
Jacqueline masih memejamkan erat kedua matanya. Hingga sebuah suara muncul dan
mengintruksinya untuk membuka kedua indranya tersebut.
“Oi, buka matamu!"
Usai mendengar suara itu, kedua matanya spontan terbuka. “Devil Mask…?” Jacqueline
menoleh pelan ke belakang dan benar saja! Nyawanya yang menjadi taruhannya kini diselamatkan oleh genggaman erat Devil Mask yang menahan katana itu agar tidak menusuk
Jacqueline.
Darah tadi rupanya milik Devil Mask. Cairan itu mengalir di sela-sela jari Aura itu. Warnanya merah namun berglitter.
“Devil Mask! Tanganmu…?”
“Tenang... Tenang... Lukanya tak akan separah dia tentunya!!” serunya enteng yang diikuti dengan cakarannya yang memotong tangan kanan makhluk yang hendak menusuk Jacqueline tadi.
Tebasannya cukup kuat sehingga membuat darah pemiliknya melayang di udara dan ada
sebagian yang mewarnai topeng Devil Mask.
“Sebentar! Kenapa darahnya ada dua warna? Merah dan biru?” Devil Mask melirik curiga
pada Jacqueline. “Kau menebasnya?”
“Eh? Iya. Salah ya?”
Devil Mask terkejut kemudian menepuk kening topengnya. “Dia itu ibu Gunez. Sudah berapa
kali kubilang? Kalau Aura hinggap di tubuh manusia dan dihajar manusia, maka, keduanya
akan sama-sama terluka. Kau tau? Cakaranku itu bukan mainan.” Jelas Devil Mask lelah.
“Kau ceroboh sekali.”
“Maaf. Tapi, bukannya damage-nya lebih parah kalau aku yang hajar? Sekuat apapun Aura
kalau dihajar manusia mereka akan melemah.” komen Jacqueline.
“Kau barusan mengatakannya, kan? Karena damage-nya kuat itulah manusia dan Au…”
Sebelum Devil Mask menyelesaikan kalimatnya, sebuah ekor kalajengking muncul kemudian
menghantam keras remaja bertopeng itu dan membiarkannya menabrak dinding sekolah.
Beberapa pecahan dan puing-puing kaca melayang di udara bersamaan dengan darah merah berglitter miliknya.
"Cih!" Devil Mask berdecak sebal menahan sakit.
Kekuatan serangannya terlalu kuat, sampai-sampai remaja itu terlempar hingga menabrak tiang bendera dan membuat tiangnya bengkok. Devil Mask pun berakhir di atas rerumputan hijau berbalut salju tepat di depan tiang.
Jacqueline terbelalak dalam diam. Dia juga panik. Kaki kanannya maju tanpa sadar, lalu membawa tubuhnya ke tempat dinding itu hancur. “Devil Mask! Kau nggak papa?!” ia berteriak tanpa memperdulikan angin yang menghempas rambutnya.
Tidak ada jawaban dari Devil Mask. Gadis itu mulai khawatir. Ia menaikkan kakinya hendak melompat dari lantai dua.
"Tunggu ya... Aku kesana!!" teriaknya dan hap! Dia melompat dengan entengnya.
Untung saja, pandangan Devil Mask terarah pada Jacqueline secara otomatis. Ia
terbelalak kaget mendapati Jacqueline yang melayang di udara.
"Astaga! Jacqueline!” Devil Mask pun mengambil langkah cepat dengan berlari mengejar Jacqueline. Langkahnya sampai tak terkendali sampai salah satu batu berhasil menyandung ujung sepatunya. Wajahnya menghantam persis di depan tanah.
Sedangkan disana, Jacqueline bergumam “Waaaaa…”
Ia menunduk sekaligus memandang sepasang kakinya yang tak lama lagi menyentuh tanah. Angin dari bawah semakin cepat dan terasa kuat.
“Ketangkap!” seru Devil Mask yang sukses menangkap tubuh Jacqueline yang lumayan
berat menurutnya.
“Devil Mask!” Jacqueline menjerit senang kemudian turun.
“Kau gila, ha? Mau bunuh diri?!”
“Nggak… Aku sengaja mancing, agar kau nggak melulu rebahan disana.”
“Dasar…” Akhirnya, Devil Mask menyerah akan perkataan Jacqueline.
Untuk saat ini, tidak ada kaca yang menghalangi penglihatan mereka. Tubuh mereka berpapasan langsung dengan suhu
dingin dari musim di Bulan Desember.
