
Saat semua peralatan melukis Morgan sudah lengkap dan perasaan mereka yang sudah puas menghabiskan sepuluh jam mereka dengan mengobrol, akhirnya Chloe dan Morgan keluar dari toko Paper Source Lab itu sambil cekikikan layaknya anak kecil. Mereka berdua tidak sadar bahwa mereka sudah terlalu lama mengobrol di dalam toko tanpa memperhatikan jam dan ke arah mata angin manakah bayangan saat itu. Sayangnya, kata-kata bayangan itu tidak berlaku lagi bagi sang malam yang dengan polosnya menyelimuti seisi kota Chicago dengan kegelapan. Sinar rembulan saja tidak cukup menyinari seluruh kota, meskipun matahari sudah memberikan sedikit keringanan dengan memberikan cahayanya kemudian, sisanya tergantung bagaimana sang bulan memantulkannya.
Chloe mendongakkan kepalanya ke atas. Berbekal cahaya lampu jalan yang tak begitu luas, Chloe dan Morgan melangkah keluar menelusuri jalan yang mulai sepi. Tampaknya, sebagian orang memilih berdiam diri di dalam istana mereka yang nyaman sembari menikmati betapa hangatnya hidangan musim dingin dan api dibawah cerobong asap rumah mereka.
“Wah, nggak nyangka udah malam aja. Padahal, aku pengen banget lihat caramu melukis. Hah, sayang banget…” keluh Chloe setelah itu tertawa kecil pada Morgan.
Sekarang peralatan melukis yang Morgan sudah lengkap semuanya. Sisanya tinggal Morgan yang mengkreasikan imajinasinya sebaik mungkin di atas kanvas putih yang masih polos itu. Bagi Chloe, hobi Morgan itu bagaikan cara orangtua mendidik anak-anak mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Yah, meskipun nyatanya membuat lukisan itu semestinya dengan suasana hati yang bagus, mengapa tidak dengan mendidik anak-anak?
Menurut Chloe, Morgan adalah orangtuanya, kanvas adalah anaknya, peralatan melukis adalah medianya, dan lukisan adalah pelajaran yang didapatkan si kanvas. Dari keempat pernyataan itu, Chloe menyimpulkan bagus atau tidaknya sebuah lukisan itu berdasarkan bagaimana cara si pelukis menuangkan dan mempraktekan keahliannya di atas kanvas. Jika hasilnya bagus, maka lukisan itu bisa membuat si pelukis menjadi terpandang dan di anggap sebagai pelukis yang berbakat.
Morgan ikut tertawa menanggapi perkataan Chloe, “Abisnya seru banget! Faktor terlalu nyaman dengan dunia sendiri sih! Oh, ya, kau lapar?” tanya Morgan sambil merogoh saku jaketnya berharap dia masih memiliki sisa uang untuk mentraktir Chloe makan malam.
Chloe berpikir sejenaknya. Tangan kanannya terlihat mengelus-elus perutnya. “Agak lapar sih.” Jawabnya menyengir lebar sekaligus menahan malu disisi lain. “Sebenarnya, aku pengen makan di Gallery Café. Tapi, jam sepuluh gini mana mungkin buka.”
“Singkatnya udah tutup, kan.” Ralat Morgan yang masih saja tertawa kecil.
“Yah, jadi gimana dong? Lapar banget nih!”
“Fine, Fine! Akan kucarikan tempat makan yang enak. Ingat ya! Jangan protes sama restoran yang kupilih!” Morgan memperlihatkan jari telunjuknya sebagai bentuk peringatan untuk Chloe agar gadis itu tidak mengada-ada setelah menemukan tempat makan yang Morgan pilih.
Chloe memutar bola matanya malas, “Jangan ke tempat yang banyak laki-lakinya! Setidaknya ada pelayan wanitanya!” tukas Chloe.
Tak ingin membuang waktu lama, Chloe dan Morgan segera melangkah cepat mencari tempat makan meskipun angin malam berhembus kencang menerpa kulit mereka yang menggigil kedinginan. Sebuah tiupan angin yang berusaha memperingatkan mereka untuk segera pulang ke rumah mengingat keadaan di luar yang semakin tidak bagus bagi kesehatan tubuh.
