
“Kita pencar aja gimana? Kalau bersama terus di satu
tempat nggak bakal ketemu manusianya.” Ujar Captain di sela diskusi seriusnya
dengan Black Aura dan Grimoire.
Ketiga Aura itu menghentikan langkahnya atas keinginan
Captain. Diikuti dengan ketiga remaja di belakang mereka. Chloe dan kedua
sahabatnya hanya menuruti apa yang dilakukan para Aura. Sebab apalagi coba?
Mereka datang ke Carnater dengan niat ingin mempertemukan Chloe dengan Black
Aura. Setelahnya tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak tahu kalau Aura–Aura
itu tengah menjalani misi yang bisa dibilang harus diselesaikan secepatnya.
Sebenarnya, Chloe tidak menyesal dengan keputusan Aoi dan
Jacqueline. Dia hanya bingung dengan situasi saat ini.
“Jadi, kita bagi berapa kelompok? Kalau tiga, aku takutnya
si rambut ungu itu nggak mau dipisahkan sama pacarnya.” Protes Captain sehabis
itu menghela nafas berat. “Kelihatanya, cewek si Aoi ini type yang merepotkan.”
Bisiknya lagi sambil mengarahkan pandangan frustasinya pada Aoi yang terlihat
sedang berbicara dengan Jacqueline. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu.
Kedua remaja itu memamerkan gelak tawa mereka menanggapi lelucon yang dibuat
Chloe.
“Begini saja, Captain dan Aura bersama Chloe. Aku dengan
pasangan itu.” usul Grimoire tanpa pikir panjang. Aura itu bangkit dari posisi
duduknya lalu disusul dengan Black Aura dan Captain. Tampaknya, kedua anggota
Megavile itu setuju dengan usulan Grimoire. Yah, sisanya tinggal menikmati
prosesnya saja. Mungkin tidak akan mudah ke depannya.
Black Aura menghampiri Chloe. Aura itu menggenggam lembut
lengan gadis itu seraya berkata, “Kau besamaku.”
“Beneran?” wajah gadis itu mendadak ceria. “Kita mau
kemana sekarang?” disertai dengan kedua matanya yang berbinar. Tak bisa
dibayangkan seberapa senang hati gadis itu setelah diajak Black Aura pergi dan
hanya berdua saja!
“Yah, kemana aja yang sambil mencari manusia itu. Cuma,
Chloe harus pisah dari Aoi dan Jacqueline.”
“Gitu ya?”
“Iya. Tapi kau jangan khawatir, ada Grimoire yang menjaga
mereka.” Ucap Black Aura berusaha meyakinkan gadis dihadapannya. Dan di luar
dugaan Black Aura, gadis itu dengan gampangnya percaya apa yang Black Aura
katakan. Tidak ada kekhatiran yang mewarnai hatinya apalalgi ingatan beberapa
menit yang lalu mengenai Grimoire yang sempat melukai kaki Aoi dan melempar
dirinya bersama Jacqueline. Tampaknya, pikiran gadis itu sudah diambil allih
oleh cinta.
“Aura… Kurasa, aku ikut dengan Aoi deh.” Captain menepuk
pelan pundak Black Aura lalu membisikkan kekhawatirannya. Captain heran,
darimana sebenarnya kekhawatiran itu muncul. Kenal dekat saja tidak, tapi, rasa
khawatir di hatinya membuat Captain memutuskan untuk berpisah dengan Black Aura
dan menjaga pasangan yang terlihat akrab itu. Antisipasi dari Grimoire yang
bisa kapan saja menjadi antagonist perannya.
“Oke kalau itu kemaumanmu.”
“Kau juga harus hati-hati. Musuh lama kita masih banyak
yang hidup dan sebagian besar bersembunyi di suatu tempat. Mereka tidak sebaik
dulu. Bahkan jauh lebih ganas dari dirimu yang lain.” ucap Captain serius.
“Jauh lebih ganas?” Chloe menimpali disertai ekspresi
terkejutnya.
“Iya, maka dari itu, jangan jauh-jauh dari Aura dan
jangan merepotkannya, oke?” ujar Captain yang langsung mendapatkan anggukan
cepat dari Chloe. Aura itu akhirnya meninggalkan Chloe bersama Black Aura dan
kembali ke tempatnya bersama Grimoire.
Black Aura diam. Memikirkan Captain yang akan pergi
bersama Grimoire. Semoga saja, Grimoire bisa diajak bekerja sama yah.
“Chloe, kau yakin mau di sini? Duniaku ini nggak sebaik
duniamu, lho.”
Chloe menggeleng cepat, “Nggak papa. Selama di sampingmu,
aku rasa semuanya akan baik-baik saja. Dan lagi, aku ingi bersama dulu, Aura.
