
Chloe tertegun mendapati bayangan hitam yang menutupi cahaya lampu di atasnya. Bayangan itu berupa siluet seseorang yang tengah berdiri memandangnya. Jelas sekali dari bentuknya kalau bayangan itu adalah Black Aura.
Aura itu diam dan masih bertahan dengan posisinya saat ini. Yang membedakan hanyalah, setangkai bunga veronica yang ia genggam. Black Aura seperti biasanya diam tanpa kata-kata. Manik violetnya memandang Chloe dengan tatapan datar. Tidak ada kata apapun yang terlintas di benak itu selain kehampaan dalam dirinya.
“Aura?” Chloe mendongak ke atas memperlihatkan wajahnya yang hancur. Gadis itu masih dengan posisi meringkuknya, cepat-cepat mengusap air mata di pipi kirinya. Kemudian, berusaha menyunggingkan senyuman meskipun terasa amat mustahil baginya berbohong di suasana hati seperti itu.
Black Aura menunduk sambil menyamakan posisi wajahnya dengan Chloe. Dia kemudian membereskan kentang-kentang dan bolu yang berserakan di lantai. Tidak ada komentar yang dilontarkan Aura itu pada Chloe.
Sebenarnya, Black Aura diam-diam memperhatikan Chloe yang menangis tadi. Dia serba salah jadinya membiarkan Chloe dalam keadaan terpuruk begitu meskipun nyatanya gadis itu telah berulang kali berbuat salah padanya.
Yah, bagi Black Aura, hal itu bukan masalah besar baginya. Karena rasa sakit itu bagaimanapun juga akan berakhir menjadi kekuatannya. Rasa sakit itu yang akan membantunya membunuh Legend Aura apabila masalah di Carnater ini sudah terselesaikan.
Black Aura sadar, kekuatan Chloe dan dirinya dalam menahan rasa sakit itu berbeda. Chloe perempuan dan dia manusia. Perasaannya rentan terserang oleh pikiran negatif dan Black Aura terus terang saja paham apa yang dirasakan Chloe waktu itu.
Sebab itulah, Black Aura memutuskan untuk menemani Chloe dan memaafkannya. Dia yakin, kalau pacarnya itu bisa berubah.
Kalau dirinya saja bisa berubah kenapa Chloe tidak?
Black Aura tersenyum setelah itu, menghela nafas singkat. Aura itu kemudian mendongak ke arah Chloe lalu bertanya, “Sakit ya?”
Chloe tertegun mendengar pertanyaan Black Aura tersebut. Untuk beberapa saat, Chloe terdiam. Sebelum akhirnya, mengangguk pelan.
“Siapa yang menyakitimu?”
Pertanyaan kedua ini justru sukses membuat Chloe mendongak seratus persen wajahnya menghadap Black Aura. Dengan begitu, Black Aura bisa mengetahui seberapa parah dan berantakannya wajah serta perasaan Chloe ini. Kacaunya berlebihan sekali.
Bibir Chloe bergetar. Sulit baginya menjawab pertanyaan kedua yang Black Aura lontarkan tersebut. Bukan karena dia tidak ingin mengakui kesalahannya. Melainkan, dirinya bingung, harus merangkai jawabannya seperti apa.
“Aku, Ethan… Aura?”
“Lho? Aku juga?”
“Iya…”
“Alasannya?”
“Karena kau mengabaikanku. Kukira, kita ini bakal putus hari ini juga. Kukira, aku nggak bisa lagi melihatmu. Kukira, hari ini, hari terakhirku bersamamu, Aura. Aku… Jujur saja, takut kalau aku nggak bisa melihatmu lagi. Aku menyukaimu, bahkan lebih. Tapi, aku selalu saja mengabaikanmu. Sekarang aku mengerti gimana sakitnya diabaikan saat kau berusaha ingin membahagiakan orang yang kau sayangi,” beber Chloe panjang lebar. Tak lama kemudian, wajahnya memerah begitu menyadari niat dari Black Aura sebenarnya adalah ingin Chloe agar dirinya tidak mengerti bagaimana rasanya diabaikan saat sedang berjuang ingin membahagiakan orang lain.
Sakit, bukan? Bahkan Aura seperti Black Aura saja bisa merasakan sakit ditusuk itu tidak sebanding dengan diabaikan.
