
“Cara ini sangat sederhana untuk mencyduk kekasihku yang berusaha berbohong padaku. Yah, kalaupun kau memang mau putus, seenggaknya aku ingin melihat bagaimana caramu membuatku sampai membencimu.”
Minji mengeluarkan ponselnya kemudian, menyalakannya. Gadis itu dengan sigap mencari nomor Yohan dan menghubunginya.
Sementara itu, Yuuki hanya menyeringai kecil melihat tindakan Minji yang terlalu cepat merasa puas. Belum melihat hasilnya saja senyuman yang ia sunggingkan itu sudah terlihat berlebihan. Bagaimana jika realita memutar balikkan ekspentasinya. Otomatis membentuk lengkungan ke bawah senyuman itu.
“Coba saja. Kalau dugaanmu benar, silahkan hajar aku yang kau kira adalah kekasihmu. Toh, aku juga nggak keberatan dihajar oleh siapapun.” Tutur Yuuki santai. “Sebaliknya! Kalau dugaanmu salah… Kau akan kuberi dua pilihan. Bersiap-siaplah!”
“Cih! Mau nantangin aku ya! Jangan sombong dulu! Akan kubuktikan kalau keberuntungan berpihak padaku nantinya. Lihat saja!” Minji membalas dengan percaya diri.
Yuuki terkekeh menanggapi sikap arogan gadis itu. Kini, dia memilih untuk diam dan menunggu ponselnya berdering.
Selang beberapa menit kemudian, gadis itu menyadari ada suatu keanehan diantara dirinya, Yuuki, dan ponsel yang digenggamnya itu. Sedari tadi, dia tidak mendengar respon dari ponsel Yuuki. Apa mungkin, nada dering berbaur dengan suara keramaian? Atau jangan-jangan, Yuuki mengaktifkan mode senya agar ponselnya tidak ketahuan sedang berdering mendapatkan panggilan dari Minji.
Minji berdecak seraya, melangkah kea rah Yuuki dengan terburu-buru.
“Berikan ponselmu!” pinta Minji kasar dan Yuuki dengan entengnya memberikan ponsel hitamnya masih dengan raut santai.
Kini, seluruh pandangan Minji tertuju lurus pada layar ponsel Yuuki. Memang isi ponselnya tersebut tidak banyak dan berbeda dari Yohan. Namun, ia tetap bersikeras menganggap bahwa Yohan memiliki ponsel simpanan khusus wanitanya yang lain. Ada-ada saja kau, Minji.
Tak lama kemudian, orang yang Minji telpon itu mengangkat panggilannya. Di seberang sana, terdengar jelas suara kekasihnya yang langsung membuat Minji tersentak kaget.
“Halo! Ada apa, Minji? Sorry ya, baru angkat sekarang. Tadi aku abis diintrogasi polisi. Btw, kamu lagi dimana, sayang?” suara Yohan yang terdengar halus dan perhatian itu membuat jantung Minji berdetak tak stabil.
Tangan yang menggenggam ponselnya bergetar menahan panik. Gadis itu membeku di tempat. Mengingat dirinya yang sebelumnya main menumpahkan amarahnya pada Yuuki yang memang sudah jelas bukan siapa-siapanya. Menyadari hal tersebut, amarahnya meleleh menjadi malu. Wajah yang memerah padam tadi kini menjadi merona.
Tangan kanan Minji terkulai lemas seketika. Dia merutuki dirinya yang secara tidak sadar telah mempermalukan dirinya sendiri dan juga membuat orang merasa tidak nyaman. Entah apa pandangan Yuuki terhadapnya setelah berkali-kali dibentak dan disangka pacarnya itu. Tentu saja, Yuuki pasti mengklaim gadis ini tidak waras.
“So…?” Yuuki bersuara akhirnya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Minji yang tertunduk ketakutan.