__ADS_1
Karena posisi mereka di luar, Ibu Gunez pada
akhirnya mau turun keluar dan ikut merasakan dingin tersebut. Seperti wanita yang hidup tanpa beban dan senang menindas, Ibu Gunez
memperlihatkan seringainya. Tubuhnya diwarnai aura gelap.
Devil Mask menghela nafas. Ia tahu benar identitas Aura yang bersembunyi dibalik layar
itu. Yah, sebenarnya ia lelah memikirkan alasan Legend Aura merasuki manusia hanya demi membunuh para Megavile. Terus terang, ia tidak tahu bagaimana bisa semua ini terjadi dan apa yang membuatnya berkeinginan untuk mencari tahu?
“Oi! Dark Shadow!” panggil Devil Mask datar. Kalau dipikir-pikir juga, apa mereka tahu
alasan kenapa mereka melakukan semua ini?
“Oh! Kau ingat namaku? Baguslah… Aku merasa dianggap jadinya.” Ujar sosok yang bersembunyi di dalam Ibu Gunez. Dia adalah Dark Shadow.
Di saat kedua Aura itu saling bertatapan, Jacqueline melirik Devil Mask sejenak.
Meskipun wajahnya tertutupi oleh topeng, ia bisa menebak dengan jelas raut serius
dibaliknya.
“Dia bilang ‘Dark Shadow’? Itu artinya, dia salah satu saudara Dark Fire, dong?” celetuk Jacqueline.
“Yap. Dia juga termasuk musuhku.” Balas Devil Mask.
Jacqueline tercengang kemudian menyengir lebar. Hal yang paling ia sukai dari Devil
Mask ketika dirinya secara kebetulan menemukan mata yang tersenyum di balik
topengnya.
Dia orang yang suka tersenyum juga…
Teringat akan perkataan Devil Mask sebelumnya, Jacqueline lalu menghela nafas
pendek. “Dasar kau ini! Senang sekali memiliki musuh.” Cibirnya.
Devil Mask terkekeh. Yap, dia berbeda jauh dari Black Aura. Kini, ia setidaknya memiliki
emosi dan bisa tertawa. “Justru karena itulah yang membuatku ingin terus menang.”
Tuturnya yang langsung mendapatkan raut terkejut Jacqueline. “Kau ada benarnya juga.
“Begitu ya? Ah, terserah kau saja! Tapi, kita nggak punya waktu banyak, tentunya!”
“Yap!” Tanpa basa-basi, Devil Mask langsung berlari menghampiri Dark Shadow yang
sudah dari tadi menyiapkan beberapa tangan gelap di belakangnya.
Tapak sepatu hitamnya menapak salah satu batu raksasa dan menghasilkan lompatan
yang lumayan tinggi. Selama melayang itulah, Devil Mask melayangkan cakaran
panjangnya.
Jarak antara Devil Mask dan Dark Shadow kira-kira sepuluh meter, sehingga menyebabkan serangan Devil Mask berhasil melukai langsung Dark Shadow yang dibawah.
Tidak mau kalah, Dark Shadow memanfaatkan bayangan tiang bendera yang memajang
tepat di bawah Devil Mask. Ia pun mengeluarkan pedangnya lalu memotong bayangan tiang tersebut. Tidak disangka, bayangan tiang itu terpotong dan berefek pada tiang di atas. Akhirnya, benda itu tumbang.
“Devil Mask! Di atas!” teriak Jacqueline yang langsung menyadarinya. Devil Mask melirik ke atas lalu berteleportasi tepat di belakang Dark Shadow. “Kena kau!” katanya yang disusul dengan tendangan maut di bagian pinggang.
Dark Shadow terpental sangat jauh sampai menabrak gudang sekolah. Suara benturan
yang keras itu entah terdengar atau tidak sampai ke wilayah kota yang ramai. Tapi,
yah… Semoga saja tidak ada yang menyadarinya.
“Ah, jadi nggak tega melawan emak-emak.” Ujar Devil Mask sambil menggaruk kepala belakangnya.
Jacqueline berjalan pelan menghampiri Devil Mask. “Aku akan menjaga Gunez.” Katanya.
“Lakukan saja! Jangan sampai anak itu melihatku menghajar ibunya. Ah! Ada apa
denganku? Kenapa aku jadi merasa bersalah begini?” tanya Devil Mask. Ia mendadak
frustasi dengan perubahan sifatnya. Di sisi lain juga, ia tidak ingin menyalahkan Jacqueline dan lingkungan gadis itu yang sangat berisik namun berkesan stabil.
