Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 99 { Season 2: Amukan Asoka}


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan oleh mereka kalau keputusan mereka datang ke Carnater akan menimbulkan rasa takut di dalam diri mereka. Rasa takut akan kehilangan, diserang, dan kematian.


Di depan istana Asoka, pemandangan tidak mengenakan terjepret jelas oleh mata mereka. Aoi, Jacqueline, Captain, dan Grimoire. Mereka berempat tidak tahu apa yang telah terjadi pada Asoka sampai-sampai amukanya menghancurkan hutan yang Grimoire tanam demi melindungi istana tersebut dari ancaman para penyusup. Sayang sekali, kenyataan pahit telah menduduki peringkat pertama dan mendorong pemikiran positif Grimoire akan keselamatan sang ratu jauh hingga tak mungkin lagi diselamatkan pemikiran tersebut.


Grimoire pasrah melihat sihir ratunya menyebar ke berbagai arah hingga menghancurkan bangunan-bangunan istana kesayangannya.


Kesampingkan pertanyaan yang melayang di pikirannya, Grimoire melompat setinggi mungkin. berniat menangkap ratunya sekaligus menghentikan sihirnya yang semakin di luar kendali. Kalau dibiarkan begitu lama, sihir itu bisa menghancurkan beberapa tempat di Carnater tanpa peduli sejauh apa jarak yang ditempuh sihir tersebut. Seandainya Aoi dan Jacqueline sampai terkena, maka Grimoire akan mendapatkan masalah besar. Terlebih lagi, pasangan romantis itu asalnya dari dunia luar.


Meskipun dia adalah Aura dan tidak memiliki orangtua, Grimoire paham arti dari kekhawatiran. Aura sepertinya yang meskipun dikenal tidak memiliki belas kasih, setidaknya memahami sedikit demi sedikit sifat manusia.


Di bawah sana, Captain bersama pasangan romantis yang menjengkelkan itu berusaha mencari tempat persembunyian. Nyaris saja terlupakan, Aoi menepuk pundak Captain kemudian, mengingatkan gadis itu akan sesuatu.


“Manusia. Semua ini pasti ulah manusia yang tersesat itu, kan?” bisik Aoi pada Captain.


BUM!


Salah satu sihir Asoka berhasil menghancurkan dinding istananya hingga terpecah menjadi beberapa bongkahan besar yang kalau tidak segera dihindari bisa melunasi nyawa-nyawa manusia di sekitar Captain.


“AWAS!” Captain menarik lengan kiri dan kanan pasangan itu, menghindari dinding yang mendarat keras di belakang mereka.


Jantung Jacqueline berdetak abnormal, seolah dirinya baru saja terlepas dari kejaran hantu di malam hari. Hm, terlalu jauh jika dinding disamakan dengan hantu.


“Sumpah! Nggak ngerti lagi sama manusia itu! Sebenarnya mereka ada berapa sih?!” bentak Jacqueline tak tahu pada siapa.


“Mana kutahu! Ketemu aja belum!” balas Captain tak kalah galak.


“Sudah cukup! Bukan saatnya berkelahi!” Aoi menengahi kedua gadis itu. “Menurut analisisku, nggak mungkin Asoka marah tanpa sebab. Aku rasa, ada manusia yang datang ke istananya. Tapi, aku nggak tahu berapa jumlahnya.”


“Dan lagi, Aura-aura di sini tuh kayak kucing. Kalau bobonya diganggu dikit auto ngamuk kek singa. Nggak ada bedanya sumpah sama hewan.” Timpal Jacqueline. Antara mengejek dengan berbagai pendapat.


Captain dengan polosnya manggut-manggut. Dia tampak tidak mempermasalahkan pendapat yang diutarakan sepasang kekasih menjengkelkan itu . Akhirnya, Aura merespon omongan Aoi dan Jacqueline setelah sekian menit ia habiskan dengan berpikir.


“Intinya, kita bagi tugas sekarang! Kalian panggil Aura dan Chloe! Di tempat ini, biar aku dan Grimoire yang atasi kekacauannya! Mengerti?”


