Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 93 {Season 2: Pencar}


__ADS_3

“Kita pencar aja gimana? Kalau bersama terus di satu


tempat nggak bakal ketemu manusianya.” Ujar Captain di sela diskusi seriusnya


dengan Black Aura dan Grimoire.


Ketiga Aura itu menghentikan langkahnya atas keinginan


Captain. Diikuti dengan ketiga remaja di belakang mereka. Chloe dan kedua


sahabatnya hanya menuruti apa yang dilakukan para Aura. Sebab apalagi coba?


Mereka datang ke Carnater dengan niat ingin mempertemukan Chloe dengan Black


Aura. Setelahnya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak tahu kalau Aura–Aura


itu tengah menjalani misi yang bisa dibilang harus diselesaikan secepatnya.


Sebenarnya, Chloe tidak menyesal dengan keputusan Aoi dan


Jacqueline. Dia hanya bingung dengan situasi saat ini.


“Jadi, kita bagi berapa kelompok? Kalau tiga, aku takutnya


si rambut ungu itu nggak mau dipisahkan sama pacarnya.” Protes Captain sehabis


itu menghela nafas berat. “Kelihatanya, cewek si Aoi ini type yang merepotkan.”


Bisiknya lagi sambil mengarahkan pandangan frustasinya pada Aoi yang terlihat


sedang berbicara dengan Jacqueline. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu.


Kedua remaja itu memamerkan gelak tawa mereka menanggapi lelucon yang dibuat


Chloe.


“Begini saja, Captain dan Aura bersama Chloe. Aku dengan


pasangan itu.” usul Grimoire tanpa pikir panjang. Aura itu bangkit dari posisi


duduknya lalu disusul dengan Black Aura dan Captain. Tampaknya, kedua anggota


Megavile itu setuju dengan usulan Grimoire. Yah, sisanya tinggal menikmati


prosesnya saja. Mungkin tidak akan mudah ke depannya.


Black Aura menghampiri Chloe. Aura itu menggenggam lembut


lengan gadis itu seraya berkata, “Kau besamaku.”


“Beneran?” wajah gadis itu mendadak ceria. “Kita mau


kemana sekarang?” disertai dengan kedua matanya yang berbinar. Tak bisa


dibayangkan seberapa senang hati gadis itu setelah diajak Black Aura pergi dan


hanya berdua saja!


“Yah, kemana aja yang sambil mencari manusia itu. Cuma,


Chloe harus pisah dari Aoi dan Jacqueline.”


“Gitu ya?”


“Iya. Tapi kau jangan khawatir, ada Grimoire yang menjaga


mereka.” Ucap Black Aura berusaha meyakinkan gadis dihadapannya. Dan di luar


dugaan Black Aura, gadis itu dengan gampangnya percaya apa yang Black Aura


katakan. Tidak ada kekhatiran yang mewarnai hatinya apalalgi ingatan beberapa


menit yang lalu mengenai Grimoire yang sempat melukai kaki Aoi dan melempar


dirinya bersama Jacqueline. Tampaknya, pikiran gadis itu sudah diambil allih


oleh cinta.


“Aura… Kurasa, aku ikut dengan Aoi deh.” Captain menepuk


pelan pundak Black Aura lalu membisikkan kekhawatirannya. Captain heran,


darimana sebenarnya kekhawatiran itu muncul. Kenal dekat saja tidak, tapi, rasa


khawatir di hatinya membuat Captain memutuskan untuk berpisah dengan Black Aura


dan menjaga pasangan yang terlihat akrab itu. Antisipasi dari Grimoire yang


bisa kapan saja menjadi antagonist perannya.


“Oke kalau itu kemaumanmu.”


“Kau juga harus hati-hati. Musuh lama kita masih banyak


yang hidup dan sebagian besar bersembunyi di suatu tempat. Mereka tidak sebaik


dulu. Bahkan jauh lebih ganas dari dirimu yang lain.” ucap Captain serius.


“Jauh lebih ganas?” Chloe menimpali disertai ekspresi


terkejutnya.


“Iya, maka dari itu, jangan jauh-jauh dari Aura dan


jangan merepotkannya, oke?” ujar Captain yang langsung mendapatkan anggukan


cepat dari Chloe. Aura itu akhirnya meninggalkan Chloe bersama Black Aura dan


kembali ke tempatnya bersama Grimoire.


Black Aura diam. Memikirkan Captain yang akan pergi


bersama Grimoire. Semoga saja, Grimoire bisa diajak bekerja sama yah.


“Chloe, kau yakin mau di sini? Duniaku ini nggak sebaik


duniamu, lho.”


Chloe menggeleng cepat, “Nggak papa. Selama di sampingmu,


aku rasa semuanya akan baik-baik saja. Dan lagi, aku ingi bersama dulu, Aura.


