
“Sayang sekali, bunga secantik ini harus ditumbuk,” komen Jacqueline sambil memperhatikan penampilan bunga veronica yang baru saja Midnight petik. Aneh, di Carnater bunga tersebut tumbuh di tempat yang bisa dibilang sulit dijangkau manusia dan butuh nyali besar untuk mengambilnya. Seperti yang Jacqueline pegang contohnya. Bunga veronica itu ia temukan di tepi jurang yang mereng. Seandainya Midnight tidak hati-hati mengambilnya, maka tamat sudah riwayatnya.
Bunga veronica itu jarang sekali Jacqueline temukan di dunianya. Memang di bumi ada bunga seperti itu. Midnight bilang, veronica itu hampir menyerupai lavender.
Jacqueline mengembalikan bunga itu pada Midnight. Gadis itu merasa prihatin hanya membayangkan bunga secantik itu harus hancur lebur bersama dengan bahan yang akan menjadi bagian dari ritual nanti. Kenapa bahan-bahannya harus yang cantik-cantik? Padahal ritual di bumi justru pakai bahan yang aneh-aneh. Seperti darah contohnya…
Seketika, bulu kuduk Jacqueline meremang. “Mungkin lebih baik yang punya Midnight saja…”
Karena tidak ada kegiatan, Aoi berjalan mengelilingi hutan ditemani dengan Silentwave. Aura yang jarang sekali mengeluarkan suaranya itu hanya diam sambil mendengarkan cerita Aoi. Aoi bercerita tentang hutan kematian di jepang.
“Waktu pertama kali aku berkunjung ke hutan sendirian, belum satu langkah aja aku langsung pulang.”
Silentwave menelengkan kepalanya tanpa suara. Memang dia tidak berbicara untuk suatu alasan, tapi Aoi memahami maksud dari gerak-geriknya.
“Tentu saja karena aku sayang nyawaku. Masa remaja memang banyak banget yang bikin frustasi. Tapi, hal-hal menyenangkan itu pasti ada. Oh, ya! Usiamu berapa?” kini Aoi mengalihkan pembicaraannya menjadi Aura dihadapannya. Bukan apa-apa, hanya dirinya yang ingin lebih dekat dengan Aura itu sekaligus bisa menjadi teman. Tidak ada yang salah bukan?
Silentwave maju dan mendekati telinga Aoi seolah hendak membisikkan sesuatu.
“Oh, usia remaja tapi lebih tua dari lima belas. Delapan belas?”
Silentwave menggeleng pelan. Dia menggunakan isyarat tangannya untuk memberitahu detailnya. Tak perlu menunggu waktu lama pun, Aoi akhirnya paham.
“Enam belas. Muda juga usiamu!” Senyuman lebar Aoi terukir jelas di wajahnya, sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. Setelah mengetahui usia Aura itu, Aoi merasa malu menyadari dirinya yang lima tahun lebih tua dari Silentwave.
“Ngomong-ngomong, di Carnater ini ada tempat pemakaman tidak? Aku penasaran seperti apa pemakamannya,” ujar Jacqueline yang kala itu sedang membantu Midnight mengulek bahan-bahan ritual mereka.
“ Ada. Tapi, nggak seramai di tempat kita dan juga, kalau kita menggunakan peti lalu dikubur, justru yang mereka kubur bukan jasadnya melainkan kristalnya.”
“Cristal?”
“Hm, sebab warga Carnater meninggalnya dengan cara menghilang. Kalau mereka meninggalkan Kristal saat proses menghilang mereka, maka Kristal itulah yang dikubur ke dalam tanah. Mau kuperlihatkan bagaimana rupa makam?” Jelas Midnight tak lupa dengan tawaran yang ia berikan. Sesungguhnya, Midnight merasa senang apabila ada orang yang memiliki beberapa pertanyaan yang orang tersebut ajukan padanya. Setidaknya, dia tidak dilahap oleh rasa bosan akan kekosongan.
Jacqueline mengangguk mantap seraya mengucapkan “Mau! Terima kasih!”
~
“Bagaimana bisa youtuber terkenal seperti dirimu ini terjebak di sini?” Chloe segera merenggangkan pelukannya begitu tahu siapa gadis di depannya itu.
Okka terdiam, tak lama kemudian tersenyum. “Ceritanya panjang dan itu sudah dua bulan yang lalu,” tuturnya. Perhatian Okka beralih ke Black Aura yang masih setia menggenggam tangannya. “Maaf, bisa tolong lepaskan tanganku?” pinta Okka sopan.
Black Aura mengangguk pelan seraya menjauhkan dirinya dari Okka.
