
~
Semua ini aneh…
Tidak, sejak awal memang ada yang tak beres.
Dari waktu aku diciptakan… Pemandangan yang kulihat bukanlah keindahan melainkan kegelapan.
Tidak ada nyanyian indah yang kudengar dari omongan mereka.
Aku hidup bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk membalaskan dendam seorang gadis yang menciptakanku.
Lantas, untuk apa?
Aku sebenarnya tidak senang dengan permintaan itu. Tapi, karena aku bagian dari rasa sakit Carmine, aku tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti omongannya.
Aku nggak mau mati. Aku ingin setidaknya bisa merasakan seperti apa hidup itu. Melihat dunia fantasi yang penuh akan keajaiban serta melihat dunia luar yang berisik meskipun dari penglihatan Carmine yang terbatas luasnya.
Aku melihat Aoi, Jean, Megawave. Mereka bisa merasakan senangnya berteman. Mereka memiliki seseorang yang mereka cintai.
Kekuatan yang mereka punya digunakan untuk menolong orang lain. Tapi, mengapa kekuatan yang kupunya justru menyakiti orang lain.
Carmine, dia menciptakanku hanya untuk membunuh keluarga besarnya.
Aku benci mengatakan ini tapi, Carmine itu pengecut.
Meskipun kekuatanku mengerikan dan berasal dari rasa sakitnya, dalam hati kecilku aku tak ingin kekuatan ini pada akhirnya akan membuatku merasa kesepian.
“Aura, kau itu kuat lho… Jangan pernah berpikir kau itu penjahat. Kau itu baik. Malah lebih baik daripada diriku… Kekuatanmu memang mengerikan, tapi, mengerikannya itu bisa menghilangkan beban orang lain. Kekuatanmu bisa membuat orang yang sedang kesakitan bisa mengungkapkan rasa sakitnya. Bisa membuat orang tidak terlalu terpaku pada kebahagiaan,”
Aku terdiam saat mendengar omongan Midnight. Dia menghampiriku, lalu menghiburku. Dia merangkul seperti aku adalah anaknya sendiri.
Senyumannya manis, seperti seorang ibu.
Aku yang hampir menyerah dan ingin membunuh kebaikan kecil dalam hatiku mendadak berhenti.
Aku sadar.
Setelah semua pertarungan yang kulewati, beberapa lawanku jadinya sadar akan kehidupan. Mereka tak bisa terus menerus tergantung pada kebahagiaan. Rasa sakit-lah yang justru memiliki arti dalam kehidupan mereka.
Aku berbagi rasa sakit dengan lawanku. Tak peduli siapapun, aku bisa merasakan rasa sakit yang kuperoleh dari mereka.
Bahkan, rasa sakit akan kehilangan.
Saat aku melihat air mata Midnight berjatuhan karena Carmine. Saat aku melihat Chloe yang menangis karena kehilangan Aoi. Saat aku melihat bayangan diriku yang menangis karena aku takut tak bisa melihat Chloe lagi.
Rasa sakit membuat mereka menjadi lebih kuat.
__ADS_1
Kebahagiaan membuat mereka menjadi naïf, menurutku.
Terlepas dari semua yang kulewati bersama mereka. Aku… Jadi semakin mencintai apapun yang aku punya.
Bahkan… Rasa sakit yang kuterima dari lawanku yang sekarang ini.
~
Ini kan mimpi, jadi, tidak masalah kota ini aku hancurkan…
Black Aura mengeluarkan beberapa pilar raksasa di sekitar kota. Dari pilar itu, muncullah beberapa laser yang membunuh para hantu. Tak Cuma hantu, laser itu juga mengincar Ghostwave.
Kalau dia menghindar, itu artinya dia bisa disentuh…
Benar saja yang dikatakan Black Aura dalam hati, Aura setengah hantu itu kabur dari kursinya—menghindari laser-laser yang berjalan mengejarnya tersebut.
TRANG!
Black Aura menangkis sabit yang hendak Ghostwave layangkan padanya.
“Refleks yang bagus,” puji Ghostwave.
Black Aura tidak merespon dan tetap melanjutkan serangannya yang lain. DIa membuka tangannya da keluarlah pisau kecil yang dengan cepat dia tusukkan ke wajah Ghostwave.
Tembus. Lagi-lagi serangannya tak berhasil melukai Ghostwave. Meskipun begitu, Black Aura tetap meneruskan pertarungannya sampai dirinya bisa menemukan cara untuk membunuh musuh alami ayahnya, Meg.
