Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 215 {Season 3: Mimpi Yira}


__ADS_3

Yira POV…


Mimpi tentang Aura itu sudah hampir seminggu menjadi bagian dari isi kepalaku.


Setiap malam, aku tidak tahu harus merasa takut, penasaran, atau was-was dengan mimpi yang akan kulihat nanti. Karena, mimpi itu… Mimpi yang sama tapi acak.


Hari senin, aku bertemu dengan Carmine. Aku jelas tidak mengenalnya. Aku kira, aku hanya menonton dari kejauhan—kematian Carmine yang tragis itu. Tapi rupanya, tepat sebelum pedang Dark Fire menembus punggungnya, Carmine sempat menggenggam tanganku dan berkata, “Aku pinjam tubuhmu.”


Hari selasa. Lagi-lagi aku berada di mimpi yang sama. Aku melihat jasad Carmine di dalam kamar dengan genangan darahnya yang mengering. Tidak ada kata syok dalam diriku saat melihat pemandangan mengerikan tersebut. Aku melirik ke kiriku. Aku melihat Devil Mask keluar dan menusuk pundak Aurora.


Saat seluruh penglihatanku fokus pada pertarungan sengit mereka, aku dikejutkan oleh suara teriakan gadis lain dari arah belakangku.


“Kumohon, kak! Aku ingin membantumu! Aku nggak mau kau menghadapi semuanya sendirian! Biarkan aku meluruskan pikiran Aoi dan lainnya juga!”


Gadis berambut merah ikal itu berteriak di depan Midnight yang saat itu hendak menendangnya masuk ke dalam portal.


Situasi benar-benar memanas. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena posisiku di mimpi ini hanya sebatas menonton.


Aku melihat air mata Midnight mengalir meskipun mulutnya tertutup rapat. Dia akhirnya, menendang gadis berambut merah itu hingga masuk ke dalam portal, lalu, menutup cepat portal tersebut.


Aku sempat berpikir kalau gadis berambut merah itu adalah adik dari Midnight.


Mimpi di hari selasa itu berakhir dengan kepalan tangan yang mengarah cepat ke pipi kananku dan saat itulah, aku terbangun dari tidurku.


Hari rabu. Aku berada di dermaga, seorang diri. Aku memandang sekitarku dan tidak ada yang aneh di penglihatanku. Hanya saja, suara seperti benda yang dilempar dan dibanting itu mengganggu indera pendengaranku sampai-sampai menarik jiwaku untuk mencari asal-usul suara tersebut.


Lagi-lagi aku harus berlari. Meskipun di dalam mimpi, aku merasa lelah karena berlari demi mencari sumber suara tersebut.


Tak sampai lima menit, akhirnya aku menemukan kegaduhan besar di dalam bangunan yang kusebut sebagai gudang. Tempat itu cukup luas dengan beberapa box kayu yang entah apa isinya—ditumpuk rapi dan hampir memenuhi ruangan tersebut.


Betapa terkejutnya aku ketika mendapati Devil Mask dengan lengan kirinya yang terluka parah. Ada shuriken tertancap di lengan bagian atasnya.


“Siapa dia?”  pikirku. Waktu itu, aku tidak mengenal Devil Mask. Aku baru tahu namanya ketika gadis remaja berambut ungu itu menghampirinya dan memeluk Aura bertopeng kucing itu.


“Eden! Kau nggak papa?” tanya gadis itu khawatir. Dia masih memeluk Eden atau Devil Mask sampai luka di lengan bagian atasnya menghilang. Menghilang lho…


“Apa ini? Ini mimpi kan? Kenapa rasanya nyata sekali?”


Aku bergumam saat itu. Keberadaanku di sana memang tidak disadari oleh mereka. Akan tetapi, pemandangan yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Lantai gudang yang kupijak dengan kaki telanjang dan hawa dingin yang menusuk kulit hingga tulangku itu terasa sangat nyata.


Aku terdiam seribu kata. Pikiranku mendadak kosong. Hampa seperti langit malam yang diam-diam mengamatiku dan pasangan itu.


“Eden, kau yakin, kau membunuhnya disini?” tanya gadis berambut ungu tersebut.


“Eden?”


