
Semuanya terasa mendadak sekali. Berlalu begitu saja
layaknya angin.
Di kursi taman, seorang gadis berambut pirang sebahu duduk
seorang diri dengan kepalanya yang tertunduk lesu sambil menggenggam setangkai
bunga Veronica. Warna biru bercampur ungu itu mengingatkannya pada sosok remaja
dengan manic violet yang menyala. Kini, remaja itu sudah tak lagi di
sampingnya. Sekuat apapun kakinya melangkah bahkan sampai ke ujung dunia
sekalipun, remaja itu tidak akan pernah ia temukan. Dia pergi. Tanpa
meninggalkan surat ataupun kalimat perpisahan. Bahkan, lambaian tangan saja
tidak ada. Walaupun begitu, gadis itu tetap menyalahkan dirinya yang menjadi
penyebab perginya remaja itu.
Dia sadar, urusannya dengan remaja bermanik violet itu
tidaklah sama. Cara menanganinya bukan dengan negoisasi ataupun dibicarakan di
meja bundar bersama sekompok orang yang terlibat. Urusan remaja itu akan
terselesaikan dengan kekerasan. Ya, hanya itulah cara yang ampuh mengingat
musuhnya bukanlah manusia.
Gadis itu membuka kedua matanya yang sedari tadi
terpejam. Dia tidak bisa melupakan kejadian dua bulan yang lalu. Ralat. Bukan
kejadian melainkan sebuah kesalahan.
Musim salju sekarang berganti menjadi musim panas. Tidak
ada lagi yang namanya syal, mantel tebal, dan juga hawa dingin yang kerap kali
membuat tubuh menginggil menginginkan kehangatan di rumah. Yang ada hanyalah
ribuan helai daun yang berterbangan di udara.
Di tengah lamunan kosongnya, seseorang memanggil namanya
dengan suara kaku.
“Chloe?” Aoi menelengkan kepalanya di depan gadis yang
tertunduk itu.
Chloe mengangkat kepalanya. Dia tersentak begitu
pandangannya bertemu langsung dengan pria jepang dan memperlihatkan kedua
matanya yang bengkak lantaran sering menangis setiap kali teringat akan
kesalahannya dua bulan yang lalu. Cepat-cepat, Chloe mengusap kasar air mata
itu disusul dengan senyuman tipisnya. Untuk sekarang, sulit baginya tersenyum
dengan mudah layaknya dirinya yang dulu. Masa-masa dirinya masih berjalan
berdampingan dengan remaja bermanik violet itu. Mereka berpetualang, terlibat
dalam pertarungan, dan menyaksikan serangkaian kekuatan di luar nalar manusia.
Aoi memandang prihatin pada Chloe. Kemudian, dia duduk di
samping Chloe setelah meminta izin serta mendapat anggukan kecil dari gadis itu.
Aoi menghela nafas berat. Dia khawatir dengan kondisi Chloe yang belakangan ini drop karena ditinggal teman kesayangannya. Senyuman yang biasanya
terpahat dengan manis di wajahnya kian memudar hari demi hari. Dari jauh, Aoi
selalu mengawasi Chloe. Semua kegiatan yang gadis itu lakukan Aoi amati dari
jauh. Antisipasi seandainya gadis itu menyakiti dirinya karena stress.
Beruntunglah, pikirannya masih jernih dan waras setidaknya. Dia masih sama
seperti dulu. Kuat.
“Chloe… Sudahlah… Jangan menangis terus. Nggak baik lo
buat kesehatanmu.” Bujuk Aoi lembut sambil membelai halus punggung tangan gadis
itu. Kesan pertama yang Aoi dapat ketika membelai tangan sahabatnya adalah
dingin.
Chloe melirik kea rah Aoi dengan tatapan datar seraya
menghempaskan pelan tangan Aoi agar menyingkir dari tangannya. “Jangan sentuh
tanganku kalau tanganmu sudah punya gandengan.” Ketus Chloe.
Aoi terkekeh sambil meminta maaf sebanyak dua kali. Pria
jepang itu sudah terbiasa dengan perlakuan dingin Chloe belakangan ini.
Sahabatnya itu mulai berubah sejak dirinya menyadari bahwa Black Aura, teman
spesialnya pergi.
Betapa shock-nya Chloe saat itu. Dia tidak menyangka
kalau endingnya akan berakhir dengan perpisahan tanpa arti. Di rumah Midnight,
Chloe mengintrogasi wanita itu banyak hal tentang Black Aura. pertanyaan
pertama yang diajukan gadis itu adalah, “Dimana Black Aura?”
Sementara, Midnight hanya menjawab dengan senyuman tipis
seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dan hal itu juga turut membuat hatinya
sedih. Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Chloe melainkan memberitahunya
bahwa ada urusan penting di Carnater yang harus Black Aura selesaikan.
