
Setelah lima belas menit berjalan tanpa arah yang jelas, Chloe akhirnya berhenti. Bukan karena kelelahan atau kebingungan, melainkan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Seperti benih, jika benih itu masih ada, maka akan tumbuh menjadi pohon yang kemudian bercabang-cabang. Bisa dibilang, seperti itulah rasa bersalah Chloe saat ini. Dia merasa baru saja melakukan tindakan bodoh. Hanya karena suasana hatinya yang tidak stabil, Chloe dengan gampangnya membentak Black Aura yang sedang menegurnya karena mengkhawatirkannya.
Chloe menggigit ujung bibirnya. “Bodoh. Aku ini sebenarnya kenapa?”gumamnya. Tiba-tiba saja, terlintas ingatan beberapa menit yang lalu dimana dirinya secara terang-terangan berjanji di depan Black Aura kalau dirinya akan terus berada disisi Aura itu. Melindunginya dan bla, bla, bla… Intinya seperti itu.
Akan tetapi, lihat dia sekarang. Main pergi begitu saja, membawa amarah yang dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya perasaan negatif itu. Yang jelas, Chloe merasa sangat tidak berguna di saat-saat seperti ini.
“Padahal, Black Aura jelas-jelas mengkhawatirkanku. Tapi kenapa aku jadi semarah itu padanya? Memangnya salah dia apa? Astaga Chloe… Kau ini kenapa sih?!” Chloe merutuk dirinya berulang kali. Sampai dirinya terbebas dari rasa bersalah yang kerap kali membelenggu hati dan pikirannya.
“Bukan. Aura sama sekali nggak bersalah. Bahkan aku sekalipun. Aku hanya… Nggak sanggup menyelesaikan masalah ini,” ungkap Chloe pada dirinya sendiri.
Tinggal beberapa langkah lagi menuju jalan keluar hutan, tapi Chloe memilih untuk berhenti. Rasanya, dia ingin kembali ke tempat dia membentak Black Aura sebelumnya. Akan tetapi, rasa tidak ingin berpaling ke belakang karena sulit mengakui kesalahannya membuat Chloe harus mengambil keputusan lain. Yaitu tetap maju sambil mencari kedua sahabatnya dengan usahanya sendiri.
Jika dirinya yang dulu selalu dibantu Black Aura, kini, Chloe bersama rasa malunya mencoba untuk menyelesaikan masalahnya sendirian. Chloe berusaha meyakinkan dirinya kalau di depannya pasti akan ada jalan keluar. Dia juga tidak membutuhkan siapapun. Selain itu, Chloe tidak mau terus-menerus bergantung pada Black Aura. Mengingat saat pertama kali Aoi menghilang secara misterius, Black Aura yang saat itu bukan siapa-siapanya turut terlibat dalam masalah Chloe. Aura itu bahkan tidak meminta imbalan apapun. Malah sekarang, merasa nyaman dan semakin mengkhawatirkan Chloe apabila gadis itu tidak berada di sampingnya.
“Baiklah, Chloe! Kau harus berani! Apapun rintangan di depanmu, hadapi!” tegas Chloe bermaksud menyemangati dirinya yang rapuh akan rasa bersalah.
__ADS_1
Mulai sekarang, tidak ada lagi yang namanya konflik antara dirinya dengan Black Aura.
Setelah yakin dengan keputusan tersebut, Chloe dengan mantap menapakkan sepatunya ke depan. Kemudian, melanjutkan perjalanannya yang terjeda karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Chloe melirik ke belakang sesekali. Memastikan apakah Black Aura mengikutinya atau justru masih di tempat yang sama sambil merenung. Jujur saja, Chloe merasa tidak enak dengan Black Aura. Ini sudah kesekian kalinya dia memarahi Black Aura. Yah, untungnya tidak sampai main tangan keduanya. Cukup dengan perang mulut saja. Selebihnya jangan dilanjutkan dengan kekerasan.
Chloe mendesah berat. Lagi-lagi, dirinya dipermainkan oleh perasaannya yang konyol. Sebelumnya, dia tidak ingin Black Aura mengikutinya. Tapi sekarang, hatinya justru merasa kalau dia ingin sekali ditemani Black Aura.
