
“Hey, kalian…” Dark Sport dan seluruh anggota Legend Aura itu menoleh ke arah Yuuki yang sedari tadi duduk merenung di samping jendela. Kepalanya menghadap ke luar yang hanya menampilkan pemandangan gedung-gedung.
Wajah Yuuki belakangan ini terlihat kelelahan lantaran berkeliling ke berbagai Negara hanya demi mencari perempuan berkacamata yang ia temui di café dua tahun yang lalu. Kenyataan dirinya memiliki seorang pacar yang benar-benar mencintainya begitu cepat terhapus dari benaknya oleh kecantikan perempuan berkacamata bulat itu .
“Kenapa Yuuki?” balas Dark Flower.
Di dalam ruangan Yuuki yang mewah, berkumpulah seluruh Legend Aura dengan berbagai kesibukan yang mereka jalani. Dari semua Aura, hanya Aurora-lah yang terlihat jarang sekali meninggalkan pekerjaannya yaitu meneliti, menonton video pengamatan dari ponsel Yuuki, dan membuat senjata-senjata yang sekiranya berguna digunakan untuk bertarung nanti.
Tidak ada respon apapun dari Aurora selain tatapan yang melirik singkat kearah Yuuki.
“Aku… Bingung kenapa Carmine bisa ada di sana dan…Kau tahu? Perasaan ini membuatku tak stabil. Aku yang nggak pernah membunuh orang jadi bisa membunuh karena jatuh cinta. Tapi… Kenapa wajah Midnight itu kesannya kayak dia pernah bertemu denganku? Dia mengenalku bahkan merek kopi kesukaanku. Dia tahu kalau aku suka volley…” Yuuki menunduk. Perasaan menyesal dan sedih itu mengusik pikirannya setiap kali ia mengingat tatapan marah yang Midnight arahkan padanya. Meskipun tahu gadis itu membenci dirinya, Yuuki tetap bersikeras mengejarnya sampai gadis itu berubah pikiran dan beralih padanya.
“Mungkin, dia teman sekelasmu?” tebak Dark Sport asal.
“Teman sekelas? Tapi, di kelasku nggak ada yang secantik dia. Bahkan Emma sendiri nomor dua di bawah dia. Huh… Sulit sekali ya,kalau udah ngerasain yang namanya jatuh cinta,” keluh Yuuki. Pria itu bangkit dari tempat duduknya menghampiri pintu luar. “Aku pergi dulu.”
“Hati-hati…”
Pintu ruang itu tertutup. Barulah Aurora menghentikan aktivitasnya dan beralih ke pintu yang baru saja Yuuki tutup itu.
“Kalau Yuuki udah ngomong gitu, otomatis yang dia inginkan jelas,” Dark Sport membuka suaranya selang beberapa menit kemudian.
“Ya, dia menginginkan Midnight. Meskipun aku rasa itu mustahil. Aku Aura. Tapi, aku paham sedikit masalah yang Yuuki alami ini,”timpal Huke. “Kalau mau mendapatkan Midnight, kita mau nggak mau harus bertarung dengan Megaville.”
“Haah… Susah juga ya…”
Di tengah basa-basi grup-nya, Aurora bangkit. Pergerakannya mengundang tanda tanya anggotanya.
“Kenapa Aurora? Tumben sekali,” celetuk Dark Sport.
Aurora diam. Dia menghampiri foto Midnight yang Yuuki jepret diam-diam.
“Perasaanku nggak enak,” katanya dengan suara datar.
~
Chloe berlari menghindari pohon-pohon yang berdiri di hadapannya. Mencari Black Aura yang terlempar ke daerah yang lumayan dekat dengan sungai. Jacqueline menyusul di belakangnya.
“Dia nggak ngejar lagi kan?” tanya Chloe sambil sesekali menoleh ke belakang tapi tidak menemukan keberadaan Aurora di sana. Gadis itu tahu betul kemampuan Aurora yang memanipulasi kesadaran orang. Karena itulah, Chloe berusaha sebisa mungkin agar tidak melamun.
