
“Ada pesan dari Midnight,” celetuk Chloe agak terkejut mendapati getaran di saku celana nya. Lantas, gadis itu langsung membuka ponselnya dengan mengusap ke atas layarnya dan menemukan kotak pesan yang tak asing.
“Apa isinya?”
Aoi mencoba mengintip dari belakang pundak Chloe dan akhirnya tahu isi pesan yang Midnight kirimkan pada mereka. Sebelumnya, Chloe ada bertanya pada Midnight mengenai posisi wanita itu sekarang. Mungkin, kotak pesan itulah jawabannya.
“Kalian lurus saja. Ikuti saja jamur yang ada di depan kalian.” Chloe mengulangi pesan yang Midnight kirim itu. “Jamur?”
“Di bawah sana…” tunjuk Aoi.
Benar saja, ada jamur kecil dengan payungnya berwarna biru malam. Benar-benar khas-nya Midnight.
“Kenapa warnanya selalu berhubungan dengan malam ya?” Chloe heran sendiri. Tak lama kemudian, kedua remaja itu berjalan mengikuti jamur-jamur yang tumbuh sangat menggemaskan sampai ke tempat tujuan mereka nanti.
Selama perjalanan, masing-masing dari remaja itu mengkhawatirkan seseorang yang mereka sayangi. Aoi mengkhawatirkan Jacqueline dan Chloe mengkhawatirkan Black Aura. Keduanya sudah berulang kali menghela nafas berat. Terkadang, pikiran ingin kembali ke tempat Jacqueline dan Black Aura mengusik benak mereka dan membuat mereka ragu.
Chloe ingat kalau Black Aura bisa mengatasi masalah Aurora. “Jangan khawatir, Jacqueline pasti baik-baik saja. Ada Black Aura kok disana!” kata Chloe berusaha menenangkan perasaan Aoi.
“Aku tahu. Memang Auramu bisa diandalkan. Tapi… Waktu yang akan datang kita nggak akan ada yang tahu selain kita ke sana dan memastikan kalau…” Aoi lagi-lagi resah. Pria menggeleng-geleng kepalanya pasrah. “Yang sedang Black Aura hadapi itu Aurora. Dia Legend Aura yang selama ini kukenal sebagai Aura yang berbahaya. Kau tahu sendirikan kemampuannya memanfaatkan ketidaksadaran kita untuk menyerang. Tadi, tanpa aku sadari dia menguasai tubuhku. Lalu Jacqueline,” beber Aoi semakin menjadi perasaan tak mengenakan tersebut.
“Meskipun begitu, aku merasa senang bisa terlibat dengan masalah ini.”
Kalimat terakhir yang Aoi lontarkan itu cukup membuat Chloe tenang. Seenggaknya, masih ada penyemangat lain yang bisa meminimalisir rasa penyesalan yang bisa datang kapanpun. Ya, banyak hal yang bisa digunakan untuk meluluhkan penyesalan itu. Seperti mimpi sejak kecil, cita-cita yang tak masuk akal, dan kalimat penyemangat dari seseorang atau diri sendiri. Hal sepele seperti itu mungkin mudah terlupakan. Namun, kehadirannya begitu penting di waktu-waktu tertentu.
Chloe ingat bagaimana abangnya menyemangatinya saat dia sedih karena kalah mengikuti lomba menulis. Menjadi penulis adalah cita-cita terbesar Chloe. Sayangnya, serangkaian event yang Chloe ikuti tak ada satupun yang bisa Chloe menangkan. Chloe tak pernah sekalipun berdiri dengan senyuman lebar di atas panggung dengan panitia yang menyebut namanya sebagai pemenang. Mendengar tepukan tangan yang meriah dan melihat senyuman orang-orang dari atas. Chloe ingin sekali berada di posisi tersebut. Sayang, mimpi itu bagaikan mimpinya saat tidur. Nyata di alam lain, sirna begitu dirinya terbangun di dunia nyata.
