Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 82 { Season 2 }


__ADS_3

Semuanya terasa mendadak sekali. Berlalu begitu saja


layaknya angin.


Di kursi taman, seorang gadis berambut pirang sebahu duduk


seorang diri dengan kepalanya yang tertunduk lesu sambil menggenggam setangkai


bunga Veronica. Warna biru bercampur ungu itu mengingatkannya pada sosok remaja


dengan manic violet yang menyala. Kini, remaja itu sudah tak lagi di


sampingnya. Sekuat apapun kakinya melangkah bahkan sampai ke ujung dunia


sekalipun, remaja itu tidak akan pernah ia temukan. Dia pergi. Tanpa


meninggalkan surat ataupun kalimat perpisahan. Bahkan, lambaian tangan saja


tidak ada. Walaupun begitu, gadis itu tetap menyalahkan dirinya yang menjadi


penyebab perginya remaja itu.


Dia sadar, urusannya dengan remaja bermanik violet itu


tidaklah sama. Cara menanganinya bukan dengan negoisasi ataupun dibicarakan di


meja bundar bersama sekompok orang yang terlibat. Urusan remaja itu akan


terselesaikan dengan kekerasan. Ya, hanya itulah cara yang ampuh mengingat


musuhnya bukanlah manusia.


Gadis itu membuka kedua matanya yang sedari tadi


terpejam. Dia tidak bisa melupakan kejadian dua bulan yang lalu. Ralat. Bukan


kejadian melainkan sebuah kesalahan.


Musim salju sekarang berganti menjadi musim panas. Tidak


ada lagi yang namanya syal, mantel tebal, dan juga hawa dingin yang kerap kali


membuat tubuh menginggil menginginkan kehangatan di rumah. Yang ada hanyalah


ribuan helai daun yang berterbangan di udara.


Di tengah lamunan kosongnya, seseorang memanggil namanya


dengan suara kaku.


“Chloe?” Aoi menelengkan kepalanya di depan gadis yang


tertunduk itu.


Chloe mengangkat kepalanya. Dia tersentak begitu


pandangannya bertemu langsung dengan pria jepang dan memperlihatkan kedua


matanya yang bengkak lantaran sering menangis setiap kali teringat akan


kesalahannya dua bulan yang lalu. Cepat-cepat, Chloe mengusap kasar air mata


itu disusul dengan senyuman tipisnya. Untuk sekarang, sulit baginya tersenyum


dengan mudah layaknya dirinya yang dulu. Masa-masa dirinya masih berjalan


berdampingan dengan remaja bermanik violet itu. Mereka berpetualang, terlibat


dalam pertarungan, dan menyaksikan serangkaian kekuatan di luar nalar manusia.


Aoi memandang prihatin pada Chloe. Kemudian, dia duduk di


samping Chloe setelah meminta izin serta mendapat anggukan kecil dari gadis itu.


Aoi menghela nafas berat. Dia khawatir dengan kondisi Chloe yang belakangan ini drop karena ditinggal teman kesayangannya. Senyuman yang biasanya


terpahat dengan manis di wajahnya kian memudar hari demi hari. Dari jauh, Aoi


selalu mengawasi Chloe. Semua kegiatan yang gadis itu lakukan Aoi amati dari


jauh. Antisipasi seandainya gadis itu menyakiti dirinya karena stress.


Beruntunglah, pikirannya masih jernih dan waras setidaknya. Dia masih sama


seperti dulu. Kuat.


“Chloe… Sudahlah… Jangan menangis terus. Nggak baik lo


buat kesehatanmu.” Bujuk Aoi lembut sambil membelai halus punggung tangan gadis


itu. Kesan pertama yang Aoi dapat ketika membelai tangan sahabatnya adalah


dingin.


Chloe melirik kea rah Aoi dengan tatapan datar seraya


menghempaskan pelan tangan Aoi agar menyingkir dari tangannya. “Jangan sentuh


tanganku kalau tanganmu sudah punya gandengan.” Ketus Chloe.


Aoi terkekeh sambil meminta maaf sebanyak dua kali. Pria


jepang itu sudah terbiasa dengan perlakuan dingin Chloe belakangan ini.


Sahabatnya itu mulai berubah sejak dirinya menyadari bahwa Black Aura, teman


spesialnya pergi.


Betapa shock-nya Chloe saat itu. Dia tidak menyangka


kalau endingnya akan berakhir dengan perpisahan tanpa arti. Di rumah Midnight,


Chloe mengintrogasi wanita itu banyak hal tentang Black Aura. pertanyaan


pertama yang diajukan gadis itu adalah, “Dimana Black Aura?”


Sementara, Midnight hanya menjawab dengan senyuman tipis


seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dan hal itu juga turut membuat hatinya


sedih. Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Chloe melainkan memberitahunya


bahwa ada urusan penting di Carnater yang harus Black Aura selesaikan.


