
Di lain tempat, suara gaduh seperti tembakan mengusik ketenangan di kastil Asoka.
Lady Asoka, ratu yang sangat Grimoire puja itu akhirnya keluar dari sarangnya karena merasa terganggu akan saura gaduh yang tampaknya telah merusak sebagian duri raksasa yang Grimoire tanah sebagai benteng untuk melindungi istanah ratu kesayangannya.
Sosok Asoka berjalan melewati lorong istanahnya yang megah namun lebih dominan gelap. Tidak ada penerangan modern seperti lampu yang sering manusia gunakan. Istanah Asoka hanya mengandalkan obor dan lilin sebagai penerangan mereka.
Kobaran api yang jinak itu memperlihatkan sedikit penampilan Asoka yang anggun dengan tinggi badannya semampai, tanduk kambing yang menghiasi kepalanya, ditambah dengan rambut hitamnya yang terurai halus mencapai pinggang, dan juga dress hitam putih berenda yang ia kenakan. Penerangan minim seperti sanggup memperlihatkan betapa cantiknya sang ratu.
Pintu gerbang yang semula tertutup sangat rapat itu, Asoka buka lebar hingga memperlihatkan pemandangan hutan duri Grimoire yang sebagian durinya rontok akibat serangan yang disebabkan oleh sepasang penyusup manusia. Mata merahnya melirik ke sepasang manusia tengah menyeringai ke arahnya.
Hebat sekali mereka bisa melewati hutan Grimoire tanpa luka sedikitpun. Mungkinkah mereka manusia yang dicari Captain dan Aura? batin Lady Asoka sambil mempertahankan ekspresi elegannya. Omong-omong, Lady Asoka itu tidak dingin seperti Aura yang lain. Dia manis dan lembut, penuh akan kasih sayang. Aura itu sangat menyayangi dan mau membukakan pintunya bagi siapapun yang mau menerimanya apa adanya.
Lady Asoka menghela nafas lelah. Sial sekali dia hari ini. Tidak ada Grimoire di sampingnya. Kalau ada dia, Asoka bisa menghabiskan waktunya di dalam kamar yang luas dengan tubuhnya yang sudah ia setting rebahan. Sementara di luar sana, Grimoire sibuk menumpas para penyusup yang hendak mengganggu ketenangan Istanah Asoka.
Di depan hutan Grimoire yang tumbuh tak beraturan, sepasang manusia itu berdiri dengan membawa tongkat bisbol dan canon. Laki-laki dan perempuan. Tidak peduli mau berapa usia mereka, Lady Asoka menganggap kehadiran manusia itu sebagai parasit hingga membuat dirinya harus repot-repot keluar.
Buku mantra sudah tersedia digenggamannya. Tinggal Lady Asoka pilih saja mantra mana yang tepat untuk membasmi sepasang parasit itu.
Dia mengeluarkan penanya. Menulis apapun yang ada dipikirannya setelah itu, menyodok kasar kertas buku tersebut dan membakarnya menjadi abu. Dia melakukan itu sebanyak empat kali tanpa memberitahu pada sepasang manusia itu maksud kegiatannya tersebut.
“Kalian akan menyesal telah menjadi penyusup di istana ku.” ucap Lady Asoka memandang tajam ke arah manusia yang terlihat terkejut mendengar perkataannya.
Okka, begitulah namanya. Bersama seorang pria yang bernama Kenzo, mereka menyelinap dan masih belum diketahui apa tujuan mereka melakukan aksi nekat tersebut. Dari rumor yang beredar, Lady Asoka memiliki ribuan buku yang berisikan emosi serta rahasia yang asalnya dari dunia luar. Memang hal itu tidak langsung dipahami Kenzo dan Okka. Namun, setelah melewati perjalanan dan pengamatan yang panjang hingga tak jelas berapa lama kegiatan itu mereka lakukan, Kenzo akhirnya memahami maksud dari buku itu. Sementara Okka, dia memiliki pemahaman lain mengenai Carnater.
Kedua manusia itu beranggapan bahwa, dunia luar yang berhubungan dengan Carnater adalah dunia asal mereka. Bumi. Meskipun Bumi dikatakan sebagai planet, para Aura menyebutnya sebagai dunia.