“Huft… Memalukan. Kau ini benar-benar memalukan, Chloe. Aoi dan Jacqueline aja bisa akur. Kenapa aku dan Aura susah kali akurnya? Apa karena kami beda spesies? Beda dunia?” pikir Chloe. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya. Menekan tombol On. Di layar ponselnya, tidak ditemukan notifikasi apapun di sana. Hanya ada angka yang menunjukkan pukul sebelas siang.
Benar juga, waktu terus berputar. Dan sudah dua hari Chloe berada di Carnater. Pria bernama Ethan itu juga masih misterius keberadaannya. Rupanya, hidup berdampingan dengan makhluk fantasi itu membawa dampak besar bagi kehidupan Chloe yang monoton itu.
Sebelumnya, Chloe mengaku kalau kehidupannya sama sekali membosankan. Tidak ada yang menarik dari kesehariannya selain menjadi mahasiswa yang pendiam dan gemar memakan kentang. Sehabis kuliah, selalu menyempatkan dirinya ke perpustakaan bersama Aoi lalu berjalan-jalan layaknya remaja pada umumnya. Jika bosan di rumah, yah, jalan-jalan.
Kalau di kehidupan Chloe dirinya selalu beradu mulut jika merasa tidak nyaman dengan pemikiran orang lain, justru Black Aura menggunakan kekerasan.
Perbedaan itu cukup signifikan hingga membuat Chloe semakin tertarik untuk menyelam lebih dalam lagi dunia Black Aura. Jujur saja, menyenangkan jika sudah menjalin ikatan dengan Black Aura. Bagi Chloe, Black Aura adalah anugrah yang sangat berharga yang pernah ia terima seumur hidupnya.
__ADS_1
“Ah, aku jadi kangen Black Aura. Apa aku kembali aja kali? Tapi, kalau ketemu Black Aura lagi, aku harus ngomong apa? Nggak mungkin tiba-tiba ngajak dia pergi dan minta maaf dua kali. Eh, nggak papa kali yah? Soalnya kan, Black Aura itu pemaaf,” komen Chloe terhadap pemikirannya sendiri.
Seandainya ada Aoi dan Jacqueline disana, Chloe mungkin tidak akan ragu dengan pemikirannya saat ini. Sayang, karena ulah Megawave, Chloe jadi tersesat di dalam hutan. Seorang diri ditemani dengan perasaan tak jelas yang sampai detik ini masih mengusiknya.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Chloe memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Terlepas dari keraguan yang masih menyelimuti benaknya, Chloe mau tak mau harus maju beberapa langkah ke depan. Setidaknya, demi menghapus rasa bersalah dan juga memperbaiki kesalahannya.
“Argh! Kenapa jadi bingung begini sih?! Dasar! Selalu saja aku…”
Saat Chloe sibuk mengungkapkan kekesalannya, sebuah percikan kecil muncul di dalam bola matanya yang kebingungan. Chloe tertegun menyadari ada percikan aneh saat kedua matanya terpejam tadi.
“Apa itu?”
Penasaran, Chloe memejamkan matanya lagi. Kali ini, agak lama dari sebelumnya. Memang benar, percikan berwarna biru itu ada saat kegelapan menghampiri penglihatannya. Samar-samar juga, Chloe bisa mendengar suara seorang gadis seolah tengah membisikan sesuatu di telinga kirinya. Lembut suaranya membuat Chloe terlena oleh rasa kantuk yang entah dari mana muncul begitu saja.
Tubuh gadis itu seketika ambruk. Untuk beberapa saat ke depan, Chloe tertidur. Dia pasrah. Ya, ditengah kesadarannya yang semakin menipis itu, Chloe masih bisa merasakan betapa beratnya rasa khawatir itu. Dirinya, kedua sahabatnya, dan Black Aura. Dia mengkhawatirkan tiga hal itu juga merasakan takut yang luar biasa akan kehadiran para Aura yang bersembunyi dibalik batang pohon besar ataupun rimbunan pohon. Mereka nyata. Ya, kehadirannya bisa Chloe rasakan melalui angin yang meniupkan sehelai daun di atas kepalanya.
__ADS_1
Bahaya… Aku nggak bisa bangun! serunya dalam hati sebelum akhirnya benar-benar tak sadarkan diri.
~