
Black Aura meringis kesakitan sambil berusaha untuk bangun. Untunglah, pria itu sudah dibasmi oleh Chloe.
Setelah menghabisi pria yang gila itu, Chloe buru-buru menghampiri Black Aura. Ia panik.
Chloe yang terkena serangan panik itu otomatis bingung. Sedangkan Morgan, pria itu masih tergeletak tak berdaya dengan luka di keningnya.
“Hei, kau nggak papa, kan?” tanya Chloe.
Black Aura berusaha untuk bangun sebelum pada akhirnya muntah darah untuk pertama
kalinya. Chloe tertegun menemukan perubahan pada Black Aura. Namun, ia memilih untuk
diam dan focus pada temannya ini.
Keadaan mereka mendadak jadi terdesak karena keberadaan Dark Fire yang hingga saat ini masih sanggup berdiri dengan memamerkan seringai liciknya.
Chloe sadar, di saat seperti ini, duduk diam bukanlah jalan terbaiknya. Ia juga mengira-ngira kalau Dark Fire akan memulai serangan baru nantinya.
Sama halnya dengan Black Aura, Chloe yang bukan Aura itu tidak memiliki informasi
ataupun kemampuan bertarung yang sempurna untuk menghajar Dark Fire. Mustahil juga
baginya menyuruh Black Aura bangun dan mengalahkan Pemimpin Legend Aura tersebut.
“Oooh! Begitu ya?” celetuk Dark Fire bersemangat seakan ia telah menemukan sebuah jawaban dari observasi singkatnya.
Tanpa pikir panjang ia pun mengeluarkan pedang apinya dan maju dengan kecepatan tinggi tak peduli bagaimana kondisi lawannya.
Melihat lawannya bergerak menghampirinya, mau tak mau Black Aura memaksakan diri
untuk berdiri dan mengeluarkan pedangnya. Sejenak melupakan rasa sakitnya dan terjadilah
adegan adu senjata diantara mereka.
Dark Fire sedari tadi memainkan pedangnya dengan lincah. Sedangkan Black Aura, ia
memilih untuk menangkis seluruh serangan Dark Fire hingga pada akhirnya, melibatkan
kaki kanannya untuk menyandung kedua kaki Dark Fire.
Dark Fire terjatuh menghantam permukaan aspal dengan keras. Di atasnya, Black Aura
memberinya serangan susulan berupa tusukan pedang yang ia arahkan pada pundak Dark
Fire.
Nyaris saja! Dark Fire langsung menghindari ujung pedang itu kemudian membalas Black
Aura dengan tendangan yang mengarah langsung pada wajahnya.
Tampaknya, kedua aura tersebut sudah semakin sulit untuk menghindari pertarungan
mereka. Ditambah lagi, Black Aura juga telah berhasil mengalahkan Dark Flower dan Dark
Sport dengan mudah. Hanya memanfaatkan jentikkan jarinya.
Black Aura sekali lagi mengaktifkan kemampuan mata penghancurnya dengan sasarannya adalah kedua kaki Dark Fire.
Seakan kaki boneka yang tak berangka, Dark Fire terjatuh untuk kedua kalinya usai
menerima serangan yang cukup membuatnya merasakan rasa sakit yang terdalam. Tulang
kakinya semua dipatahkan Black Aura menggunakan kemampuan matanya.
Merasa musuhnya semakin melemah, Black Aura menggunakan kekejamannya untuk
menghabisi Dark Fire dengan menusuknya berulang kali di area yang berbeda.
“Permisiii!!!” teriak Chloe yang turut bergabung menghajar Dark Fire menggunakan pedang
Black Aura. Gadis itu meniru gerakan menusuk Black Aura meskipun terlihat jelas, gadis itu
sedang mengerahkan seluruh tenaganya mengangkat pedang Black Aura yang lumayan
berat itu.
“Mati! Mati!” serunya. Ia membiarkan darah kuning Dark Fire mewarnai celana jins-nya.
“Cukup.” Ujar Black Aura seraya menahan tangan Chloe untuk tidak lagi menyakiti Pemimpin Legend Aura tersebut.
