
"Aduh!" Chloe mengaduh ketika dirinya tersandung dan nyaris saja dihajar oleh seorang gadis menggunakan tongkat sapu.
Sedari tadi, yang ia lakukan hanyalah menahan serangan orang-orang yang kehilangan kewarasan mereka. Bukan hilang kewarasannya, Chloe menganggap seperti mereka tengah dikendalikan oleh Dark Flower.
Meski sebelumnya sudah dikatakan oleh Black Aura untuk menghajar mereka menggunakan pedangnya, Chloe merasa enggan untuk melukai mereka. Ditambah lagi, usai menebas salah satu pria, ia menemukan cairan kental berwarna merah.
"Artinya, aku tidak bisa melukai mereka. Jadi, gimana dong?" Chloe bergumam tanpa berhenti menangkis serangan wanita bertongkat sapu itu.
Chloe tidal lupa melemparkan pertanyaannya pada Morgan. "Oi! Morgan! Kau tahu cara mengatasi mereka? Makin nggak benar nih!"
"Aish! Aku juga bingung. Biarkan aku berpikir dulu, nona." Balas Morgan yang sama kondisinya dengan Chloe. Hanya saja, lawannya adalah dua orang pria dengan poster tubuh besar. Sehingga, menyulitkan dirinya untuk melangkah ke belakang.
"Gila emang." Celetuk Morgan sampai di detik yang lain, sebuah ide tertancap di benaknya.
"Ah, Chloe! Aku ada ide!" serunya bersemangat. Hebatnya, ide itu membawa dampak baik baginya yang berupa energi. Morgan cepat-cepat mendorong dua pria tersebut lalu, berhambur menuju mobilnya.
Senyuman puasnya terlukis manis di wajahnya. Hal itu membuat Chloe ikut tersenyum lega. Ia berharap, ide Morgan itu tidak melibatkan nyawa orang-orang ini dan cenderung lebih efektif.
Selang beberapa menit kemudian, pria itu muncul kembali dengan membawa kotak tisu dan satu botol obat tidur.
"Ini solusinya!" ucapnya mantap seraya memamerkan keindahan kotak tisu dan obat tidurnya.
Chloe terkekeh menanggapi ide tersebut. Menurutnya konyol tapi, ia rasa memang efektif untuk membuat mereka-mereka yang gila ini tertidur. Dengan begitu, Chloe dan Morgan bisa memiliki kesempatan banyak membantu Black Aura yang kala itu tengah terlibat adu senjata yang sengit.
~
Dark Flower turun dengan meninggalkan tongkat bunganya di atas gedung. Gadis itu mendarat dengan mulus di samping kedua saudaranya tanpa luka sedikitpun. Hanya saja, kedua kakinya justru malah menghasilkan retakan kecil di jalan.
Melihat tiga Legend Aura itu, Black Aura hanya bisa menyiapkan keberanian dan kewaspadaannya. Mengingat dirinya memiliki teman manusia, yaitu Chloe dan Morgan.
Sementara itu juga, Black Aura tidak memiliki informasi apapun tentang kemampuan mereka. Entah seberapa kuat mereka bertarung.
"Kau takut?" tanya Dark Fire mengisi kekosongan di bawah penatnya langit sore.
Black Aura tidak merespon.
"Selalu begitu." Dark Sport menambahi dengan raut malas.
"Aku dengar, kemampuanmu berhubungan erat dengan rasa sakit." Timpal Dark Flower dengan suara angkuhnya.
Bagaikan angin yang berlalu, Black Aura tanpa pikir panjang memulai serangan tanpa memperdulikan kata-kata mereka. Ia berteleportasi tepat di belakang tiga Legend Aura itu. Kemudian, menebas mereka.
Sayangnya, sisi pedangnya itu langsung digenggam oleh tangan ogre Dark Sport. Karena sudah memasuki waktu pertarungan, Dark Sport tanpa ragu-ragu mematahkan pedang Black Aura. Lalu disusul dengan tinjuan keras yang mengarah pada wajah Black Aura.
BUK!!!
Black Aura terlempar cukup kencang dan menabrak truk yang membawa angkutan berisikan pie blueberry. Hmmm... Lezat.
Rasa sakit dan manis beradu menjadi satu. Yah, kini, penampilannya berantakan karena terciprat selai blueberry bukan darahnya.
