
Flashback on…
Malam itu, ketika hujan
salju perlahan mereda mengingat fajar tak lama lagi tiba dengan sinarnya yang
hangat juga menentramkan hati bagi siapapun yang terpapar oleh sinarnya yang
penuh perhatian itu.
Gadis itu tidak menyangka bahwa
hal sepele seperti itu dengan cepat melahirkan perpisahan tanpa rencana. Kedua
kakinya protes, meminta si majikan untuk mengistirahatkan dirinya di kursi
taman sembari memandang langit malam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca
menampung penyesalan. Gadis itu tidak sendirian. Ditemani teman sekampusnya,
mereka berdua duduk. Suasana diantara mereka canggung sekali. Belum ada satupun
dari mereka yang memiliki nyali untuk mencairkan canggungnya atmosfer itu.
Sampai akhirnya, gadis itu sendiri yang memecahkannya dengan sebuah pertanyaan
yang terlintas begitu saja di benaknya.
“Hei, Morgan… Menurutmu,
diabaikan itu menyakitkan ya?” tanyanya tanpa menoleh sedikitpun. Saat ini,
gadis itu enggan membagikan pandangannya ke berbagai arah kecuali pintu museum yang
telah tertutup dan terkunci. Tadinya, dia dan teman dari dunia fantasinya
berniat mengunjungi museum itu. Sekedar hiburan saja. Namun, sangat disayangkan
bahwa niat mereka harus berakhir dengan perpisahan yang tidak gadis itu sangka.
Gadis itu tidak tahu harus menyalahkan siapa atas apa yang telah menimpanya di
hari senin ini.
“Sakit…” jawab Morgan
singkat.
“Kau benar. Mungkin inilah
kesalahanku padanya. Aku mengabaikannya yang jelas-jelas ingin sekali
mengajakku berjalan-jalan. Maaf, aku tidak bermaksud menyalahkanmu tapi… Inilah
yang kurasakan saat ini. Kau mengerti, kan?”
Morgan mengangguk pelan,
“Ya, aku mengerti. Tapi, perginya Black Aura bukan berarti salahmu. Bisa saja
dia ada urusan mendesak di Carnater. Kita ‘kan’ nggak tahu Aura itu punya saudara
atau tidak.”
“Haa… kalau itu aku jelas
nggak tahu. Aku merasa, nggak berguna saat ini. Yang kulakukan selama ini hanya
menyusahkannya saja. Aku egois ya.” Chloe mendesah pasrah kemudian bangkit dari
kursi taman. “Morgan, aku kedinginan. Bisa temani aku pulang?”
Morgan tersenyum disertai
anggukan kecil. Pria itu ikut bangkit. Dengan lembut menggenggam tangan Chloe
yang kedinginan. “Tanganmu dingin sekali.” Katanya agak terkejut.
“Yah, begitulah…”
Untuk beberapa saat, mereka
membiarkan kesunyian menemani kesendirian mereka. Mereka bersama. Kedua tangan
mereka jelas sekali sedang bergandengan saat ini. Namun, tidak ada suatu
dorongan yang biasanya membuat jantung itu berdegup kencang.
Bosan rasanya menghadap
depan terus, Chloe memilih berjalan dengan kepala yang menunduk ke sepasang
sepatu bootnya sampai dirinya dan Morgan tiba di depan rumah Midnight.
Kebetulan sekali Morgan yang tidak sadar itu melintas di depan rumah Midnight
ditambah dengan Chloe yang cepat bentuk jalan yang berbeda dan juga pot bunga veronica
yang membeku.
“Kita sudah sampai.” Lirih
Chloe. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari kecil menuju pintu masuk rumah
Midnight dan mengetuknya tiga kali.
Tidak perlu menunggu waktu
lama, pintu itu terbuka dengan suara decitan tuanya. Sosok Midnight dengan
kacamata bulatnya terlihat. Berbeda dari biasanya, wajah Midnight
memperlihatkan raut khawatir. Wanita itu melepaskan tangannya dari kenop pintu.
“Lama sekali.” Ucap
Midnight singkat.
Chloe menghela nafas lelah.
“Maaf...”
“Masuklah… Di luar pasti
dingin sekali.” Midnight tidak marah. Dia menggeserkan tubuhnya, memberi ruang
untuk Chloe masuk.
