
“Nah, sudah lengkap semua?” Jacqueline mengawali pembicaraan setelah akhirnya bertemu dengan Chloe.
Ketiga Aura itu berdiri di belakang tidak memandang satu sama lain. Masing-masing terpaku lurus pada remaja yang sudah sangat dekat dengan mereka.
“Obat-obat sudah lengkap. Tapi, keberadaan Aoi belum terungkap.” Ujar Chloe mendadak murung.
Jacqueline menghela nafas lalu tersenyum. Dia meletakkan tangannya di punggung Chloe dan mengelus pelan. “Jangan cemas. Kita semua pasti akan membawa Aoi kembali.” Ucapnya.
“Iya… Tapi kukira, saat Aoi hilang, kita akan menemukan sebuah petunjuk seperti kertas atau semacam gambar Aoi yang memiliki hubungan dengannya.”
“Oi, Jacqueline. Bukankah kemarin Aoi ada menggambar sesuatu?” Seperti ada hal penting yang terlintas, Devil Mask langsung buka suara dan memberitahukan hal tersebut.
Jacqueline menoleh datar, “Gambar ya? Kemarin dia memang ada menggambar… Tapi, komik.”
“Kau masih menyimpannya?”
“Tentu saja! Devil Mask, minjam portalmu!”
“Aiish! Kau terlalu mengandalkanku, Jacqueline. Sesekali berjalanlah!” keluh Devil Mask sambil membuka portal menuju rumah gadis itu.
“Bodo amat!” seru Jacqueline melompat masuk ke dalam portal itu.
“Memangnya petunjuk seperti apa yang kau maksud, Chloe?” timpal Yumizuka penasaran.
“Seperti kertas, gambar, dan tulisan yang mau menyerupai seperti puisi atau teka-teki.” Sahut Chloe. “Sayangnya, kertas itu sepertinya hilang saat bertemu dengan Dark Fire.”
“Lah?”
“Teman-teman! Aku menemukan tiga gambar Aoi!”
Lima remaja itu tersentak bersamaan saat mendengar suara Jacqueline yang melengking dari dalam portal. Jacqueline berlari-lari kecil sembari melambaikan kertas yang ia dapatkan itu. Tak memakan waktu lama, gadis itu akhirnya sampai dengan penampilannya yang cukup kacau.
Chloe menerima salah satu kertas tersebut. Sedangkan kertas yang lain berada digenggaman Devil Mask dan Yumizuka.
“Gambar yang ini menunjukkan seorang
laki-laki yang berjalan dengan membawa kantong berisikan kentang. Panel kedua, dia melihat seorang gadis dengan tangannya yang berlumuran darah.” Jelas Chloe.
“Disini tintanya berwarna biru.” Black Aura menambahkan.
“Panel ketiga, gadis itu menatap si cowo dengan dingin. Panel keempat… Heh? Masih kosong.” Chloe melanjutkan tapi malah berakhir bingung. Panel keempat masih bersih dan tidak ada setitik tinta pun disana.
“Di kertas yang satu ini dia tidak menggambar komik melainkan seorang gadis dan pria. Mereka bertatapan berlawanan arah.”
Giliran Devil Mask yang mendeskripsikan gambar selanjutnya. “Gambar gadis ini masih sketsa kasar. Pria yang ini memiliki senyuman yang tulus namun… Perasaanku aneh dengan pria ini.”
“Di samping itu juga, Aoi mewarnai iris mata pria itu dengan warna yang berbeda. Mata kiri bewarna biru dan mata kanan berwarna coklat. Kalau gadis itu… Ekspresinya terlihat murung. Tu-tunggu! Bukankah dia menangis?” tunjuk Yumizuka tak percaya.
Perhatian Chloe dan Jacqueline tertuju langsung pada gambar perempuan itu.
“Aku nggak ngerti sama gambar dia.” Jacqueline menyerah.
“Apa jangan-jangan… Aoi bisa melihat masa depan. Atau secara tidak sadar menggambar masa depan?” tebak Chloe.
“Tapi, petunjuk kemarin adalah jebakannya Dark Fire. Mungkin yang memiliki kemampuan melihat masa depan itu Dark Fire.” Black Aura maju selangkah dan mengoreksi perkataan Chloe.