Selang beberapa detik kemudian, sebuah sinyal merah mengetuk benaknya. Black Aura refleks melompat keluar gerbong dan menemukan beberapa duri raksasa menusuk gerbong pie blueberry tersebut.
Black Aura menghela nafas lega. Kalau tidak segera, duri-duri itu bisa saja menusuknya dan mengunci pergerakannya.
"Wah... Kau sekarang bisa menghela nafas, ya!" celetuk Dark Flower yang langsung mendapatkan perhatian Black Aura. Tanpa pikir panjang, gadis itu melayangkan palunya dan menghancurkan aspal tepat di bawah Black Aura.
Retakan itu memunculkan duri-duri tipis dengan ketinggian kira-kira tiga meteran.
Black Aura sontak mengangkat kakinya dan menghindari duri-duri yang terus menerus tumbuh itu. Sampai salah satu durinya berhasil menusuk lengan kanannya.
DUAARR!!!
Black Aura terkejut usai mendengar suara tembakan di belakangnya. Ia melirik cepat ke belakang dan menemukan Morgan yang bersembunyi di balik mobil sport orang lain demi menghindari tembakan seorang pria.
Betapa terkejutnya Black Aura melihat senjata yang digenggam pria itu adalah senjata Aura. Sejenis senapan laras panjang gitu. Jika tidak dihancurkan, maka akan menimbulkan ledakan besar. Terutama jika pelurunya menyentuh bensin mobil.
Black Aura pun mengambil gerakan cepat. Ia menjentikan jarinya dan kini ia mendapatkan senjata tersebut. Ia menukarnya dengan buku tulis anak-anak.
Morgan yang menyadari keanehan tersebut, otomatis menatap Black Aura.
"Makasih ya!" ucapnya yang tak lama larut kembali dalam tugasnya membuat pingsan orang-orang. Dengan tisu yang dituangi obat tidur, masalah apapun akan selesai dengan cepat. Cara yang cukup efektif dan hanya bermodal keberanian. Haha...
Kesempatan karena lawannya terfokus pada hal yang lain, Dark Sport dan Dark Fire menyerang Black Aura secara bersamaan. Dark Sport seperti biasa, mengeluarkan lengan ogre-nya dan meninju lawannya dari sisi kanan.
Untunglah, Black Aura type yang sangat peka akan pergerakan. Jadi, serangan tersebut langsung ditangkisnya menggunakan sisi pedangnya.
__ADS_1
Tidak disangka-sangka, rupanya masih ada serangan lain yang diluncurkan Dark Sport. Gadis itu menambahkan tangan lain dari lengan ogre yang saat itu tengah ditahan oleh pedang Black Aura. Ya, gadis itu memanfaatkan kecepatannya sehingga, ia berhasil melukai lawannya.
Lengan ogre itu muncul tepat di depan lengan kanan Black Aura kemudian, meninju keras lengannya hingga terdengar suara krak dan membiarkan remaja itu terlempar dan hendak menghantam dinding cafe.
Sebelum menghantam dinding cafe, Dark Fire bergerak maju dengan palu yang sudah ia panaskan menggunakan apinya. Tampaknya, ia berencana untuk memukul Black Aura dengan palu tersebut.
Black Aura berdecak sebal tapi, ia juga memahami taktik mereka. Ia pun sesegera mungkin mengubah posisi tubuhnya sekaligus memastikan kedua kakinya nanti mendarat tepat di atas permukaan palu Dark Fire.
Begitu diayunkan palunya, Black Aura kemudian mengambil satu pijakan sempurna yang disusul gerakan kakinya yang lain. Persis seperti bayangannya. Ia berhasil menapakkan kedua kakinya dan melompat demi menghindari serangan tersebut.
Tak lupa, Black Aura mengeluarkan pedangnya lalu memotong lengan kanan Dark Fire. Kini, terlihat sangat jelas darah kuning terang yang bercipratan di atas permukaan aspal.
Suara nyaring dari palu yang terjatuh itu seperti alunan musik yang mengiringi jalan pertarungan mereka. Dark Fire menyeringai. Ia kesakitan. Di sisinya yang lain, perlahan memahami kekuatan dan gaya bertarung Megavile satu ini.
