
"Ep! Rara!" Chloe menahan lengan Rara yang terserang rasa panik.
Memang gadis ini terlihat santai di depan, namun jika sudah dirasuki oleh pemikiran negatif langsung beda ceritanya.
"Chloe. Kumohon jangan sampai ketemu mereka!" tegas Rara tanpa melepas kekhawatirannya.
"Nggak! Aku jamin! Ini juga demi pengalamanku. Aku butuh! Kau yang bilang sendiri, kan? Jika fantasi itu terjadi, nikmati saja alurnya dan anggaplah diriku ini seolah tokoh utamanya." Chloe kembali mengulangi kalimat yang sebelumnya pernah dibahas Rara. Berharap, ingatan gadis itu membaik dan berhasil menghentikkan rasa paniknya.
Rara kehilangan tenaganya dan nyaris tumbang. Untunglah, Chloe ada di belakangnya langsung merangkulnya.
"Astaga... Apa-apaan aku ini?" gumam Rara sambil memegang keningnya. Ia pusing.
Kejadian tadi tiba-tiba saja mengukir senyuman Chloe. Ia sadar, betapa cemasnya Rara bila mengetahui posisi dirinya yang dalam bahaya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ra. Percayalah!"
"Kau asli bersama Aura itu?"
"Nggak. Aku cuma nggak sengaja ketemu dia dan dia yang melindungiku. Waktu itu, aku nyaris saja dibunuh oleh musuhnya."Jelas Chloe.
"Begitu ya..." Rara terdiam. Ia memandang arlojinya untuk sesaat. Sudah jam lima kurang.
"Chloe... Makasih banyak untuk hari ini. Aku harus pergi sebelum Minji merepet."
"Iya. Hati-hati ya! Mau kuantar?"
"Nggak perlu. Aku bisa naik bus kok."
"Sip. Hati-hati ya!" Chloe memberikan lambaian tangan singkatnya untuk Rara yang sosoknya memudar seiring langkahnya menjauh dari cafe. Pemandangan itu membuat hatinya teriris.
Setelah sosoknya benar-benar tak terlihat, Chloe bergegas keluar cafe kemudian mendatangi mobil Morgan.
Chloe mengetuk pelan kaca jendela bagian kanan depan. "Buka."
Kacanya terbuka dengan sendirinya lalu menampilkan wajah Morgan dengan senyuman berseri miliknya. Chloe tersentak tapi ia kembali stabil.
"Dari tadi kau udah disini?" tanya Chloe.
"Baru saja. Masuklah!" Morgan membuka pintu kiri depan mobilnya. mempersilahkan Chloe untuk duduk di sampingnya. Black Aura yang semula duduk di depan memilih untuk pindah ke belakang. Haha... Mungkin dia tak ingin di samping Morgan.
"Morgan... Apa kau yakin ingin membantu kami? Aku sama sekali nggak berniat meminta bantuanmu. Aku nggak mau semuanya ikut terlibat. Kau juga belum mengenal Aoi, kan?"
"Aku mengenalnya cuma sebatas kenalan aja. Tapi, aku ingin membantunya."
"Kenapa?"
"Entahlah... Ada sesuatu yang membuatku ingin menolongmu."
Chloe melongo sejenak.
"Lama kali kalian." Cibir remaja yang duduk di belakang dengan raut seperti orang yang tidak bergairah hidup.
"Benar juga ya! Jadi kita kemana?" celetuk Morgan.
"Coba ke tempat yang lumayan jauh dari rumah kita!" usul Chloe mantap. "Tapi, yang ramai orang-orang. Disita kita bisa ada kemungkinan menemukan Aura yang merasuki manusia."
"Oke! Dengan senang hati!"
~
Rara menghentikan langkahnya usai menempuh lima belas menit berjalan. Kini, posisinya berada tepat di depan rumahnya. Bukan. Lebih tepatnya, rumah Minji. Entah apa yang membuatnya berpikir untuk tinggal bersama Minji. Apa karena hatinya yang terlalu lemah untuk menolak permintaan Minji? Ah, sudahlah!
Rara mengangkat kaki kanannya menaiki satu persatu anak tangga di depan pintu masuk rumah itu. Ia menggenggam gagang pintunya. Akan tetapi, sesuatu menjanggal di hatinya. Ia tertegun untuk sesaat mengingat dua puluh menit yang lalu bersama Chloe.
Entah kenapa, seperti ada yang janggal dari perbincangan mereka sebelumnya. Tapi... apa?
