloe yang cepat bentuk jalan yang berbeda dan juga pot bunga veronica


yang membeku.


“Kita sudah sampai.” Lirih


Chloe. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari kecil menuju pintu masuk rumah


Midnight dan mengetuknya tiga kali.


Tidak perlu menunggu waktu


lama, pintu itu terbuka dengan suara decitan tuanya. Sosok Midnight dengan


kacamata bulatnya terlihat. Berbeda dari biasanya, wajah Midnight


memperlihatkan raut khawatir. Wanita itu melepaskan tangannya dari kenop pintu.


“Lama sekali.” Ucap


Midnight singkat.


Chloe menghela nafas lelah.


“Maaf...”


“Masuklah… Di luar pasti


dingin sekali.” Midnight tidak marah. Dia menggeserkan tubuhnya, memberi ruang


untuk Chloe masuk.


Saat Chloe masuk, mata


Midnight dengan cepat menyadari keberadaan Morgan yang ternyata bersembunyi di

__ADS_1


balik punggung gadis berambut pirang itu. Langkah dan cara dia berdiri terlihat


kaku, sehingga Midinight bisa menebak dengan cepat bahwa pria itu bisa jadi


teman kampus Chloe yang membuat Chloe terpancing untuk terus berbicara


dengannya. Namun, kali ini bukan hal itu yang Midnight pikirkan. Sesuatu yang


menjanggal serta aura yang menguar dari pria bernama Morgan sukses membuat


Midnight mematung di tempat.


Midnight merasa dirinya


pernah bertemu dengan Morgan sebelumnya tapi, dimana? Ditambah lagi, mata pria


itu juga terlihat familiar baginya.


“Kau siapa? Teman Chloe?”


Morgan tersentak begitu


Midnight membicarakannya tanpa permisi. “I-iya… Aku teman sekampus…”


Entah sebab apa yang


membuat perkataan Morgan tertahan di ujung lidahnya begitu kedua matanya


berpapasan langsung dengan iris biru malam Midnight. Sepasang mata yang sudah


lama sekali tidak Morgan lihat. Sekarang, tepat di depan mata kepalanya


sendiri, mata itu terpampang jelas dengan jarak yang tak begitu jauh juga tidak


begitu dekat. Sebuah jarak yang standar mampu membuat Morgan dan Midnight


terjebak dalam lamunan singkat mereka.


Morgan berpikir untuk


sesaat. “Kau…”


“Uhm? Kau mengenalku?”


tanya Midnight main memotong pembicaraan Morgan.


“Eh? Bu-bukan apa-apa…”


Sementara itu, Chloe


melangkah dengan nafas tak stabil. Menaiki beberapa anak tangga dengan terburu-buru


tanpa memperhatikan suara drap! Drap! Yang bisa saja mengganggu sebagian


penghuni rumah yang kala itu tengah menikmati tidur singkat mereka.


Langkah tanpa jeda itu


membawanya ke sebuah kamar yang tertutup rapat pintunya. Kamar itu milik Black


Aura. Sesegera mungkin Chloe membuka pintunya. Sempat tertegun mendapati


pintunya yang ternyata tak terkunci.


“Black Aura?” gumamnya.


Karena pintunya tidak terkunci, Chloe main mendorong pintu dan kosong. Memang


di dalam kamarnya. Hanya ada ranjang yang masih rapi. Rak buku yang tampaknya


jarang disentuh Black Aura juga, jendela yang tertutup rapat.


Chloe menelan salivanya


susah payah. Perasaannya mulai menunjukkan reaksi tidak mengenakan. Suasana dan


hawa yang sunyi hening ini. Chloe memutar kepalanya ke berbagai arah berharap


bisa menemukan sebuah petunjuk akan keberadaan Black Aura namun nihil hasilnya.


Semangatnya menurun. Chloe merasakan sesak di dada.


Tanpa sepengetahuannya, air


matanya telah menggenang. Mungkin saat ini pertahanannya masih kuat. Akan


tetapi, kehadiran Midnight sukses merobohkan pertahanannya.


Di ambang pintu, Midnight


berdiri. Sedari tadi, dia memperhatikan sosok Chloe yang berusaha sekuat


mungkin menahan tangisannya.


“Midnight?” Chloe melirik


ke arah Midnight dengan raut heran ditemani dengan kedua matanya yang


berkaca-kaca. Terus terang, Chloe lelah. Lelah menghadapi keegoisannya dan juga


kesalahan sepele yang ia buat.


Midnight tersenyum tipis.


Dia paham betul apa yang tengah Chloe rasakan saat ini. Sakit. Menyesal. Kedua


kalimat itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaan gadis berambut pirang


tersebut. Dengan berat hati, Midnight terpaksa mengatakan hal yang sebenarnya


meskipun harus mengorbankan beberapa liter tangisan yang tumpah membasahi pipi


Chloe.


“Dia sudah pergi.”


“Eh?”