“Aoi kok hilang lagi?” Chloe kembali murung. Wajahnya kali ini terlihat sangat-sangat sedih. “Ayo, kita cari!”
“Tu-tunggu! Masih ada satu kertas lagi yang belum kita lihat!” hadang Yumizuka. “Gambar kali ini lebih jelas dan sudah jadi. Aoi menggambar seorang wanita berambut pendek yang matanya sembab. Dia menggenggam setangkai bunga mawar violet. Gadis ini tampaknya terlihat kacau.”
“Aoi juga menggambar latar belakangnya. Gadis ini tampaknya berada di atas gedung. Soalnya, aku melihat pagar pembatas terbuat dari kawat.” Seru Jacqueline tercengang. “Bisa jadi, sekarang Aoi ada di atas gedung.”
Black Aura dan Devil Mask melirik beberapa
gedung bertingkat. Mereka belum menemukan sosok pria jepang yang selalu mengenakan
jaket biru, berambut tersisir ke samping itu. Tak hanya itu, ada beberapa orang yang kerap kali memiliki outfit yang sama dengan Aoi di atas sana.
“Kita berpencar aja.” Usul Black Aura tanpa pikir panjang.
“Okelah. Nanti ketemuan lagi disini.” Tambah Devil Mask.
Setelah mengangguk bersamaan, mereka
__ADS_1
akhirnya berpencar. Mereka membagi dua kelompok. Pertama kelompok Jacqueline, Devil Mask dan Yumizuka, dan satunya lagi hanya Chloe dan Black Aura. Sebelum semakin menjauh, Chloe sempat memberikan mereka beberapa obat dan perban apabila ada yang terluka.
"Aoi hilang lagi ya? Dia ceroboh sekali." Ujar Black Aura yang kala itu berjalan dengan Chloe.
"Aoi memang ceroboh. Tapi dia juga pandai menjaga dirinya. Dia itu orang yang penuh kejutan," Sahut Chloe. "Setiap kali pergi atau menghilang, dia pasti akan membawakan sesuatu yang tak terduga-duga."
"Tunggu dulu! Aku merasakan Aura di sekitar sini."
"Heh? Yah... Padahal, kalau nggak ada gangguan mau ngajak makan di cafe itu." Chloe mengeluh tapi merasa dirinya tak seharusnya mengatakan itu.
Black Aura tertegun lalu tersenyum heran. "Kita lakukan itu setelah Aoi ketemu, ya!" ucap Black Aura lembut.
"Huft... Okelah... Janji ya!"
Black Aura terbelalak saat gadis itu mengangkat jari kelingkingnya dengan raut cemberut yang lucu. Aura itu semakin terpancang ketika gadis itu menggoyang-goyangkan kelingkingnya ke kiri dan kanan.
Astaga anak ini...
"Baiklah... Aku janji. Tapi ingat! Setelah menyelamatkan Aoi." Black Aura memberi peringatan setelah jari kelingking mereka saling terikat.
"Ok! Ngomong-ngomong, aku suka kau yang seperti ini!"
Seperti biasanya, perkataan gadis itu sanggup membuat Black Aura tersenyum. Dia menunduk agar wajah mereka saling bertemu.
"Aku lebih dari yang kau bilang." Balas Black Aura disertai sentilan yang mendarat langsung ke jidat gadis itu dan membuatnya mengaduh sakit.
"Sakit...! Kemampuanmu tolong diatur juga ya, hahaha... Soalnya kalau rasa sakitnya di tingkat tertinggi, aku bisa saja mati karena sekali sentilan." Protes Chloe masih dalam kategori lembut.
Perlahan-lahan, dia mulai mengerti maksud dari sentilan Black Aura tadi. Sentilan sebagai ungkapan bahwa Aura itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Setelah merasa puas dengan waktu kebersamaan mereka, Chloe dan Black Aura kembali melanjutkan perjalanan mereka. Di samping itu, mereka tidak menyadari bahwa di kejauhan, ada seseorang yang mengamati mereka secara diam-diam, sembari duduk di atas motor sport sambil menyeruput yogurt kesukaannya. Rambut pirang panjangnya bergoyang sedikit karena tabrakan halus dari sang angin.
