Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 123 {Season 2: Cerita Okka}


__ADS_3

Di pihak Midnight, mereka semua terdesak oleh serangan Okka yang diselimuti amarahnya. Siapa sangka kalau Okka yang Aoi pandang lemah itu memiliki kekuatan terpendam yang bisa membuat rasa terkejut mereka memiliki jangka kadaluarsanya yang lama.


Midnight yang sedari tadi berusaha meraih kerudung jaket Okka, gagal karena kelincahan Okka serta ribuan pedang yang Okka keluarkan menggunakan mantra yang ia hafalkan dari buku Asoka. Buku yang menyimpan sihir-sihir tak jelas itu, direbutnya tanpa sepengetahuan Asoka.


Dan kini, benda milik Aura-aura yang pernah berhadapan dengan Okka dan Kenzo itu menjadi milik kedua youtuber itu. Okka bahkan tak segan-segan menggunakan mantra yang bertinta merah. Tinta merah itu menandakan kalau mantra tersebut berbahaya. Dan mantra berbahaya yang Okka bacakan namanya adalah List Orang Yang Dibenci. Namanya aneh, tapi tidak untuk kekuatannya.


Setelah membaca mantra tersebut, sebuah lingkaran bertuliskan huruf-huruf tak jelas muncul di bawah kaki Okka. Kemudian berakar-akar menjadi sepuluh lingkaran. Usai dipastikan mantap lingkaran tersebut, keluarlah hantu-hantu dengan senjata yang biasa digunakan remaja—remaja sekolah untuk menindas anak yang mereka pandang tak berdaya. Seperti alat pel, ember berisikan air kotor, cutter, dan masih banyak lagi. Bahkan alat yang digunakan para gadis untuk bunuh diri juga ada.


Hantu-hantu itu berlari tanpa aturan mengejar Midnight, Aoi, Jacqueline, dan Silentwave. Teriakan mereka yang terkesan bergema itu membuat bulu kuduk Jacqueline merinding. Gadis itu tidak percaya kalau Asoka memiliki kemampuan yang aneh namun sangat berguna untuk melumpuhkan lawannya.


Karena tidak fokus, Jacqueline tersandung oleh bola. Ketika berusaha bangkit dari posisi duduknya, salah satu hantu yang membawa ember berisikan racun itu melemparnya. Jacqueline tersentak kaget dan segera menjauh dari hantu itu. Tak hanya hantu ember, ada hantu yang membawa cutter. Iris mata Jacqueline menangkap goresan kasar di lengan kiri sang hantu.


“Mungkinkah di dunia nyata, dia stress?” gumam Jacqueline penasaran.


“Jacqueline, AWAS!” teriak Aoi yang langsung melindungi kekasihnya dari serangan hantu dengan cutter di tangannya. Aksi heroiknya itu malah membuatnya mendapatkan goresan panjang dan cukup dalam dibagian punggung. Aoi berteriak kesakitan dan nyaris saja tumbang.


“Aoi! Kau nggak papa?” seru Jacqueline panik.


Di tengah kekhawatiran Jacqueline, Aoi yang awalnya tertunduk dan tampak seperti orang yang kehabisan darah, memperlihatkan cengir kudanya di hadapan Jacqueline.


“Baik aja kok.”


“Gila! Kukira kau beneran kesakitan!” sungut Jacqueline sebal.


“Bahkan ada manusia lagi yang kesini…” gumam Okka perlahan-lahan mereda emosinya. Gadis itu membuang nafasnya pelan sambil melirik ke sekelilingnya yang hancur tak keruan. Dahan-dahan berserakan di bawah rerumputan hijau yang indah dan angin siang ini bersahut-sahutan menerpa wajah cantiknya.


Dunianya seakan melambat saat Okka merenung. Dia berpikir, untuk apa dia berlama-lama di Carnater? Kata-kata Chloe tadi tentang dirinya yang menyakiti Aura lain itu juga cukup menyinggungnya.