Entah kenapa, rasanya menyenangkan saja bisa bertarungan dengan lawan yang baru dengan kemampuan yang jelas berbeda dengan musuh sebelumnya. Dark Fire merasa dirinya tertantang setelah berminggu-minggu diam di dalam gedung bersama seorang pria.
“Kalian unik juga ya! Entah Silentwave, Devil Mask, Midnight bahkan termasuk dirimu
sekalipun—irit sekali yang namanya berbicara.” Ujarnya.
Sedikit berbasa-basi tidak apa-apalah. Meskipun, ia sudah mengetahui kenyataannya bahwa Black Aura tidak akan pernah merespon perkataannya.
Sesudah Dark Fire, kini Dark Sport yang memberinya serangan susulan berupa tinjuan keras yang ia hadiahkan pada Black Aura. Sebenarnya, ia tidak terima melihat saudaranya terluka juga.
Serangan yang keras itu sukses membuat Black Aura menghantam dinding café. Bahkan sampai hancur dindingnya. Voila! Terlihatlah penampilan dalam café yang aesthetic dan
menawan.
“Aku pernah mendengarnya berbicara.” Ucap Dark Sport seraya mengubah lengan ogre-nya menjadi cannon.
Tanpa pikir panjang, ia menarik pelatuknya lalu menembak café tempat dimana Black Aura
terpental barusan. Beberapa peluru berjatuhan dan mewarnai permukaan aspal yang tenang itu. Cahaya kuning bergradasi oranye itu mewarnai sepertiga bola matanya. Seperti
api yang membara.
Dark Sport sangat bersemangat menyumbangkan seluruh pandangannya kepada lawannya yang saat ini ia kira tidak bisa bergerak dan masih tertembak. Tapi rupanya, perkiraannya itu dibantah oleh kenyataan.
Entah bagaimana caranya Black Aura bisa berdiri tepat di belakang gadis itu dengan sabit raksasa yang sudah ia sediakan digenggamannya.
darah hitam yang hampir mewarnai dirinya. Sayangnya, tidak ada kesempatan bagi Dark
Sport untuk menghindar. Black Aura sudah terlanjur menebas Dark Sport dengan sabitnya
hingga terpisah dari bagian pinggang ke bawah.
Dark Sport terjatuh tanpa suara. Ia tidak memiliki tenaga apapun untuk berdiri karena
kenyataannya, ia telah dibelah menjadi dua bagian oleh Black Aura.
Cairan oranye miliknya mengalir membentuk genangan seperti danau mini yang luas. Seperti becekan di bawah musim hujan. Wah, dia bisa saja kehabisan berliter-liter darah kalau dibiarkan begitu saja di jalan.
Dark Sport panik. Raut wajahnya memucat dalam kurun waktu sedetik. Ia bertanya-tanya,
bagaimana bisa dia menghindari tembakannya?
Black Aura menghampiri Dark Sport yang sekarat. Tidak ada kata ampun untuk gadis itu.
Jika menurutnya keberadaan mereka mengancam nyawanya atau orang lain, maka, tidak ada lagi yang namanya ampunan baginya.
Black Aura menatap Dark Sport datar tapi terkesan dingin. Sejak awal, ia sangat membenci gadis ini. Benci sekali.
“Kau bingung, kenapa aku bisa disini?” Black Aura bersuara pada akhirnya. Suaranya yang dingin itu membekukan pergerakan Dark Sport dan Dark Fire. Akan tetapi, tidak bertahan lama bagi Dark Fire yang cenderung senang mendengar suara lawannya.
Aneh saja Aura ini. Ia terlihat sangat berterima kasih dengan masalah yang telah ia perbuat
hanya demi mempelajari tingkah laku lawannya serta melatih dirinya untuk menghabisi
salah satu anggota Megavile tersebut.
Dark Sport menelan ludah ketakutan. Ia tidak berani bertanya. Namun dalam hatinya, ia merutuki dirinya karena merasa takut dengan musuh yang selama ini ingin sekali ia habisi dengan senjatanya.
Suasana di sekitar mereka berubah drastis menjadi dingin mencekam. Persis seperti
dunianya Black Aura dimana tidak ada satupun suara atau pergerakkan apapun di dalamnya.
__ADS_1
“Gadis dengan hiasan bunga.” Ucap Black Aura seraya menunjuk ke arah dinding café yang
hancur itu.