“Lah? Tapi kan kami nggak tahu dimana Aura dan Chloe sekarang.” Aoi meragukan perkataan Captain barusan. Akan tetapi Aura dihadapannya kelihatan sangat santai dengan situasi genting di sekitarnya.

__ADS_1


Jelas sekali Aoi lihat, Grimoire susah payah menghentikan serangan Asoka. Ratu itu menangis. Tanpa bisa mengontrol kekuatannya untuk tidak menghancurkan benda-benda di wilayahnya. Berulang kali, Grimoire menangkis sihir itu hingga terpantul ke langit.


“Entah kenapa, aku mau membantu Grimoire. Dia kesusahan di atas sana.” Ujar Aoi prihatin,


“Jangan cemaskan dia. Grimoire itu hebat. Meskipun musuh, aku mengerti potensinya.” Captain mengedipkan matanya centil pada Aoi. “Kalian duluan aja. Begitu Asoka selesai, aku akan menyusul kalian.”


“Baik, Captain!” balas pasangan itu bersemangat.


Sebelum benar-benar pergi dari wilayah Asoka, Aoi memberikan gandengan tangannya pada Jacqueline. Dengan tampang penuh yakin, Aoi berkata, “Kita akan baik-baik saja selagi kita bersama.”


Jacqueline tersenyum hangat, disusul dengan tangannya yang membalas gandengan tangan kekasihnya. Tanpa basa-basi, Mereka berdua berlari beriringan dengan tangan mereka yang saling berbagi kehangatan. Senyuman tak lupa terkulas di wajah imut mereka.


Melihat hal itu saja sudah membuat Captain terenyuh. Dia iri terkadang. Mengetahui manusia hidup berpasangan saling berbagi perhatian dan cinta. Gandengan tangan adalah hal yang sangat Captain inginkan. Seandainya dia memiliki pacar, Captain akan berjanji pada dirinya tidak akan berpaling dari laki-laki pertamanya.


“Astaga… Kenapa jadi mikirin cinta?” Captain menepuk keningnya heran. Agak kesal dengan pikiran bodohnya barusan.


Setelah memastikan keberadaan pasangan itu aman dari serangan Asoka, barulah Captain melompat setinggi mungkin menyusul Grimoire yang tengah menahan sihir Asoka dengan dua batang duri sepanjang lengan pria dewasa yang hendak menembusnya. Bahaya sekali itu! Sihir milik Asoka bukan sihir murahan yang dimiliki penyihir kebanyakan. Sihir yang diberi nama “Danmaku” itu Lady Asoka memiliki efek negatif yang kental. Belum lagi dengan mantra yang dituliskan di buku hariannya, lalu dirobek dan dibakar.


Mantra itu bisa dengan mudah mencederai lawannya tanpa melibatkan tubuhnya untuk bergerak maju hingga menimbulkan rasa lelah yang berlebihan.


“Kekuatanmu indah sekali, Asoka! Aku jadi iri rasanya!” seru Captain di balik punggung sang ratu yang tengah mengamuk itu. Gadis berambut ungu itu membawa linggis, senjata andalannya yang kemudian, dilayangkan langsung mengenai kepala Asoka. Mahkota kebanggaannya terjatuh. Permukaan emas mahal itu bersentuhan dengan permukaan tanah yang dibanjiri oleh debu.


 “MAAF YA, GRIMOIRE! NGGAK SENGAJA!” teriak Captain berusaha menutupi perasaan tak bersalahnya dengan raut minta maafnya. Namun tetap saja, Grimoire bisa menebak kalau  Captain melakukan tindak kekerasan pada ratunya dengan sukarela. Serba salah jadinya. Manusia yang buat ulah tapi kok malah merekanya yang sesama spesies malah bertengkar.


Tidak tahu jelas bagaimana kronologi manusia itu bisa tersesat di Carnater, Grimoire mau tak mau mengikuti omongan para Megawavile dan juga ratunya untuk saling bekerja sama. Sudah ia lakukan tapi kenapa malah ratunya yang bermasalah?


Asoka berusaha bangun dari posisi telungkupnya. No komen di mulutnya. Aura itu hanya diam dengan sejumlah darah berwarna vermilion bercipratan di wajah cantiknya.