Yuuki berjalan pelan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Dengan senyuman licik, dia berkata, “Jadi… Apa yang akan kau lakukan, sekarang? Menangis? Meminta maaf? Cih! Jangan bercanda!”
Minji tidak merespon. Di dalam hatinya dia berharap, Yohan datang menyelamatkannya dari amukan pria yang sebenarnya bukanlah pacarnya ini.
“Hei… Kenapa diam saja? Eh? Kau menangis?” Yuuki sedikit terkejut menemukan kedua mata Minji yang sepertinya tak sanggup membendung air matanya.
“Cengengnya… Jadi, kau yang sudah menbentakku ini harus diapakan ya? Ah! Sebelum itu, kuhukum kau, aku ingin kau mendengar ceritaku sedikit saja. Nggak lama kok.” Pelan-pelan, Yuuki mendekati gadis itu dan menarik lengan kananya yang terkulai lemas. Kemudian, membawanya ke kursi taman tempat dirinya duduk tadi.
Sekarang, mereka berdua duduk di kursi yang sama dengan Minji yang merasa tegang di sampingnya.
“Kita mulai dari mana, yah? Oh, ya! Namaku Yuuki. Aku orang Jepang dan lahir di Tokyo, Sebenarnya aku punya darah Inggris karena ibuku asli orang Inggris. Pekerjaanku… Adalah pekerja kantoran Cuma aku sedang mengambil cuti. Ah, aku juga sedang jatuh cinta dengan
seorang wanita. Usianya nggak jauh amat kok dariku. Namanya Midnight. Aku sangat mencintainya. Dia wanita yang manis dan ramah. Tapi, sampai saat ini, aku masih saja tidak bisa meraih hatinya yang sedingin malam.
“Dia selalu menatap dingin ke arahku. Aku jadi heran, apa kami pernah bertemu sebelumnya? Tapi dimana? Terus suatu hari, aku ingin menyatakan perasaan cintaku padanya. Sayangnya, dia menolakku dengan senyuman paling tulus yang pernah kulihat. Bahkan lebih tulus dari ibuku. Dia bilang, “hatinya sudah dimiliki oleh pria lain”. Mendengar itu, aku kecewa dan sedih.
“Untuk menyembuhkan rasa sedihku, aku mengikuti gadis itu ke manapun dia pergi. Bahkan sampai ke rumahnya sekalipun. Benar yang dia katakan. Ada pria lain yang menyambutnya pulang. Aku bisa melihat dengan jelas, senyuman yang dipancarkan Midnight benar-benar indah layaknya bulan purnama di malam hari.
“Kau tahu? Meskipun dia sudah menolakku, perasaanku terhadapnya tidak akan pernah goyah. Sampai saat ini. Perasaan yang kuat. Perasaan itu memiliki arti, “aku pasti akan melakukan apapun dan membuktikan padanya bahwa, aku sangat mencintainya”. Tapi anehnya, lama-lama cintaku ini tumbuh menjadi hal yang mengerikan. Suatu malam, aku menemukan tanganku ternodai cairan berwarna langit malam. Cairan itu indah namun menyakitkan di sisi lain. Menurutmu, kenapa tanganku ternodai cairan berwarna biru malam? Coba jawab!”
__ADS_1
Setelah bercerita panjang lebar, Yuuki pun memberikan pertanyaan sekaligus mengetes Minji. Apakah gadis itu mendengarkan ceritanya atau tidak?
Minji terkejut saat disuruh menjawab pertanyaannya. Dia menelan ludah ketakutan kemudian, menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu.
“Ka-karena… Kau menyusup rumahnya dan tak sengaja menumpahkan salah satu cat lukis Midnight?” Jawabnya ragu-ragu.
“Kau salah. Jawabannya adalah…” Yuuki menggantungkan omongannya sambil merogoh saku celananya dalam-dalam.
Betapa terkejutnya Minji mendapati pistol yang keluar dari saku celananya dan kini diperlihatkan Yuuki dengan jelas.