Sampai detik ini, Chloe masih belum puas dengan jawaban
__ADS_1
yang diutarakan Midnight. Terus terang, Chloe ingin menemui langsung Black Aura
namun, Aura itu sudah terlanjur pergi. Yah, Black Aura memang suka menyembunySama
seperti dulu atau tepatnya sebelum dia bertemu dengan Black Aura dan masih
bermain dengan Aoi, gadis itu biasanya mengisi kesendiriannya dengan menulis. Cita-citanya
adalah menjadi penulis yang bisa mempermaiankan perasaan pembacanya. Belakangan
ini, Chloe sering menuangkan sebagian kisahnya dan Black Aura ke laptop yang kemudian
akan dia jadikan ke dalam bentuk novel.
Namun, dibalik perasaan lega Aoi yang mengetahui gadis itu
bisa memanfaatkan waktu kesendiriannya dengan baik, ada satu momen dimana Aoi
merasakan sakit di dadanya saat dirinya tidak sengaja melintas di depan kamar
Chloe dan mendapati sosok Chloe yang tengah menangis dalam diam sambil menggenggam
ponselnya. Di layarnya, terpampang jelas jepretan gadis itu bersama teman
Aura-nya. Di depan cahaya ponsel yang redup itu, Aoi bisa melihat dengan jelas
air mata yang membasahi pipi gadis itu. Air matanya tidak pernah berubah.
Bahkan hingga kini pun Chloe kembali terisak diiringi dengan mata kirinya yang
menangis.
Chloe menyandarkan kepalanya ke pundak Aoi. “Aoi… Kapan
aku bisa bertemu Black Aura lagi? Aku kangen banget sama dia…” lirihnya.
Aoi tersenyum tipis. “Dia pasti kembali kok. Jangan sedih
gitulah! Kau kan sudah tahu kalau Black Aura itu punya banyak urusan yang belum
ia selesaikan. Mungkin di dunia kita sudah terselesaikan. Tapi, bagaimana
dengan dunianya?” dia berusaha menghibur Chloe walaupun hatinya sendiri ragu
apakah dirinya berhasil menghibur gadis itu atau justru sebaliknya?
“Aku tahu. Bahkan Midnight juga ngomong begitu. Tapi, mau
sampai kapan? Sekarang sudah bulan Maret dan Black Aura masih nggak pulang
juga? Mau sampai kapan dia di Carnater? Belum nikah aja udah jadi bang toyib.
Bagaimana kalau udah nikah? Jadi abang apa dia nanti?” protes Chloe.
Aoi membelalakkan matanya tak percaya usai mendengar
protesan Chloe tadi, “A-apa kau bilang? Jangan bilang kalau kau suka sama Black
Aura dan nge-halu jadi istrinya? Gila betul isi kepalamu.”
“HEH! Yang bilang mau jadi istrinya siapa? Otak lo aja
kali yang gila!” sewot Chloe setelah itu memalingkan wajahnya kea rah yang
“Sejak kapan kau pake ‘lo-lo, gue’? Ih, agak gimana gitu
aku dengarnya.”
“Haahhh! Aku ‘kan’ orang Indo. Ya gak papa kali ngomong kek
gitu.” Bukannya terhibur, justru kesabaran Chloe malah dipertaruhkan dengan
otak Aoi yang ngarahnya entah kemana-mana. Seumpama melenceng dari garisnya,
saat itulah Chloe otomatis beranjak meninggalkan Aoi seorang diri. Itu masih
seumpama ya…
“Ih, Chloe galak banget sih. Aku kesini kan Cuma mau
menghiburmu. Kenapa jadinya malah sewot-sewotan gini? Sakit hati aku lho…” ujar
Aoi dengan wajah yang terlihat ingin menangis.
“Bodo! Kau kesini Cuma nguji kesabaranku aja!”
“Habisnya, aku nggak tahan liat muka datarmu. Nggak biasa
aku tuh. Cobalah senyum sesekali. Kan enak dipandang. Kalau terus-terusan
cemberut, nanti banyak cowok yang hinder termasuk dia.” Nada bicara Aoi
mendadak turun tepas di kata ‘dia’.
Chloe terdiam untuk beberapa saat. Dia sudah tahu orang
yang Aoi maksud dengan ‘dia’. Dan… Chloe hanya bisa menunggu atau nekat
melanggar apa yang Midnight ucapkan padanya dua bulan yang lalu.
Memang, semuanya berubah drastis. Tidak ada masalah
apapun yang menghampiri mereka. Mereka semua menjalani rutinitas mereka seperti
biasanya. Midnight, Jacqueline, Aoi, dan Rara. Semuanya.
Dunia di depan matanya tampak jauh lebih damai ketimbang
hatinya yang sebenarnya tidak merasa damai karena rindu yang terus-menerus
mengusik dirinya.
Black Aura… Kapan kau pulang?
~
Hari yang normal. Begitulah yang Chloe simpulkan tentang
hari Senin ini.
Di depan museum, Chloe berdiri di tengah keramaian
pejalan kaki. Pintu museum itu terbuat dari kaca yang bening, makanya Chloe
bisa melihat siapa saja yang berkunjung ke museum di sana. Berbicara soal
__ADS_1
museum, belakangan ini Chloe ingin sekali mengunjungi salah satu tempat wisata
untuk menenangkan dirinya dari rasa frustasi dan suntuknya.