“Selain kau… Aku juga merasa deg-degan setiap kali turun ke medan pertarungan Black Aura. Mereka sadis. Anehnya, aku nggak takut. Aku justru menikmati momen tersebut dan malah berharap… ingin melihat lebih banyak lagi. Bersama kalian dan Black Aura tentunya. Jujur saja, gara-gara pertarungan Aura ini, aku jadi makin sayang sama Black Aura,” ungkap Chloe sambil sesekali terkekeh menertawakan dirinya.
“Kau ini memang sejak awal udah suka sama dia!” sambar Aoi. “Bahkan sampai terobsesi lagi. Parah memang kau ini.”Aoi tertawa lepas sambil berjalan. Pria itu tak peduli dengan raut cemberut di wajah Chloe. Tidak apa-apa selagi bukan dirinya. Mengungkit aib sahabat itu memang menyenangkan.
Setelah merasa puas tertawa, Aoi membuka matanya lalu menoleh ke arah Chloe. “Chloe, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau sudah lebih baik?”
Chloe tertegun dan segera mengubah raut cemberut itu menjadi senyuman manisnya. “Malah jauh lebih baik. Kayak… Aku yang sekarang bisa lebih percaya diri di depan semua orang. Ah, aku lupa! Kau masih ingat nggak sama cewek-cewek yang mengejekku dulu?”
__ADS_1
“Masih.”
“Aku pernah bilang ke mereka kalau aku bakal nunjukin ke mereka kalau fantasi itu ada. Astaga! Bodoh sekali aku!” Chloe mengacak-ngacak rambutnya kesal.
“Ahahahaha! Salahmu sendiri! Kau bilang padaku untuk tidak mengekspos ke media social. Tapi kau sendiri malah lebih dulu bilang bakal buktiin ke orang-orang itu kalau fantasi itu nyata,” dan Aoi malah tidak bisa diandalkan sekarang.
Chloe panik. “Ah, sudahlah… Ini tanggung jawabku.”
“Hahaha… Ya, udah deh… Aku bantuin,”
Seketika, senyuman puas Chloe terukir. “Beneran?”
“Iya. Tapi nanti. Kita urusi semuanya satu-satu yah!”
Chloe terharu. Tanpa pikir panjang memeluk erat Aoi yang terserang panik karena serangan kejutannya.
“Hei, hei! Jangan terlalu erat!”
Chloe segera melepaskan pelukannya. Kemudian memandangi wajah Aoi untuk beberapa saat. “Kita sampai sekarang masih sahabatan, kan?”
“Tentu saja! Memangnya kenapa?”
Memeluk itu sudah kebiasaan Chloe sejak SMP. Orang pertama yang mendapatkan pelukan erat dari Chloe adalah Lucas, abangnya. Kemudian, pelukan tersebut berakar-akar ke berbagai orang yang ia kenal dekat seperti Aoi dan Jacqueline sampai akhirnya ke Black Aura.
“Iya, iya. Biarlah ini jadi rahasia kita berdua, ya!” balas Aoi menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Kedua remaja itu terkekeh. Sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan mereka dengan mengikuti jamur-jamur yang tumbuh di depan mereka. Semoga saja, Midnight tidak mengomel karena terlalu lama menunggu mereka yang keasyikan mengobrol sampai lupa waktu. Beginilah Aoi dan Chloe. Meskipun sudah memiliki orang yang bisa mengisi hati dan kekosongan di dalam diri mereka, kedekatan mereka awet tanpa menggunakan pengawet buatan. Tidak ada gandengan tangan tapi batin mereka sudah begitu dekat layaknya tali yang terikat pada mereka sulit untuk dilepaskan.
~
“Kalian lama sekali,” ujar Midnight datar dengan posisinya saat ini yang sedang menyandar di salah satu batang pohon yang lumayan besar.
Silentwave yang tadinya sibuk melahap jamur disuruh Midngiht menarik kedua remaja yang baru saja sampai.