"Ah!" Rara spontan memegang kepalanya syok. Dia sadar bahwa dia baru saja melakukan kesalahan.
"Bukan dia. Bukan...!" ia bergumam sambil menggigit ujung bibirnya. "Astaga! Apa yang baru saja kulakukan?"
~
"Aku penasaran, sedekat apa dirimu dengan Aoi. Kalian sudah bersahabat dari kapan?" tanya Morgan sekaligus mencairkan suasana yang dingin diantara mereka bertiga.
"Hmmm... Bisa dibilang dari SMA kelas 2 pertengahan. Dia menyenangkan untuk diajak berbicara. Aku suka." Respon Chloe yang seluruh pandangannya terfokus ke dunia luar mobil.
"Kau sendiri? Apa kau memiliki teman? Sejauh ini, aku jarang melihatmu di kampus. Tapi, syukurlah aku bisa mengenalmu." Chloe balik bertanya mengenai Morgan.
Morgan melirik ke kanan sambil berpikir. "Aku memiliki teman perempuan. Aku menyukainya. Aku selalu berharap kalau dia mau menerimaku."
"Eh?Kenapa nggak langsung ungkapin aja?"
"Iya, kan? Masalahnya, dia udah suka sama yang lain. Dia sudah mengungkapkan perasaannya pada yang lain dan dia berpacaran. Yah, dari pada mengganggu waktu romantisnya, aku memilih untuk membiarkannya. Aku yakin, diluar sana masih ada banyak perempuan yang jauh lebih baik lagi."
Morgan melirik sekilas ke arah Chloe lalu terkekeh.
"Tenang saja. Kau itu pria yang baik. Pasti akan ada perempuan yang menerimamu. Kau lihat saja nanti." Chloe membalas disertai dengan senyuman yang menyengir lebar.
__ADS_1
"Oh, ya! Black Aura, kau punya teman tidak?"
Sadar telah melupakan posisi Black Aura, Chloe pun memutuskan untuk mengajak remaja itu berbincang. Sekedar basa-basi agar dirinya tidak merasa dikucilkan.
"Kenapa kau menanyakanku soal itu?" Black Aura melirik malas pada Chloe. Dirinya saat ini tengah berfokus mencari aura milik Legend Aura dan Megavile. Ia tidak memiliki minat apapun dalam mengutarakan suaranya.
"Aku cuma penasaran."
"Benar juga, Black Aura. Aku penasaran, bagaimana duniamu itu?" Morgan ikut menambahkan.
"Jangan dipaksakan kalau lagi nggak penasaran." Ucap Black Aura dengan artikulasi yang jelas. Lalu, kembali fokus pada tugasnya.
"Mood-nya lagi nggak bagus kayaknya."
Chloe mengatakannya sambil memegang pundak Morgan diiringi dengan anggukan kepala singkatnya. Morgan hanya menyegir menahan malu.
"Tunggu dulu!" seru Black Aura tiba-tiba ketika dirinya mendapati sinyal yang rasanya berwarna merah.
Lantas, Morgan segera menginjakkan remnya sedalam mungkin. "Kau menemukan Aura?" Morgan melirik ke belakang.
"Siapa? Dark Fire?" Chloe menimpali.
"Dark Fire! Aku pernah mendengar nama orang itu." Tutur Morgan bersemangat.
"Ada tiga."
"Eh? Siapa??" seru Chloe dan Morgan beriringan.
"Hmm... Tunggu. Kita sekarang di tempat yang ramai?" tanya Black Aura sekedar memastikan.
"Iiiya?" balas Chloe.
Chloe sebagai lawan bicaranya menyadari perasaan panik yang tersembunyi di balik raut datarnya Black Aura. Andai ia memilih untuk duduk di belakang bersebelahan dengan Black Aura, Ia bisa menggeggam tangan remaja itu.
"Bagaimana kalau kita berhenti aja." Usul Morgan tapi ragu.
"Agak mustahil mencari tempat yang sepi dari orang-orang." Tambah Chloe yang sedang melirik ke luar kaca mobil.
"Huft..."
"Lanjut aja kali." Morgan memutar kemudinya pelan. Lalu, menjalankan mobilnya kembali.
Entah dari mana asalnya, dikala mereka sedang merasakan kestabilan suasana di dalam mobil,
mereka dikejutkan oleh tembakan beruntun dari arah timur.
