
Ah, hari yang menyebalkan. Rasanya percuma jika sudah menyusun seribu rencana manis untuk berkencan tapi terpaksa hancur karena satu orang.
Baik Chloe maupun Black Aura, keduanya sibuk dengan pikiran dan kekhawatiran masing-masing. Harap-harap, hari ini akan berakhir manis seperti malam waktu mereka berada di kapal persiar itu.
Melawan Huke ya? Aura yang sempat tidak diketahui keberadaannya itu baru memperlihatkan wujudnya yang elegan. Wajahnya memang cantik, mirip sekali dengan perempuan. Pria manapun yang melihat Huke sudah pasti akan tertipu dan menganggap Huke adalah perempuan dengan gaya berpakaian mirip seperti laki-laki.
Black Aura membuka matanya perlahan sambil menahan rasa sakit di kepala bagian kanannya. Lagi-lagi, serangan kejutan. Meskipun dirinya sudah terbiasa mendapatkan berbagai macam serangan dari musuh-musuhnya.
“Kau akan terbiasa kok… Karena sejak awal, kau adalah prioritas utamaku. Kau itu kuat. Lebih kuat dari yang lainnya. Karena itulah, aku memilihmu untuk membalaskan semua dendamku.”
Kata-kata yang Carmine ucapkan waktu itu sampai sekarang ini masih terngiang dengan jelas di benak Black Aura. Suara gadis itu santai. Seolah tidak memiliki perasaan apapun dibalik kata-katanya. Perempuan itu tidak sedih, marah, ataupun senang.
Tes…
Manik violet Black Aura melirik kearah cipratan kecil darah yang membasahi lantai mall. Kalau tidak salah ingat, ada seseorang yang menghantamkan sesuatu yang keras tepat di kepala bagian kanannya. Sakit dan nyerinya masih terasa. Sampai-sampai Black Aura kesulitan untuk menggerakan tubuhnya. Boro-boro kaki, jari telunjuknya saja tidak bisa dia gerakkan.
“Sakit…” gumamnya. Setelah darah, Black Aura mengalihkan perhatiannya ke langit-langit mall yang mana hanya ada lampu yang menyala serta suhu dingin dari pendingin ruangan dalam mall yang masih berfungsi dengan baik. Para pengunjung kelihatannya baik-baik saja. Syukurlah.
“Oh, iya… Chloe masih di luar ya…” Black Aura kali ini memaksa dirinya untuk bangun. Walau sedikit sempoyongan akibat benturan keras sebelumnya, Black Aura tetap mengusahakan dirinya untuk terbiasa dengan rasa sakit itu.
Dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih, Black Aura berjalan pelan mencari Edward yang keberadaannya mendadak menghilang di hadapannya. Merepotkan saja pria itu. Tapi, ada kemungkinan besar Edward berpindah posisi menjadi di luar mall untuk mengincar Chloe.
“Badannya aja gede, tapi pikiran kayak nggak ada bedanya sama bocah lima tahun,” cibir Black Aura.
Karena situasi dalam mall itu terasa aman bagi Black Aura, Aura itupun mengaktifkan kemampuan mata pelacaknya untuk mencari keberadaan Edward dan Chloe. Ketika sibuk memeriksa dua remaja itu, ada sesuatu yang mengusik perasaan Black Aura.
Seperti dirinya merasa di lantai tiga ini masih ada orang lain yang diam-diam mengawasinya di tempat yang tidak ia ketahui. Tapi, ini aneh sekali karena Black Aura merasakan keberadaan serta nafas orang itu sangat dekat di sekitaran lehernya.
Mendadak perasaannya menjadi tidak keruan. Disusul dengan wajahnya yang memucat dengan cepat. Apa-apaan reaksi ini?
Karena penasaran, Black Aura pun mengarahkan seluruh pandangannya ke belakang.
__ADS_1
“Nggak ada.”
Lalu ke atas.
“Eh?” Dia membeku.
Manik violetnya jelas sekali memantulkan bayangan sosok seorang wanita dengan posisi terbalik, menyeringai di depan mata kepalanya.
Tes…
Black Aura sama sekali tak berkutik dari tepat ia berdiri. Dia hanya diam mendongak memandang wajah yang menyeringai itu.