Sekarang, sudah lebih dari lima Aura yang dibasmi dan dijadikan bahan penelitian Okka dan Kenzo. Mereka melakukan penelitian lantaran ingin mencari tahu bagian-bagian dari Aura yang siapa tahu berguna untuk kelangsungan hidup mereka. Ah, akan sangat menguntungkan jika dijual!
Okka dan Kenzo menyeringai. Berbekal tongsis dan ponsel dengan baterai full, mereka mulai merekam aksi mereka melawan Lady Asoka. Sebelum menyerang, mereka menjelaskan siapa itu Lady Asoka, istananya, dan senjata apa saja yang mereka bawa.
__ADS_1
Bisa dibilang, Kenzo dan Okka adalah youtuber terkenal di kalangan remaja. Mereka sangat disegani lantaran humor mereka yang sanggup mengocok perut para penontonnya, keberanian mereka melakukan sesuatu, dan ramahnya mereka.
“Kau siap Okka?” tanya Kenzo yang sudah lebih dulu siap dengan canon di tangannya.
“I’m ready! Let’s get the party started!” seru Okka memencet button play kemudian merekam diri mereka bertarung melawan Lady Asoka.
~
Black Aura mematung dengan ujung sabitnya yang tak lama lagi akan menyentuh leher Aoi. Lantas, apa yang sedang terjadi? Tatapan dingin yang khas itu seketika lunak ketika kelembutan melingkar di pinggangnya. Rasanya hangat. Tangan kiri Black Aura pun ia lepas dari kepala Aoi. Barulah dia sadar bahwa selama ini ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Dan orang itu tak lain adalah Chloe sendiri. Gadis manusia yang merupakan kelemahan terbesar Black Aura.
Sekarang, Chloe tengah memeluk Black Aura dengan kedua matanya yang terpejam. Raut tersebut seolah tengah melambungkan harapan tinggi.
Chloe mendengar apapun. Segala pembicaraan Aoi dan Black Aura sampai ke telinganya hingga membuatnya melakukan aksi nekad dimana dirinya diam-diam menyelinap ke arena pertarungan sepasang Aura itu. Tak peduli mau kena atau tidak, tujuan Chloe masuk adalah untuk mengobati Black Aura dan menghentikan adegan saling membunuh itu. Chloe tahu yang Black Aura rasakan. DIa bisa merasakan bagaimana sakitnya dituduh meski tidak melakukannya. Bagaimana sakitnya tidak didengarkan. Dan, bagaimana merepotkan menanggapi sifat orang yang tengah dilanda emosi. Entah kenapa, dunia Carnater itu justru mempermudah manusia sepertinya merasakan seluruh emosi yang dirasakan para Aura.
Meskipun Chloe tidak bisa merasakan perasaan Aoi, mengetahui yang Black Aura rasakan sudah cukup baginya. Dengan begitu, Chloe bisa tahu tindakan apa yang harus ia lakukan nanti apabila terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak.
Pelukan yang Chloe berikan pada Black Aura semakin erat. Gadis itu berharap, Aura itu merasa nyaman akan perlakuan lembut tersebut. terlebih lagi, kata luka para Aura akan sembuh dengan cepat apabila merasakan kasih sayang dari manusia. Contohnya Jacqueline. Dia sudah uji coba dan hasilnya tinggal di rangkum menjadi laporan yang nantinya akan berguna pada Aura lainnya.
“Kalau aku sembunyi, masalah kalian nggak akan selesai. Kau juga terluka…” bisik Chloe.
“Cuma luka biasa.”
“Bohong. Sekarang diam. Kau ada di sini. Aku akan membantumu sebisaku dan biarkan aku mendengar permasalahan kalian,” tambah Chloe yang malah terlalu nyaman dengan posisinya tersebut. Kalau sudah terlanjur nyaman, bisa satu jam dia memeluk Black Aura. Tapi untunglah, Chloe ingat akan hal-hal penting yang patut dunia ini selesaikan.