Yuuki menyeringai. “Duanpilihan! Karena jawabanmu salah, aku akan memberimu dua pilihan. Pilihan yang pertama, menjadi anak buahku atau mati?”
Selain pilihan, Yuuki juga memberikan ancaman pada Minji berupa pistol yang ia tempelkan ke pipi Minji yang ingin menangis.
“Kuberi waktu lima detik dari sekarang. Lima… Empat… Tiga…”
Pikiran Minji semakin kacau seiring angka tersebut menuju angka dua dan tak lama lagi menuju angka satu.
“Dua… Sa…”
Entah dari mana asalnya, sebuah omelan dari seseorang muncul begitu saja dan menyela dirinya yang hendak menyelesaikan omongannya. Sama seperti yang dilakukan Minji sebelumnya.
“Ya! Minji! Apa-apaan kau ini?! Baru ditinggal sebentar sudah menemukan pria lain!” omel Yohan setelah berkeliling kesana-kemari dan malah menemukan pacarnya sedang duduk bersama pria lain.
“Astaga…” Yuuki terdiam kesal. Kemudian, dia
Yuuki menghela nafas singkat Pistol yang tadi menempel di pipi Minji, kini di arahkannya pada Yohan yang tak lama lagi akan mendekati mereka.
Minji membelalak. “Ya! A-apa yang…!”
DOOR!
Oke, terlambat. Peluru tersebut sudah lebih dulu melukai pundak Yohan. Minji yang tadinya hendak menyingkirkan pistol yang mengarah pada pacarnya tersebut, otomatis membeku. Yah, mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Itu adalah ungkapan yang cocok untuk Yuuki yang sudah lebih dulu menarik pelatuk pistol miliknya.
“Yo-“ suara Minjibtertahan sampai di ujung lidah. Di bola mata Minji yang gelap itu, terlihat jelas pantulan sosok Yohan yang terjatuh dengan darah membasahi pundak kanannya akibat tembakan Yuuki barusan.
Kini, tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkannya. Kalaupun ada, orang tersebut hanya akan bernasib sama seperti pacarnya barusan.
Minji tertunduk lesu sambil terisak. Suara tembakan tadi terdengar keras dan menyakitkan. Tapi anehnya… Tidak ada seorangpun yang menyadari suara tersebut. Bagaimana bisa?
Karena terlalu lama terpaku pada Yohan yang tergelatak di tanah, Yuuki akhirnya menyadarkan gadis itu dari lamunannya dengan mengetuk sandaran kursi taman tersebut dengan pistol.
“Pilih yang mana?” tanya Yuuki seakan mengingatkan Minji pada pertanyaan yang hampir saja dilupakannya.
“Waktumu sudah habis loh! Jangan membuatku menarik pelatuknya lagi. Kau tahu? Kau tanpa sadar telah melenyapkan seseorang, loh. Kalau kau ingin orang-orang di sekitarmu aman dariku, kau harus memilih. Gampang kok, Cuma dua pilihan saja. Tinggal cap cip cup, selesai!”
“A-aku… Aku melenyapkan Yohan?”
Yuuki mengangguk enteng. “Yep! Jelas sekali, bukan Keberuntungan berpihak padaku sekarang. Nah, ayo dipilih! Kalau nggak, semua orang disini akan mati loh!”
__ADS_1
Minji berdecak sebal. Selain itu juga, dia merasa terdesak dan menyesal atas kecerobohannya tadi. Dengan terpaksa, Minji pun memilih.
“Pilihan yang pertama…” Ucapnya. Suaranya lama-lama terdengar bergetar seperti tak kuasa menahan tangis. Yah, begitulah. Gadis ini menangisi dirinya yang telah berbuat kesalahan. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Cup! Cup! Jangan menangis. Duduklah di sini dan aku akan membawa pacarmu ke rumah sakit. Pacarmu itu orang yang kuat, kok. Jangan khawatir.” Hibur Yuuki setelah itu beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Minji seorang diri.