“Kalian siapa? Apa kalian datang ke sini untuk mencari kami?” tanya Okka selanjutnya.
__ADS_1
Chloe mengangguk, “Ya. Selain itu, ada banyak hal yang ingin kami tanyakan.”
“Apa yang ingin kalian tanyakan? Kalian nggak akan membunuhku, kan?”
Black Aura menggeleng kepalanya pelan. “Justru kami kesini ingin mengembalikan…”
Tiba-tiba, Black Aura terjatuh setelah disandung oleh Okka yang langsung melarikan diri tanpa memberi kesempatan bagi Black Aura untuk menyelesaikan kalimatnya.
Chloe terlonjak kaget dan tanpa pikir panjang langsung mengejar Okka yang seenaknya kabur. “Hei! Kemari kau!”
“Astaga… Kenapa nasibku selalu saja sial?” gumam Black Aura heran. Waktu terus berputar. Bukan saatnya dia berdiam diri sembari merenung dengan posisi duduk. Black Aura bangkit sambil mengambil pedangnya yang tergeletak di atas rerumputan kecil.
“Pasti Chloe udah jauh nih…” pikirnya.
Aura itu pun berlari mengejar kedua gadis itu menembus heningnya hutan dan tiupan angin tipis. Membosankan rasanya jika lawannya hanyalah manusia. Black Aura entah kenapa merindukan dirinya yang dulu. Saat dia bertarung melawan Legend Aura. Tidak masalah tiga lawan satu. Yang terpenting adalah, dia mendapatkan hiburan serta sensasi menegangkan dari pertarungan sengit tersebut. Sayang sekali, keberadaan manusia di dunianya menambah list rasa bosannya. Ingin bertarung dengan caranya sendiri saja sulit. Belum lagi dengan aturan yang Midnight beritahukan padanya untuk lembut dalam memperlakukan lawannya yang lemah seperti manusia contohnya.
“Huft… Membosankan…”
Ditengah jalan, Black Aura spontan menoleh ke atas dan menangkis pentungan yang dilayangkan seorang laki-laki bertopeng Jason. Uh, mengerikan. AKan tetapi, topeng murahan seperti itu tidak cukup membuat Black Aura ketakutan.
Black Aura menatap tajam pada pria bertopeng Jason itu. Ia menduga kalau pria itu adalah manusia yang tersesat di Carnater sama seperti Okka barusan. Kemungkinan, pria ini memiliki hubungan dengan Okka.
“Wah, ketahuan ya?”
“Kau manusia, kan?” tanya Black Aura tanpa basa-basi. Segera, Aura itu mendorong pentungan milik pria bertopeng Jason itu sambil melancarkan serangan selanjutnya. Kali ini, dia berusaha tidak memperdulikan spesies dan menjadi dirinya sendiri. Black Aura ingin setidaknya merasakan sensasi bertarung yang ia sukai dua bulan yang lalu atau bahkan sebelumnya.
“Cukup! Aku muak mendengarnya!” Black Aura membuka lima portal kecil yang mengeluarkan puluhan panah yang ia bebaskan langsung tepat di depan pria bertopeng Jason itu.
“Widih! Keren juga! Oh, ya! Untuk pertanyaanmu tadi, jawabanku adalah manusia. Yap, aku manusia dan namaku Kenzo. Kau kesini mau mengembalikanku ke duniaku lagi ya?” oceh Kenzo sambil melarikan diri dari panah-panah yang akan melukai dirinya nantinya.
Orang ini banyak ngomong sekali…
“Ya,” belum puas karena tak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai Kenzo, Black Aura tanpa pikir panjang mengaktifkan kekuatan mata penghancurnya dengan target di bagian pinggang Kenzo. Matanya menyipit demi memastikan serangannya tepat sasaran.
“Dapat…”
Pinggang Kenzo tiba-tiba tertebas setelah Black Aura mengaktifkan kemampuannya. Akan tetapi...
“Hm?”
Bukannya Kenzo, justru Black Aura-lah yang terkejut memandang darah-darah itu berwarna biru dongker, pink, maroon, dan jingga. Tunggu, itu darah?
“Hei! Kembali sini!” teriak Chloe berusaha menangkis dahan-dahan yang berterbangan mengarah padanya. “Kau harus kembali ke duniamu secepatnya!”
__ADS_1
“Memangnya, kau punya urusan apa denganku sampai-sampai repot mau membawaku ke luar? Kau juga manusia kan? Seharusnya kau saja yang kembali dan urusi tugas kuliahmu sampai selesai!” Okka mendarat di batang pohon depannya sebelum akhirnya kembali maju dan hendak menembak Chloe dengan revolver yang sudah ia sediakan sejak awal.