Tak hanya ekspresinya yang menyeramkan, Black Aura bisa mencium bau anyir darah yang mengalir dalam diam dari kepala wanita itu dan jatuh di pipi Black Aura.
Darahnya asli. Anehnya, wujud wanita itu entah kenapa terlihat sedikit transparan. Seperti opacity-nya diturunkan dari 100 menjadi 50.
Jika diperhatikan baik-baik, penampilan wanita ini mirip dengan manusia biasa. Hanya saja, darah serta luka yang hampir mewarnai tubuh serta wajahnya itu membuat wanita itu terlihat menyeramkan untuk disebut sebagai manusia.
“Ini kali pertamanya kau melihat hantu ya, Aura?”
Sontak, Black Aura langsung menoleh ke sumber dimana suara itu muncul dan rupanya Huke. Aura itu menyeringai di samping pilar sambil memapah tubuh Edward yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Black Aura mengernyit tak mengerti. Apa maksud semua ini? Kenapa ada wanita penuh luka di depannya? Lalu, kenapa Edward bisa tak sadarkan diri dan kenapa ada Huke?
Black Aura menarik nafasnya kemudian membuangnya. Pelan-pelan berusaha menjernihkan pikirannya dan membiarkan dirinya tenang untuk beberapa saat.
Untuk sementara, Black Aura beralih kepribadian menjadi dirinya yang dulu. Yang mana tidak gampang terkejut dan ketakutan. Selalu tenang di situasi apapun dan sudah pasti datar.
“Apa maksudnya ini?” tanyanya dingin.
Huke yang Black Aura kira pendiam, ternyata bisa menyeringai lebar. Sebenarnya habis kesambet apa nih, Aura sampai-sampai tulang pipinya bisa se-fleksibel itu membiarkan senyumannya terukir sangat lebar.
__ADS_1
Agak mengerikan aslinya, karena Black Aura tidak terbiasa dengan raut Huke yang seperti itu ditambah dengan keberadaan wanita misterius yang sampai saat ini masing melayang dengan posisi terbalik.
Sumpah, Black Aura tidak mengerti apa maksud dari keberadaan gadis ini.
Setelah ketenangan tu menyembuhkan dirinya dari kegelisahan, Black Aura tanpa pikir panjang mengeluarkan sabitnya lalu menebas wanita misterius itu.
Nampak jelas bekas tebasan Black Aura menggores wanita itu. Akan tetapi, tebasan yang sempat dia kira mampu melukai wanita itu ternyata menembus tubuhnya.
Black Aura terkejut bukan main sebelum akhirnya seluruh fokusnya yang tertuju lurus pada wanita itu berubah menjadi tak terarah.
Dengan meminjam tubuh Edward yang sedang tak sadarkan diri itu, Huke menghajar Black Aura dengan melayangkan tendangannya di kepala lagi-lagi bagian kanan Black Aura.
Sudah pasti yang Black Aura rasakan adalah rasa sakit dan juga pusing karena benturan keras yang menghantam kepalanya.
Black Aura membuka matanya dan mendapati dirinya terduduk lemas di antara dua pot bunga besar yang sedikit bergeser posisinya karena kehadiran tak terduga dari Black Aura,
Syukurlah bunga palsu itu masih dalam kondisi baik-baik saja. Tidak ada satupun kelopaknya yang berjatuhan.
“Astaga… Untung yang kulawan bukan Chloe,” gumamnya beranjak berdiri. Kemudian mengeluarkan pedangnya dan mulai menebas udara.
Dari tebasan itu, muncullah pulahan panah merah yang mengarah langsung ke arah Huke. Sayang sekali, puluhan panah itu dengan cepat ditangkis Wanita hantu misterius itu.
“Oh, ya! Aku lupa memperkenalkan wanita ini padamu. Bagiku, mereka ini istimewa karena… Gimana yah?” Huke berpikir sejenak seperti berusaha mencari alasan kenapa Edward dan wanita itu ia anggap istimewa.
“Oh, aku ingat sekarang.”
Sembari menunggu Huke menyelesaikan omong kosongnya, Black Aura diam-diam melukai tangan kanannya dengan pedang dan hendak ia pindahkan luka tersebut pada Huke dengan tingkat rasa sakit di atas sepuluh.
“Karena mereka, sebelum mati udah nyerahin semua keinginan mereka padaku,” katanya diakhiri dengan senyum seringai.
~
__ADS_1