Walaupun masih bingung mengapa tendangannya bisa mengenai kepala Ghostwave, Black Aura tetap melancarkan serangannya yang lain.
Wilayah kota yang sibuk karena kendaraan mobil dan bermotor itu mendadak menjadi sunyi.
“Aku akan kembali ke duniaku,” Black Aura menendang lagi wajah Ghostwave tanpa memperdulikan seberapa keras dan sakitnya serangannya itu.
Ghostwave kembali bangkit sambil mengusap darah yang mengalir di pipinya. Walaupun tertutupi oleh kepulan asap hitam, Black Aura masih bisa melihat warna darah Ghostwave.
“Padahal sudah lebih dari sepuluh tahun tapi kau masih saja mengincar Midnight. Sebenarnya, dendammu apa?” tanya Black Aura disaat bersamaan, mengubah target serangannya menjadi kearah Ghostwave semua. Hujan pedang dan laser itu semuanya mengarah ke Ghostwave,
Aku masih bisa merasakan sakitnya Midnight sampai saat ini.
Meskipun dia tersenyum, meskipun senyumannya manis… Rasa sakit yang dia rasakan tak sebanding dengan luka yang kumiliki.
Luka kehilangan sosok yang dicintainya. Luka dari ikatan yang hancur.
Trang!
Pedang Black Aura beradu dengan sabit milik Ghostwave. Meskipun melamun dan terus memikirkan rasa sakit orang lain, Black Aura masih bisa mengetahui serangan Ghostwave kedepannya.
Aku nggak mau Midnight kesakitan terus. Terlalu sakit bisa saja membunuh dirinya.
__ADS_1
Karena itu…
“Argh!” Black Aura terjatuh saat pedang Ghostwave berhasil menusuk pundak kanannya sampai mendorong dirinya—menghantam permukaan tanah yang kasar.
Setelah menusuk Black Aura, Ghostwave melanjutkan serangannya yang lain yaitu menendang Black Aura.
Ghostwave juga tak lupa mengeluarkan beberapa lingkaran sihir untuk mengeluarkan beberapa arwah yang akan ia gunakan untuk melawan Black Aura.
“Kira-kira, kau bisa nggak menahan runtuhan bangunan ini?”tantang Ghostwave sambil menyeringai jahat.
Seluruh bangunan yang ada di kota mengeluarkan sinar hijau. Ghostwave menduplikat beberapa gedung yang ada di kota dan mengubahnya menjadi arwah.
Arwah dari gedung-gedung itu dilemparnya kearah Black Aura sementara dirinya menghilang entah kemana.
Arwah dari gedung-gedung itu menghantam tanah tempat Black Aura berdiri dan pecah menjadi kepingan raksasa.
Tanpa pikir panjang, Black Aura berteleportasi ke tempat yang jauh dari arwah gedung yang hancur usai menghantam tanah. Kepulan asap hijau menyebar dengan cepat menguasai daerah kota itu.
“Cih!” Black Aura menutup sebagian wajahnya dengan tangannya.
Meskipun arwah tapi debu dan kepulan asapnya sanggup membuat mata Black Aura pedih.
“Berisiknya…” gumam Ghostwave.
Kalau aku bisa mengalahkan Black Aura disini, kemungkinan misi Yuuki berhasil. Nggak masalah sih, kerja sama dengan manusia itu yang penting, dendamku bisa terbalaskan. Batin Ghostwave.
Entah dari mana asalnya, kedua kakinya yang transparan itu disandung oleh Black Aura. alhasil, Ghostwave terjatuh sampai menghantam rooftop gedung hotel.
Tak tanggung-tanggung, Black Aura mengangkat kakinya kemudian menginjak Ghostwave. Berulang kali ia melakukan itu sampai dirinya benar-benar puas dengan damage yang didapat Ghostwave dari serangannya.
“Kalau kau mati, berarti aku bisa kan kembali ke dunia nyata?” tanya Black Aura masih fokus dengan menginjak-injak kepala Ghostwave.
“Bisa kok!” seru Ghostwave tiba-tiba berada dibelakang Black Aura.
Betapa terkejutnya Black Aura mendapati kehadiran Ghostwave di belakangnya. Lantas, yang dari tadi dia hajar itu siapa?
BUAK!
Ghostwave membalas serangan Black Aura dengan tendangannya yang disusul dengan arwah dari bongkahan dinding gedung yang dilayangkan cepat kearah Black Aura.
“Hah?”
Brak!
Black Aura membuka matanya. Dia tersenyum tipis.
Bagaimanapun juga, kau yang mati nanti…
__ADS_1
~