Chloe mendapat Silentwave dengan ekspresi bingung. “Kami terlambat ya?”
Silentwave menggeleng pelan. Aura itu mendekatkan dirinya ke telinga Chloe dan membisikkan sesuatu. “Lebih tepatnya, kalian membuat mama menunggu lama.”
__ADS_1
“Heh?” Aoi dan Chloe membeku ketakutan. Keduanya tak ada yang berani menatap Midnight. Hawa di sekitar mereka mendadak menjadi dingin. Jauh lebih dingin ketika Midnight melayangkan tatapan dinginnya pada Aoi dan Chloe.
“Hiii!”
“Apa ‘hii’? Sini kalian!” seru Midnight kesal. Wanita itu melangkah dalam diam tapi wajahnya memperlihatkan betapa kesalnya dirinya menunggu kedua remaja itu. Saat melirik stopwatch, kedua remaja itu berjalan memakan waktu sepuluh menit lebih. Midnight menduga kalau di perjalanan, Chloe dan Aoi ngobrol sampai lupa waktu.
“Apa aja yang kalian obrolkan tadi? Udah tahu dilarang masuk ke sini masih aja ngeyel. Mana banyak bercanda lagi!” omelnya sarkas. Satu kalimat saja sudah membuat bulu kuduk mereka meremang. Apalagi dua sampai seterusnya.
“Ma-maaf! Kami tadi…” ucapan Aoi jadi terbata-bata karena gugup. Midnight dihadapannya semakin lama semakin dingin hawanya. Meski begitu, Aoi tetap mengakui kecantikannya. Bagaimanapun raut wajahnya, kecantikannya tetap bertebaran dan hal itulah yang menjadi alasan kenapa Yuuki mengincar wanita itu. Lain dari hal itu, Midnight memiliki kelebihan yang jarang sekali Aoi temukan. Salah satunya pengalaman fantasi dan mungkin, dia type wanita yang sangat penyabar.
“Hah… Sudahlah. Yang penting kalian aman.”
Midnight menghela nafas berat sebelum akhirnya masuk ke bagian inti pembicaraannya. “Kita langsung ke intinya saja. Aku nggak punya banyak waktu bercanda dengan kalian.”
“Baik.”
Dan kedua remaja itu juga tak punya banyak waktu untuk duduk sambil mendengarkan ceramah dari Midnight.
“Tujuan kalian ke sini untuk membantu kami kan?” tanya Midnight memastikan.
“Iya. Kami kesini mau membantu kalian mengembalikan dunia kalian!” tegas Chloe dan Aoi, meski dalam hati mereka gugup.
“Jangan samakan aku dengan Aura. Memang fakta pengetahuanku tentang Carnater memang banyak. Tapi, aku ini manusia biasa sama seperti kalian. Jadi, untuk mengembalikan dunia Carnater ini, kalian udah tahu caranya?”
“Udah kok, Ritual kan?”
Midnight mengangguk pelan. “Lalu?”
“Kalau nggak salah, Black Aura ada bilang kalau ritualnya harus tiga manusia yang melakukannya.Itu artinya, aku, Aoi, dan Jacqueline,” tutur Chloe.
Sekali lagi, Midnight mengangguk membenarkan ucapan Chloe. “Ya, itu caranya. Mudah jika kalian mengikuti aturan ritualnya.”
“Sebelum memulai ritual, ada beberapa bahan yang harus kita kumpulkan. Salah satunya darah penghuni asli Carnater.”
“Penghuni asli? Memangnya Aura bukan penghuni asli?” Aoi menelengkan kepalanya bingung.
“Mereka penghuni asli tapi ada campur tangan dengan manusia. Penghuni asli yang kumaksud itu seperti suamiku. Ayo, ikut aku!” ajak Midnight. Suaranya lembut sekarang. Akan tetapi, Chloe diam-diam menangkap nuansa berbeda dari kelembutan suara itu.
__ADS_1
Midnight sedih… Simpul Chloe.
~