“Tapi… Kalau aku kembali ke dunia nyata… Cih! Kenapa posisiku seperti penjahat sih?!” gerutunya kesal. Meskipun tidak melihat ke depan, Okka bisa mengetahui kalau ada serangan yang meluncur ke arahnya. Dengan cepat, dia mengeluarkan pedangnya dan membelah Silentwave menjadi dua. Untunglah tekstur Aura itu cair. Jadi, tidak masalah mau berapa kalipun di terbelah.


“Aku muak…” lirih Okka yang sebenarnya mau menangis karena teringat akan masalah pribadinya di dunia nyata.


Di belakang Okka, Midnight berlari tanpa suara. Dengan membawa boomerangnya, Midnight kemudian melemparkannya jauh dan berharap, boomerang itu melukai Okka. Menurut Midnight yang sudah berpengalaman berada di Carnater, tidak masalah jika Okka harus terkena serangan kuat sekalipun. Karena, spesies manusianya yang sangat mendukung dan juga spesies Aura dengan regenerasi yang tinggi. Dengan kedua spesies itu apabila dipadukan maka kemungkinan untuk kalahnya sebesar 25%.


“Merepotkan, tapi…”

__ADS_1


Crat!


Pinggang Okka tertebas oleh boomerang Midnight. Boomerang itu Midnight tangkap kembali sebelum akhirnya terbang jauh tanpa arah.


Darah Okka yang berwarna pink, biru itu melayang di udara. Jelas sekali di mata Okka. Namun, tidak ada reaksi apapun dari gadis itu. Dia hanya diam. Semangat ingin bertarungnya lenyap entah kemana.


Okka melirik ke arah Midnight dengan raut sedih. “Kau pasti kesini karena tekanan di duniamu kan?” tanyanya dengan suara yang bergetar.


Midnight tertegun. Langkahnya perlahan-lahan berhenti seiring air mata Okka yang mengalir.


“Kalau jawabanmu ‘iya’, maka aku juga.”


“Kau sudah lelah bertarung?” tanya Midnight. Wanita itu dengan langkah pelan menghampiri Okka. Di pikirannya sama sekali tidak terlintas bahaya yang akan menyerangnya nanti. Tapi, Midnight berusaha meyakinkan dirinya kalau Okka yang sekarang ini tidak berniat menyerangnya.


Okka mengangkat pundaknya singkat. “Aku nggak tahu. Kalau kupikir lagi, yang dikatakan Chloe tadi itu ada benarnya. Aku kesini bukan karena kemauanku. Selain itu, aku juga tertekan di sana. Saat seseorang melempar kami ke sini, kami terjatuh dan bertemu dengan Aura bertopeng visor itu.”


“Megawave?”


“Yep. Kami langsung dikejar dan diserangnya. Karena itulah, aku dan kakakku Kenzo…”


Okka menggeleng pelan. “Kami berakting seolah kami pacaran itu hanya untuk menghibur hati kami. Karena kami putus dengan pacar kami masing-masing karena keputusan dari orangtua. Aku nggak tahu kenapa mama dan papa seperti itu. Tapi, memang sejak kecil… Tidak. Sejak adik ketiga kami lahir, hidup kami berubah drastis.” Okka bercerita sambil terisak. Gadis itu tidak mampu menyembunyikan kesedihannya karena, kesedihan itu sulit dikalahkan. Selain kesedihan, cemburu, dan perasaan ingin menghilang dari kehidupan itu mengusiknya.


“Aku dan Kenzo diabaikan. Memang perbedaan kasih sayang itu pasti ada dan punya alasannya masing-masing. Tapi, jika diteruskan sampai usia remaja itu… Bukankah sudah lain ceritanya?”


Midnight mengangguk. Sebab dia juga pernah mengalami hal serupa dengan Okka dan Kenzo. Namun, miliknya ini justru lebih parah.


