Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 147 {Season 2: Masalah Baru?}


__ADS_3

Semua ini tak akan pernah ada habisnya bagi Alter yang saat ini duduk melamun dengan pandangannya yang mengarah seluruhnya ke luar jendela. Pemandangan sepi, kering, dan tidak ada keramaian yang memenuhi tanah lapang itu membuat Alter lama-kelamaan muak. Hanya duduk di dalam istana sambil menunggu dunianya berubah menjadi lebih hidup sama sekali membosankan baginya. Alter butuh setidaknya satu atau lima jam bergerak seperti bertarung melawan seseorang.


Lady Asoka sekarang sedang tertidur di ruangannya. Ditemani Grimoire, pengawalnya yang setia, Asoka terlelap tanpa ada gangguan apapun baik dari dalam maupun luar istana. Manusia yang kemarin mengganggu mereka sudah tak lagi menampakkan batang hidung mereka. Yah, bisa dibilang, kondisi mereka aman dari bahaya apapun. Hanya hal itu yang bisa mereka syukuri. Apalagi, tidak ada pertumpahan darah di depan istana. Bencana tsunami besar yang pernah melanda Carnater empat belas tahun yang lalu juga tak muncul lagi ke permukaan. Tampaknya, Yui di dalam istananya juga baik-baik saja. Tidak ada rasa cemburu ataupun kekesalan dari diri Yui yang berada di dunia nyata.


Alter memejamkan matanya. Mendadak, dirinya mengkhawatirkan pemimpinnya, Yui. Yui benar-benar tersakiti hatinya dan Alter pribadi bisa merasakan rasa sakit itu. Tidak hanya Alter, Megavile justru lebih paham dengan rasa sakit yang dirasakan Yui dan dirinya di dunia nyata.


Alter masih ingat dengan puluhan rantai yang mengikat Yui. Rantai-rantai itu berwarna kuning dan bercahaya. Silentwave pernah bilang pada mereka kalau rantai-rantai itulah yang menjadi penyebab Yui di dunia nyata merasa tertekan. Lalu, tsunami besar yang melanda Carnater itu adalah bentuk rasa tertekan Yui. Semua itu benar-benar ada hubungannya dengan manusia.


Alter jadi penasaran, bagaimana rupa pemimpinnya di dunia nyata. Sementara di Carnater, Yui cenderung diam dan tertutup. Sebenarnya, pemimpinnya itu sangat menyukai kebebasan. Hanya saja, banyak sekali halangan yang membuat gadis itu kesulitan untuk bersenang-senang. Alter sangat menyayangkan hal itu.


“Alter?”


Alter otomatis menoleh ke belakang begitu telinganya merespon suara seorang perempuan memanggil namanya. Bukan pacarnya yang sudah meninggal itu, melainkan Yui yang baru saja ia bicarakan di benaknya. Yui muncul dengan kacamatanya yang menggandung di batang hidungnya. Gadis itu memiliki kemampuan yaitu memanipulasi benda disekitarnya menjadi cair. Karena itulah, rok yang ia kenakan seperti bergelombang layaknya air di lautan. Jika di sentuh, rok, lengan, dan rambutnya bisa beriak layaknya air.


“Nona? Kenapa nona di sini?” tanya Alter sedikit terkejut. Belakangan ini, Alter dan Ayano sering mengajak Yui untuk keluar istanah. Yah, sekedar mencari angin segar. Daripada diam dan suntuk did ala ruangan, bukankah lebih baik berjalan sebentar meskipun pemandangan yang mereka lihat itu-itu saja?


Yui tersenyum tipis. Lalu berjalan pelan menghampiri bawahannya dan mengelus puncak kepalanya. Terlepas dari sifatnya mudah marah, Yui sesungguhnya adalah Aura yang lembut. Dia sangat menyayangi orang-orang yang mau berada di dekatnya. Termasuk Alter yang terkadang suka sekali memancing amarahnya.


“Aku Cuma mau ketemu Asoka. Kalau memungkinkan, aku ingin ketemua Si Rambut Merah, Afra. Sayangnya, dia nggak disini.”


Yui menghela nafas berat sebelum akhirnya berbalik, seraya melangkah kakinya pelan menuju pintu luar kamar.

__ADS_1


“Nona, baik-baik aja kan?” tanya Alter sekali lagi. Dia sangat mengkhawatirkan pemimpinnya.


Setelah diperhatikan, ternyata jawaban Yui adalah gelengan kepala singkat. Yang berarti bahwa Aura itu tidak baik-baik saja. “Aku sakit, tapi setidaknya, aku masih tertawa. Ngomong-ngomong, dimana yang lainnya? Kau bilang, ada manusia yang datang ke dunia kita. Berapa banyak?”


“Ada enam kalau nggak salah. Ada yang baik, ada yang suka mengganggu juga. Tapi kurasa, semuanya teratasi dengan baik. Memangnya ada apa, Nona? Kau penasaran?”


“Nggak. Oh, ya, kau masih kepikiran tentang pacarmu?”


“Masih. Tapi, aku berusaha untuk melupakannya. Nggak usah khawatirkan aku, Nona. Semuanya akan baik-baik saja. Pada akhirnya…” di akhir kalimat, nada bicaranya turun satu oktaf. Tampaknya, ada sedikit kekecewaan menyelimuti hatinya. Dan Yui sendiri menyadari hal kecil seperti itu. Yui perempuan, jadi wajar saja kalau dia menyadari kekecewaan di hati seseorang.