Chloe menyeka keringat di keningnya. Akhirnya, ia bisa bernafas lega setelah semua hal-hal
yang mendesak mereka sore ini berakhir. Kini, pemimpin Legend Aura itu terbaring lemas dengan cairan kuning nanas mewarnai tubuhnya.
“Kau nggak papa?” tanya Chloe kemudian. Nafas gadis itu tak beraturan. Tapi, ia tetap
__ADS_1
membutuhkan jawaban Black Aura mengenai kondisinya saat ini.
Yah, kalau dilihat dengan mata kepalanya sendiri sih, memang parah nyatanya.
Meskipun telah banyak darah hitam yang terbuang karena pertarungan sengitnya tadi. Black Aura memilih untuk menggelengkan kepalanya.
"Mereka semua kenapa?" tanya Black Aura ketika memandang orang-orang yang pingsan itu.
“Mereka tidur karena tisu ini!” balas Chloe
bersemangat. Bagaimana tidak bersemangat kalau konflik yang sempat ia kira akan
berujung sampai matahari terbenam, akhirnya bisa berakhir jauh lebih cepat.
“Kalian kejam! Padahal aku terluka disana tapi kalian malah mengobrol berdua!” Morgan
mengadu seperti laki-laki banci.
Chloe terkekeh, “Maaf-maaf. Aku kangen mau berbicara dengan Black Aura.”
Ketiga remaja itu berkumpul. Mereka menyaksikan kondisi jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang pingsan.
Chloe mengerutkan keningnya. Kalau tidak segera dibereskan maka, akan ada berita-berita
baru bermunculan tentang kejadian aneh ini. Chloe memandang kedua temannya yang
sudah tak beraturan lagi penampilannya. Morgan dipenuhi oleh luka memar bekas pukulan. Sedangkan Black Aura, wajahnya diwarnai oleh darahnya dan juga darah Legend Aura yang berwarna-warni.
“Apa kita biarkan saja mereka?" Chloe melirik Morgan agak lama.
"Emang biasanya kek mana?"
"Biarin." Ucap Black Aura datar.
"Dibiarin? Yang benar aja?!" seru Morgan yang terlihat kurang menyetujui ucapan Black Aura.
"Jangan khawatir, aku bisa menghapus ingatan mereka." Balas Black Aura tanpa memandang wajah Morgan.
“Oh, kalau begitu, langsung pergi aja cari Aoi.”
"Ya. Aku harus menemukan laki-laki itu juga."
Mendengar omongan Black Aura, Chloe dan Morgan menelengkan kepalanya penasaran.
"Kalian akan tahu nanti."
"Hahaha, nggak mau spoiler, spoiler dianya." Chloe tertawa sejenak kemudian memukul punggung Morgan hingga nyaris membuat pria itu terjatuh.
Dalam diam, Black Aura memandang mereka yang sedang tertawa bersama. Tidak mudah baginya menyeruakan gelak tawanya. Dirinya juga tidak pandai dalam mengungkapkannya. Oleh karena itu, diam adalah cara terbaiknya.
Ketika angin sore bertiup pelan, Black Aura mendongakkan kepalanya pada langit yang tak
lama lagi akan menjadi malam. Akhirnya, dunia bisa kembali tertidur dengan menikmati
keheningan diiringi dengan matahari yang tak lama lagi menghilang sosoknya. Seolah
mereka mematikan lampu tidurnya. Kemudian, memejamkan mata mereka.
Black Aura berbalik menghadap sepasang remaja yang tengah bercanda itu. Chloe dan
Morgan. Selang beberapa hari ini, baru mereka berdualah yang bisa Black Aura percayai
sebagai teman. Namun, entah kenapa… Ia merasakan ada sesuatu yang kurang di dalam
dirinya. Sayangnya, ia belum menemukan jawaban yang pasti.
Kedua manik violetnya memandang telapak tangannya yang tersiram darahnya sendiri.
Meskipun terluka, tapi ia tidak bisa merasakan rasa sakit. Kecuali rasa sakit di pinggangnya
tadi.
Rasanya aneh. Ia menyipitkan kedua matanya dan masih terpaku dengan cairan yang mengalir dari telapak tangannya. Lalu, jatuh ke tanah.
