
Dua puluh menit lebih Chloe menunggu Devil Mask tiba,akhirnya usaha dia menunggu Aura itu terbayar sudah. Aura bertopeng kucing itu melangkah santai menghampiri Chloe yang bersandar di salah satu mobil milik pengunjung.
Chloe kelihatan sedang mencemaskan sesuatu. Dan bisa ditebak bahwa sesuatu yang dia cemaskan tak lain adalah pacarnya sendiri.
Devil Mask segera mempercepat langkahnya dan menyapa gadis itu, “Oi,” begitulah sapanya.
Chloe menoleh ke samping, “Lama juga kau,” sahutnya disertai raut malas.
“Sorry, kota ini ramai gedung tinggi. Jadi wajar aku yang bukan manusia ini tersesat,” balas Devil Mask tanpa perlu menghabiskan waktu sekiranya lima detik untuk mencari alasan.
“Hah… Cepat masuk dan bantu Aura. Aku dan dia mau berkencan soalnya,” suruh Chloe gelisah.
“Kencan?”
“Iya. Sudahlah! Masuk sana!” Chloe yang tak sabaran itu terpaksa mendorong punggung Devil Mask agar Aura itu masuk ke dalam mall dan naik ke lantai tiga. Lantai dimana Black Aura sedang berhadapan dengan Edward.
“Huke itu… Sekuat apa sih?” tanya Chloe saat sedang menaiki beberapa anak tangga eskalator bersama Devil Mask. Seluruh pandangannya menghadap ke sepasang sepatunya. Meskipun begitu, Chloe tetap berusaha berhati-hati agar dirinya tidak tersandung atau pun menabrak benda yang ada di depannya.
“Kuat sih, kalau lawannya manusia,” ujar Devil Mask selang beberapa menit kemudian.
“Haa?”
“Iya. Percayalah kalau pacarmu itu bisa membantai apa saja kecuali sesuatu yang kau sukai. Btw, kau mau ikut kelahi nggak nanti?”
Chloe mengernyit, “Memangnya kau ngizinin? Black Aura aja sering melarangku ikut campur dalam pertarungan. Dia bilang, karena aku manusia,” curhat Chloe setelah itu memasang wajah cemberut. Terkadang, sifat Black Aura yang terlalu protektif itu juga menyebalkan baginya. Ditambah lagi kalau Aura itu cemburu melihatnya bersama orang lain.
“Baru tahu kalau Aura seperti kalian bisa cemburu,” lanjutnya tapi agak rendah nada bicaranya.
Devil Mask terkekeh. Entah kenapa, mendengar curahan hati Chloe saja sudah cukup membuat Aura bertopeng itu terhibur. Selama beberapa hari tanpa Jacqueline, Devil Mask merasa kesehariannya hampa. Tidak ada candaan atau omelan yang biasanya ia dengar setiap kali dia melakukan sesuatu yang dianggap aneh oleh gadis berambut ungu panjang itu.
“Haah… Ceritanya nanti lagi ya. Bentar lagi juga kita sampai,” ucap Devil Mask hangat.
~
“Oh, jadi yang bergerak sekarang Huke ya?” Midnight meletakkan teko kaca yang berisikan jus jeruk ketika dirinya berbincang dengan Yumi lewat ponselnya.
Yah, sesuai yang sudah Midnight susun beberapa hari yang lalu, Yumi saat sedang menyamar menjadi salah satu pengunjung di mall. Sekarang, Aura itu sedang fokus berakting pingsan sampai Midnight memerintahkannya untuk bergerak.
Sembari mencari waktu yang tepat, Midnight menyibukkan dirinya dengan membuat kue kering untuk remaja-remaja yang saat ini sedang berlibur. Untuk Ethan, pria itu fokus mencari Elena yang hilang bersama Rara.
__ADS_1
“Yah, begitulah. Bisa dibilang, sekarang yang unggul adalah Aura.Kurasa, nggak perlu kubantu pun, dia bisa membunuh Huke. Tapi, Huke memanfaatkan dua manusia yang sudah mati sebagai senjatanya,” jelas Yumi di seberang sana.
Midnight menghela pelan, kemudian, geleng-geleng kepala sebagai komentarnya terhadap taktik bertarung Huke yang terbilang kejam dan yah, tidak manusiawi. Manusia sudah mati saja dimanfaatkan olehnya. Apalagi yang masih hidup?
Benar-benar seperti Yuuki-lah sifatnya.
“Kalau kalian terdesak, segera hubungi aku. Biar ku habisi mereka semua,” ucap Midnight. Panggilan mereka pun berakhir setelah Yumi berkata ‘baik’ dan mengakhiri komunikasi jarak jauh mereka.
Midnight duduk dengan mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit dapur. Tak sampai tiga menit, iris biru malam itu berpaling ke bingkai foto dirinya yang tersenyum bersama Carmine.
“Udah satu tahun kita pisah. Padahal udah mati tapi kau masih saja melindungiku…” gumam Midnight memandang datar sosok Carmine yang tersenyum ceria menghadap kamera.
~
Di Balik etalase yang berisikan beberapa kue tart mini, Black Aura bersembunyi sambil menghitung jumlah panah, pisau, dan pedang yang akan ia lempar ke arah Huke sebagai serangan kejutan.