“Seperti yang dikatakan Okiya Subaru, ‘orang dewasa itu mudah sakit’,” celetuk Morgan di tengah perjalan mencari tempat makan.
Chloe menghembuskan nafasnya keras seakan dirinya tidak mengakui kebenaran dari perkataan Morgan yang menyontek kata-kata Okiya Subaru, salah satu karakter kartun kesukaan adik Morgan.
“Tergantung usianya juga. Kalau usianya sama seperti kita yang 18-24 tahun ini semestinya masih kuat. Kecuali kalau pola hidup yang tidak sehat.” Ceramah Chloe. “Ngomong-ngomong, usiamu berapa?”
“sweet seventeen, dong!” setelah mengucapkan kalimat tersebut, tatapan tajam dari Chloe langsung menyerang Morgan disertai aura dingin yang tidak enak hingga membuat pria itu terlonjak. Dia pun segera meralat perkataannya. “Hah... 23 tahun. Kau sendiri?”
“22 tahun, sih.”
“Wah, aku senior setahun darimu!” Morgan tersenyum lebar mengetahui fakta bahwa dirinya lebih tua dari Chloe. Dan Chloe tidak menggubris senyuman tersebut memilih untuk mengalihkan pandangannya ke depan. Suasana di jalan raya saat itu sepi. Pejalan kaki semakin berkurang. Hal itu membuat pikiran Chloe mengarah ke hal yang tidak-tidak. Seperti sekelompok orang jahat yang gemar merampas tas dan sejumlah barang-barang penting seperti ponsel, perhiasan, dompet dan lain sebagainya.
Demi menghilangkan perasaan takut itu, Chloe terpaksa menempelkan dirinya pada Morgan sambil menggenggam erat tangan pria itu hingga membuatnya bingung. Tangan pria itu hangat sekali. Enggan rasanya Chloe ingin melepaskan tangan tersebut.
“Kau kenapa, Chloe?” tanya Morgan cemas.
“Aku takut.” Jawab Chloe lirih. Gadis itu menyembunyikan wajahnya dibalik jaket tebal Morgan.
__ADS_1
Morgan paham maksud dari tingkah laku gadis itu. Waktu malam memang rentan yang namanya kejahatan. Orang-orang yang ingin melakukan tindakan merugikan sekaligus menciptakan trauma bagi si korban yang kala itu berjalan di waktu yang tidak tepat karena alasan tertentu, keluar sambil berbaur dengan kesunyian. Bagaikana sekelibat bayangan hitam, mereka berjalan mengendap-endap dengan rencana matang yang sudah mereka persiapkan di kepala mereka. Sebuah keberuntungan bagi mereka jika si korban lengah dan sebuah kesialan bagi si korban yang berhadapan langsung tanpa memiliki keahlian dalam mempertahankan dirinya dari bahaya. Bentrokan pun terjadi hingga timbul dua kemungkinan. Barang yang hilan atau nyawa yang melayang? Atau justru keduanya.
Pesan dari kedua orangtua Chloe tentang larangan keluar rumah di malam hari masih melekat di benak gadis itu hingga saat ini. Chloe ingat betul salah satu scene drama yang ia tonton semasa SMA. Seorang wanita berpenampilan biasa saja, berjalan di bawah langit malam yang tertidur lelap sambil memainkan ponselnya. Tanpa disadarinya, seorang pria bertubuh besar menghampirinya dan merampas ponsel perempuan itu.
Adegan itu membuat jantung Chloe menegang. Dia kerap kali menggigit ujung bibirnya ketika merasakan ketegangan di dadanya.
“Morgan, berjanjilah kau jangan pernah meninggalkanku!”
Chloe yang pada awalnya melihat ke bawah, menoleh kea rah Morgan dengan tatapan serius yang menyimpan ketakutan di dalamnya. Meskipun hatinya merasa berat mengatakannya, namun, Chloe butuh. Apalagi mengingat dirinya yang sudah menaruh penuh kepercayaannya pada Morgan. Dia yakin sekali Morgan adalah orang yang baik.
“Ah, biar nggak seram amat, gimana kalau kita bercerita aja kayak tadi?” usul Morgan tiba-tiba sampai mengejutkan gadis yang tengah dilanda ketakutan itu.