"Maaf..." Ucap Jacqueline spontan. "Mungkin gara-gara aku yang dulu..."
"Jangan salahkan dirimu. Ya, sudahlah... Mau bagaimana lagi, kan? Kita semua pasti mengalami perubahan." Potong Devil Mask sekaligus meredakan raut yang nyaris murung itu. "Aku kesana ya! Pastikan Gunez bersamamu. Oh, ya! Dimana Aura? Bukannya dia bertarung juga ya?"
__ADS_1
"Black Aura? Entahlah... Aku nggak ada melihatnya sejak bersembunyi di lab." Tutur Jacqueline.
"Aku duluan..." Jacqueline menyerong kakinya ke kanan dan berlari meninggalkan Devil Mask seorang diri.
“Hah… Sejak punya emosi, aku jadi semakin bingung jadinya…” gumam Devil Mask lalu
membalikkan badannya cepat dan menahan sabit yang diam-diam mengarah padanya.
Serangan mereka seperti bertentangan ketika salah satu ada yang menyadarinya.
“Kalian ini merepotkan sekali! Apa jangan-jangan… Tujuan kalian kesini untuk
melemahkan kami ya?” tanya Devil Mask pada Dark Shadow.
Ibu Gunez usianya kira-kira 30 tahun. Kalau ia terlalu banyak bergerak, bisa-bisa jantungnya dan fisiknya terancap. Devil Mask diam-diam menganalisis.
DASSSS!!!
Ketika sedang menganalisis, Sebuah tendangan yang menyerang pipi Devil Mask lalu membawa remaja itu pada ruang basket.
Di bawah reruntuhan bangunan, Devil Mask keluar sambil berdecak sebal. Lagi-lagi, ia terkena serangan kejutan. Dark Shadow seperti menyerang dengan mengandalkan kesunyian. Dan lagi, ruangan basket yang luas dan gelap ini membuat penglihatannya sedikit buram.
Kebanyak main ponsel mataku jadi rabun. Batin Devil Mask.
Tidak ingin waktunya terbuang banyak, Devil Mask memaksakan diri untuk berdiri. Ketika kaki kananya menginjak daerah bayangan, muncullah duri berwarna hitam dari bayangan itu. Devil Mask terperanjat tanpa bisa menyelamatkan kakinya yang tertusuk.
“Cih! Dari mana?!” Devil Mask melirik ke kanan. Ia menemukan sosok Dark Shadow yang berdiri menyandar di dinding. Aura itu gemar sekali gelap-gelapan.
"Matamu agak rabun ya?" tanya Dark Shadow meremehkan. "Benar-benar jauh ya! Kau yang dulu sama sekali nggak mengenal belas kasih. Terus terang, aku memang nggak sekuat kau dan kau agak mirip dengan Black Aura. Meski perbedaan kalian lumayan sedikit." Tuturnya.
Devil Mask agak pasrah. Ia tidak fokus pada omongan Dark Shadow karena mencemaskan kakinya dan kejadian sepuluh menit ke depan.
Kalau aku terus diam tanpa melepaskan kakiku dari duri, aku bisa saja diserang dan terjebak. Lalu... Luka parah. Tapi, kalau aku merobek kakiku... Pergerakanku bisa terhambat karena sakit, musuh bisa saja memanfaatkan kecepatanku itu.
Devil Mask menghela nafas berat. Tanpa pikir panjang, ia tarik kakinya agar tidak terjebak terus-terus di duri tersebut. Darah berglitter miliknya kembali mengalir deras disusul dengan rasa sakit yang bakal mengancam pergerakannya. Tindakannya itu memang memicu rasa sakit yang berlebihan. Ditambah lagi, ia tidak memiliki kemampuan memindahkan rasa sakit seperti Black Aura.
"Aku benci ini." Gumamnya meringis kesakitan.
Dari kejauhan, Dark Shadow hanya memandangnya dengan tersenyum. Tampaknya, pertarungan sengit tak lama lagi akan segera dimulai. Ia pun akhirnya mengeluarkan pasak panjang dari gelapnya ruangan basket.
Devil Mask juga. Ia menyiapkan cakarannya yang panjang. Melupakan kondisi kakinya yang berlumuran darah dan mengutamakan nyawa Ibu Gunez yang terancam.
"Ayo..." Ucap Devil Mask menembus keheningan malam itu. Entah kenapa, aku jadi mengkhawatirkan Jacqueline dan lainnya. Semoga aja, dia aman seperti biasanya.