Black Aura juga sudah menentukan titik dimana senjatanya akan muncul dan menusuk Huke di waktu bersamaan.
Melawan Huke sendirian itu tidak begitu rumit. Berbeda dengan melawan Dark Fire, dan dua saudara perempuannya—Dark Flower dan Dark Sport yang lumayan agak ceroboh dan bingung dengan peran mereka masing-masing.
Black Aura mendengus pelan. Sungguh, dia sangat merindukan momen-momen dimana dirinya yang masih sangat diam dan dingin, bertarung bersama Chloe dan Ethan.
“Percuma sembunyi. Aku bisa merasakan kekuatanmu, tau,” teriak Huke memancing Black Aura keluar.
Suara tapak sepatu Huke bergema sampai ke lantai paling atas yaitu lantai enam. Sudah luas, tinggi pula mall ini.
Black Aura menoleh sebentar memastikan jaraknya dengan Huke masih. Oh, ternyata memang masih jauh. Karena penasaran dengan rasa kue tart mini di belakangnya, Black Aura perlahan-lahan menggeser pintu etalase tersebut dan mengambil salah satu kue black forest berukuran mini tersebut.
“Enak,” gumamnya sambil mengunyah. Rasa coklatnya benar-benar menenangkan sekaligus menarik Black Aura untuk memakan lebih banyak coklat. Serta rasa buah cherry dan kuenya itu dingin juga lembut. Seperti gelembung saja rasa kue mini tersebut. Membuncah begitu saja di dalam mulut.
“Kira-kira, kue buatan Chloe rasanya seperti apa ya? Entah kenapa aku ingin merasakan masakan buatan Chloe,” pikirnya penuh harap.
Setelah kue Black Forest itu habis, Black Aura segera mengalihkan semua pikiran tak penting tersebut. Titik serangnya sudah ditentukannya dan sekarang, tinggal dia luncurkan saja semua senjatanya ke arah Huke.
Sebenarnya, Black Aura berniat menghabisi Edward dan mamanya. Hanya saja, mengingat Chloe yang merasa sangat kesal melihat kehadiran Edward membuat Black Aura memutuskan untuk mengurung niatnya dan membiarkan Chloe berbincang sebentar dengan saudara tirinya tersebut.
Sebetulnya, Black Aura bingung dengan ungkapan yang diucapkan Edward beberapa menit yang lalu. Mengetahui tubuh Edward yang dikendalikan oleh Huke, membuat Black Aura berpikir kalau semua kata yang terucap oleh Edward hanyalah omong kosong yang Huke buat-buat demi membuat Black Aura bimbang.
Sayang sekali, tak semua orang bisa mendapatkan seluruh belas kasihan dari Black Aura.
__ADS_1
Di dalam suasana yang tenang itu, Black Aura dengan mengeluarkan pedangnya dan menahan katana Huke yang hendak mengarah padanya.
“Disini kau rupanya,” kata Edward.
“Oh, sampai tersesat ya?” balas Black Aura datar.
Akhirnya, pertarungan sengit pun dimulai. Black Aura yang tadinya berada di dalam café, berteleportasi ke toko buku. Dia menjentikkan jarinya dan saat itulah, puluhan pedang, panah, dan pisau itu muncul dan mengarah semuanya pada Edward.
Setelah memastikan Edward terdesak oleh senjatanya, Black Aura menoleh cepat ke samping yang mana wajahnya langsung berpapasan langsung dengan mama Edward.
Dia menungguku, rupanya…
Black Aura mengeluarkan sabit kemudian menebas hantu wanita itu. Sayang sekali, sabitnya hanya akan menembusnya bukan melukainya.
Selain hantu, masih ada Huke yang menyerangnya dari sisi lain. Dengan palu rantai emas miliknya, Huke mengikat kaki kanan Black Aura kemudian menarik Aura itu sekuat tenaga.
“Bodoh! Dia itu hantu tau!” seru Huke bersamaan dengan tawanya yang meledak sejadi-jadinya.
Selang beberapa menit kemudian, bahkan tak sampai semenit lewat, Black Aura langsung menendang kepala Huke dan membiarkan lawannya lagi-lagi menabrak patung manekin dan beberapa pakaian yang digantung lainnya.
Huke meringis kesakitan. Benar yang dikatakan Black Aura, rasa sakit yang dia rasakan itu meningkat hingga sepuluh kali lipat setiap kali dia mendapatkan serangan dari Black Aura.
Ketika Huke hendak berdiri dan akan membalas serangan Black Aura, dia merasakan sakit dan perih di telapak tangannya.
“Goresan dari mana ini?!”
Huke terbelalak bukan main mendapati goresan yang cukup dalam di punggung tangan kanannya.
Ketika diperiksa dari mana asal goresan tersebut, rupanya berasal dari goresan yang berada di salah satu keramik tempat dimana tangan kanannya tergeletak.
“Kemampuan i-ini…! Jangan-jangan…”
“Kaget ya?”
Huke yang masih dalam kondisi terkejut itu mendongakkan kepalanya menghadap ke depan. Disana, berdirilah Black Aura, Chloe, dan Devil Mask.
“Tiga lawan satu itu nggak adil lho!” kata Chloe.
~
__ADS_1