~
Di belakang layar suasana kota yang kian membaik dimana mobil polisi dan pemadam kebakaran kembali ke markas mereka. Orang-orang yang berpencar mencari tempat yang mereka inginkan dan kesibukan yang mengambil alih kembali pikiran warga.
Terlihat sosok Yuuki yang berjalan menaiki beberapa anak tangga menuju atap gedung hotel tempat dimana dirinya mengadakan pertemuan rahasia dengan seseorang. Sambil mengisap rokoknya, pintu besi yang akan menghubungkannya pada atap gedung itu semakin mendekat.
Setelah tiba di pintu yang membatasi dirinya, Yuuki membuang rokoknya sembarangan. Dia menarik nafasnya pelan kemudian, membuangnya.
Pelan-pelan, Yuuki mendorong pintu yang agak berat tersebut. Begitu terbuka, dirinya langsung diserbu oleh tiupan angin yang lembut dan sosok remaja tengah bersandar dengan kedua matanya yang terpejam. Darah yang membekas di kemejanya itu masih belum hilang. Tapi, dia terlihat baik-baik saja.
"Aku suka aktingmu tadi. Hebatnya lagi, kau sampai hafal cara bicara Yohan saat marah.” pujinya menghampiri remaja yang bersandar itu.
Mata yang tadinya tertutup erat, kini terbuka dan memperlihatkan iris oranye yang menyala.
“Terima kasih. Untung saja, kau tidak salah mengarahkannya.” Balas remaja itu.
“Haha… Aku nggak punya niat apapun untuk membunuhmu. Kau Aura kesayanganku. Hmm… Udah nggak sakit lagi, kan?”
“Nggak kok. Aku langsung pergi begitu pandangan Minji teralihkan ke tempat lain. Ngomong-ngomong, boleh kulepas topengnya? Panas banget!”
“Boleh-boleh!”
Setelah mendapatkan izin dari Yuuki, remaja itu menarik kulitnya dan memperlihatkan wajah aslinya. Kalau boleh tahu, dia adalah Aura yang menyamar sebagai Yohan yang tertembak oleh Yuuki sebelumnya. Aura yang sebelumnya pernah berhadapan langsung dengan Black Aura dan Chloe. Memiliki kemampuan mengendalikan api dan yang terpenting lagi, dia adalah pemimpin dari Legend Aura.
“Oh, ya... Ini ponselmu. Tadi nyaris saja rusak ketimpaku.” Ucap Dark Fire setelah membocorkan penampilan aslinya pada Yuuki. Aura itu juga memberikan ponsel Yuuki pada pemiliknya.
Yuuki tersenyum hangat. “Hahaha... Kupikir, kau nggak ngerti cara mengangkat panggilan seseorang." Dia terkekeh sebelum pada akhirnya, merasa puas.
Yuuki menutup mulutnya beserta matanya. Setelah itu membuka kedua matanya kembali sambil mengucapkan kalimat," Okaeri, Dark Fire.”
Dark Fire tertegun. Dia menghela nafas lega usai mendengar kalimat yang menghangatkan itu.
“Thanks… Lalu setelah ini, apa yang akan kau lakukan, Yuuki?” tanya Dark Fire antusias.
“Tentu saja! Aku akan mencari Midnight dengan bantuan Yohan, memanfaatkan Minji, setelah itu...”Yuuki menjeda omongannya sambil mengacak-acak rambutnya menjadi messy hair.
“Mencari keberadaan Chloe dan yang lainnya!” Yohan membuka kedua matanya dan melanjutkan omongan Yuuki sebelumnya.
"Oh, ya... Kau pasti merindukan Black Aura, bukan? Bagaimana kalau kau ikut denganku nanti?" tawar Yohan.
"Dengan senang hati!" Balas Dark Fire senang.
~
__ADS_1