"Oh, aku baru ingat." Tiba-tiba Dark Shadow bersuara. "Kau tau, bukan? Ekor kalajengking tadi?"
Devil Mask mendongak bingung. Memang benar, ekor kalajengking itu bukan khayalan. Rasa sakitnya masih membekas di lengan kanannya.
"Cih! Dia hewan peliharaanku. Dia sangat istimewa dan langka. Kau pasti bertanya-tanya kan? Kenapa rasa sakit di lenganmu tak kunjung hilangnya? Aku bisa melihatnya dengan jelas. Saat kau mengayunkan tangan kananmu, tulangmu terlihat kaku dan seakan menolak.
"Sayangnya, kau memaksanya. Kalajengking itu... Aku mulai tertarik dengan hewan seperti itu. Yah, aku memang nggak tahu jenis apa dia. Dari keluarga apa hewan itu. Tapi...! Dunia inilah kuncinya! Aku belajar sastra dari dunia ini! Manusia memang unik. Aku suka melihat emosi mereka." Beber Dark Shadow tanpa alasan yang jelas.
Devil Mask menelengkan kepalanya heran. Akan tetapi, ia sadar. Untuk apa dia mendengarkan ocehan musuhnya yang tak berarti? Oleh karena itu, Devil Mask memutuskan untuk langsung menyerang. Ia menapakkan keras kaki kanannya. Kemudian, berlari kencang.
Tanpa pikir panjang, Devil Mask melakukan serangan jarak jauh dengan melayangkan cakarannya horizontal. Jaraknya lima belas meter dari Dark Shadow. Hingga efeknya berhasil melukainya untuk ketiga kalinya.
CRAATTTT!!!
Darah birunya berhamburan dimana-mana. Walau terluka, ia masih sempat mengutarakan isi kepalanya tanpa memperdulikan Devil Mask yang terus menerus mencakarnya. Ia bahkan tidak menghindar.
"Kau tahu? Aku pernah melihat kejadian sangat mengesankan? Aku melihatnya dengan sangat jelas. Seorang pria yang diperlakukan tidak adil itu membunuh keluarganya. Dari ayah sampai kelima adik-adiknya. Ia bahkan membunuh keluarga adik-adiknya.
"Aku merasa, tindakan dia itu salah. Jadi aku membunuhnya dan aku mendapatkan perasaan aneh. Aku seperti dendam terhadap keluarga dia. Jadi, kebetulan sekali! Aku menemukan kalajengking peliharaannya. Lalu, kugores tanganku. Darah biruku mengalir padanya. Kemudian, aku mencampurkannya dengan darah pria pembunuh itu dan jadilah!
"Aku menciptakan spesies baru! Hewan setengah manusia setengah Aura. Emosi manusia yang tak tertata dan kekuatanku bercampur dalam darah kalajengking. Ukurannya membesar. Dan dari situlah alasan kenapa rasa sakit di tanganmu tak kunjung hilang." Jelasnya. Akhirnya, ia menutup rapat mulutnya.
"Karena warna.merah emosi."
Tidak disangka! Ketika Devil Mask hendak melayangkan cakarannya yang lain, muncul katana dari bayangan Devil Mask. Langsung digenggam Dark Shadow disusul dengan tebasan yang mengarah otomatis pada Devil Mask.
Devil Mask terjatuh. Ia kembali ditendang oleh Dark Shadow.
"Darahmu merah seperti manusia. Atau darahmu berubah jadi merah? Tapi... Kenapa ada kelap-kelip?" tanyanya. "Kenapa kau malah melemah? Apa karena berteman dengan Jacqueline, kau jadi seperti ini?"
"Berisik!"
Tidak tahan dengan ocehan Dark Shadow, Devil Mask bangun. Menendang keras bola basket di depannya. Hebatnya, bola itu mengenai tepat di wajah Dark Shadow. Ralat. Maksudnya, wajah Ibu Gunez.
"Wah! Maaf ya! Sejak membaca buku, aku jadi suka membual nggak jelas. Oh, sampai lupa! Kau sebaiknya jangan mengkhawatirkan Jacqueline. Khawatirkan saja Black Aura yang kini berhadapan dengan Kalajengkingku. Entah bakal semerah apa darahnya nanti?" ucap Dark Shadow yang diakhiri dengan senyuman liciknya.
"Satu lagi! Nama kalajengkingku adalah Usato."
~
__ADS_1