“Aku dan Kenzo kalau melakukan kesalahan kecil, kami diperlakukan sangat kasar oleh papa. Kalau mama, dia cenderung mengabaikan kami. Dia bahkan tidak peduli apakah kami makan atau tidak. Mama sering menyindir kalau kami berbuat salah. Karena perlakuan itu juga, aku dan Kenzo sering melawan dan kerap kali mengulangi kesalahan yang sama.


“Memang, aku dan Kenzo tidak sebaik dan peka adikku, Kenzi. Kenzi itu… Dia anak sesungguhnya dari papa dan mama. Dia anak yang baik, lembut. Tapi, dia bodoh. Kenzi bodoh karena dia terlalu menyayangi kakak-kakaknya yang tak berguna. Aku dan Kenzo, anak sulung yang tidak berguna sekaligus jahat ini malah mendapatkan kasih sayang dari Kenzi. Bukankah itu aneh?” air mata Okka semakin mengalir deras. Punggungnya yang terkena hembusan angin itu menjadi hangat karena rangkulan yang Midnight berikan.


Jacqueline dan Aoi yang sebelumnya sibuk berhasil menghabisi hantu-hantu yang dibenci Lady Asoka. Perhatian keduanya teralihkan oleh Midnight dan Okka. Silentwave juga. Aura itu berjalan ke atas beriringan dengan pasangan itu dan menemani Midnight mendengarkan cerita dari Okka.


“Lalu, karena kasih sayang itu, aku dan Kenzo jadi semakin dekat dengan Kenzi. Kami bermain dan berbagi hal-hal menarik tentang kesukaan kami. Waktu itu benar-benar menyenangkan. Rasa sakit kami terobati. Keinginan untuk melenyapkan diri itu seketika menghilang dan malah berubah menjadi sebuah mimpi di mana kami berdua bisa membahagiakan Kenzi. Itulah alasan kenapa kami menjadi youtuber.


“Bukan hal mudah menjadi youtuber itu. Tapi, selama ada Kenzi, semangat dan cita-cita kami tak akan pudar. Hingga suatu hari, semua keinginan dan mimpi itu sirna menjadi debu. Aku dan Kenzo lagi-lagi mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Padahal hal kecil dan itu bukan salah kami. Hanya karena keran yang terbuka, aku dan Kenzo dituduh mereka.

__ADS_1


“Mau berapa kali pun kami membela, tetap kami yang salah. Seolah semua kesalahan itu mutlak di tangan kami. Kami juga tidak sadar kalau Kenzi mengintip dari kamar. Saat itulah, Kenzi meminta maaf pada kami tapi. Dia mengatakan kesalahan kecil itu karena perbuatannya. Dia memang tidak sengaja. Tapi, permintaan maafnya itu sudah terlambat.


“Papa dan mama sudah menganggap kami anak tak berguna. Kami ini beban bagi mereka. Hati kami juga keras nggak jauh beda dengan batu. Selain itu, kami juga mirip dengan penjahat. Setelah kesalahpahaman itu terjadi, papa dan mama masih tidak berubah perlakuannya. Mereka mengabaikan kami. Mereka memang tidak mengusir kami, tapi mengabaikan kami. Selalu saja nama Kenzi yang dipanggil. Kau tahu kan bagaimana rasanya?” Okka akhirnya mengadakan sesi tanya jawab pada Midnight dan teman-temannya.


Isak tangisnya semakin tidak terkontrol. Belum lagi dengan rasa sakit di dadanya.


Aoi dan Jacqueline perlahan paham mengapa Okka dan Kenzo merasa betah di Carnater. Kedua youtuber itu ingin melampiaskan kekesalan mereka. Sungguh di luar dugaan kalau youtuber yang selalu tersenyum di hadapan subscriber-nya ini menyimpan cerita yang tak menyenangkan dibaliknya.