Kedua tangan yang ia gunakan untuk membantu berdiri kakinya, bergetar hebat. Jatuh dari ketinggian lebih dari 10 m itu sukses melemahkan rangka dan persendiannya. Gaunnya lusuh ternodai tanah. Air matanya mengering. Danmaku-nya sebagian melayang di atas kepalanya.


Asoka menunjukkan reaksi lemah di depan Captain dan Grimoire.


“Kau tunggu di sana, biar kuhampiri dulu nona.” Ucap Grimoire dengan suara lantang.


Aura berkekuatan duri itu melangkah dalam diam menghampiri ratunya sembari memulihkan kembali hutan duri yang hancur itu. Suara tapak sepatunya menggema. Menyadarkan Asoka akan kehadiran seseorang.

__ADS_1


Asoka mengangkat kepala takut-takut. Kini, dia sukses berdiri dipijakannya. Tangan kanannya memeluk pinggangnya yang terasa sakit, seraya melangkah mundur mengantisipasi seandainya Grimoire menyerangnya. Namun, kenyataannya tidak.


Pengawalnya itu justru memeluk ratunya dengan penuh kasih sayang. Grimoire mempersembahkan apapun yang ia punya demi Asoka. Dia juga menonaktifkan sementara kemampuannya yang terkadang suka spontan menusuk itu. Lady Asoka benci tusukan. Itulah fakta yang ia tahu selama ini.


“Jangan khawatir. Nona aman sekarang,” lirih Grimoire hangat.


Dari atas sana, Captain melongo Grimoire yang tengah memeluk Asoka. Mereka terlihat betah dengan posisi seperti itu sampai-sampai membuat Captain kebingungan.


“Memangnya, dipeluk lama itu enak ya?” gumamnya. “Omong-omong, sejak kapan Grimoire bisa seromantis itu?”


Merasa tidak berguna terus menerus melayang, Captain memutuskan untuk turun. Dia menghampiri Grimoire yang kini sedang menggendong tubuh Asoka yang tertidur. Captain menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat. Semudah itukah?


“Sepertinya, ada yang menyerang nona tadi,” tebak Grimoire tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Asoka yang manis itu.


“Jawabanku sih, pasti manusia yang melakukannya. Cuma! Keberadaan mereka ini! Padahal udah dicari pakai kemampuan pelacak masih juga nggak ketemu. Apa jangan-jangan, mereka menyamar ya?” Captain mulai berpikir. “Ah, capek mikir terus! Biar Aura aja deh yang urusin!” Dan pada akhirnya, malah berubah pikiran.


“Kau kadang egois ya,” celetuk Grimoire mengomentari sikap Captain yang sebenarnya memancing amarahnya.


“Ah, masa?”


“Lupakan! Omong-omong, dimana Aoi dan Jacqueline?”


“Panggil Aura.”


Grimoire terbelalak. “Kau menyuruh mereka pergi? Memangnya mereka tahu dimana Aura?”


“Nggak. Eh? Astaga!” menyadari kesalahannya, tanpa pikir panjang, Captain segera berlari meninggalkan Grimoire. Aura itu juga meninggalkan pesan lisan pada Grimoire, “Kau jaga aja istanamu! Aoi ma Jacqueline biar aku aja yang urus! Bye! Love ya!”


23 tahun hidup dengan tampang datar, Grimoire akhirnya mendapatkan kesempatan memasang raut jijik di wajahnya yang polos itu. Memang dia tidak mengerti maksud kalimat “Love ya”. Akan tetapi, nada dan cara Captain menyebutkannya itu benar-benar berlebihan. Pundaknya jadi merinding setiap kali mengingat kalimat tersebut dan memutuskan untuk membuang jauh pemikiran konyol tersebut.


“Semoga saja, dunia kita bisa kembali seperti semula, ya…” ucap Grimoire memandang langit kelabu yang semakin hari membosankan di matanya.


“Nona beruntung sekali tidak berhadapan langsung dengan Aura. Kalau hal itu sampai terjadi, maka masalah ini nggak bakal ada habisnya.”


~

__ADS_1


__ADS_2