“Ya, aku juga berpikir begitu. Yang bisa kita lakukan adalah, mendukung Megavile disana. Selama ini, kita salah tentang mereka. Mereka aslinya Aura yang baik. Baik sekali. Kita aja yang merasa seolah mereka itu pengganggu. Oh, ya, kau udah tahu belum kalau Lady Asoka akan mengadakan pesta besar-besaran di depan istana?” tanya Yui mengalihkan topic pembicaraan mereka.


Alter mengernyit keningnya, “Nggak tahu. Kapan dia bilang begitu? Grimoire juga nggak ada ngomong apa-apa.”


Di sela pembicaraan hangat itu, tanpa mereka sadari, sebuah portal terbuka di sudut ruangan tak jauh dari posisi mereka berdiri. Alter yang perhatiannya terfokus pada Yui, sementara Yui sendiri juga terfokus pada topic pembicaraannya sama sekali tidak sadar akan kehadiran seseorang di dalam portal itu.


Sebuah tangan muncul dengan jari telunjuk yang terikat oleh benang merah panjang. Benang merah itu dengan cepat mengincar tengkuk Yui dan Alter lalu mengendalikan pikiran kedua Aura itu sebelum akhirnya menghilang bersamaan dengan portal yang semakin tertutup dan pada akhirnya lenyap.


~


Black Aura menghilangkan pedangnya bersamaan dengan Chariot yang ambruk setelah ia bunuh.

__ADS_1


“Kenapa… Jadi begini?” gumam Black Aura diakhiri dengan helaan nafas berat. Black Aura semakin heran dengan jalan dunia Carnater sekarang. Semua Aura-nya mudah sekali termakan dendam. Mungkin karena situasi yang tidak memungkin serta kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Akan tetapi, pemikiran mereka seakan sudah sulit sekali dikendalikan. Mereka sulit sekali diajak kerja sama. Tidak seperti dulu yang selalu mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya mereka berjabat tangan dan setuju dengan hasil diskusi mereka saat itu.


“Dan benang merah di leher mereka… Dari mana benang merah itu berasal? Yuuki? Atau… Huke? Sebenarnya mereka kemana? Kenapa Cuma Aurora aja yang kesini? Kenapa Cuma Aurora aja yang mati disini?” Black Aura semakin tak habis pikir dengan pertanyaan yang bermunculan di kepalanya. Semua itu membingungkannya. Belum lagi dengan Chariot yang tiba-tiba ingin mati. Aura itu tiba-tiba meminta sambil memaksa Black Aura untuk membunuhnya. Black Aura semakin tidak mengerti dengan situasi ini. Kenapa pemikiran bunuh diri itu bermunculan?


“Apa Afra di luar sana putus asa karena… Ini sama sekali nggak ada hubungannya denganku.”


Setelah Chariot menghilang dan menyatu dengan langit, Black Aura tanpa pikir panjang pergi meninggalkan daerah tersebut. Yang terlintas di pikirannya saat ini hanyalah Chloe. Ya, gadis itu saja. Lalu kedua sahabatnya yang masih tak sadarkan diri di bawah sana, lalu Midnight yang bersama dua youtuber itu, dan dirinya. Anehnya, Black Aura juga belum menerima kabar apapun dari Captain. Terakhir kali, Captain bilang kalau dirinya sedang mencari manusia yang bernama Ethan. Semalam sekitar pukul sebelas malam.


“Tunggu dulu… Chloe mana?”


Saat Black Aura melirik ke tempat dimana seharusnya Chloe duduk disana, yang ada hanya beberapa jejak sepatu Chloe yang berjalan mengarah ke kanan. Kelihatannya, gadis itu berjalan ke luar hutan.


Black Aura tersentak kaget begitu mengingat kalau Chloe sendirian. Gadis itu tidak memiliki informasi apapun mengenai hutan di Carnater ini. Memang, tidak ada hantu ataupun monster yang menghuni hutan tersebut akan tetapi, bahaya itu bisa datang kapan saja.


Sulit bagi Black Aura membayangkan Chloe berhadapan dengan Aura-aura dari kelompok tertentu bertarung dengan Chloe yang hanya sebatas manusia biasa dengan kemampuan bertarungnya yang terbilang masih amatiran.


“Gawat! Lagi-lagi, dia nggak mendengarkanku!” Black Aura menepuk jidatnya sekeras-kerasnya. Inilah salah satu sifat yang paling tidak ia sukai dari Chloe.


Pacarnya selalu saja bergerak di luar pengawasannya. Tiba-tiba menghilang di depan mata hanya karena mengkhawatirkan orang lain. Sebenarnya, Black Aura tidak begitu mempermasalahkan apabila Chloe mengkhawatirkan seseorang. Akan tetapi, posisi gadis itu sekarang bukan lagi di dunianya. Kalau di dunianya, apabila gadis itu tersesat di keramaian entah dimana itu tempatnya, dia bisa bertanya pada para pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitarnya. Kalaupun bisa, dia bisa saja menanyakan atau meminta bantuan polisi mengantarnya ke suatu tempat dengan aman.


“Huft! Chloe… Chloe!”

__ADS_1


Karena tak ada waktu untuk berdiam diri, Black Aura tanpa pikir panjang, mengaktifkan kemampuan mata periksanya dan mencari Chloe.


__ADS_2