Chloe membelalak kaget. Segera, gadis itu meluncurkan lima belas panah Black Aura yang ia arahkan langsung pada Okka. Dia tidak ingin panah-panah itu meleset. Namun di sisi lain juga, dia tak ingin Okka terluka. Palingan hanya luka gores.
“Coba kutanya, kau pasti memiliki sesuatu yang membuatmu bertahan di sini kan?” tanya Okka tepat ketika Chloe baru saja mendarat.
Chloe tidak merespon tapi dia tahu jawabannya. Chloe hanya takut jawabannya itulah yang menjadi alasan kenapa Okka bisa di Carnater. Sebab, gadis youtuber itu juga punya alasan lain mengenai keberadaannya di Carnater.
“Aura berambut putih itu kan, alasannya?”
Chloe terperanjat walau tampang luarnya berusaha untuk bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Gadis sepertimu beruntung bisa bertemu bahkan berteman dengan Aura sepertinya. Selain itu, kau juga suka fantasi kan? Kalau iya, maka aku juga. Aku suka bermain game terutama rpg. Aku selalu ingin jadi petarung terkuat hingga bisa menaklukkan semua musuh. Tapi…” mendapat protes dari kakinya, Okka memilih untuk duduk. Untunglah, dahan yang ia duduki cukup kuat menopang tubuhnya yang seberat 46 kg.
“Keinginan menjadi pertarungan terkuat itu hanya bisa terwujud dalam game. Selain itu… Tekanan dari dunia kita membuatku stress dan kau tahu, kan kalau manusia seperti kita butuh refreshing? Atau malah, kalau sudah melebihi batas kemampuan kita, kita yang perempuan ini bisa saja bunuh diri lho..."
Chloe masih diam mendengarkan Okka bercerita sambil memasang sikap waspadanya.
“Ah, aku jadi teringat dengan diriku yang frustasi menghadapi realita sampai-sampai punya keinginan untuk melenyapkan diri, tapi jujur saja, sejak terjun ke Carnater… Itupun karena ulah seseorang. Tapi, aku memaafkannya. Aku sangat menikmati dunia fantasi yang bahkan hanya orang tertentu saja bisa memasukinya. Aku iri sama dosenmu itu. Aku diam-diam melihatnya berbicara dengan para Aura. Dia seperti akrab dengan warga di sini dan semuanya percaya padanya. Mereka yang musuh menjadi teman sekarang,” beber Okka, mengakhirinya dengan raut tak puas.
“Lalu, setelah kau bercerita, apa itu akan mengubah keinginanku?” tanya Chloe.
“Oh, jadi kau tetap mengembalikanku ke dunia nyata? Silahkan saja… Itupun jika kau sanggup melawan petarung kuat sepertiku. Lagian, kau manusia. Sekali tebas saja, kau sudah meningsoy, Chloe.”
“Ha? Kau tahu dari mana namaku?”
Okka menyeringai licik. “Aku tahu apapun tentang kalian. Aku tahu siapa saja orang yang kau benci.”
Chloe terperanjat seolah tidak menerima kenyataan di depannya.
“Daripada memaksaku pulang, lebih baik, aku saja yang memaksamu pulang. Lagian, yang boleh tinggal disini kan Cuma Aura? Dunia Carnater ini kan milik para Aura. Kalau kau disini, yang ada Cuma nambah masalah aja kan? Oh, ya! Buku itu… Pasti kau mengenal Black Aura karena buku tua itu kan?”ujar Okka kemudian tertawa.
Mendengar “buku tua” itu, seketika tubuh Chloe membeku. Buku itu masih tersimpan dengan baik di dalam tasnya. Dan belakangan ini, dia jarang menyentuhnya. Akan tetapi, mungkinkah penulisnya adalah gadis youtuber di hadapannya?
“Jangan bilang, buku itu kau yang menulisnya?” suara Chloe gemetar.
Okka tersenyum mengangguk. “Jangan khawatir, aku nggak minta apa-apa kok. Lagian, aku nulis buku itu karena bosan. Ngomong-ngomong, pertarungannya lanjut atau tidak? Kalau lanjut, aku ragu.”
“Kenapa ragu?”
“Hmmm, apa ya? Karena baik kau ataupun Black Aura, kemungkinan nggak ada yang bisa mengalahkan kami.”
Chloe mengernyit tak mengerti, “Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Manusia setengah Aura. Kau pernah mendengarnya?”
~