Sampai detik ini, Chloe masih belum puas dengan jawaban

__ADS_1


yang diutarakan Midnight. Terus terang, Chloe ingin menemui langsung Black Aura


namun, Aura itu sudah terlanjur pergi. Yah, Black Aura memang suka menyembunySama


seperti dulu atau tepatnya sebelum dia bertemu dengan Black Aura dan masih


bermain dengan Aoi, gadis itu biasanya mengisi kesendiriannya dengan menulis. Cita-citanya


adalah menjadi penulis yang bisa mempermaiankan perasaan pembacanya. Belakangan


ini, Chloe sering menuangkan sebagian kisahnya dan Black Aura ke laptop yang kemudian


akan dia jadikan ke dalam bentuk novel.


Namun, dibalik perasaan lega Aoi yang mengetahui gadis itu


bisa memanfaatkan waktu kesendiriannya dengan baik, ada satu momen dimana Aoi


merasakan sakit di dadanya saat dirinya tidak sengaja melintas di depan kamar


Chloe dan mendapati sosok Chloe yang tengah menangis dalam diam sambil menggenggam


ponselnya. Di layarnya, terpampang jelas jepretan gadis itu bersama teman


Aura-nya. Di depan cahaya ponsel yang redup itu, Aoi bisa melihat dengan jelas


air mata yang membasahi pipi gadis itu. Air matanya tidak pernah berubah.


Bahkan hingga kini pun Chloe kembali terisak diiringi dengan mata kirinya yang


menangis.


Chloe menyandarkan kepalanya ke pundak Aoi. “Aoi… Kapan


aku bisa bertemu Black Aura lagi? Aku kangen banget sama dia…” lirihnya.


Aoi tersenyum tipis. “Dia pasti kembali kok. Jangan sedih


gitulah! Kau kan sudah tahu kalau Black Aura itu punya banyak urusan yang belum


ia selesaikan. Mungkin di dunia kita sudah terselesaikan. Tapi, bagaimana


dengan dunianya?” dia berusaha menghibur Chloe walaupun hatinya sendiri ragu


apakah dirinya berhasil menghibur gadis itu atau justru sebaliknya?


“Aku tahu. Bahkan Midnight juga ngomong begitu. Tapi, mau


sampai kapan? Sekarang sudah bulan Maret dan Black Aura masih nggak pulang


juga? Mau sampai kapan dia di Carnater? Belum nikah aja udah jadi bang toyib.


Bagaimana kalau udah nikah? Jadi abang apa dia nanti?” protes Chloe.


Aoi membelalakkan matanya tak percaya usai mendengar


protesan Chloe tadi, “A-apa kau bilang? Jangan bilang kalau kau suka sama Black


Aura dan nge-halu jadi istrinya? Gila betul isi kepalamu.”


“HEH! Yang bilang mau jadi istrinya siapa? Otak lo aja


kali yang gila!” sewot Chloe setelah itu memalingkan wajahnya kea rah yang


“Sejak kapan kau pake ‘lo-lo, gue’? Ih, agak gimana gitu


aku dengarnya.”


“Haahhh! Aku ‘kan’ orang Indo. Ya gak papa kali ngomong kek


gitu.” Bukannya terhibur, justru kesabaran Chloe malah dipertaruhkan dengan


otak Aoi yang ngarahnya entah kemana-mana. Seumpama melenceng dari garisnya,


saat itulah Chloe otomatis beranjak meninggalkan Aoi seorang diri. Itu masih


seumpama ya…


“Ih, Chloe galak banget sih. Aku kesini kan Cuma mau


menghiburmu. Kenapa jadinya malah sewot-sewotan gini? Sakit hati aku lho…” ujar


Aoi dengan wajah yang terlihat ingin menangis.


“Bodo! Kau kesini Cuma nguji kesabaranku aja!”


“Habisnya, aku nggak tahan liat muka datarmu. Nggak biasa


aku tuh. Cobalah senyum sesekali. Kan enak dipandang. Kalau terus-terusan


cemberut, nanti banyak cowok yang hinder termasuk dia.” Nada bicara Aoi


mendadak turun tepas di kata ‘dia’.


Chloe terdiam untuk beberapa saat. Dia sudah tahu orang


yang Aoi maksud dengan ‘dia’. Dan… Chloe hanya bisa menunggu atau nekat


melanggar apa yang Midnight ucapkan padanya dua bulan yang lalu.


Memang, semuanya berubah drastis. Tidak ada masalah


apapun yang menghampiri mereka. Mereka semua menjalani rutinitas mereka seperti


biasanya. Midnight, Jacqueline, Aoi, dan Rara. Semuanya.


Dunia di depan matanya tampak jauh lebih damai ketimbang


hatinya yang sebenarnya tidak merasa damai karena rindu yang terus-menerus


mengusik dirinya.


Black Aura… Kapan kau pulang?


~


Hari yang normal. Begitulah yang Chloe simpulkan tentang


hari Senin ini.


Di depan museum, Chloe berdiri di tengah keramaian


pejalan kaki. Pintu museum itu terbuat dari kaca yang bening, makanya Chloe


bisa melihat siapa saja yang berkunjung ke museum di sana. Berbicara soal

__ADS_1


museum, belakangan ini Chloe ingin sekali mengunjungi salah satu tempat wisata


untuk menenangkan dirinya dari rasa frustasi dan suntuknya.