Kan udah dua bulan nggak ketemu. Otomatis, aku kangen dong!” ungkap Chloe meski


dalam dirinya, dia merasa bodoh dengan apa yang dikatakannya barusan. Sambil

__ADS_1


berharap, Black Aura memahami maksud perkataannya serta memperbolehkan Chloe


untuk ikut serta dalam misinya. Pasti seru nih!


Kalau sebelumnya berpetualang di duniannya, kini Chloe dan


kedua sahabatnya ikut terlibat tapi di dunia Aura itu langsung. Momen seperti


ini harus mereka manfaatkan bagaimanapun situasinya.


Black Aura tersenyum hangat menanggapi perkataan Chloe


yang semakin terdengar menggemaskan baginya. “Aku juga…” Kangen.


“Tapi kau jangan jauh-jauh, ya! Kalau mau kemana-mana,


izin sama aku dulu.”


Chloe mengangguk dan seperti biasanya menyunggingkan senyumannya


yang terlihat masih sama. bahkan lengkungannya tidak berubah sedikitpun.


Melihat senyuman itu, Black Aura merasa dirinya seakn terjun ke masa lalu yang


sempat ia tinggalkan selama dua bulan. Sulit ia bayangkan bagaimana kondisi


Chloe kala dirinya sedang tidak bersama gadis itu. Pasti kesepian.


“Hey, yang lagi pacaran!” panggil Captain dengan suara


lantang disertai pose berkacak pinggangnya layaknya seorang bos.


“Iya?” respon Aoi, menghampiri Captain. Tak lupa, pria


itu menggandeng kekasihnya agar tidak ketinggalan.


“Kalian berdua satu kelompok denganku! Aku minta, kalian


jangan pergi tanpa izinku dan mohon kerja samanya! Mengerti?”


“Mengerti!”


“Bagus. Nah, Grimoire! Ayo, pergi!” ajak Captain pada


Grimoire. Walaupun dia ragu, Captain tetap berusaha berpikir positi kalau


semuanya akan berjalan lancar tanpa adanya pengkhianatan di kelompoknya. “Kalau


kau berkhianat di tengah jalan, hari itu juga kau jadi bulu babi rebus!” ancam


Captain sinis.


“Percaya diri sekali.” Balas Grimoire yang terlihat biasa


saja menghadapi ancaman Captain.


~


Berdasarkan keputusan yang diambil Black Aura, Captain,


dan Grimoire, ada dua kelompok yang akan mencari manusia yang hilang itu.


Kelompok pertama beranggotakan empat orang yang terdiri dari Aoi, Jacqueline,


Captain, dan Grimoire. Sisanya Black Aura dan Chloe yang berada di kelompok


Karena tidak memiliki kemampuan portal, Black Aura mengandalkan teleportasinya.


Sambil menggendong Chloe yang sedari tadi, memaksa ingin di gendong, mereka


berdua akhirnya berpindah dari tempat A ke tempat B.


“Kalau dipanggil Aura, kau suka nggak?” tanya Chloe di


tengah perjalanan membosankan mereka mengitari hutan. Hutan itu gersang. Tidak


ada dedaunan yang menemani jalan mereka. Kayunya seperti telah terbakar api,


sebab, warnanya hitam bukan coklat.


“Hmm, suka juga. Semuanya orang memanggilku Aura. Dan aku


pribadi lebih senang dipanggil menggunakan nama belakang.”


“Wah… Kenapa nggak ngomong dari awal kalau kau lebih suka


dipanggil Aura?”


“Karena aku malas.”


“Cih, alasanmu macam apa itu?”


“Entah. Justru aku lebih heran dengan gadis sepertimu.


Mau sampai kapan kau kugendong terus?” Black Aura melirik ke arah Chloe dengan


tatapan datarnya. Tatapan seperti itu, terkadang membuat Chloe gemas dan ingin


sekali menarik pipi Aura yang dingin itu.


“Sampai aku puas.” Jawab Chloe enteng. “Aura… Cewek


rambut biru ungu itu siapa? Dia punya hubungan apa sama kau?”


“Maksudmu, Captain? Dia… Entahlah… Kami satu kelompok


tapi aku nggak tahu hubunganku dengannya sebatas apa. Aku bahkan nggak tahu


kita ini teman atau bukan. Kalau dibilang teman, rasanya agak aneh.” Black Aura


terkekeh.


“Jadi apa dong?”


“Apa ya? Kau-lah yang lebih tahu.”


“Ha? Kenapa aku? Fine, kalau itu maumu. Bagiku… Yah, aku


sih juga minta persetujuanmu juga. Kau tahu kan kalau aku suka padamu dan kau…


Bisa dibilang juga sama.” suara Chloe memelan ketika membahas soal isi hatinya.