"Orang yang kau maksud ada di depanku sekarang. Kau mau aku yang mengurusnya, Yuuki?" dia bertanya pada orang yang bernama Yuuki lewat earphone miliknya.
"Biar aku yang mengurusnya. Kau urusi saja temannya yang berambut ungu. Ngomong-ngomong, ada info lain yang kau dengar dari mereka?"
"Katanya, Aoi hilang lagi. Aku sempat mengira bahwa kau pelakunya."
"Okelah... Berarti, Aoi hilang karena alasan lain. Bisa saja ada dari pihak lain seperti keluarganya atau temannya yang membawanya pergi. Bisa juga ada Aura yang iseng. Yah, kau jaga-jaga sajalah."
"Sedang kulakukan. Emma. Sebaiknya kau segera pergi dari situ. Cepat atau lambat, Black Aura ataupun Devil Mask akan segera menemukan dan membunuhmu."
"Ya... Ya... Aku pergi. Jadi, kau yang akan mengurusi Chloe? Apa kau yakin? Soalnya ada..."
"Black Aura? Cih, masalah seperti itu sangat mudah bagiku. Walaupun kita belum punya banyak informasi mengenai Black Aura, setidaknya aku mengerti beberapa kemampuannya. Kita lanjutkan nanti."
Sambungan mereka secara otomatis terputus. Emma mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam jaket.
Anak itu berubah ya... Berbeda dari sebelumnya yang sangat kaku dengan orang lain. Emma membatin sembari menyalakan mesin motornya. Tujuannya berubah menjadi Jacqueline sesuai perintah Yuuki.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat, Emma tidak sengaja melihat bayangan masa lalu dimana dirinya tengah duduk, dengan senyumannya yang khas layaknya orang normal pada umumnya, bersebelahan dengan seorang pria yang memiliki mata yang sipit yang namanya cukup dikenal banyak orang terutama di kampusnya dulu.
Emma menyeringai pahit. "Kalau saja waktu itu kau nggak melihatnya, adikmu nggak akan terlibat sejauh ini." Gumamnya menahan emosi di dalam dirinya.
Mesinnya sudah panas, tanpa pikir panjang, Emma segera tancap gas dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
~
"Black Aura... Kira-kira, Midnight lagi dimana di saat seperti ini?"
"Entahlah, ibuku bukan orang yang suka dicampuri urusannya. Dia membenci orang-orang. Bisa dikatakan, saat ini dia tidak ingin berhubungan dengan lelaki manapun. Ibu orang yang sangat setia dengan ayah." Ungkap Black Aura yang tak lama kemudian terbelalak mendapati hal janggal yang melintas di penglihatannya.
Lantas, Chloe yang menyadarinya langsung bertanya.
"Ada apa, Black Aura?" tanya Chloe tanpa pikir panjang.
"Ada Aura di sekitar sini. Auranya samar."
"Wah, tapi... Kalau bertarung di tempat yang ramai hanya akan menimbulkan masalah. Legend Aura pasti sengaja memancingmu ke tempat yang ramai agar korban yang dihasilkan semakin banyak dan..."
"Dan membuat pasukan mereka semakin banyak. Cih! Sampai saat ini, aku masih belum mendapatkan bayangan tentang bagaimana perang itu akan terjadi. Aku harap, mereka tidak melakukannya disini." Black Aura berdecak kesal.
"Dimana kau merasakan Aura itu?"
__ADS_1
Black Aura mengerem langkahnya, dia melirik ke kiri dan kanan sembari membalas pertanyaan Chloe.
"Di cafe yang biasanya kau datangi." Balasnya menyipitkan kedua matanya serius.
"Heh? Kalau begitu, ayo, kesana!"
Tanpa basa-basi lagi, Chloe berlari kecil. Lalu menyebrangi zebra cross dan menarik pintu cafe itu. Pandangannya ia edarkan seluas mungkin mencari sosok yang disebut Black Aura. Namun Chloe akhirnya sadar bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan melacak Aura.
"Sial..."
Dari belakang Chloe, Black Aura menepuk pundak Chloe usai berhasil menyusul Chloe yang meninggalkannya begitu saja menuju cafe.
"Auranya disini. Chloe, bilang pada Jacqueline untuk mengurus tempat lain!" Ujar Black Aura.
"Oke!"
"Wah, Chloe! Baguslah kau disini!"