Merah…?
Terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing, mereka sampai tidak menyadari ada puluhan bola api yang tengah melayang tepat di atas kepala mereka. Tentunya, bersama dengan penggunanya yang masih memiliki stok tenaga yang banyak.
Untunglah, Black Aura menyadari sinyal berbahaya itu. Ia refleks mendongakkan kepalanya ke atas dan terbelalak. Manik violetnya tercampur dengan cahaya kuning dan oranye yang membara.
Rupanya, Dark Fire. Dia bersama dengan senyuman dan juga beberapa senjata kedua saudarinya seperti tongkat dan tangan ogre, sudah siap ingin membunuh mereka.
Tampaknya, Aura itu sudah kehabisan ide dan memilih untuk mengakhirinya dengan cepat. Dengan membakar.
Dark Fire tidak memikirkan keselamatan, nyawa dan ikatan… Sudah tidak berarti apa-apa lagi selain mengalahkan musuhnya dan membawa berita baik untuk seseorang yang sangat menantikan kehadirannya.
__ADS_1
“Eh, buset...” Morgan dan Chloe menganga tak percaya ketika menemukan keanehan di sekitar mereka. Ya, suhu yang mendadak menjadi panas.
Wajah mereka pucat ketika mendapati puluhan bola api yang melayang itu. Chloe geram melihatnya tapi menyimpan ketakutan di dalam dirinya. Disaat mereka tengah—mungkin—bersenang-senang, selalu saja ada yang mengganggu momen tersebut.
Hari semakin gelap, Dark Fire pun memilih untuk langsung melayangkan jari telunjuknya pada mereka. Tak lupa, disusul dengan puluhan bola api yang hendak berjatuhan menghantam tanah.
Sebelum bola api tersebut menimpa mereka, Black Aura otomatis menyiapkan puluhan panah iblisnya. Kemudian, ia lepaskan dengan bebas mengarah pada puluhan bola api yang berdatangan tersebut.
Untunglah, panah-panah miliknya berhasil melenyapkan puluhan bola api yang ia klaim bisa saja membunuh warga yang pingsan ini.
"Black Aura...?" Panggil Chloe khawatir. Kedua matanya memperhatikan bayangan remaja Aura itu yang sudah kelelahan. Nafasnya juga tak beraturan.
Meskipun kelelahan, Black Aura masih menyempatkan diri untuk menoleh gadis yang menyebut namanya. Gadis itu selalu menyebut namanya di saat apapun.
Black Aura menghela nafas lelah seraya menurunkan senjatanya. Jelas sekali, dirinya sudah mencapai batasnya.
"Kau sebaiknya beristirahat, Black Aura. Pinjamkan kami senjatamu dan biarkan kami mengalahkannya." Saran Morgan serius. Sama seperti Chloe, dirinya juga meragukan tenaga Black Aura.
Black Aura memang bukan manusia. Akan tetapi, dia juga memiliki batasan dalam melakukan sesuatu. Termasuk pertarungan sengit ini.
Sampai sekarang, ucapan Morgan belum mendapatkan respon dari Black Aura.
Hooh... Dia lelah rupanya. Dark Fire membatin senang sebelum akhirnya menghilang selagi pergerakannya tidak disadari ketiga remaja tersebut.
"Morgan benar. Biar kami saja yang melawannya." Tambah Chloe barangkali, black Aura mau membalas perkataannya sekaligus mewakili Morgan. Ia juga menggenggam lengan kanan remaja itu antisipasi jika ia terjatuh dan pingsan.
Black Aura melirik Chloe perlahan. Melihat kedua teman manusianya yang sangat peduli dan mudah cemas di saat sesuatu menimpanya. Mungkin, rasa cemas yang belum sepenuhnya Black Aura pahami.
Tanpa mereka sadari, Dark Fire kembali muncul pas di depan mereka. Kemudian, menebas punggung Morgan dengan pedangnya.
CRAATTT!!!
Sontak, Black Aura langsung menarik Chloe dan melempar gadis itu jauh-jauh dari area berbahaya. Black Aura berdecak sebal, melihat wajah Morgan yang terkejut dan memucat karena kehilangan banyak darah.