“Nggak. Ish! Kenapa harus pacarku juga yang dia rasuki?!” geram Jacqueline. Di tengah jalan, dia menemukan batu. Dengan kekesalan yang sudah tak sanggup ia bending, Jacqueline pun menendang batu tersebut sejauh yang tendangannya mau. “SIAL!!”
Batu itu terlempar, memantul dari pohon A, B, C, dan seterusnya. Sampai sudah ditentukan tujuan terakhirnya yaitu pipi Black Aura yang kala itu tengah berjalan mencari Chloe dengan susah payah.
Batu itu menghantam persis di pipi Black Aura dan…
“Astaga!” Jacqueline membeku di tempat mengetahui perbuatannya itu malah membuat orang lain terluka parah.
Chloe yang berdiri tak jauh dari Black Aura yang baru saja tumbang karena rasa sakit di batu itu dengan cepat menjalar sekaligus menyiksanya. Aura itu tak sadarkan diri untuk beberapa saat sebelum akhirnya dipaksa bangun oleh Chloe yang panik.
“Aura! Oi, Black Aura, bangun!” seru Chloe sambil mengguncang kasar tubuh Black Aura. Gadis itu juga menemukan memar di pipi kanan Aura itu. Dengan segera, Chloe merogoh saku celananya dan menemukan hansaplast. Sayang, ukurannya yang kecil itu tak sanggup menutupi luka lebar tersebut.
“Aaa, Black Aura! Sorry! Sumpah, aku nggak sengaja nendang batu tadi!” Jacqueline terus memohon. Perasaan kesal itu disingkirkan dengan cepat oleh perasaan bersalah yang mendominasi hatinya.
Black Aura membuka kedua matanya perlahan. Rasa sakit dan nyeri di kepalanya membuat Aura itu kesulitan bergerak. Suara tadi yang ia rasa milik Chloe perlahan-lahan menjadi ocehan Jacqueline.
__ADS_1
“Ugh… Chloe…?” gumam Black Aura. Tubuhnya benar-benar lemah sekarang. Mau bangun saja tidak sanggup apalagi membuka matanya. Benturan batu itu tidak seberapa baginya. Namun, orang yang menendang batu itu membuat rasa sakitnya menjadi dua kali lipat. Mengingat Jacqueline itu manusia dan kelemahan terbesar Aura adalah serangan manusia itu sendiri. Baik sengaja atau tidak, serangan mereka cukup kuat menumbangkan Aura kejam sepertinya.
“Aku disini! Kau nggak papa kan? Astaga, makanya! Kalau nendang batu itu jangan asal nendang! Pikirkan juga kekuatan dan siapa saja yang akan terkena batumu ini!” omel Chloe frustasi.
“Maaf-lah! Nggak sengaja aku tuh!”
“Aku tahu. Tapi kan…”
Omongan Chloe terjeda oleh genggaman erat Black Aura di lengan kanannya. Akhirnya, Black Aura bisa membuka matanya lalu tersenyum tipis pada Chloe.
“Cukup kelahinya, Aku baik-baik saja,” kata Black Aura lemah.
Seketika, panik yang mengambil alih pikiran mereka menghilang begitu mengetahui bahwa Aura bermanik violet itu baik-baik saja. Jacqueline menghela nafas lega seraya mengucapkan permintaan maafnya.
“Maaf ya, sekali lagi.”
“Nggak papa. Sekarang, Aoi dimana?” tanya Black Aura memaksakan dirinya untuk bangun. Dibantu Chloe, Aura itu pada akhirnya bisa berdiri walau agak sedikit membungkuk karena luka yang ia alami dan kedua kakinya yang bergetar.
Chloe khawatir dengan kondisi Black Aura. Gadis itu mengusap pipi Black Aura dengan lembut. Berharap rasa sakitnya itu bisa teratasi dengan belaian tersebut. “Sudah mendingan?”
Black Aura tersenyum mengangguk. “Terima kasih.”
Ketiga remaja itu kemudian berjalan mencari Aurora. Sudah dua menit lebih Aurora menghilang membawa tubuh Aoi. Hal itu menambah kekhawatiran Jacqueline. Semakin menjadi-jadi rasa tersebut. Jacqueline menghampiri Black Aura, kemudian menangkup tangan kanan Aura itu.