"Astaga...! Apaan tuh!" kejut Morgan yang memilih untuk menghentikan kembali mobilnya.
Black Aura tanpa pikir panjang, keluar dan menyaksikan betapa berantakannya suasana di sekitar jalan raya yang berada di tengah-tengah jejeran gedung yang tinggi. Ia menyaksikan sejumlah orang berlarian meninggalkan kendaraan mereka. Ada juga yang meninggalkan toko mereka beserta pekerjaan mereka karena panik. Bagi mereka yang kecanduan dengan gadget-nya, memilih untuk merekam momen tersebut.
Menyebalkan!
Serangan lain bermunculan begitu cepat
dari arah yang beragam dengan target yang sama. Mau tak mau, Black Aura harus menangkis semua serangan tersebut dengan pedangnya.
Black Aura melirik cepat ke salah satu atap gedung. Disana, berdirilah dua sosok remaja yang menyandang nama "Dark". Dark Fire dan Dark Sport.
Tidak disangka, rupanya mereka berdua yang merupakan pelaku penembakan tadi. Cepat sekali mereka melacaknya.
Mereka kemudian turun dari atas gedung dan berdiri di tengah-tengah ramainya ketakutan sore itu. Di hari dimana matahari hendak beristirahat, bisa-bisanya mereka membuat kekacauan.
"Me-mereka?!" Morgan syok melihat kehadiran dua Aura tersebut. "Bagaimana caranya dua Aura lawan satu Aura?!"
"Cih! Kita harus bantulah!" tegas Chloe yang sebenarnya juga ragu dengan ucapannya barusan. Ia melirik sekilas keluar. Ia mencemaskan Black Aura.
Dua lawan satu... Kuharap, kami bisa membantunya.
"Chloe. Suruh semua orang menjauh." Ucap Black Aura yang masih fokus pada kedua lawannya tersebut. Sekarang, tidak ada lagi kata mundur baginya.
"Baik..." Chloe mengangguk singkat lalu berlari ke arah orang-orang yang berhamburan dengan tangan mereka yang memegang ponsel.
"WOII LARI! JANGAN PEGANG HP AJA! YANG SAYANG NYAWA, LARI!!" teriaknya sekencang mungkin.
Jangan lupakan Morgan yang turut membantu Chloe dalam mengusir orang-orang di sekitar kota. Agak mustahil mengusir puluhan lebih orang-orang dalam waktu semenit.
"Percuma, sebagian dari mereka memiliki rasa penasaran terhadap kami. Yah, biarkan saja. Toh, mereka nggak pernah liat kejadian kek beginian." Ujar Dark Sport yang sudah lama menyiapkan lengan ogre-nya.
Black Aura menggenggam erat pedangnya bersamaan dengan Dark Fire yang ikut mengeluarkan senjata yang sama dengannya.
Tampaknya, dia harus berurusan dengan Dark Fire.
Namun, dirinya belum pernah memiliki pengalaman bertarung melawan Dark Fire sebelumnya. Dulu, sebelum perang itu terjadi, yang selalu menjadi lawannya Dark Fire adalah Silentwave dan Devil Mask.
Black Aura tak pernah melihat bagaimana kedua Megavile itu menghadapi Pemimpin Legend Aura tersebut. Ia selalu terlibat dengan anggota Legend Aura yang lainnya atau dengan spesies yang ada di Carnater lainnya.
Black Aura menghela nafas singkat. Ia memejamkan kedua matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dirinya bisa membunuh dua Legend Aura itu.
__ADS_1
“KYAAAAAAA!!!”
Sebuah jeritan perempuan berhasil menarik perhatian ketiga remaja tersebut. Black Aura, Chloe dan Morgan melirik cepat mengarah sumber suara dan menemukan seorang gadis kira-kira berusia 16 tahun tengah memegang kepalanya. Ia tersungkur ke tanah dengan kedua matanya yang menggenang.
"Dia kenapa?"
Chloe mengerutkan keningnya. Ia ingin mendekati remaja tersebut namun takut akan kejutan yang akan menyerangnya nanti. Akan tetapi, ia prihatin dengan remaja itu.
Gadis itu mengerang kesakitan. Ia juga memegang lehernya. Seolah Seperti ada yang merasuki dirinya. Tidak. Seperti ada yang mengendalikan pikiran mereka.
Tak hanya satu teriakan. Teriakan lain pun mulai bermunculan. Black Aura melirik ke berbagai arah mencari beberapa teriakan tersebut. Benar saja, baik pria, wanita dan anak-anak ikut menjerit menahan sakit.