Chloe merenggangkan pelukannya bersamaan dengan Black Aura yang menurunkan sabitnya kemudian menghilangkan senjata tersebut. Mungkin, tindakannya tadi terlalu berlebihan. Terlebih lagi jika Chloe melihatnya. Black Aura baru ingat kalau Chloe ini manusia.
Black Aura berbalik, berhadapan dengan wajah Chloe yang tersenyum padanya. Dilihat dari mata kepalanya sendiri, tinggi Chloe tidak berubah. Masih pendek seperti dua bulan yang lalu.
“Maaf… Aku kelewatan,” ucap Black Aura setelah itu menghela nafas beratnya.
__ADS_1
“Nggak papa kok. Marah nggak marah itu relative. Tapi, jangan sampai kelewatan. Kalian berdua kan punya masalah. Jangan semua masalah itu diselesaikan dengan kekerasan. Coba kita bicarakan baik-baik.” Jelas Chloe lembut. Kemudian, dia meraih pergelangan tangan Black Aura yang retak. Lalu mengusapnya. Seketika, retakan itu hilang hanya dengan sekali usap.
Black Aura terkejut mendapati pemandangan tersebut. Jadi begitu ya? Meskipun manusia merupakan kelemahan terbesar para Aura, di lain sisi, manusia juga memiliki kekuatan penyembuh yang sama kuatnya dengan serangan mereka. Kasih sayang. Itulah yang bisa Black Aura simpulkan.
“Bagaimana? Sudah baikan?”
“Hmm... Terima kasih.” Black Aura tersenyum.
“Kalau membunuh, lihat musuhnya juga ya! Kalau kulihat, musuhmu ini adalah korban. Dia nggak tau apa-apa tentang masalah ini,” Chloe melirik kearah Aoi yang meringkuk ketakutan.
“Nggak tahu tapi ngototnya ngalahin Jacqueline,” balas Black Aura dengan ekspresi malas. Bagaimana mau menjelaskan kalau musuhnya sendiri ngotot dengan kebenaran yang ia miliki. Maksudnya, keras kepala dengan opininya.
Chloe terkekeh. “Kenapa mesti Jacqueline yang dibawa, hei?”
Kelihatannya, cukup sampai disini saja pembicaraan mereka. Chloe dan Black Aura memutar tubuh mereka menghadap Aoi yang masih dalam posisi ketakutan. Hahaha! Beginilah akibatnya kalau kita membangun kucing yang sedang tidur.
Ketika Black Aura hendak membangunkan Aoi, Chloe menghalangnya dan menyuruh Black Aura untuk diam di tempat. Black Aura mundur disertai anggukan kecilnya.
“Hei… Halo… Kamu yang lagi takut,” panggil Chloe lembut.
Aoi tersentak dari ketakutannya. Perlahan-lahan, menoleh ke belakang walaupun dalam hati terdalamnya ia takut melihat ekspresi dingin musuhnya. Ah, tingkah Aoi ini tak jauh bedanya dengan kucing di bumi. Hal itu membuat Chloe gemas dan ingin sekali menarik telinga kucing Aoi.
“Chloe? Kau masih hidup?” Aoi membulatkan kedua matanya seakan tak percaya dengan kenyataan yang ia lihat saat ini.
Chloe? Tunggu dulu! Dia memanggil namaku?
Chloe menelengkan kepalanya penuh tanda tanya. Bagaimana bisa dirinya yang bahkan baru pertama kali berjumpa dengan Aoi langsung mendapatkan pertanyaan yang terkesan dirinya sudah pernah mati dan bereinkarnasi menjadi sosok yang lain. Tentunya dengan wajah yang mirip dengan gadis yang Aoi sebut barusan. Tapi, kenapa Chloe?
Memangnya ada Aura yang namanya Chloe? Batin Chloe heran. Sebetulnya, dia ingin menertawakan situasi dimana Aoi menyebut namanya. Hanya saja, keberadaan Black Aura membuatnya sadar diri akan perkataan yang diucapkan mengenai dirinya yang ingin menyelesaikan masalah Black Aura dengan si Kucing Es itu.
__ADS_1
“Heh? Chloe? Kenapa kau tahu namaku? Kita ‘kan’ belum pernah ketemu.” Ujar Chloe semakin bingung. Bentar, kok jadi bingung gini sih?
~