Saat Chloe masuk, mata
Midnight dengan cepat menyadari keberadaan Morgan yang ternyata bersembunyi di
__ADS_1
balik punggung gadis berambut pirang itu. Langkah dan cara dia berdiri terlihat
kaku, sehingga Midinight bisa menebak dengan cepat bahwa pria itu bisa jadi
teman kampus Chloe yang membuat Chloe terpancing untuk terus berbicara
dengannya. Namun, kali ini bukan hal itu yang Midnight pikirkan. Sesuatu yang
menjanggal serta aura yang menguar dari pria bernama Morgan sukses membuat
Midnight mematung di tempat.
Midnight merasa dirinya
pernah bertemu dengan Morgan sebelumnya tapi, dimana? Ditambah lagi, mata pria
itu juga terlihat familiar baginya.
“Kau siapa? Teman Chloe?”
Morgan tersentak begitu
Midnight membicarakannya tanpa permisi. “I-iya… Aku teman sekampus…”
Entah sebab apa yang
membuat perkataan Morgan tertahan di ujung lidahnya begitu kedua matanya
berpapasan langsung dengan iris biru malam Midnight. Sepasang mata yang sudah
lama sekali tidak Morgan lihat. Sekarang, tepat di depan mata kepalanya
sendiri, mata itu terpampang jelas dengan jarak yang tak begitu jauh juga tidak
begitu dekat. Sebuah jarak yang standar mampu membuat Morgan dan Midnight
terjebak dalam lamunan singkat mereka.
Morgan berpikir untuk
sesaat. “Kau…”
“Uhm? Kau mengenalku?”
tanya Midnight main memotong pembicaraan Morgan.
“Eh? Bu-bukan apa-apa…”
Sementara itu, Chloe
melangkah dengan nafas tak stabil. Menaiki beberapa anak tangga dengan terburu-buru
tanpa memperhatikan suara drap! Drap! Yang bisa saja mengganggu sebagian
penghuni rumah yang kala itu tengah menikmati tidur singkat mereka.
Langkah tanpa jeda itu
membawanya ke sebuah kamar yang tertutup rapat pintunya. Kamar itu milik Black
Aura. Sesegera mungkin Chloe membuka pintunya. Sempat tertegun mendapati
pintunya yang ternyata tak terkunci.
“Black Aura?” gumamnya.
Karena pintunya tidak terkunci, Chloe main mendorong pintu dan kosong. Memang
di dalam kamarnya. Hanya ada ranjang yang masih rapi. Rak buku yang tampaknya
jarang disentuh Black Aura juga, jendela yang tertutup rapat.
Chloe menelan salivanya
susah payah. Perasaannya mulai menunjukkan reaksi tidak mengenakan. Suasana dan
hawa yang sunyi hening ini. Chloe memutar kepalanya ke berbagai arah berharap
bisa menemukan sebuah petunjuk akan keberadaan Black Aura namun nihil hasilnya.
Semangatnya menurun. Chloe merasakan sesak di dada.
Tanpa sepengetahuannya, air
matanya telah menggenang. Mungkin saat ini pertahanannya masih kuat. Akan
tetapi, kehadiran Midnight sukses merobohkan pertahanannya.
Di ambang pintu, Midnight
berdiri. Sedari tadi, dia memperhatikan sosok Chloe yang berusaha sekuat
mungkin menahan tangisannya.
“Midnight?” Chloe melirik
ke arah Midnight dengan raut heran ditemani dengan kedua matanya yang
berkaca-kaca. Terus terang, Chloe lelah. Lelah menghadapi keegoisannya dan juga
kesalahan sepele yang ia buat.
Midnight tersenyum tipis.
Dia paham betul apa yang tengah Chloe rasakan saat ini. Sakit. Menyesal. Kedua
kalimat itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaan gadis berambut pirang
tersebut. Dengan berat hati, Midnight terpaksa mengatakan hal yang sebenarnya
meskipun harus mengorbankan beberapa liter tangisan yang tumpah membasahi pipi
Chloe.
“Dia sudah pergi.”
“Eh?”
“Ya. Dia sudah pergi. Dia
pergi lima belas menit yang lalu.” Ulang Midnight datar walau nyatanya, hatinya
juga ikut teriris mengingat permintaan Black Aura yang ingin kembali ke
Carnater dengan membawa secarik kertas yang ia temukan di selipan buku sejarah
temuan Chloe.
Saat itu, Black Aura
meminta Midnight untuk merahasiakan alasan kenapa Black Aura pergi. Aura itu
__ADS_1
tidak ingin gadis kesayangannya terlibat.