“Sekarang, aku jadi mengerti kalau hal yang paling membuatmu sedih adalah diabaikan. Memangnya, sejak kecil kau sering diabaikan ya?” tanya Black Aura sembari membantu Chloe berdiri.
“Memangnya, sejak kecil kau sering diabaikan ya?” tanya Black Aura. Suasana di sekitar mereka diam dan canggung. Karena itulah, dia berusaha mencairkannya dengan mengajak Chloe berbicara. Mana tahu, perasaan gadis itu bisa membaik dengan diajak berbagi cerita.
Bukankah sebenarnya itu yang mereka inginkan? Berbagi cerita sambil menikmati sepiring kentang goreng dan hanya berdua saja.
Chloe mengiyakan pertanyaan Black Aura barusan. Perlahan juga, bibirnya yang tadinya terasa kaku untuk tersenyum, akhirnya bisa kembali tersenyum karena ada Black Aura di sampingnya.
__ADS_1
Kedua remaja itu berjalan santai menuju dapur.
“Tunggu disini ya... Biar aku yang mengambil makan malam kita,” kata Black Aura sambil mendorong Chloe pelan ke sudut ruangan di ruang tengah.
“Memangnya, kau mau kita makan dimana?”
“Intinya, jauh dari keramaian.”
“Oke..”
~
“Lho? Chloe mana?” celetuk Aoi ketika Black Aura melangkah masuk ke ruang makan begitu saja. Tidak ada salam ataupun sapaan yang Aura itu berikan pada mereka. Yah, sebagaimana dirinya yang biasalah.
Black Aura sambil mengambil beberapa piring menjawab, “Intinya bukan disini.”
“Jadi, dimana dia? Dia nggak kabur kan?” Ethan ikut menimpali.
Di samping pria itu, Midnight mengernyit tak mengerti sehingga aktivitas menyiapkan beberapa piring di atas mejanya jadi terjeda.
“Bukan urusanmu,” jawab Black Aura dingin. Berpikir bahwa piring yang ia bawa sudah cukup untuk menampung kentang goreng, kari, bolu, dan ayam panggang, Black Aura tanpa pikir panjang beranjak dari ruang makan menuju ruang tengah tempat di mana Chloe menunggunya saat ini.
Sementara, Midnight dan lima remaja itu hanya bisa diam mengamati pergerakan Black Aura.
Midnight tersenyum tipis. Begitu ya?
“Black Aura, mau kubantu?” tawar Ethan tiba-tiba bangkit dari kursinya sampai-sampai menggetar meja makan tersebut. Aoi yang hendak menuangkan cola ke gelasnya, nyaris saja tumpah ke samping.
Bukannya Black Aura yang menjawab tawaran Ethan, justru Midnight yang angkat bicara agar pria itu tidak mengganggu waktu kebersamaan Black Aura dengan Chloe. Kejanggalan yang beberapa menit sebelumnya sempat mengusik pikiran Midnight akhirnya terjawab sudah.
Midnight sadar bahwa kehadiran Ethan disini sangat mengganggu Black Aura dalam berbuat sesuatu. Terlebih lagi dengan Chloe. Midnight tebak, Ethan ini sebenarnya tak hanya menaruh perasaan pada dirinya tapi juga dengan Chloe.
Saat Ethan hendak menghampiri Black Aura, Midnight cepat-cepat menahan pria itu.
“Biarkan saja mereka. Selain itu juga, aku punya banyak pertanyaan yang harus kau jawab semuanya sampai tuntas, oke?” ucap Midnight disertai kedipan matanya.
~
Chloe yang baru selesai menata kursi dan meja di rooftop dibuat terkejut oleh Black Aura yang membawa banyak sekali makanan di atas nampan berukuran besar itu. Dari semua makanan, anehnya, hanya kentang goreng saja yang menurut Chloe agak tidak beres.
“Kentangnya banyak banget,” komennya sambil menghitung jumlah kentang di piringnya. 55 potong. Bagi orang yang lapar atau yang rakus sifatnya, mungkin tak akan mempermasalahkan jumlah kentangnya dan lebih memprioritaskan perutnya. Tapi, Chloe berbeda. Gadis itu merasa makan malamnya kali ini terlalu banyak.