“Kumohon, selamatkan Aoi!” pintanya dengan raut memelas.
Black Aura diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum mengangguk. “Kalau gitu, aku langsung kesana saja ya! Kalian ikuti saja arahan dariku dan jangan menyerang Aurora dulu. Tunggu sampai aku memisahkan dia dari Aoi,” jelasnya.
“Baik!” balas Chloe bersemangat.
“Apa?!”
“Jangan bilang?” Black Aura menoleh ke arah Jacqueline spontan. Perasaan tak enak menyerbunya bersamaan dengan pisau-pisau milik Aurora.
Sebelum pisau itu melukai dirinya dan Chloe, Black Aura segera menukarnya dengan daun-daun yang rontok dari pepohonan tak jauh dari posisi mereka saat ini. Alhasil, terselamatkanlah nyawa mereka dari serangan mematikan Aurora.
Benar-benar, Aura itu. kemampuannya hanya satu tapi sangat merepotkan. Black Aura terpaksa memutar otaknya mencari cara membunuh Aurora. Selain membunuh, Black Aura juga merasakan ada yang aneh dengan Aurora. Keberadaan dan keinginan membunuh Aura itu sangat kental. Bahkan melebihi dirinya. Aura itu seakan memiliki rencana rahasia dibalik gelak tawa liciknya dan taktik bertarung dia memisahkan mereka dengan Midnight.
Nggak… Nggak mungkin dia dikendalikan orang lain. Tawanya, cara dia bertarung itu… Sudah jelas itu dirinya.
“Black Aura! Jangan melamun!”
Teriak Chloe sukses memecahkan Black Aura dari lamunannya. Aura itu spontan menoleh ke atas, lalu menghindar dari wilayah tersebut mengetahui Jacqueline ternyata berada di atasnya dan hendak melayang palu ke arahnya.
“AHAHAHAHAHA!” Aurora meninju berulang kali kepalanya dengan kepalannya tangan yang sangat kuat itu. Dia beralih mengejar Black Aura sambil membanting permukaan palunya ke berbagai pohon berharap salah satunya bisa memblokir pergerakan Black Aura dengan cara menimpa Aura itu.
“BUAT AKU PUAS, AURA!” suara Jacqueline menggema did ala hutan yang tenang itu. Teriakan itu entah kenapa memiliki tanda kutip dibaliknya.
Sebuah tetesan air mata tertangkap jelas saat Chloe berkedip. Wajah Jacqueline sembab tanpa disadari Aura itu. Hal itu membuat Chloe berasumsi kalau Aurora yang mereka hadapi ini sedang menghadapi sesuatu yang tidak beres namun tidak bisa ia katakan karena ada sesuatu yang berusaha membungkam mulutnya.
Chloe ingat sekali bagaimana semburan tawa Aurora waktu merasuki dirinya. Dia tertawa lepas seolah tidak memiliki beban apapun. Dia menghajar Black Aura dengan bebas dan merasa puas dengan cepat.
Chloe memejamkan matanya, bertelepati dengan Black Aura. “Black Aura, kurasa Aurora yang kita lawan ini…”
“Aku tahu, dia dikendalikan seseorang diluar sana,”balas Black Aura yang masih sibuk menangkis pisau-pisau Aurora.
__ADS_1
“Kita harus bagaimana, Black Aura?”
Belum ada jawaban apapun dari Black Aura. Chloe mengernyitkan bingung. Di saat bersamaan, Aoi berhasil menyusul gadis itu dengan alunan nafasnya yang tidak stabil. Bagaikan berlari mengejar maling menggunakan kaki. Sudah jelas rasa lelahnya sudah tak terbendung lagi dan kaki pun protes ingin beristirahat.
“Chloe! Jacqueline kerasukan dia...?”
Aoi terdiam mendadak saatChloe memperlihatkannya jari telunjuk di depan bibirnya. Isyarat tanpa suara yang langsung membungkam mulut Aoi. Aoi mengerti dan memilih untuk menunggu Chloe menyelesaikan urusannya di dalam pikirannya.