Aoi dan Jacqueline salah satu subscriber setia yang rutin menonton konten milik Okka dan Kenzo. Mereka berdua turut bersedih. Apalagi Jacqueline yang merasa pengalamannya cukup mirip dengan Okka dan Kenzo.


“Rasanya sakit. Kami seperti tidak punya tempat untuk pulang. Rutinitas kami berantakan. Kami merasa tidak nyaman berada di dalam rumah bersama papa dan mama. Sebenarnya, kami berniat minggat dari rumah. Akan tetapi, kehadiran Kenzi membuat kami terpaksa untuk tetap di rumah. Kenzi itu sulit bergaul, dia lemah, dan terlalu baik. Itulah yang tidak kami sukai dari Kenzi. Yah, meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa kami sangat menyayangi Kenzi.


“Karena rasa sayang kami itulah, kami menderita. Karena perlakuan mama dan papa masih belum berubah. Kami memutuskan untuk mengakhiri hidup kami. Kami lelah hidup. Kami juga menyesal karena sudah dilahirkan. Meskipun menyesal, aku dan Kenzo mengakui kalau kami ini memang beban sejak lahir. Karena itulah, anak seperti kami ini sudah sepantasnya mati.


“Kami berkeliling mencari tempat yang jauh dari rumah sambil menuliskan status di insta kalau kami berdua hiatus selama seminggu,” Okka menyeka air matanya yang mengering. Ada butiran Kristal di pipinya.


“Ah, iya! Kalau nggak salah kalian hiatus tanpa alasan,” celetuk Jacqueline.


“Benar. Kami nggak bisa menceritakan masalah kami pada kalian. Karena aku yakin, ada sebagian orang yang berpikir kalau kami memang sejak awal salah. Karena kami anak pertama, pasti ada beberapa orang yang berpendapat sudah sepatutnya anak sulung menjadi contoh bagi adiknya. Atau mungkin ada yang berbaik hati memahami kami. Aku takut, cerita kami ini malah merembet kemana-mana dan keluargaku ikut terbawa. Itu yang kutakutkan. Aku harap, kalian bisa menjaga rahasia ini…”


“Sekarang, kau mau apa?”


Seketika, perhatian mereka semua tertuju pada Midnight yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan pada Okka. Okka selaku lawan bicaranya berpikir untuk beberapa saat.


“Kau pasti nggak mau kembali ke duniamu kan? Tapi, kau punya tanggung jawab soal pekerjaanmu. Kalian bilang, hiatus selama seminggu tapi jadinya tiga bulan lebih. Semua subscriber kalian pasti bertanya-tanya kalian kemana,” tutur Midnight. “Dan jangan lupakan kekacauan yang telah kau perbuat di sini!”


Okka tertegun. Dadanya terasa seperti baru saja dipukul oleh sesuatu yang transparan. Baik Chloe ataupun Midnight, keduanya telah sukses membuat Okka sadar akan perbuatannya. Pekerjaannya dan juga tanggung jawabnya. Dia telah menelantarkan hal terpenting itu. Karena rasa cemburu, sakit hati, dan keinginan untuk bunuh diri itu nyaris saja menghancurkan karirnya.


“Kau selalu tepat sasaran ya, dosen. Aku nggak nyangka kalau kau juga sepahaman denganku.”


Midnight tersenyum. “Aku juga pernah seperti itu. Aku ke dunia ini juga bukan karena kemampuanku. Akan tetapi, karena aku punya tanggung jawab, mau nggak mau aku harus mengulangi hidupku dari nol bersama suamiku. Tidak masalah kembali ke dunia asal kita, yang terpenting jauh dari keluarga yang membuatku ingin melenyapkan diriku,” ungkap Midnight. “Nah, sekarang, keputusan ada ditanganmu, nona…”


Okka akhirnya bangkit. Gadis itu mengeluarkan ponselnya berniat mau menghubungi kakaknya, Kenzo.


“Huft… Baiklah, kurasa pertarungan ini selesai.”

__ADS_1


~


__ADS_2