Sebelum wajah pria itu mencium tanah, Black Aura segera memindahkan lukanya pada Dark Fire dan menghampiri Morgan. Pria itu dibawanya ke dekat Chloe.
"Jaga dia."
Chloe mengangguk mantap. "Baik."
Tadi Morgan, sekarang Chloe-lah target selanjutnya. Sayang sekali, Black Aura tidak merasakan pergerakan Dark Fire karena lelah. Alhasil, Pemimpin Legend Aura itu berhasil menendang Chloe hingga menembus dinding toko bunga.
Raut wajahnya yang datar itu berubah drastis menjadi sangat terkejut dan marah. Terlebih lagi melihat Dark Fire yang masih memamerkan senyumannya. Betapa menyenangkannya menyakiti seseorang.
Black Aura berdecak sebal disusul dengan sekali tebasan untuk Dark Fire.
"Aku tahu kau lelah." Ujar Dark Fire yang mendadak sudah ada di belakang Black Aura. Tanpa pikir panjang, dia menusuk lawannya dengan pedang.
Tak mau kalah, Black Aura menghancurkan mata kanan Dark Fire sehingga membuat Aura itu mengerang kesakitan. Akhirnya, perhatiannya tertuju pada rasa sakitnya. Dengan pedangnya, Black Aura menebas Dark Fire.
"Kau pikir, aku lemah apa?!!" sungut Dark Fire kesal yang secara otomatis menyandung pergelangan kaki Black Aura dengan kasar hingga membuat remaja tersebut jatuh.
Tanpa ragu-ragu, ia kembali menyerang Black Aura. Kali ini, pedangnya menusuk lengan kanan Black Aura. Kemudian, memotongnya.
Potongan tangannya terlempar begitu jauh. Black Aura menyipitkan matanya kesal.
Lengan ogre di tangan kirinya ia gunakan untuk menembak Black Aura. Ditambah dengan tinjuan yang berulang kali ia berikan pada Black Aura.
Dari kejauhan, Chloe yang baru saja mendapatkan serangan Dark Fire berusaha untuk bangun. Ia tidak ingin ketinggalan momen yang mendesak ini karena pingsan. Namun, matanya malah terlalu cepat dipertemukan dengan adegan sadis itu.
"Black Aura..." Kedua bola matanya mengecil memandang Black Aura yang semakin melemah.
“Halo Chloe!” sapa Dark Fire tiba-tiba.
Chloe terkejut bukan main mendapati Dark Fire yang berdiri di depannya. Ia bahkan tak segan-segan, menendang wajah Chloe hingga gadis itu terhempas semakin jauh. Sama halnya dengan potongan tangan Black Aura yang kian menjauh.
Black Aura membeku dengan raut wajahnya yang semakin panik. Ia menancapkan pedangnya ke tanah dan berusaha berdiri. Sayangnya, Dark Fire tidak akan membiarkan dirinya terluka lebih parah dari lawannya.
Cepat-cepat, Dark Fire menendang dagu Black Aura. Jelas di depan matanya, cairan hitam kemerahan yang melayang di udara.
Merah...?
Waktunya seakan melambat, memberi Black Aura sedikit ruang untuk memperhatikan kedua teman manusianya yang sudah tak bangkit lagi. Kedua matanya terpaku pada Chloe yang tertimpa puing-puing bangunan.
Ia merasa bersalah karena belum bisa melindungi gadis itu sepenuhnya.
“Jangan sedih… Dia akan baik-baik saja… Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." celetuk Dark Fire.
“Chloe…” batinnya sangat khawatir. Kekuatannya yang ia miliki seolah menghilang tanpa bekas. Ia tidak menemukan pergerakan apapun dari Chloe. Apa jangan-jangan…
BUAKK!!
Sesuatu yang keras menghantam pipinya, membiarkan darahnya menghiasi permukaan tanah. Dark Fire lagi-lagi meluncurkan tendangannya dengan sangat santai. Pria itu tampak bahagia ketika berhasil menghajar salah satu anggota Mega Vile hingga benar-benar terdesak.
~
__ADS_1