“Cerita apa? Aku udah nggak punya cerita lagi.”
“Aku punya. Yang masa SMA itu…”
“Oh, lanjutan di toko tadi? Boleh-boleh! Jadi bagaimana nasib sahabatmu itu? Apa dia baik-baik saja?”
Morgan menggeleng sedih, “Tidak. Saat polisi menggeledah kamar pelaku, mereka menemukan gelang biru Kristal pemberian adikku. Sejak saat itulah, aku dan adikku percaya kalau sahabat kami ini memang sudah pergi. Padahal kami sahabat, tapi kenapa dia masih saja nggak mau menceritakan apapun masalahnya?” Morgan mendadak terdiam. Sementara, Chloe paham dengan yang dirasakan Morgan. Ditinggalkan orang yang sangat disayangi itu memang berat. Sama seperti dirinya yang juga pernah ditinggal pergi oleh abangnya. Insiden kecelakaan yang menimpa abangnya itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Akan tetapi, begit tahu bahwa kematiannya disebabkan oleh kecelakaan, Chloe sebisa mungkin menahan amarah dan kesedihannya. Walaupun di usianya yang saat itu cukup rentan terserang depresi, Chloe bersikeras ingin menjadi pribadi yang kuat agar masa SMA-nya tidak hilang karena depresinya tersebut. Untunglah ada Aoi yang senantiasa menemaninya saat itu. Dengan begitu, Chloe tidak merasa kesepian lagi.
“Pasti adikmu syok berat mendengar berita itu.” Tebak Chloe selang beberapa menit ketika kesunyian nyaris saja mengambil alih penuh wilayah mereka.
“Eh, memangnya, adikmu itu seperti apa sih sifatnya? Kenapa dia sampai segitunya? Apa jangan-jangan, waktu itu dia terserang depresi juga?” Chloe kembali bertanya dengan raut antusiasnya. Jelas sekali gadis itu merasa nyaman dengan cerita Morgan. Tampaknya, ketakutan yang menguasai gadis itu perlahan-lahan menghilang.
Syukurlah kalau begitu, batin Morgan sebelum akhirnya kembali melanjutkan ceritanya.
“Adikku itu semaunya sendiri, selalu ingin menjadi yang berbeda, dan terkadang emosinya tidak menentu. Karena itulah, dia sulit mendapatkan teman. Ditambah lagi dengan kesukaannya yang agak jauh berbeda dari anak-anak pada umumnya. Hmm, mungkin karena kami berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan, makanya adikku menemukan banyak hal dari internet di usianya yang masih terlalu kecil, delapan tahun.”
“Sebentar, kau sekarang kuliahkan? Lalu adikmu? Jangan bilang, dia masih SMA?”
“Nope, adikku juga kuliah. Bisa dibilang, dia masih S1. Untunglah, dia masih mau memperluas cakrawalanya.”
“Wah, sedih ya… Kalau aku jadi adikmu, mungkin yang kulakukan adalah bunuh di...”
“Hush! Nggak boleh begitu! Hidupmu itu berharga apalagi nyawamu!” sela Morgan tak terima.
“Hehehe, maaf-maaf. Ngomong-ngomong, siapa nama adikmu? Kalau bisa, aku juga mau kenalan sama dia.” Ujar Chloe disertai kedua matanya yang berbinar-binar penuh harapan.
“Aku nggak yakin soal itu.”
__ADS_1
“Eh?”
Morgan hanya terdiam memandang raut Chloe yang semakin diwarnai rasa penasaran itu. “Daripada membahas soal itu, bagaimana kalau kita membahas soal lain? Sekarang, giliranmu yang bercerita!” ujar Morgan yang langsung mengganti topic pembicaraan mereka. Dan dengan mudahnya, Chloe ikut terpengaruh dengan apa yang Morgan ucapkan dan benar! Sekarang giliran Chloe-lah yang bercerita. Dasar…
“Gimana yah? Ceritaku ini rada memalukan sih…” Ia bergumam tapi Morgan bisa mendengar suaranya yang halus itu.
“Memalukan bagaimana? Bukankah pengalamanmu justru lebih menakjubkan ketimbang pengalamanku? Seharusnya, pengalaman sepertimulah yang harus dibagikan ke orang-orang. Meskipun tak percaya tapi nyata bukan?”