Kan udah dua bulan nggak ketemu. Otomatis, aku kangen dong!” ungkap Chloe meski
dalam dirinya, dia merasa bodoh dengan apa yang dikatakannya barusan. Sambil
__ADS_1
berharap, Black Aura memahami maksud perkataannya serta memperbolehkan Chloe
untuk ikut serta dalam misinya. Pasti seru nih!
Kalau sebelumnya berpetualang di duniannya, kini Chloe dan
kedua sahabatnya ikut terlibat tapi di dunia Aura itu langsung. Momen seperti
ini harus mereka manfaatkan bagaimanapun situasinya.
Black Aura tersenyum hangat menanggapi perkataan Chloe
yang semakin terdengar menggemaskan baginya. “Aku juga…” Kangen.
“Tapi kau jangan jauh-jauh, ya! Kalau mau kemana-mana,
izin sama aku dulu.”
Chloe mengangguk dan seperti biasanya menyunggingkan senyumannya
yang terlihat masih sama. bahkan lengkungannya tidak berubah sedikitpun.
Melihat senyuman itu, Black Aura merasa dirinya seakn terjun ke masa lalu yang
sempat ia tinggalkan selama dua bulan. Sulit ia bayangkan bagaimana kondisi
Chloe kala dirinya sedang tidak bersama gadis itu. Pasti kesepian.
“Hey, yang lagi pacaran!” panggil Captain dengan suara
lantang disertai pose berkacak pinggangnya layaknya seorang bos.
“Iya?” respon Aoi, menghampiri Captain. Tak lupa, pria
itu menggandeng kekasihnya agar tidak ketinggalan.
“Kalian berdua satu kelompok denganku! Aku minta, kalian
jangan pergi tanpa izinku dan mohon kerja samanya! Mengerti?”
“Mengerti!”
“Bagus. Nah, Grimoire! Ayo, pergi!” ajak Captain pada
Grimoire. Walaupun dia ragu, Captain tetap berusaha berpikir positi kalau
semuanya akan berjalan lancar tanpa adanya pengkhianatan di kelompoknya. “Kalau
kau berkhianat di tengah jalan, hari itu juga kau jadi bulu babi rebus!” ancam
Captain sinis.
“Percaya diri sekali.” Balas Grimoire yang terlihat biasa
saja menghadapi ancaman Captain.
~
Berdasarkan keputusan yang diambil Black Aura, Captain,
dan Grimoire, ada dua kelompok yang akan mencari manusia yang hilang itu.
Kelompok pertama beranggotakan empat orang yang terdiri dari Aoi, Jacqueline,
Captain, dan Grimoire. Sisanya Black Aura dan Chloe yang berada di kelompok
Karena tidak memiliki kemampuan portal, Black Aura mengandalkan teleportasinya.
Sambil menggendong Chloe yang sedari tadi, memaksa ingin di gendong, mereka
berdua akhirnya berpindah dari tempat A ke tempat B.
“Kalau dipanggil Aura, kau suka nggak?” tanya Chloe di
tengah perjalanan membosankan mereka mengitari hutan. Hutan itu gersang. Tidak
ada dedaunan yang menemani jalan mereka. Kayunya seperti telah terbakar api,
sebab, warnanya hitam bukan coklat.
“Hmm, suka juga. Semuanya orang memanggilku Aura. Dan aku
pribadi lebih senang dipanggil menggunakan nama belakang.”
“Wah… Kenapa nggak ngomong dari awal kalau kau lebih suka
dipanggil Aura?”
“Karena aku malas.”
“Cih, alasanmu macam apa itu?”
“Entah. Justru aku lebih heran dengan gadis sepertimu.
Mau sampai kapan kau kugendong terus?” Black Aura melirik ke arah Chloe dengan
tatapan datarnya. Tatapan seperti itu, terkadang membuat Chloe gemas dan ingin
sekali menarik pipi Aura yang dingin itu.
“Sampai aku puas.” Jawab Chloe enteng. “Aura… Cewek
rambut biru ungu itu siapa? Dia punya hubungan apa sama kau?”
“Maksudmu, Captain? Dia… Entahlah… Kami satu kelompok
tapi aku nggak tahu hubunganku dengannya sebatas apa. Aku bahkan nggak tahu
kita ini teman atau bukan. Kalau dibilang teman, rasanya agak aneh.” Black Aura
terkekeh.
“Jadi apa dong?”
“Apa ya? Kau-lah yang lebih tahu.”
“Ha? Kenapa aku? Fine, kalau itu maumu. Bagiku… Yah, aku
sih juga minta persetujuanmu juga. Kau tahu kan kalau aku suka padamu dan kau…
Bisa dibilang juga sama.” suara Chloe memelan ketika membahas soal isi hatinya.