“Kentang ini bukan untukmu aja, Chloe. Ada aku juga yang makan kentang,” sahut Black Aura sambil membuka kaleng coca cola, kemudian menuangkannya ke dalam gelas Chloe. Setelah itu, barulah gelasnya.
“Oalah… Yah, kau kan bisa tinggal bilang kalau kentang ini untuk kita berdua.”
“Malas kubilang. Tinggal makan aja susah kali.”
__ADS_1
“Kok, jawabnya gitu sih? Kau masih marah sama aku?”
“Menurutmu?”
Chloe membuang nafasnya keras menanggapi sikap pacarnya yang mulai menyebalkan ini.
“Chloe… Memangnya, siapa aja yang sering mengabaikanmu di masa lalu?” tanya Black Aura tiba-tiba.
Chloe tersentak dan reflek menoleh ke arah Black Aura. Dia memiringkan kepalanya tapi merasa antusias disisi lain. Tangan kanannya yang menggenggam kentang itu memilih untuk turun.
“Banyak. Sakitnya juga masih terasa meskipun… Aku berusaha melupakannya. Maaf ya, kalau misalnya tangisanku terlalu berlebihan. Habisnya, di masa lalu itu…” Chloe terdiam beberapa saat.
“Nggak Cuma teman-temanku aja yang mengabaikanku. Guru, bahkan keluargaku juga.”
“Begitu ya? Agak mirip dengan ibu…” lirih Black Aura.
“Apa? Maksudmu, aku dan Midnight hampir sama?” tanya Chloe dan pertanyaannya itu dijawab dengan anggukan kecil Black Aura.
“Memangnya, karena apa? Apa karena dia punya kemampuan khusus jadi dia dicampakkan semua orang?” tebak Chloe asal.
Black Aura terkekeh geli mendengarnya, “Bodoh. Dia dulunya Cuma manusia biasa. Sejak menikah dengan ayah… Dirinya udah bukan lagi manusia. Daripada membahas ibu, aku justru ingin lebih tahu ceritamu. Aku penasaran, kenapa tangisanmu sampai berlebihan gitu sih setiap kali diabaikan? Memangnya trauma kayak apa yang pernah kau alami?”
“Kurasa banyak. Kalau kau mau tahu, akan kuceritakan sekarang.”
Chloe membenarkan posisi duduknya, menyandar di lengan kiri Black Aura.
Langit malam ini benar-benar cerah. Ditambah dengan tiupan anginnya yang tidak begitu kencang tapi cukup menyejukkan tubuh mereka. Makan malam di rooftop tampaknya akan menjadi makan malam terindah bagi Chloe dan Black Aura.
Kedua remaja itu saling memamerkan senyuman terbaik mereka.
“Duduk yang manis ya! Jangan ngantuk juga, ya! Awas kau kalau tidur!” ancam Chloe dengan ujung garpu di hadapan Black Aura.
Black Aura mendengus, “Percuma. Garpu itu nggak bakal membunuhku.”
“Sombong. Sekalinya ditusuk, nangis minta dipeluk,” cibir Chloe yang tidak disangkanya langsung mendapat serangan kejutan dari Black Aura berupa gelitikan.
“Apa-apaan ini?! Woi! Geli!” Chloe berusaha melawan Black Aura. Sayangnya, Black Aura masih tidak mau memisahkan dirinya dengan Chloe dan terus-terusan menggelitik gadis itu.
Di saat-saat seperti itu, Chloe bisa mendenagr dengan jelas suara Black Aura yang tertawa lepas. Aura itu kelihatan bahagia dengan aksinya kali ini.
“Oh, gitu ya? Sini kubalas kau!”
Dengan sepatunya, Chloe menendang wajah Black Aura kemudian membalas serangan Aura. Dia menyentil kening Black Aura berulang kali sampai Aura itu menyerah.
“Sakit kali, astaga…” Black Aura mengelus keningnya yang memerah usai mendapatkan lima belas kali sentilan maut Chloe.
“Makanya, jangan asal gelitikan orang dong! Dahlah… Ayo, dimakan! Kalau dingin nggak enak jadinya,” ajak Chloe.
__ADS_1
Akhirnya, pasangan remaja itu menyantap makan malam mereka dengan tenang. Sembari menikmati indahnya pemandangan di malam hari, Chloe mulai menceritakan masa lalunya pada Black Aura.
~