“Apa ini…?” gumam Black Aura.
Wajahnya sudah pucat malah tambah pucat.
“Black Aura, liat!” tunjuk Chloe mengarah ke salah satu gedung yang tidak salah bernama Aqua.
Dari kejauhan, berdirilah sosok wanita dengan hiasan bunga di jidat kanannya. Manik ungu bergradasi pink itu terlihat menawan. Gadis itu menggenggam tongkat bunga yang menyala mahkotanya.
“Di-dia… Aura?!” celetuk Chloe tak percaya.
Orang-orang di sekitar mereka turut heran dan ada pula yang menelengkan kepala mereka. Belum lama, suasana bingung tersebut kini dikejutkan oleh erangan kesakitan dari beberapa orang.
“Argh! Sakit!!”
“Nggak… Bisa nafas…!”
“Eh, astaga. Merrka semua kenapa??” tanya Morgan takut. Ia melangkah mundur menghindari suara-suara mereka yang merasakan sakit.
Dark Fire menyeringai, “Dark Flower…”
“Baik.” Gadis dengan hiasan bunga di kepalanya itu bernama Dark Flower. Ia merespon cepat ucapan Dark Fire dan mulai mengacaukan pikiran manusia di sekitar mereka. Lumayan banyak. Sekitar 25 lebih orang lebih ia kendalikan kewarasan mereka.
Betapa terkejutnya mereka menyaksikan warga-warga di daerah tersebut menjadi tak terkendali. Black Aura langsung merespon warna-warna aura di dalam diri orang-orang itu. Jiwa mereka seolah bertarung dengan aura di
dalam tubuh mereka.
Black Aura melirik ke arah anak kecil yang terjatuh lemas karena tidak tahan dengan rasa sakit yang ia alami. Anak itu kalah melawan auranya.
“LARI KALIAN!!” Chloe dan Morgan berteriak bersamaan menyuruh warga yang masih dilindungi kewarasannya untuk menjauh area berbahaya tersebut.
Chloe berhenti sebentar dan melirik Black Aura sekilas. Remaja itu masih berdiri tegak juga setia dengan pedangnya.
“Kita harus membantunya!" Ucap Chloe serius.
Morgan menoleh, “Membantunya? Tapi bagaimana?"
“Aku nggak tahu. Tapi, pasti ada barang-barang di sekitar sini yang berguna. Aku nggak mau membiarkan Black Aura bertarung sendirian. Dia punya batas juga." Tutur Chloe khawatir.
“Hmmm... Ah, bagaimana dengan..."
Belum selesai berbicara, Morgan dikejutkan oleh keranjang buah yang mengarah tepat di samping telinganya. Sontak, Morgan terjatuh saking kagetnya.
“Morgan!” Chloe cepat-cepat meraih tangan pria itu lalu membantunya untuk bangun. “Kau nggak papa, kan?”
Morgan menggeleng singkat meskipun ia merasakan pening. “Jangan khawatirkan aku. Cuma keranjang doang, kok.”
Chloe menghela nafas lega. Kemudian, ia tersenyum.
“Kalian.” Panggil Black Aura yang langsung diserbu oleh tatapan mereka yang penasaran.
Chloe dan Morgan pun berlari menghampiri Black Aura.
“Ambil.” Black Aura melemparkan dua pedang andalannya yang sengaja ia copy agar bisa digunakan kedua remaja tersebut sebagai bentuk pertahanan diri mereka.
“Buat kami?”
“Nanti kembalikan.”
Seketika, senyuman mereka mekar. Apalagi Chloe. Sejak awal, Chloe sudah berniat ingin membantu Black Aura. Ia ingin terlibat juga agar bisa mendapatkan pengalaman dan sensasi pertarungan para Aura. Meskipun tahu bahwa nyatanya—sesuai yang ia lihat, pertarungan mereka tak mengenal kata ampun.
“Pedangku bisa menetralkan aura mereka yang gila.” Jelas Black Aura.
“Begitu ya… Ada lagi?” Morgan bertanya lagi.
“Perhatikan darah mereka.”
Chloe mengangguk mantap. “Jangan khawatir. Akan kami selesaikan!”
“Hati-hati."
Sepasang remaja itu mengangguk mantap dan berhambur meninggalkan Black Aura.
Black Aura menghela nafas. "Bakal susah nih..." Batinnya lelah.
~
__ADS_1