Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 198 {Season 2: Serasa Milik Mereka}


__ADS_3

Midnight menghentikan langkahnya. Setelah menempuh beberapa kilometer area kota yang dipenuhi oleh kesibukan, wanita itu menyempatkan dirinya untuk beristirahat sejenak. Devil Mask dan Yumi yang semula menemaninya ia suruh untuk pergi mencari Elena.


Mendadak sekali pikirannya menjadi kosong. Midnight merasa, hati serta pikirannya hampa. Seolah, kesepian yang polos itu bisa kapan saja merenggut bagian terpenting perasaannya. Bagus jika hanya numpang, andaikata kesepian itu sampai membujuknya untuk mengakhiri hidup, itu malah lain lagi ceritanya.


Midnight menghela nafas berat. Tak peduli sekuat apapun dirinya bisa mengalahkan para Aura, percuma saja jika kemampuannya itu tidak bisa ia gunakan untuk melindungi orang yang dia sayangi.


“Habis ini… Cari Elena. Ck… Pasangan itu sama aja! Yang satu mengincar aku, yang satu mau repotin aku. Mau sampai kapan sih, hidupku gini terus?” kesal Midnight. Sejenak, dia mengambil tiga menit untuk merenung.


Apa sejak awal… Sebaiknya aku mati aja ya? Tapi…


Layaknya daun yang tertiup angin, masa lalu dimana tangannya digenggam erat oleh Aura yang tidak ingin melihatnya mati tenggelam di dalam sungai dan membeku. Memang, waktu itu musim salju. Malam itu sangat dingin dan hanya sebagian orang yang mau beraktivitas di luar. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kalau jalan raya atau jembatan di sana sepi, kan? Terlebih lagi di jam dua belas malam.


Kesempatan yang besar untuk Midnight mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, seseorang yang tidak ia sangka berasal dari dunia lain itu justru yang menghalanginya untuk mengakhiri hidup.


Midnight masih ingat kalimat yang dia ucapkan selama tangan Aura itu menggenggam erat pergelangan tangannya.


“Kau itu berharga dan kau pantas untuk bahagia,” Midnight mengulangi kalimat yang Aura itu ucapkan waktu itu.


Sayang sekali, orang yang mengucapkan kalimat yang membuat Midnight terenyuh saat itu sudah lebih dulu pergi. Lantas, apanya yang bisa membuat dia bahagia sementara, banyak orang diluar sana yang diam-diam ingin mengukir luka di hatinya?


Midnight menoleh ke kiri. Tidak disangkanya, ada Ethan yang entah kapan dia duduk di samping Midnight dan menawarkan dirinya es krim corn.


“Eng, aku nggak tahu kau sukanya apa. Jadi, aku harap… Es krim ini bisa buat perasaanmu tenang deh,” ujar Ethan ragu sekaligus malu-malu.


Wajahnya dia menghadap ke sepasang sepatu hitamnya dan tidak memiliki nyali untuk memandang wajah Midnight yang sekilas terlihat datar memperhatikan es krim pemberiannya.


Dia pasti nggak suka… Batin Ethan tak percaya diri.


“Siapa bilang nggak suka? Aku suka kok es krim corn. Malah ini favoritku,” tutur Midnight lembut.


Sontak, Ethan mengangkat cepat wajahnya dan menoleh ke arah Midnight disertai tatapan tak percaya, senang, dan terharu. “Beneran nih?”


Midnight mengangguk pelan. “Sama… Kau kesini ada perlu apa?”


“Oh, itu… Soal Elena. Kenalanku bilang, dia nggak sengaja melihat Elena berjalan di lorong hotel. Aku nggak tahu hotel mana yang dia maksud karena dia sendiri lupa nama hotelnya,” jelas Ethan sambil memberikan es krim corn itu pada Midnight.


Dengan hati-hati, Midnight mengambil es krim corn tersebut dan kembali fokus mendengar penjelasan Ethan barusan.


“Jadi, kapan dan di jam berapa temanmu melihat Elena?” tanya Midnight mulai menggigit es krim coklat yang lembut itu.

__ADS_1


“Jam berapa? Hm… Antara jam delapan malam sampai jam Sembilan.”


“Oke… Berarti, masalahnya Cuma di tempat dan nama hotelnya aja yang nggak kau ketahui... Ck, ada-ada aja Yuuki ini!” gerutu Midnight lepas itu menggigit eskrim cornnya dan merasa baikan setelahnya.


Sementara, Ethan hanya diam sambil memasang raut khawatir. Pria itu mengkhawatirkan adiknya yang sudah dua bulan lebih tak kunjung kembali ke rumah. Emma yang dia cari juga tidak dapat ditemukan keberadaannya.


Ethan menghela nafas berat. Tidak ia sangka kalau semua kejadian fantasi yang menimpa mereka ini berawal dari wanita berkacamata bulat itu. Pantas saja, Midnight selalu terlibat dalam pertarungan apapun.


Membayangkan bagaimana cara Midnight membagikan waktunya mengurus masalah di dunia nyata dan dunia fantasi, rasanya mustahil baginya dia tanggung.


