Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 143 {Season 2: Berbeda Dari Rencana}


__ADS_3

Flashback ON.


“Aoi, Jean mana? Kok tiba-tiba hilang?” Chariot melirik sekitarnya, menyadari ada keganjilan di sekitarnya. Berhubung di sampingnya ada dua manusia yang tak sadarkan diri, perhatiannya jadi terbagi dua. Fokusnya juga.


Megawave hanya merespon omongan Chariot dengan anggukan singkat. Aura bertopeng visor itu sebenarnya sulit melepaskan bayang-bayang mendiang pacarnya. Chloe, gadis elf sekaligus dokter paling ramah di Carnater itu kini tak lagi berada di sampingnya. Tidak ada ada tangan lembut yang biasanya menggandeng tangan kanannya.


Megawave merasa tangan kanannya hampa. Meskipun sudah berulang kali menggenggam pedang, canon, dan pistol, Aura itu merasa nyaman jika tangannya tersebut benar-benar disentuh oleh sosok yang sangat dicintainya itu. Megawave kerap kali berdoa meski dia tahu nyatanya Chloe tidak akan pernah kembali. Doanya itulah yang membuatnya tenggelam dalam lamunan. Membuatnya terlihat seperti makhluk tak bernyawa yang dibantu gerak menggunakan benang oleh seseorang.


Kesedihan telah merebut hampir separuh kebahagiaannya. Bahkan di situasi yang tidak memungkinkan seperti ini pun, Megawave masih sempat-sempatnya meneteskan air matanya di balik topeng visor tersebut.


Chariot yang pada awalnya fokus pada rencana untuk menampung tubuh dua remaja yang tak sadarkan diri itu teralih penuh pada Megawave. Pemimpinnya menunduk setelah menyeka air mata yang mengalir di bawah dagunya.


“Meg?” panggil Chariot bingung. “Kau kenapa? Kepikiran Chloe lagi?”


Megawave menggeleng pelan. Tapi, malah mengangguk setelahnya.


“Ha?” Chariot menelengkan kepalanya bingung. Aura itu menunduk sambil mengelus punggung pemimpin kelompoknya yang tengah dilanda birunya kehilangan dalam hatinya. Sosok yang sangat ia cintai sekaligus yang sudah menjadi bagian dari kehidupan dan belahan jiwanya lenyap terbunuh di tangan salah satu anggota yang saat ini tengah beraliansi dengan mereka.


“Nggak papa. Aku baik-baik aja kok. Cuma masalah hati,” ucap Megawave usai menyeka air mata di bawah dagunya. “Chariot, kau mau kan membantuku?”


“Aku sih, mau. Selama itu demi kebaikan orang lain, aku pasti bantu.”


“Baguslah… Nanti kalau ketemu Aura, aku ingin kau baik-baik dengannya. Dia punya pacar yang kebetulan mirip dengan Chloe. Kau pasti kaget begitu tahu Black Aura punya pacar, bukan?”

__ADS_1


Sesuai perkataan Megawave, Chariot membelalak tak percaya. Seakan baru dirinya seorang yang diberitahu Megawave rahasia terbesar itu. Dan lagi, Chariot sangat mengenali karakter Black Aura yang dingin dan tidak mengenal belas kasih. Rasanya, agak mustahil jika Aura seperti dia memiliki seorang pacar.


“Jangan bilang…”


“Bukan, pacarnya belum tentu reinkarnasi. Bisa jadi dia memang penduduk asli bumi yang sejak awal nggak ada kaitannya dengan Chloe kita. Intinya, aku ingin kau membantu Aura meskipun caraku sama saja dengan cara Megavile memperlakukan kita dulu. Tolong jangan membantah dan ikuti saja semua rencanaku!”


~


Flashback off


Chariot menarik Chloe ke belakang dengan tangannya, lalu mencampak begitu saja gadis itu ke udara. Membiarkan Black Aura melompat menyelamatkan gadis itu sementara, serangannya meluncur. Anehnya, tidak ada satupun yang sukses melukai Black Aura.


Menyadari keganjilan di sekitarnya, Black Aura berhenti sejenak begitu dirinya menangkap tubuh Chloe. Aura itu mengedarkan pandangannya seluas mungkin. Menonton ribuan bola, panah, dan tombak itu membakar tanah di bawahnya.


“Tunggu dulu…! Di bawah kan ada Aoi…”


Terlambat serangan Chariot sudah sepenuhnya membakar tanah sekaligus pepohonan yang tumbuh disana. Tubuh Aoi dan Jean yang tak sadarkan diri itu ikut terbakar.