Sudah lama sekali sebelum mereka berpisah, Black Aura dan


Chloe sempat membicarakan mengenai hubungan mereka. Seingat Chloe, mereka juga

__ADS_1


membahas apakah mereka ini memang beneran suka atau sekedar suka biasa.


“Katakan padaku, apa jawabanmu?” tanya Chloe sekali lagi.


Bukannya menjawab, Black Aura malah terkekeh


menanggapinya. Pertanyaan seperti terdengar sulit bagi Black Aura bahkan hingga


saat ini. Tapi, rasanya tidak enak membiarkan Chloe menunggu jawabannya hingga


bertahun-tahun. Karena itulah, Black Aura membulatkan tekadnya meskipun dia


ragu dengan jawabannya. Dan lagi, ada satu hal yang masih Black Aura


pertanyakan soal hati. Manusia memiliki hati. Dari itulah mereka bisa merasakan


sedih, senang, dan beragam perasaan lainnya.


“Sebelum menjawab itu, ada satu hal yang membuatku ragu.”


“Apa itu?”


“Hati.”


Chloe tertegun. “Ada apa dengan hati?”


Black Aura diam. Bingung ingin menjelaskannya bagaimana.


“Entahlah… Aku dengar dari ibuku, manusia punya hati. Dari hati itu, mereka


bisa merasakan banyak hal. Dari hati itu, mereka bisa merasakan suka. Chloe,


sebenarnya aku ini punya hati atau tidak? Aku… Bertarung tanpa memandang belas


kasih. Aku main hajar begitu saja. Nggak peduli perasaan lawanku. Tapi, kalau


aku bertarung menggunakan hati, aku bisa kalah.” Ungkapnya.


“Jadi itu yang membuatmu ragu. Kenapa nggak bilang dari


awal?” Chloe mendengus geli setelah itu melanjutkan kalimatnya. “Kalau soal


hati sih, menurutku… Yah, agak sulit juga kujelaskan. Tapi kurasa, kau punya


hati, Aura.”


Black Aura membulatkan matanya tak percaya. “Benarkah?”


“Iya. Buktinya, kau bisa menyukaiku. Kau melindungi


manusia di tempatku meskipun waktu itu kau belum sadar. Kau bisa menangis,


senang, dan merasakan sakit.” Jelas Chloe diakhiri dengan senyuman hangatnya.


“Jadi, apa jawabanmu? Aku butuh kepastian darimu. Hmm, atau perlu kujelaskan


tahapan ikatan yang manusia jalani?”


Sekarang, gadis itu memamerkan seringainya. Entah apa


maksud dibalik senyuman itu.


Black Aura tersenyum setelah itu menggeleng kepalanya. “Nggak


perlu. Akan kujawab.”


“Heh? Beneran? Nggak bercanda kan?”


“Ngapain bercanda?” Black Aura mendengus. Kemudian,


menghentikan langkahnya dan memandang wajah gadis yang digendongnya itu. Wajah


itu hingga saat ini masih membuat Black Aura merasa tergila-gila. Terlebih lagi


dengan senyuman yang disunggingkannya. Aneh saja. Aura yang terkenal kejam dan


brutal saat bertarung itu menaruh rasa suka pada seorang gadis yang berasal


dari dunia manusia. Dan Chloe sendiri merupakan kelemahan terbesar Black Aura.


Aura itu menarik nafas kemudian membuangnya pelan. “Bisa


turun sebentar?”


“Kau pegal?”


“Nggak.”


“Okelah…”


Dengan hati-hati, Black Aura menurunkan Chloe sampai


gadis itu berdiri dipijakannya. Memandangnya dengan tatapan penuh harap.


“Kau mau ngapain, Aura?” tanya Chloe penasaran.


Dihadapannya, Black Aura memejamkan kedua matanya sembari


merentangkan tangan kanannya. Tangan yang sebelumnya terkepal itu ia buka


hingga mengeluarkan sebuah portal berwarna violet brgradasi biru. Warna yang


indah untuk dunia yang monoton ini.


Chloe membulatkan matanya sempurna. “Wah! Portal! Tunggu


dulu! Bukannya kau nggak punya kekuatan portal?”


“Awalnya memang nggak punya. Tapi, aku belajar selama dua


bulan ini.”


“Ooh… Bahkan Aura sepertimu juga perlu belajar ya!” Chloe


menyengir. Begitu pula dengan Black Aura. Kali ini, Aura itu bisa tersenyum


lebar.


“Nggak sebesar punya Devil Mask sih.”


Merasa yakin dengan portalnya meskipun kecil, Black Aura


memasukkan tangan kirinya ke dalam sana seperti hendak mengambil sesuatu. “Jawabanku


akan jelas setelah kau melihat ini, Chloe.” Ucapnya.

__ADS_1


~


__ADS_2