Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chpter 157 {Season 2: Merah}


__ADS_3

“Atau kalian nggak akan selamat?”


Begitu mendengar suara itu, Black Aura reflex berbalik disusul dengan pedangnya yang akhirnya berhasil menahan pedang Yui.


Yui memandang datar Black Aura kemudian berubah menjadi air yang bercipratan mengenai wajah Black Aura langsung.


Sementara di luar gedung, Aoi dan Jacqueline ikut bertarung membantu Midnight menyerang Asoka yang tiba-tiba mengejutkan mereka dengan tongkat mengeluarkan hantu-hantu dengan rupa mereka yang mengerikan.


“List orang-orang yang dia benci,” ujar Midnight. “Pokoknya, kalian jangan sampai melamun saat melawan mereka! Mereka hantu, kalau sampai kerasukan bisa bahaya!” seru Midnight seraya melempar boomerangnya kea rah hantu pelajar yang tak lama lagi akan menyerang Aoi menggunakan gunting rumput.


“List orang yang dibenci? Itu kekuatan Asoka?” Aoi mengernyit bingung sambil berusaha menahan serangan hantu-hantu itu dengan menendang dagu itu sampai wujudnya meletus layaknya balon yang ditusuk dengan tusuk gigi. “Eh? tapi bisa kutendang?”


“Itu karena kau berani melawan mereka. Kalau kau takut seperti dia, mau sampai natal tiba pun hantu itu nggak akan mati,” celetuk Silentwave dengan telunjuknya mengarah ke Jacqueline yang besembunyi di balik pohon dengan raut ketakutan.


“Astaga…” Aoi menepuk jidatnya pelan. Pria itu sampai sekarang masih tak habis pikir dengan kelakuan pacarnya yang suka berubah tiba-tiba. Terkadang dia berani, terkadang dia… Yah, begitulah.


“Nggak jelas,” ucap Aoi, mengakhiri kalimatnya dengan helaan nafas berat.


Crat!


Darah merah strawberry muncrat di udara usai boomerang Midnight berhasil menebas kepala hantu-hantu pelajar itu. Midnight menangkap kembali boomerangnya, lalu melemparnya lagi. Sementara Okka dan Kenzo menggunakan senapan mereka menembak-nembaki Asoka.


Tak disangka-sangka, gerakan ratu itu gesit dan lincah sekali. Asoka melompat-lompat disertai tarian kecil yang menawan. Sehingga, Okka dan Kenzo yang melihatnya jadi bimbang. Antara merasa kagum dengan serius ingin mengalahkan Asoka. Singkatnya, konstrasi mereka terganggu.


“List orang mati adalah orang-orang yang ingin Asoka bunuh di dunia nyata tapi keinginan tersebut terpaksa dia tahan karena beberapa hal. Salah satunya aturan. Karena itulah, Asoka membunuh mereka lewat imajinasinya meskipun pada dasarnya hal itu tak akan pernah bisa menghilangkan kebenciannya,” jelas Midnight.


“List orang yang dibenci? Aku juga pernah seperti itu. Tapi, aku berusaha menganggap mereka nggak ada,” timpal Okka.

__ADS_1


Para hantu yang masuk dalam kategori pelajar itu terus-menerus menyerang mereka. Sementara Asoka hanya berdiri mengamati remaja-remaja itu bertarung sengit melawan arwah-arwah buatannya.


“Sial! Jumlah mereka terus bertambah. Kalau begini caranya, kita bisa mati karena kelelahan!” gerutu Kenzo.


“Jangan khawatir. List kematian ini bisa dia atasi, kok,” Midnight menyeringai. “Tutup telinga kalian…”


“Eh?” semuanya membelalak tapi tetap menuruti omongan Midnight.


“Rasakan ini!” Midnight melempar lagi boomerangnya sampai senjata tersebut berhasil menebas hantu-hantu itu. Kemudian disusul dengan serangan Silentwave yang memanipulasi besar kecilnya nada suara.


Begitu ujung boomerang tersebut menggores tubuh hantu itu, saat itulah suara seperti tebasan muncul dengan volume di atas seratus. Kaca-kaca di gedung itu sampai pecah karena serangan Silentwave.


“Suara itu… Silentwave?” Black Aura menoleh ke luar jendela bersamaan dengan pecahan kaca yang berjatuhan di sekitar sepatunya.


Yui yang sedari tadi menahan pedang Black Aura spontan menutup telinganya.


“Sekarang!” Chloe maju tanpa membawa senjata tapi dengan kepalan keras yang sudah ia siapkan untuk Yui.


“Benang ini… Sebenarnya dari mana asalnya?” gumam Chloe. Tanpa pikir panjang, dia berlari mengikuti panjang benang yang entah mengarah kemana nantinya.