“Aurora biar aku saja yang urus. Karena rencana kita udah terbaca Aurora duluan, kita pakai rencana B. Chloe, kau dan Aoi segera menjauh dari tempatku bertarung dan cari ibuku! Dia ada di hutan yang sama dengan kita,”jelas Black Aura.
“Lah? Kau sendirian?”
“Jangan khawatirkan aku. Aku bisa mengatasinya. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan juga pada Aurora secara privat.”
Chloe menghela nafas sambil menggeleng kepalanya.“Baiklah… Tapi janji! Habis bertarung langsung nyusul aku ya!”
“Iya! Nggak perlu diingatkan aku juga tahu!”
Chloe terkekeh. “Nanti kita ketemu lagi. Hati-hati…”
Sambungan mereka akhirnya terputus. Masing-masing kembali pada urusannya sendiri seperti Chloe yang mengajak Aoi yang panik untuk segera menjauh dari wilayah berbahaya tersebut dan Black Aura yang berusaha melepaskan benang merah yang menjadi alasan kenapa Aura itu sedikit berubah sikapnya.
Black Aura mendongakkan kepalanya ke langit yang tertutupi oleh lebatnya dedaunan di pohon-pohon yang berdiri di sekitarnya.
Suara angin yang biasa datang menemani waktunya bertarung itu tak terdengar sedikitpun. Seakan keberadaannya di dunia telah dilenyapkan. Black Aura menoleh sejenak ke belakang. Lagi-lagi terbelalak menanggapi ujung pedang Aurora yang tak lama lagi akan menusuknya.
Trang!
Pedang itu terlempar setelah Black Aura menangkisnya dengan sabit. Manik violetnya menatap dengan datar wajah Jacqueline yang sembab. Air mata itu bukan berasal dari Jacqueline melainkan rasa sakit Aurora.
“Sebenarnya bukan keinginanmu, kan?” tanya Black Aura kemudian.
Seketika, pergerakan Aurora terhenti. Tangan yang hendak melayang ke depan bersamaan dengan pedang itu berhenti di atas kepalanya.
“Apa maksudmu?” balas Aurora balik bertanya. Air matanya terus mengalir. Tak jauh beda dengan Lady Asoka menurut Black Aura pribadi.
Black Aura tersenyum tipis. Senyuman yang tidak sama sekali mengandung sisi jahat di dalamnya. Black Aura telah berubah. Keberadaan Chloe di sisinya yang mendorong Black Aura untuk perlahan-lahan mencoba menjadi Aura yang baik, memahami perasaan orang lain, dan terbuka.
“Pasti ada yang ingin kau katakan, bukan?” Black Aura mendekati Aurora yang kini memasang raut ketakutan.
Tubuh Aurora gemetar hebat. Tangisannya pecah tapi tidak pada isak tangisnya. Pedang yang digenggamnya itu jatuh di samping sepatu Black Aura. Entah kenapa, dia takut. Ketakutan yang polos sehingga membuatnya bingung dari mana asal ketakutan itu.
“Kau mau ngapain? Heh?” Aurora membelalakkan matanya tak percaya mendapati dirinya yang tersegel oleh tulisan mantra yang memblokir pergerakannya. “Sejak kapan?”
Belum cukup dengan mantra, Black Aura mencengkram lengan Aurora kemudian menarik arwahnya keluar dari tubuh Jacqueline. Dengan cara itu, Jacqueline akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri. Gadis itu nyaris tumbang tapi beruntunglah, Black Aura bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh menghantam permukaan tanah dengan ribuan kerikil di atasnya.
“Aura? Aku… Aku kenapa tadi?” Jacqueline yang setengah sadar itu melirik sekitarnya. Matanya seakan berkunang-kunang.
“Diam dan duduklah. Nanti akan ku jelaskan semuanya,” balas Black Aura seraya menyadarkan Jacqueline di salah satu pohon.
Sekarang, giliran Aurora yang harus Black Aura selesaikan masalahnya. Manik violetnya tidak sengaja menangkap keberadaan benang merah yang melilit pergelangan kanan Aura itu. Tanpa pikir panjang, Black Aura memotong benang itu hingga terputus dari Aurora.
“Kau aman sekarang, Aurora…” bisik Black Aura, lalu tersenyum lega.
~
__ADS_1