Entah harus bagaimana Chloe dan Black Aura merespon serangan itu. Mereka bingung apakah tindakan Chariot ini ada baiknya atau justru ada maksud tersembunyi yang bisa saja merugikan diri mereka. Seperti mengalihkan perhatian mereka lalu menyerang mereka.


Black Aura mendongakkan kepalanya ke atas. Chariot masih berdiri di udara rupanya. Diam meratapi pemandangan yang hangus terbakar oleh apinya. Tidak ada komentar apapun dari Aura berelemen api itu selain kedua tangan bagian atasnya yang bertindak menghentikan serangan apinya yang kian memanas. Siang sudah terik, ditambah lagi dengan semburan api Chariot. Apa tidak sesak nafas mereka dibuatnya?


“Jangan cemas, aku melakukan ini atas perintah dari Megawave sendiri. Kalau mereka berdua nggak dibasmi, maka rencana kalian membangun kembali Carnater akan gagal bukan?” ujar Chariot.

__ADS_1


Chloe dan Black Aura hanya diam. Mereka tertegun mendapati air mata mengalir di pipi kiri Chariot. Tampaknya, serangan dahsyat itu ternyata membutuhkan perasaan dan juga keberanian yang besar. Terlebih lagi, Chariot mau tak mau harus melenyapkan partner-nya karena rencana yang Megawave buat demi kepentingan dunia mereka.


“Mereka yang pikirannya terkontaminasi oleh dendam, sosok baiknya akan sulit dikembalikan. Mereka seperti boneka yang dikendalikan oleh benang merah. Jika dibandingkan, lebih kuat dendam mereka ketimbang kekuatan mereka. Karena itulah, aku membunuh Aoi dan Jean,” ungkap Chariot sambil mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi kirinya.


“Ta-tapi…”


Saat Chloe hendak menyangkal karena menurutnya tindakan Chariot itu tidak pantas untuk Aoi dan Jean, Black Aura mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan Chloe. Bermaksud agar gadis itu tidak mengganggu rencana yang sudah tidak bisa lagi dibantah oleh kelompok Megawave itu.


“Tapi kan, salah Au…” gumam Chloe sedih. Gadis itu sangat menyayangkan nyawa Aoi dan Jean di bawah sana. Tidak seharus kedua Aura itu berakhir hangus bersama pohon-pohon itu. Sesuai di buku yang pernah ia baca mengenai Aura, makhluk seperti mereka cenderung menggunakan kekerasan. Mereka jarang menggunakan pikiran mereka untuk menyelesaikan masalah. Parahnya lagi sampai harus melenyapkan nyawa teman mereka sendiri demi misi. Di dunia Chloe, hal seperti sulit sekali dimaafkan. Hanya saja, Chloe yang hanya menjadi pendatang di dunia Carnater ini sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Itu sudah terjadi. Dia juga sudah terlanjur membuat Aoi dan Jean tidak sadarkan diri. Akan tetapi, dia melakukan hal itu bukan untuk membunuh melainkan mencari kesempatan untuk kabur.


Perasaan Chloe campur aduk antara marah, menyesal, dan sedih. Pemandangan di bawah yang semula asri itu kini, terlihat sangat menyakitkan. Chloe memejamkan matanya bersamaan dengan tangan Black Aura yang menutupi indra penglihatan pacarnya tersebut.


Black Aura sendiri mengerti dengan apa yang Chloe rasakan. Tidak sepantasnya pemandangan seperti itu diperlihatkan di depan matanya. Gadis seperti pacarnya yang memiliki perasaan serta hati yang lembut itu sudah pasti akan menangis apabila diberi tontonan yang menyakitkan.


“Taka pa, mereka baik-baik aja kok…” bisik Black Aura berusaha menenangkan Chloe yang masih menangis di dekapannya.


“Mereka terbakar. Bukan ini yang kumau…!” sahut Chloe sambil terisak kecil.


Black Aura menghela nafas pelan, “Nah,” lalu memberi gadis itu kentang goreng sebungkus yang entah dari mana ia dapat. Pastinya, dengan kemampuan menukarnya Black Aura jadi bisa mendapatkan sebungkus kentang yang masih hangat tersebut. Semoga saja, dengan makanan ringan itu, Black Aura bisa menenangkan perasaan Chloe.


Chloe mendongakkan kepalanya, melongo ketika disodorkan sebungkus kentang goreng yang ia yakini bukanlah palsu melainkan asli. Aroma kentang yang biasanya menguar-nguar di area penciuman Chloe. Perlahan-lahan, Chloe menggenggam kantong kentang tersebut meski sambil terisak. Tanpa komentar apapun dia melahap satu persatu kentang pemberian pacarnya.


“Udah baikan?”

__ADS_1


“Belum. Tapi enak. Makasih…”


~


__ADS_2