Semenjak dirinya kembali ke rutinitas normalnya sebagai


mahasiswa. Kegiatan apapun yang Chloe jalani semuanya terasa membosankan. Tidak


ada bedanya dengan dua tahun yang lalu dimana dirinya ditinggal pergi abangnya


untuk selamanya. Kepergian abangnya membuat pikiran Chloe kacau, stress, dan


tidak terkendali. Segala rutinitas yang biasa dia jalani bersama abangnya hanya


akan menimbulkan dorongan untuk menangis. Oleh sebab itulah, Chloe berhenti


untuk beberapa hari dengan berdiam diri di rumah sampai tidak sadar bahwa Aoi


masuk ke dalam rumahnya dengan membawa tugas-tugas sekolahnya yang tidak


dikerjakan juga memasak beberapa menu makan pagi, siang, sore, dan malam.


Kenapa ada sore? Karena, gadis itu mudah sekali lapar kalau sedang dilanda


sedih.


Jika dulu dirinya selalu ditemani Aoi yang masih


berstatus single, belum memiliki pasangan. Sekarang, Chloe mau tidak mau


menjalani apapun seorang diri tanpa Aoi. Pria itu lebih sering menemani


Jacqueline berjalan. Yah, mereka kan sudah pacaran. Karena itulah, Chloe


memilih untuk sendirian ketimbang disangka mau mengambil pacar.


Meski kenyataannya, Jacqueline sama sekali tidak


mempermasalahkan Aoi untuk menemani Chloe mana tahu dirinya sedang membutuhkan


seseorang untuk bersandar. Akan tetapi, Chloe tetap bersikeras dengan


kesendirianya sampai dirinya dengan dingin menatap kedua sahabatnya. Jacqueline


dan Aoi hanya menghela nafas mereka saat itu. Mereka paham dengan kondisi Chloe


saat ini. Tidak ingin memperparah keadaannya, sepasang kekasih itu pergi dengan


secarik surat yang berisikan, “Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan hubungi


kami^^”


Dan, surat itu pun berakhir di tong sampah di depan mall.


Gadis itu benar-benar berubah. Jauh lebih dingin dari es


gunung yang biasa dibeli anak-anak selepas pulang sekolah demi menghilangkan


dahaga yang menguasai tenggorokan mereka. Kalau boleh jujur, Chloe suka sekali


es gunung apalagi es cendol.


Tidak hanya Chloe, Rara juga seperti itu. Gadis itu


kembali ke rumahnya sejak kepergian Black Aura. Sesungguhnya, Rara tahu apapun


soal Black Aura hari senin di bulan Desember yang lalu. Dia ingin sekali


memberitahu Chloe alasan kenapa Black Aura pergi. Hanya saja, gadis itu takut


jika yang dia lakukan hanya akan menimbulkan masalah lain yang berujung ke


mentalnya Chloe. Sebab itulah, Rara memutuskan untuk diam sembari mengerjakan serangkaian


kegiatan normalnya seorang diri di rumah.


Kalau Chloe terlihat dingin, maka Rara sering terlihat


tidak bersemangat lantaran, tidak ada kakak yang selalu menemaninya di rumah.


Berulang kali dia menghubungi lewat telepon diselingi dengan usahanya


berkeliling, mencari kakaknya namun hasilnya tetap zero. Berbeda dengan  Aoi dan Jacqueline belakangan ini sering terlihat


berjalan-jalan santai di sekitar kota.


Sehabis kampus, mereka berdua langsung pergi ke suatu


tempat dan tentunya tanpa mengajak Chloe. Aoi berpikir, jika dia mengajak Chloe


lagi maka dirinya sama saja membuat gadis itu tambah sedih.


Chloe sangat merindukan sosok Aura dengan wajah datar


yang khas juga polosnya yang terkadang sangat menggemaskan menurutnya. Dia


merindukan manic violet yang menyala serta pedang, sabit, dan apapun yang ada


pada Aura itu. Bicaranya irit pada orang lain namun tidak pada Chloe yang sudah


kenal dekat dengannya.


Aura itu pergi begitu saja. Dia tidak meninggalkan apapun


untuk Chloe. Tidak seperti Devil Mask dan Yumi yang memilih tinggal di dunia


mereka sebab Midnight, ibu mereka tinggal seorang diri di rumah dan tidak ada


yang menjaganya. Walaupun Midnight sudah ditemani Silentwave yang bersembunyi


di lengannya, Devil Mask dan Yumi tetap merasa khawatir jika wanita berkacamata


bulat itu sampai bertemu dengan Yuuki.


Iri rasanya. Setiap kali melihat Aoi dan Jacqueline yang


menyempatkan diri ke rumah Midnight untuk bermain dengan teman Aura mereka,


Chloe merasa dirinya sudah bukan lagi bagian dari cerita fantasi yang dibangun


dari buku temuannya itu. Seakan perannya sudah habis hanya dengan kepergian


sosok Aura yang sangat dicintainya itu.


~

__ADS_1


__ADS_2