Seruan yang sangat familiar itu berhasil membuat kedua pundak remaja yang saat itu berdiri di ambang pintu berguncang. Cepat-cepat Chloe menoleh ke belakang dan mendapati gadis seusianya berdiri sambil menelengkan kepalanya.
"Hyori?"
Chloe kaget dan mundur hingga menabrak Black Aura.
"Sedang apa kau di sini?"
"Lho? Kukira, kau juga diundang. Hari ini Minji dan pacarnya mengadakan liburan bersama, kami berniat berliburan ke berbagai tempat dan mengumpulkan kenangan sebanyak-banyaknya!" jelas Hyori.
Entah kenapa, Black Aura merasa miris hanya mendengar pernyataan Hyori lalu membandingkannya dengan Chloe.
Di saat teman-temanmu bisa berlibur dengan normal, kau malah terlibat masalah besar dengan duniaku.
Sekilas namun cukup jelas, Black Aura teringat akan ajakan Chloe yang ingin pergi ke cafe bersamanya. Sebisa mungkin, Black Aura ingin mengabulkan permintaan gadis itu apapun caranya. Meskipun dia memiliki misi yang lebih penting, namun dia merasa bertanggung jawab atas kesenangan gadis ini.
"Begitu ya? Hahaha! Aku selalu sibuk makanya Minji sampai lupa padaku." Sahut Chloe menyunggingkan senyum simpulnya.
"Benar juga ya! Kau memang sibuk. Aku penasaran, kau ngapain aja selama ini. Pria di depanmu itu siapa?"
"Oh! Dia teman Aoi. Aku mengajaknya berjalan-jalan karena dia ingin mengenal Chicago lebih jauh. Dia ini dari Jepang." Jelas Chloe berbohong.
Astaga... Mau berapa kali kau berbohong? Batin Black Aura heran.
"Wah... Tapi, kulihat... Kelihatannya kalian itu dekat, lho!" Hyori maju selangkah lebih dekat pada Chloe.
"Albino ya? Keren juga. Tapi, bukannya albino nggak bisa terkena cahaya?"
"Dia bukan albino. Gara-gara gen ayahnya yang manusia biasa, gen ibunya yang albino itu kalah. Jadi, ibunya hanya meninggalkan warna rambut putih padanya." Ujar Chloe sekenanya.
"Hyori. Kau lama sekali."
Ketika lagi serunya terlibat dalam perbincangan singkat, Minji datang tiba-tiba dan tanpa permisi main nimbrung saja.
"Minji! Kau nggak ngundang Chloe? Bukannya kita ini berenam?" protes Hyori.
"Kursi yang dipesan Yo-han memang berenam. Tapi tidak untuknya. Sudahlah, ayo!" Minji bahkan tak segan-segan merampas lengan Hyori dan mengabaikan keberadaan Chloe.
Black Aura terbelalak dalam diam memandang sikap Minji terhadap Chloe. Ia tidak menyangka, rupanya masih ada yang lebih kejam lagi darinya. Bahkan masih ada yang lebih sakit lagi dari serangan yang biasanya ia luncurkan pada Legend Aura.
Terabaikan atau diabaikan. Kata-kata itu baginya sudah terdengar sangat menyakitkan. Terlebih lagi melihat Chloe yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Jelas sekali bahwa ikatan seperti itu tak seharusnya dipertahankan.
"Chloe." Panggil Black Aura setelah kedua gadis itu pergi meninggalkan Chloe.
"Nggak papa... Santai saja, Black Aura! Karena, aku lebih beruntung memiliki dirimu disini." Seru Chloe mantap.
"Dasar. Selalu saja membuatku ragu."
"Hehe... Ngomong-ngomong, kita kesampingkan dulu hal tak penting ini. Cepat kita datangi Aura yang ada di dalam cafe ini!" ajak Chloe tak sabarin dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe dengan aroma klasik kegemaran remaja sekarang.
"Auranya agak aneh. Tapi, kita lihat aja." Black Aura ikut masuk ke dalam.
Ruangan di dalam cafe seperti biasanya terlihat menenangkan dengan sejumlah remaja serta beberapa orang dewasa yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Pemandangan seperti inilah yang sangat Chloe suka. Serasa berada di masa lalu.
~
__ADS_1