Sontak, kedua Legend Aura itu terbelalak. Mereka tanpa pikir panjang menoleh cepat pada dinding café yang hancur itu. Barulah terlihat tubuh Dark Flower yang tergeletak berlumuran darah pink-nya. Semudah itukah? Tentu tidak.
Dark Fire tidak sendirian. Ia masih memiliki sejumlah manusia yang gila meski nyatanya, hampir semua dari mereka dibuat pingsan oleh Morgan menggunakan tisu yang telah diberi obat tidur.
“Masih belum selesai lho…” ujarnya.
Black Aura tersentak. Tanpa ia sadari, seseorang berlari kencang mengarah padanya
kemudian, menendang pinggangnya.
Black Aura terkejut bukan main. Serangan kejutan itu sangat berbeda dari serangan-serangan yang pernah ia terima sebelumnya. Jauh lebih menyakitkan. Lantas, ia pun terjatuh dengan punggungnya yang menghantam tiang lampu jalan.
Black Aura berakhir dengan dirinya yang semakin melemah akibat tendangan maut tersebut.
Di pihak Chloe dan Morgan.
Usai berurusan dengan sejumlah warga yang gila, Chloe memutuskan untuk menghampiri
Black Aura. Bersama Morgan, ia mengajak pria itu untuk membantu Black Aura melawan Dark Fire.
“Udah siap?” tanya Chloe antusias.
Morgan mengangguk pelan. “Udah. Ayo, Black Aura pasti udah lama menunggu kita.”
Balas Morgan.
Memang benar yang ia ucapkan. Sedari tadi, perhatian mereka benar-benar focus pada apa yang dikatakan Black Aura. Walaupun tidak menggunakan kekerasan, setidaknya mereka telah menemukan cara mengatasi kegilaan mereka dengan cara yang lembut.
Ketika sedang berjalan, Chloe menghentikkan langkahnya. Diiringi dengan Morgan yang
juga sempat merasa bingung dengan kondisi jalan raya yang dipenuhi genangan pink,
oranye dan kuning.
“Ini… Darah Legend Aura, kan?” celetuk Morgan heran. Pria itu menunduk lalu, mencolek genangan kuning tersebut. Ia juga mencium aromanya. “Bau nanas.”
“Ha?”
Berbeda dengan Chloe, gadis itu justru menemukan genangan darah hitam yang berceceran lurus sepanjang jalan. Ia mengerutkan wajahnya. Perlahan-lahan, ia mulai mengikuti kemana arah darah hitam tersebut. Ia juga sangat yakin bahwa pemilik darah tersebut tak lain adalah, Black Aura.
Langkahnya ia percepat. Tidak mau terlalu lama tenggelam dalam rasa penasarannya
sampai pada akhirnya, ia menemukan jawabannya. Jawaban yang bahkan tidak perlu
dijelaskan dan hanya bermodal penglihatan.
Chloe terbelalak kaget tepat di depan halte bus. “Black Aura!!!” jeritnya yang secara instan
direspon oleh Morgan.
Seorang pria yang baru saja menendang Black Aura itu masih belum berhenti menghajarnya dengan menendangnya berulang kali. Mungkin karena kaget, Black Aura jadi sulit mengendalikan serangan pria tersebut ditambah dengan rasa sakit yang benar-benar menyiksanya.
Bukan hal baik!
Chloe yang tidak tahan dengan pemandangan itu memutuskan untuk berlari. Ia sampai
melupakan Morgan yang tiba-tiba terjatuh setelah dihajar oleh Dark Fire. Ya, Aura itu sedang menjalani kegiatan observasi-nya. Ia penasaran, apakah manusia mampu membuat Megavile seperti Black Aura merasakan rasa sakit?
Kemampuannya memang berhubungan erat dengan rasa sakit. Namun, Dark Fire
berharap dugaannya selama ini benar. Apa melalui perantara manusia, Aura sepertinya
bisa merasakan rasa sakit seperti yang ia rasakan saat ini ketika terluka.
“HENTIKAN!!!" teriak Chloe yang sudah dikuasai amarah dan... Bisa dikatakan, ia ketakutan.
Pedang yang sebelumnya ia ragu untuk digunakan, kini berhasil menebas punggung pria tersebut hingga darah merahnya
tersiram di udara.
~
__ADS_1