Chloe menganggukkan kepalanya setuju. “Terus terang, aku ingin sekali menceritakan pengalamanku ini dengan menuangkannya ke dalam kertas. Yah, kalaupun tulisanku ini jadi, aku yakin orang-orang akan menganggapnya sebagai fiksi atau sekedar imajinasiku saja. Namun nyatanya tidak. Haahh… Fantasi itu memang rada sulit, ya!”
Senyuman Morgan terukir dengan lembut di wajah tampannya itu. Dia rasa, mengajak Chloe bercerita adalah momen yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Jiwanya seolah baru saja dihidupkan kembali. Sejauh ini, gadis yang mau berbicara dengan laki-laki berkacamata kotak sepertinya hanya Chloe saja. Sisanya memilih laki-laki berpenampilan maco atau yang memiliki style rambut yang acak-acak atau bahkan yang termasuk laki-laki terpopuler di kampus mereka itu.
“Ya… Itulah… Fantasi.” Balas Morgan.
“Oh, ya, Morgan!” panggil Chloe tiba-tiba.
“Ya?”
“Gajah laut itu ukurannya memang lebih dari manusia ya?”
“Eh? Gajah laut?Sebentar…” dibalik kacamatanya, mata Morgan terpejam erat sembari mengingat-ingat kembali informasi tentang gajah laut yang jauh-jauh hari pernah dibacanya di perpustakaan. “Kalau nggak salah sih, iya. Memangnya kenapa? Kau pernah bertemu dengan hewan itu?”
“Yep!”
“Hehh?! Beneran??” Morgan membelalakkan matanya tak percaya. Benar-benar random mereka ini. Tadi membahas adiknya Morgan. Kini, pembahasan mereka sepenuhnya beralih ke hewan mamalia laut yang biasa disebut gajah laut. Chloe tersenyum meremehkan dan mulai bercerita sedikit pengalaman langkanya bertemu langsung dengan gajah laut yang berukuran lebih besar dari dirinya dan Black Aura. Hewan yang berbobot 2.200 – 4000kg muncul saat Chloe sedang bermesra-mesraan dengan Black Aura di kapal. Hahaha…
Pas ketika kalimat “bermesra-mesraan” itu terlontarkan di mulut Chloe, Morgan reflex menutup mulutnya dengan wajahnya yang memerah merona. Namun, wajah merah itu malah bertambah merah ketika dipadukan dengan tamparan keras Chloe yang merasa tidak nyaman dengan kelakuan Morgan.
“Otakmu tolong dikondisikan!” sewot Chloe melayangkan tatapan siap terkamnya pada Morgan.
Morgan hanya terkekeh menanggapi tatapan mengancam itu dan langsung meminta maaf, meskipun arah pikirannya masih belum beres.
“Habisnya, kalian berdua ini nampaknya serasi gitu,,, Makanya nggak salah kalau otakku ngarahnya ke sana.” Ujar Morgan yang masih bertahan dengan pemikiran yang… Yah, tidak perlu dijelaskan nanti juga paham sendiri. Intinya, Morgan itu tidak sepolos Chloe. Itu saja.
“Huft… Terserahmu sa... EH?”
Chloe tertegun ditengah perjalanan. Langkahnya terjeda untuk sesaat hingga menular ke Morgan yang sebenarnya masih mau berjalan. Café masih belum ditemukan tapi gadis itu sudah berhenti duluan. Chloe mematung dengan kedua bola matanya menyorot ke kursi taman yang kosong. Kalau tidak salah, di kursi taman sebelumnya ada orang yang menempatinya. Tapi, kemana orang itu sekarang?
“Morgan…” panggil Chloe datar.
“Ya?” Morgan menoleh kea rah Chloe ragu.
__ADS_1
“Tadi kita jalan-jalan bareng Black Aura, kan?” tanyanya dengan suara bergetar karena panik. Tak lama kemudian, Chloe berlari menghantam salju yang menggunung di depannya, disusul oleh Morgan yang meneriaki nama gadis itu meskipun suaranya lenyap dalam angin malam yang berhembus kuat kala itu.
~