“Ya, iyalah! Susah lho nyari tempat sepi di dunia ini!” protes Devil Mask berusaha bangkit.


Aura bertopeng itu membuka cakarannya yang kini tersisa tiga jari untuk gadis dihadapannya dan tangan mereka pun tertaut secara romantis.


Aku tidak tahu apa hubungan mereka saat itu. Akan tetapi, hati dan perasaanku cukup tersentuh melihat mereka berdua.


“Sebenarnya ada apa dengan dunia ini? Atau, sebenarnya ada apa denganku? Ini udah tiga hari aku mimpi aneh dan…”


Belum juga selesai aku berbicara, punggungku ditabrak oleh ban raksasa hingga membuat wajahku menghantam lantai gudang.


Keras, dingin, hingga pada akhirnya, rasa sakitlah yang kurasakan. Aku merasakan cairan hangat mengalir dari hidungku. Aku mimisan. Tapi, ya, sudahlah… Rasa sakit itu cukup nyata di dalam mimpi. Bukan di dunia nyata.

__ADS_1


Aku pun terbangun dari tidurku.


Hari kamis. Mimpi itu terulang kembali. Kali ini, aku berada di hutan bersalju. Menyebalkan! Piyama yang kukenakan ini tak sanggup menahan dinginnya salju di hutan itu. Alhasil, mau tak mau aku harus sekuat superman menembus angin transparan yang saat ini sedang menguji daya tahan tubuhku.


Aku bertanya-tanya, kenapa aku berada di hutan?


Memang, di kalender menunjukkan bahwa bulan saat itu adalah Desember. Semua orang bersiap-siap untuk merayakan pesta makan malam besar yang hangat bersama orang-orang yang mereka cintai.


Aku berjalan tanpa memperdulikan tapak kakiku yang berbekas di tumpukan salju.


Aku kedinginan. Bahkan sampai mengira kalau aku akan meninggal di dalam mimpi. Mustahil sih, kayaknya.


Di tengah jalan, aku tertegun ketika telingaku merespon suara orang yang berjalan mengendap-endap di belakangku.


Sebenarnya, aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Belakangan ini, kenapa semua indraku ini begitu sensitive dengan sesuatu yang kecil sekali keberadaannya. Bahkan, semut yang terinjak oleh kakiku saja aku sadar.


Cukup sampai disini semutnya, aku menoleh ke belakang dan mendapati sosok Chloe mengintip di balik batang pohon besar.


Wajahnya terlihat putus asa seolah gadis itu baru saja tertimpa oleh musibah yang menurutnya tak sanggup dia hadapi seorang diri.


Aku diam. Memutuskan untuk ikut bersembunyi di balik batang pohon untuk mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan Chloe waktu itu.


“Sedang apa dia?” pikirku penuh tanda tanya.


Lima belas menit berlalu, Chloe yang tadinya berjalan mengendap-endap, terpaksa berlari dan masuk ke rumah kecil untuk bersembunyi dari pria jahat yang hendak membunuhnya dengan pisau kecil.


Aku tahu posisiku waktu itu sangat diuntungkan karena hanya sebatas menonton. Akan tetapi, menonton saja juga cukup menguji kesabaranku. Aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Chloe mati di tangan pria itu.


“Oi! Pria gila!” teriakku pada seorang pria yang hendak membunuh Chloe dengan kapak.


Aku bisa merasakan betapa takutnya Chloe saat itu. Andai kata aku diposisi Chloe waktu itu, mungkin aku sudah mati. Tapi beruntunglah, gadis itu diselamatkan oleh Black Aura.


Aku yang hanya menonton itu, merasa bersyukur karena nyawa Chloe berhasil diselamatkan. Tapi, jantungku…


Baru kali ini, aku merasa ada yang panas di dadaku. Kukira, kepala saja yang bisa panas. Tapi rupanya, dada juga bisa.


Aku membeku dan terus memperhatikan bagaimana Black Aura menghajar pria tersebut sambil melindungi Chloe.


“Black Aura…” gumamku. Kau nyata?


Mimpi keempat kali ini berhasil menggerakkan hatiku untuk bangkit dari keseharianku sebagai seorang pemalas.


Aku mengubah jadwalku yang biasanya hanya tidur-tiduran di ranjang tidur menjadi jalan-jalan ke kota.