Black Aura terbelalak menyadari suara langkah kaki Chloe yang semakin menjauh darinya. “Oi! Chloe!” terpaksa, Black Aura meninggalkan Yui di lorong demi mengejar Chloe.


Di luar gedung. Tampaknya situasinya aman terkendali. Para hantu menghilang tak bersisa.Tersisa Asoka yang masih berdiri melayang menatap mereka. Tatapan dingin yang dia arahkan membuat Midnight penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Asoka saat ini.


“Sekarang!”


Tepat di bawah kaki Asoka, muncul portal yang mengeluarkan enam tentakel. Tentakel itu mengikat kedua kaki Asoka dengan erat agar Aura itu tidak kabur saat Aoi dan Okka berniat menarik benang merah yang melilit leher Asoka itu.

__ADS_1


Asoka terbelalak bukan main mendapati kehadiran Megawave dan kedua remaja yang tidak ia kenali tersebut. Lantas, Asoka yang merasa terancam itu membaca mantra yang tidak mereka mengerti kecuali Megawave.


Sebuah lingkaran sihir besar muncul di atas kepala Asoka. Memang jarak antara Asoka dan lingkaran sihir itu jauh, akan tetapi sosok yang dikeluarkannya sukses membuat semuanya membeku.


Bukan apa-apa, Asoka hanya memanggil pengawal setianya, Grimoire. Tanpa basa-basi, jari telunjuk Asoka mengarah ke Aoi dan Okka yang sedikit lagi merah benang tersebut. Grimoire dengan patuh menuruti perintah ratunya dan…


Crat!


Midnight membelalak tak percaya. Sedangkan yang lainnya pucat memandang pemandangan yang sungguh di luar dugaan mereka.


Ujung duri yang Grimoire genggang itu terdapat cairan kental berwarna merah. Cairan itu menetes sampai ke tanah tepat di depan ujung sepatu Jacqueline.


Pemandangan di depan mereka ini bukanlah khayalan ataupun imajinasi bagi siapapun yang melihatnya. Tepat di depan mata mereka itu adalah kenyataan. Kenyataan mengerikan yang biasanya Jacqueline lihat di film ataupun komik bergenre action.


Mulut Jacqueline mendadak kelu tak bisa berkata apa-apa. Air matanya bukan menggenang lagi melainkan mengalir deras membasahi pipi kirinya. Entah apa yang harus Jacqueline komentarin dari sosok Aoi yang tertusuk oleh pedang Grimoire. Okka juga. Gadis itu menanggung nasib yang sama dengan Aoi. Keduanya lemas dengan tatapan kosong yang mengarah ke tanah.


Nafas Kenzo berubah tidak beraturan. Dia tidak menyangka kalau rencananya tersebut akan berakhir dengan darah Aoi dan Okka yang terbuang banyak.


“AOI!!!!!” jerit Jacqueline diiringi dengan isak tangisnya.


Tubuh Aoi dan Okka jatuh bersamaan. Dengan sigap, Megawave menangkap keduanya menggunakan tentakelnya. Jelas sekali aroma dan juga darah yang mengalir di sekitar pundak dan pinggang mereka. Megawave yakin, rasa sakit seperti ini sulit ditanggung oleh manusia seperti Aoi dan Okka.


“Aoi! Aoi!” Jacqueline berlari menghampiri Megawave yang mendarat perlahan. “Aoi! Bangun!” cepat-cepat, Jacqueline meraih tubuh Aoi kemudian mendekap kepala pria itu dengan erat. “Kumohon, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian! Ao!”


“Okka! Oi! Okka! Kau tidur kan? Cuma tidurkan?” tak hanya Jacqueline, juga ada Kenzo yang panik mendapati kondisi adiknya yang sekarat. “Okka! Bertahanlah! Aku akan mengambilmu obat!”


“Percuma. Manusia biasa seperti kalian mana sanggup menahan rasa sakit separah itu. Kalian dipukul saja sudah menangis, apalagi kalau ditusuk,” Asoka akhirnya angkat bicara. Suaranya perpaduan lembut dengan dingin. “Nah, Grimoire. Hancurkan mereka semua!” perintah Asoka.

__ADS_1


“Enak aja! Lo pikir kami ini boneka?!” seru Midnight tiba-tiba muncul di belakang Asoka dengan kaki kanan yang di tarik ke belakang. Midnight bermaksud menendang tengkuk Asoka yang dililit oleh benang merah. “Benangnya…” Midnight terdiam untuk beberapa saat sebelum kaki kanannya berhasil menendang Asoka hingga terlempar jauh menabrak gedung lantai paling bawah.


~


__ADS_2