Semenjak dirinya kembali ke rutinitas normalnya sebagai
mahasiswa. Kegiatan apapun yang Chloe jalani semuanya terasa membosankan. Tidak
ada bedanya dengan dua tahun yang lalu dimana dirinya ditinggal pergi abangnya
untuk selamanya. Kepergian abangnya membuat pikiran Chloe kacau, stress, dan
tidak terkendali. Segala rutinitas yang biasa dia jalani bersama abangnya hanya
akan menimbulkan dorongan untuk menangis. Oleh sebab itulah, Chloe berhenti
untuk beberapa hari dengan berdiam diri di rumah sampai tidak sadar bahwa Aoi
masuk ke dalam rumahnya dengan membawa tugas-tugas sekolahnya yang tidak
dikerjakan juga memasak beberapa menu makan pagi, siang, sore, dan malam.
Kenapa ada sore? Karena, gadis itu mudah sekali lapar kalau sedang dilanda
sedih.
Jika dulu dirinya selalu ditemani Aoi yang masih
berstatus single, belum memiliki pasangan. Sekarang, Chloe mau tidak mau
menjalani apapun seorang diri tanpa Aoi. Pria itu lebih sering menemani
Jacqueline berjalan. Yah, mereka kan sudah pacaran. Karena itulah, Chloe
memilih untuk sendirian ketimbang disangka mau mengambil pacar.
Meski kenyataannya, Jacqueline sama sekali tidak
mempermasalahkan Aoi untuk menemani Chloe mana tahu dirinya sedang membutuhkan
seseorang untuk bersandar. Akan tetapi, Chloe tetap bersikeras dengan
kesendirianya sampai dirinya dengan dingin menatap kedua sahabatnya. Jacqueline
dan Aoi hanya menghela nafas mereka saat itu. Mereka paham dengan kondisi Chloe
saat ini. Tidak ingin memperparah keadaannya, sepasang kekasih itu pergi dengan
secarik surat yang berisikan, “Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan hubungi
kami^^”
Dan, surat itu pun berakhir di tong sampah di depan mall.
Gadis itu benar-benar berubah. Jauh lebih dingin dari es
gunung yang biasa dibeli anak-anak selepas pulang sekolah demi menghilangkan
dahaga yang menguasai tenggorokan mereka. Kalau boleh jujur, Chloe suka sekali
es gunung apalagi es cendol.
Tidak hanya Chloe, Rara juga seperti itu. Gadis itu
kembali ke rumahnya sejak kepergian Black Aura. Sesungguhnya, Rara tahu apapun
soal Black Aura hari senin di bulan Desember yang lalu. Dia ingin sekali
memberitahu Chloe alasan kenapa Black Aura pergi. Hanya saja, gadis itu takut
jika yang dia lakukan hanya akan menimbulkan masalah lain yang berujung ke
mentalnya Chloe. Sebab itulah, Rara memutuskan untuk diam sembari mengerjakan serangkaian
kegiatan normalnya seorang diri di rumah.
Kalau Chloe terlihat dingin, maka Rara sering terlihat
tidak bersemangat lantaran, tidak ada kakak yang selalu menemaninya di rumah.
Berulang kali dia menghubungi lewat telepon diselingi dengan usahanya
berkeliling, mencari kakaknya namun hasilnya tetap zero. Berbeda dengan Aoi dan Jacqueline belakangan ini sering terlihat
berjalan-jalan santai di sekitar kota.
Sehabis kampus, mereka berdua langsung pergi ke suatu
tempat dan tentunya tanpa mengajak Chloe. Aoi berpikir, jika dia mengajak Chloe
lagi maka dirinya sama saja membuat gadis itu tambah sedih.
Chloe sangat merindukan sosok Aura dengan wajah datar
yang khas juga polosnya yang terkadang sangat menggemaskan menurutnya. Dia
merindukan manic violet yang menyala serta pedang, sabit, dan apapun yang ada
pada Aura itu. Bicaranya irit pada orang lain namun tidak pada Chloe yang sudah
kenal dekat dengannya.
Aura itu pergi begitu saja. Dia tidak meninggalkan apapun
untuk Chloe. Tidak seperti Devil Mask dan Yumi yang memilih tinggal di dunia
mereka sebab Midnight, ibu mereka tinggal seorang diri di rumah dan tidak ada
yang menjaganya. Walaupun Midnight sudah ditemani Silentwave yang bersembunyi
di lengannya, Devil Mask dan Yumi tetap merasa khawatir jika wanita berkacamata
bulat itu sampai bertemu dengan Yuuki.
Iri rasanya. Setiap kali melihat Aoi dan Jacqueline yang
menyempatkan diri ke rumah Midnight untuk bermain dengan teman Aura mereka,
Chloe merasa dirinya sudah bukan lagi bagian dari cerita fantasi yang dibangun
dari buku temuannya itu. Seakan perannya sudah habis hanya dengan kepergian
sosok Aura yang sangat dicintainya itu.
~
__ADS_1