Aku memanfaatkan apapun di internet. Mencari berita aneh yang beredar di internet, bahkan sampai mewawancarai satu persatu anak sekolah yang menurutku sangat update akan informasi terkini.


Aku melakukan apapun demi membuktikan apakah keberadaan Black Aura dan yang lainnya itu nyata atau hanya sebatas mimpiku saja.


Hari jumat pun tiba.


Sehabis meneguk segelas susu, aku langsung merebahkan diriku di ranjang tidur dan kembali bermimpi.


Aku sempat berharap kalau di mimpiku yang kelima ini, aku akan bertemu dengan Black Aura lagi. Aku juga berharap, dia menyadari keberadaanku dengan begitu, aku bisa berinteraksi dengannya.


Menyedihkan sekali jika aku Cuma bisa bertemu dengannya saat aku tertidur. Sedih sih, kalau kupikir-pikir.


Setelah kegelapan menguasai jiwaku selama beberapa menit, aku membuka mataku. Aku terkejut bukan main. Pemandangan yang kulihat terasa ganas. Api berkobar dimana-mana. Gedung-gedung hancur sebagian. Beberapa mobil terbakar. Jalan raya sepi.

__ADS_1


Tidak salah lagi, aku di kota!


“Ah! Panas!” seruku sambil menghentak-hentakkan kaki kananku. Salah satu kayu yang terbakar oleh  api terjatuh entah darimana dan membakar sepatuku.


Untunglah, api itu cepat padam.


Tak hanya api, aku kembali dikejutkan oleh serangan rudal yang nyaris saja mengarah ke kepalaku kalau bukan karena aku reflek menghindar.


Nafasku tak beraturan. Aku bisa saja mati jika aku tadi tidak menghindari rudal yang hendak menyerang kepalaku tadi.


Trang!


Aku menoleh cepat ke belakang. “Black Aura!” teriakku senang.


Black Aura melayangkan pedangnya dengan keras kearah tangan ogre Dark Spot. Penampilannya berantakan dari yang saat kutemui di hutan bersalju itu,


Bodo amat berantakan, yang penting ganteng. Begitu pikirku sambil terkekeh.


“Argh!”


Aku terbelalak bukan main. Darah segar menetes deras membasahi sepatuku. Sakit…. Sakit!


Telapak tanganku, aku memandangnya ngeri. Merah!


Darah dan rasa sakit yang luar biasa itu rupanya berasal dari jantungku!


“Pedang… Ohok… siapa ini?!” Aku yang hendak tumbang tiba-tiba ditahan oleh seseorang.


Tangannya dingin seolah tidak ada kehidupan di dalamnya. Aku menoleh sedikit ke kiri. Ingin mencari tahu siapa sosok yang  sudah melukai jantungnya.


“Eh?”


“Kau tersesat ya?” tanya makhluk itu.


Kepulan asap hitam memenuhi kepalaku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menjadi patung dan membiarkan makhluk itu… Membunuhku.


Pelan-pelan, dia menarik pedangnya. Setelah terlepas dari dada kiriku, dia menendang punggungku dengan kasar,


Bruk!


Aku terjatuh. Menghantam permukaan aspal yang kasar dan panas.


Kesadaranku di mimpi ini menipis. Di depan sana, Black Aura masih bertarung melawan Aura bersenjata ogre .


“Berjuanglah… Black Aura… Aku tahu, kau bisa… Membunuh mereka…”


Klip… Hitam.


~


“Yang hari jumat, endingnya agak ngilu ya,” komen Yumi setelah mendengar cerita Yira mengenai mimpinya.


Yira tidak menceritakan semua mimpinya lantaran, waktu yang mereka punya semakin menipis. Ditambah lagi dengan Black Aura yang sedari tadi menghela nafas tak tenang.


“Sudah cukup kan? Ayo, kita selamatkan mereka!” ajak Black Aura bangkit dari sofa dan melangkah keluar tanpa menunggu kedua gadis itu.


“Hahh… Aku minta maaf ya, kalau Black Aura kelihatan dingin kek gitu,” ucap Yumi merasa bersalah.

__ADS_1


Yira tersenyum kecil. “Nggak papa… Namanya juga pacarnya kok.”


~


__ADS_2