“Ya. Dia sudah pergi. Dia


pergi lima belas menit yang lalu.” Ulang Midnight datar walau nyatanya, hatinya


juga ikut teriris mengingat permintaan Black Aura yang ingin kembali ke


Carnater dengan membawa secarik kertas yang ia temukan di selipan buku sejarah


temuan Chloe.


Saat itu, Black Aura


meminta Midnight untuk merahasiakan alasan kenapa Black Aura pergi. Aura itu

__ADS_1


tidak ingin gadis kesayangannya terlibat.


“Kemana? Kenapa kau nggak


bilang padaku?” sambar Chloe yang tiba-tiba menghampiri Midnight dengan empat


kali hentakkan kakinya. Wajahnya berubah panik. Hatinya khawatir.


Midnight menghela nafas.


“Jangan khawatir… Dia pasti akan kembali. Dia mendapatkan panggilan mendesak


dari Captain Nica di Carnater sana.” Balas Midnight terpaksa berbohong,


aslinya.


“Beneran, kan? Black Aura


pergi bukan karena diabaikan olehku, kan? Dia pergi karena ada yang meminta


tolong, kan? Bukan karena kemauannya sendiri, kan?”


Chloe bertanya dengan kata


‘kan’ yang masing-masing diberi sedikit penekanan. Sejujurnya, Chloe panik,


menyesal, dan sedih. Tiga hal itu kini bertengkar memperebutkan wilayah agar


bisa menjadi penguasa tanpa perlu membangun istana yang megah di dalam diri


Chloe.


Midnight menangkap beberapa


air mata Chloe berjatuhan membentuk genangan kecil di atas ubin yang dingin


itu. Isak tangisnya membaur dengan keheningan. Oleh sebab itulah tidak ada


satupun yang menyadari suara tangis tersebut kecuali Midnight yang berada di


dekatnya.


“Haah… Chloe, Chloe. Tentu


saja dia pergi bukan karena terabaikan. Ada panggilan mendesak dari salah satu


anggota kami. Dia membutuhkan Black Aura untuk mengalahkan pasukan Legend Aura.


Jangan sedih, dia pasti akan kembali.” Jelasnya meski menyembunyikan fakta


bahwa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan.


Chloe akhirnya bisa


bernafas lega. Dia sungguh tidak peka. Dirinya tanpa sadar telah termakan


kata-kata Midnight yang lembut. Kemudian, dia bertanya dengan senyuman polosnya


yang kembali terpahat di wajahnya.


“Jadi, kapan Black Aura


akan kembali? Kumohon, bilang padanya, jangan lama-lama kali di Carnater.”


Pinta Chloe memelas.


Midnight mendengus geli,


“Tentu saja! Akan kulakukan tapi…” dia menjeda omongannya sambil melangkah


mendekati Chloe. “Kalau semuanya tidak sesuai dengan ekspentasimu, jangan


pernah menyalahkan dirimu ataupun hubunganmu dengan Black Aura. Aku sudah


mengatakannya pada Aoi. Hubungan kalian ini bukan ikatan biasa. Bukan seperti


kau dan Aoi bersahabat. Kalau aku boleh tanya, sebenarnya kau menganggap Black


Aura itu apa? Aku yakin, kau pasti sudah lupa siapa aslinya Black Aura itu.”


beber Midnight diakhiri dengan seringainya. Wanita itu berusaha menjauhkan


Chloe dari topic tentang perginya Black Aura. Dia berharap, dengan cara ini


dirinya bisa menemukan penyebab awal masalah ini berlangsung hingga menyebabkan


Black Aura merasa lelah dan terabaikan.


“Eh? Apa maksudmu Midnight?


Kenapa tiba-tiba ngarah ke bagian serius? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan


dariku? Jangan bilang, Black Aura pergi atas dasar kemauannya sendiri? Kumohon,


jawab pertanyaanku dengan jujur!”


“Haaa… Aku Cuma penasaran.


Ikatan kalian itu tidak biasa. Kau manusia dan dia ras Aura. Makanya, jawab


pertanyaanku dulu, sebenarnya hubunganmu dengan Black Aura itu sudah sampai


mana? Teman kah? Teman dekat kah? Beritahu aku!”


Setelah mendengar


pertanyaan Midnight, barulah Chloe terdiam. Menganai ikatannya dengan Black


Aura hingga saat ini Chloe masih tidak tahu harus menganggapnya sebagai apa.


Teman? Tapi, mereka sudah saling menyukai. Kalau pacar, keduanya masih ragu


ingin menyetujuinya. Jadi apa?


“Kalau itu sih… Aku masih


nggak tahu. Tapi, aku pastikan, setelah Black Aura kembali nanti tentunya! Akan


kujawab pertanyaanmu!” ucap Chloe mantap.


Benar saja, kelemahan gadis


itu ada pada perhatiannya yang mudah sekali teralihkan oleh hal lain. Dengan


begitu, Midngiht bisa memahami awalan dari konflik yang menyebabkan Black Aura


merasa lelah dan terabaikan dari pagi hingga malam ini.


Oh, jadi begitu rupanya…


flashback {off}

__ADS_1


~


__ADS_2