Ethan menatap Midnight yang masih menikmati es krim corn-nya. Entah bagaimana, senyuman terukir di wajah Ethan.


“Kau nggak capek ya?” tanya Ethan tiada alasan khusus.


Kedua alis Midnight seketika terangkat. “Capek kenapa?”


“Capek… Ngurusin semua ini? Ditambah lagi, kau sendirian. Kau nggak stress atau depresi gitu?”


Mendengar ungkapan Ethan itu, Midnight mendengus. “Ya, capeklah… Asal kau tahu, aku udah berulang kali mau mengakhiri hidupku Cuma karena masalah ini. Tapi…” Kalimatnya terhenti bersamaan dengan raut wajah Midnight yang berubah menjadi sedih.


“Dia melarangku untuk membunuh diriku sendiri.”


~


Kalau bukan karena kemampuannya menyeimbangkan cara dia berdiri, Black Aura sudah pasti harus menanggung malu. Apalagi di area yang ramai akan pengunjung itu.


Aura itu juga berusaha mungkin agar topi hitamnya tidak terlepas dari kepalanya. Karena, dia tidak ingin siapapun mengira dirinya sebagai cosplayer, makhluk fantasi, ataupun albino hanya karena rambutnya yang berwarna putih.


“Chloe, bisa pelan-pelan tidak? Aku nyaris aja jatuh,” bisik Black Aura.


Di tengah keramaian para pengunjung taman, Chloe fokus menarik Black Aura dan tampaknya tidak mendengarkan bisikan Aura itu barusan.


Seluruh pandangan Chloe terpaku pada jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Yah, sebenarnya tidak ada acara penting yang sampai membuat gadis itu berjalan terburu-buru begitu. Hanya saja, mengingat waktu sore adalah waktu peralihan ke waktu malam, Chloe merasa tidak nyaman saja jika dirinya masih berkeliaran di luar rumah di waktu seperti itu.


“Sebentar lagi waktu peralihan malam. Lucas bilang padaku kalau di waktu seperti itu, kita harus pulang,” jelas Chloe layaknya anak kecil yang sudah diperingatkan ibunya untuk pulang sebelum magrib tiba.


Black Aura mengernyit heran. “Kenapa gitu? Memangnya ada hantu ya, di tempat ini?”


“Ada. Biasanya di waktu peralihan sore malam gitu. Hantunya seram-seram lho… Kau mana kuat lihat hantu,” ledek Chloe sempat-sempatnya.

__ADS_1


Seketika, wajah Black Aura berubah menjadi cemberut. Baik, baik… Dia akui kalau dirinya yang kuat ini takut melihat hantu. Tapi, sebenarnya wajar jika dia takut lantaran, hantu jika ia tebas dengan pedangnya saja tidak terluka. Melainkan, pedangnya yang menembus tubuh hantu itu.


“Hantu kan tembus pandang, Chloe. Kau kalau kusuruh bunuh hantu, gimana?’ tantang Black Aura dan malah mendapatkan respon berupa dengusan geli dari kekasihnya.


“Hantu itu kan udah mati, Aura. Yah, kalau aku sih, mending pergi aja selagi dia nggak ganggu kita. Tinggal kabur doang, apa susahnya,” guraunya setelah itu masuk bersamaan dengan Black Aura ke dalam bis.


Di dalam bis, Chloe dan Black Aura  langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan setidaknya agak berjarak dengan sepasang remaja yang tengah berbagi gombalan di kursi kanan paling depan. Chloe kepikiran, apa tidak risih pengemudinya mendengar kalimat-kalimat yang terkesan berlebihan itu?


“Kita duduk paling belakang aja,” usul Chloe yang langsung disetujui Black Aura.


“Abis ini kita kemana?”


“Ya, ke rumahku dong. Aku mau mandi dulu habis tuh, kita makan malam berdua ya, Aura!” jelas Chloe diakhir dengan senyuman lebarnya.


Black Aura terkekeh. “Okelah… Lalu makan malamnya kita masak atau beli?”


“Ya, masak dong! Aku mau kau nyicip gimana rasanya masakanku.”


“Abis makan malam, kita ngapain?”


“Kita bareng di atas atap, liatin bintang di langit.”


Yah, mungkin inilah sekian dari percakapan Chloe dan Black Aura menjelang malam tiba. Di dalam bis yang hening dan sunyi itu, dunia seolah milik mereka berdua saja.


Chloe menyalakan ponselnya dan memperlihatkan Black Aura beberapa menu makan malam yang akan mereka santap malam ini. Maksudnya, yang akan Chloe masak malam ini.


Black Aura yang penasaran dengan teknik memasak Chloe, memilih mashed potatoes dan meatloaf.


“Coba masak ini,” tantang Black Aura licik.


Chloe terbelalak bukan main memandang telunjuk Black Aura yang mengarah ke meatloaf.


“Gila kau ya?! Tapi sih, kayaknya enak. Hmm… Kayaknya aku punya alat untuk bakar-bakar deh….” Gumam Chloe sejenak.


“Kalau ada buat aja. Kita buatnya berdua. Biar terasa gitu…”


“Romantisnya.” Goda Black Aura.


“Ah, sa ae lu…”

__ADS_1


~


__ADS_2