Sudah lama sekali sebelum mereka berpisah, Black Aura dan
Chloe sempat membicarakan mengenai hubungan mereka. Seingat Chloe, mereka juga
__ADS_1
membahas apakah mereka ini memang beneran suka atau sekedar suka biasa.
“Katakan padaku, apa jawabanmu?” tanya Chloe sekali lagi.
Bukannya menjawab, Black Aura malah terkekeh
menanggapinya. Pertanyaan seperti terdengar sulit bagi Black Aura bahkan hingga
saat ini. Tapi, rasanya tidak enak membiarkan Chloe menunggu jawabannya hingga
bertahun-tahun. Karena itulah, Black Aura membulatkan tekadnya meskipun dia
ragu dengan jawabannya. Dan lagi, ada satu hal yang masih Black Aura
pertanyakan soal hati. Manusia memiliki hati. Dari itulah mereka bisa merasakan
sedih, senang, dan beragam perasaan lainnya.
“Sebelum menjawab itu, ada satu hal yang membuatku ragu.”
“Apa itu?”
“Hati.”
Chloe tertegun. “Ada apa dengan hati?”
Black Aura diam. Bingung ingin menjelaskannya bagaimana.
“Entahlah… Aku dengar dari ibuku, manusia punya hati. Dari hati itu, mereka
bisa merasakan banyak hal. Dari hati itu, mereka bisa merasakan suka. Chloe,
sebenarnya aku ini punya hati atau tidak? Aku… Bertarung tanpa memandang belas
kasih. Aku main hajar begitu saja. Nggak peduli perasaan lawanku. Tapi, kalau
aku bertarung menggunakan hati, aku bisa kalah.” Ungkapnya.
“Jadi itu yang membuatmu ragu. Kenapa nggak bilang dari
awal?” Chloe mendengus geli setelah itu melanjutkan kalimatnya. “Kalau soal
hati sih, menurutku… Yah, agak sulit juga kujelaskan. Tapi kurasa, kau punya
hati, Aura.”
Black Aura membulatkan matanya tak percaya. “Benarkah?”
“Iya. Buktinya, kau bisa menyukaiku. Kau melindungi
manusia di tempatku meskipun waktu itu kau belum sadar. Kau bisa menangis,
senang, dan merasakan sakit.” Jelas Chloe diakhiri dengan senyuman hangatnya.
“Jadi, apa jawabanmu? Aku butuh kepastian darimu. Hmm, atau perlu kujelaskan
tahapan ikatan yang manusia jalani?”
Sekarang, gadis itu memamerkan seringainya. Entah apa
maksud dibalik senyuman itu.
Black Aura tersenyum setelah itu menggeleng kepalanya. “Nggak
perlu. Akan kujawab.”
“Heh? Beneran? Nggak bercanda kan?”
“Ngapain bercanda?” Black Aura mendengus. Kemudian,
menghentikan langkahnya dan memandang wajah gadis yang digendongnya itu. Wajah
itu hingga saat ini masih membuat Black Aura merasa tergila-gila. Terlebih lagi
dengan senyuman yang disunggingkannya. Aneh saja. Aura yang terkenal kejam dan
brutal saat bertarung itu menaruh rasa suka pada seorang gadis yang berasal
dari dunia manusia. Dan Chloe sendiri merupakan kelemahan terbesar Black Aura.
Aura itu menarik nafas kemudian membuangnya pelan. “Bisa
turun sebentar?”
“Kau pegal?”
“Nggak.”
“Okelah…”
Dengan hati-hati, Black Aura menurunkan Chloe sampai
gadis itu berdiri dipijakannya. Memandangnya dengan tatapan penuh harap.
“Kau mau ngapain, Aura?” tanya Chloe penasaran.
Dihadapannya, Black Aura memejamkan kedua matanya sembari
merentangkan tangan kanannya. Tangan yang sebelumnya terkepal itu ia buka
hingga mengeluarkan sebuah portal berwarna violet brgradasi biru. Warna yang
indah untuk dunia yang monoton ini.
Chloe membulatkan matanya sempurna. “Wah! Portal! Tunggu
dulu! Bukannya kau nggak punya kekuatan portal?”
“Awalnya memang nggak punya. Tapi, aku belajar selama dua
bulan ini.”
“Ooh… Bahkan Aura sepertimu juga perlu belajar ya!” Chloe
menyengir. Begitu pula dengan Black Aura. Kali ini, Aura itu bisa tersenyum
lebar.
“Nggak sebesar punya Devil Mask sih.”
Merasa yakin dengan portalnya meskipun kecil, Black Aura
memasukkan tangan kirinya ke dalam sana seperti hendak mengambil sesuatu. “Jawabanku
akan jelas setelah kau melihat ini, Chloe.” Ucapnya.
__ADS_1
~