“Kemana? Kenapa kau nggak
bilang padaku?” sambar Chloe yang tiba-tiba menghampiri Midnight dengan empat
kali hentakkan kakinya. Wajahnya berubah panik. Hatinya khawatir.
Midnight menghela nafas.
“Jangan khawatir… Dia pasti akan kembali. Dia mendapatkan panggilan mendesak
dari Captain Nica di Carnater sana.” Balas Midnight terpaksa berbohong,
aslinya.
“Beneran, kan? Black Aura
pergi bukan karena diabaikan olehku, kan? Dia pergi karena ada yang meminta
tolong, kan? Bukan karena kemauannya sendiri, kan?”
Chloe bertanya dengan kata
‘kan’ yang masing-masing diberi sedikit penekanan. Sejujurnya, Chloe panik,
menyesal, dan sedih. Tiga hal itu kini bertengkar memperebutkan wilayah agar
bisa menjadi penguasa tanpa perlu membangun istana yang megah di dalam diri
Chloe.
Midnight menangkap beberapa
air mata Chloe berjatuhan membentuk genangan kecil di atas ubin yang dingin
itu. Isak tangisnya membaur dengan keheningan. Oleh sebab itulah tidak ada
satupun yang menyadari suara tangis tersebut kecuali Midnight yang berada di
dekatnya.
“Haah… Chloe, Chloe. Tentu
saja dia pergi bukan karena terabaikan. Ada panggilan mendesak dari salah satu
anggota kami. Dia membutuhkan Black Aura untuk mengalahkan pasukan Legend Aura.
Jangan sedih, dia pasti akan kembali.” Jelasnya meski menyembunyikan fakta
bahwa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan.
Chloe akhirnya bisa
bernafas lega. Dia sungguh tidak peka. Dirinya tanpa sadar telah termakan
kata-kata Midnight yang lembut. Kemudian, dia bertanya dengan senyuman polosnya
yang kembali terpahat di wajahnya.
“Jadi, kapan Black Aura
akan kembali? Kumohon, bilang padanya, jangan lama-lama kali di Carnater.”
Pinta Chloe memelas.
Midnight mendengus geli,
“Tentu saja! Akan kulakukan tapi…” dia menjeda omongannya sambil melangkah
mendekati Chloe. “Kalau semuanya tidak sesuai dengan ekspentasimu, jangan
pernah menyalahkan dirimu ataupun hubunganmu dengan Black Aura. Aku sudah
mengatakannya pada Aoi. Hubungan kalian ini bukan ikatan biasa. Bukan seperti
kau dan Aoi bersahabat. Kalau aku boleh tanya, sebenarnya kau menganggap Black
Aura itu apa? Aku yakin, kau pasti sudah lupa siapa aslinya Black Aura itu.”
beber Midnight diakhiri dengan seringainya. Wanita itu berusaha menjauhkan
Chloe dari topic tentang perginya Black Aura. Dia berharap, dengan cara ini
dirinya bisa menemukan penyebab awal masalah ini berlangsung hingga menyebabkan
Black Aura merasa lelah dan terabaikan.
“Eh? Apa maksudmu Midnight?
Kenapa tiba-tiba ngarah ke bagian serius? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan
dariku? Jangan bilang, Black Aura pergi atas dasar kemauannya sendiri? Kumohon,
jawab pertanyaanku dengan jujur!”
“Haaa… Aku Cuma penasaran.
Ikatan kalian itu tidak biasa. Kau manusia dan dia ras Aura. Makanya, jawab
pertanyaanku dulu, sebenarnya hubunganmu dengan Black Aura itu sudah sampai
mana? Teman kah? Teman dekat kah? Beritahu aku!”
Setelah mendengar
pertanyaan Midnight, barulah Chloe terdiam. Menganai ikatannya dengan Black
Aura hingga saat ini Chloe masih tidak tahu harus menganggapnya sebagai apa.
Teman? Tapi, mereka sudah saling menyukai. Kalau pacar, keduanya masih ragu
ingin menyetujuinya. Jadi apa?
“Kalau itu sih… Aku masih
nggak tahu. Tapi, aku pastikan, setelah Black Aura kembali nanti tentunya! Akan
kujawab pertanyaanmu!” ucap Chloe mantap.
Benar saja, kelemahan gadis
itu ada pada perhatiannya yang mudah sekali teralihkan oleh hal lain. Dengan
begitu, Midngiht bisa memahami awalan dari konflik yang menyebabkan Black Aura
merasa lelah dan terabaikan dari pagi hingga malam ini.
Oh, jadi begitu rupanya…
flashback {off}
__ADS_1
~