
Jacqueline menghentikkan langkahnya di dinding cafeteria. Nafasnya menjelaskan seberapa kacau pikiran dan hatinya. Bukan karena Gunez yang main menghilang, melainkan, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat tangannya ingin meremas kuat kepalanya dan kain jaketnya. Ia ingin melampiaskan amarahnya. Emosi yang ia pendam mendadak mencuat. Emosi itu seperti ingin membunuh dirinya.
Perasaan tak karuan itu membuatnya berpikir ingin mengakhiri hidupnya. Namun, disisi lain ia ingin menyakiti seseorang tanpa sspengetahuan Chloe dan Aoi. Orang yang akan ia sakiti tentu adalah adiknya.
"Bukan! Nggak cuma Scarlet, guruku! Guru SMA, ayah, ibu, sahabat SD... Mereka semua harus kubunuh...! Nggak! Nggak! Kenapa aku berpikiran seperti ini?!" Jacqueline terkesiap setelah sadar betapa buruknya pikirannya.
Dia menyentuh dada kirinya tempat dimana jantungnya masih berdetak. Ia kembali termenung dan bersandar di dinding. Air matanya menggenang tanpa kekuatan yang besar, mereka mengalir.
Sampai saat ini, dia masih berfungsi. Selama jantungku masih berfungsi, aku akan menemukan banyak sekali masalah dan cobaan dalam hidupku. Aku gagal, aku mati. Aku sukses, aku hidup. Kalau aku mati disini, apa perasaan ini akan hilang? Apa rasa sakit ini akan hilang?
Jacqueline menoleh pada salju yang mewarnai pohon yang usang itu. Meskipun hidup tanpa dedaunan rimbun, ia masih kuat menahan salju yang menumpang di setiap dahannya.
Jacqueline selalu menginginkan kedamaian dan hidup yang tenang. Di sekolah, ia berusaha untuk menjadi tidak mencolok agar tidak ada satupun yang iri padanya. Namun, karena masalah di dalam dirinya yang beranggapan bahwa tidak ada satupun yang memahaminya, semua urusan sekolahnya kocar-kacir.
"Guruku membuatku tidak bisa tidur dengan tenang! Guruku membuat ayah membentak dan memyakitiku! Guruku membuat mama mencibirku! Dia mempermalukanku di depan umum! Dia menyebut namaku secara terang-terangan di depan teman-teman bahwa aku tidak lulus!
"Scarlet...! Semua kasih sayang mereka ada untuk Scarlet... Aku anak yang gagal...? Aku sekarang tidak menginginkan kasih sayang tapi... Rasanya tidak adil!" Jacqueline membual tanpa alasan yang jelas.
Masa lalu dan masa kini bercampur dalam pikirannya. Semua kenangan pahit menyatu dalam detik ini. Ia kemudian membanting tangannya di dinding, menutup sebagian wajahnya dengan tangan kirinya, dan menangis.
"Aku ingin bebas... Aku ingin bebas! Tapi, bagaimana caranya agar perasaan ini menghilang?! Luka di pipi, tangan, lengan, punggung, kepala, dan hati! Psikologisku jangan-jangan kena juga?! Semuanya! Kenapa aku baru merasakannya sekarang?!
"Tak ada satupun yang memahamiku! Lagi-lagi. aku dipermalukan di depan Aoi dan Chloe! Sekarang, apa lagi?! Apalagi?! Luka yang kuterima ini gratis bagi yang melukaiku. Tapi, menyembuhkannya tidak gratis..." Jacqueline tersungkur dan menangis keras. Air matanya menetes deras.
Ia masih meremas kain jaketnya. Menyakitkan! Memalukan! Lelah! Semua itu ia hadapi seorang diri. Saat setahun tidak bertemu Aoi dan Chloe, Jacqueline merasakan frustasi berat dalam kepalanya. Faktornya banyak. Karena tugas kuliah, keluarganya, kesepian, dosen, guru, dan dirinya sekalipun.
Luka goresan ditangannya adalah bukti bahwa ia merasakan frustasi berkepanjangan tanpa ada obat yang bisa menenangkannya.
"Mereka harus membayarnya! Lukaku nggak gratis! Kalau berbicara tidak bisa menyelesaikan masalah maka..." Jacqueline menggantungkan kata-katanya ketika secara tidak sengaja, menatap cakaran Devil Mask yang masih bersamanya.
"Kekerasan."
TRANG!
Devil Mask membanting cakarannya dengan keras di atas tongkat Dark Shadow yang rapuh. Dark Shadow kewalahan sekali memghadapi Devil Mask yang sudah tersulut emosi saat ini. Remaja bertopeng itu memang tidak diketahui jelas raut wajahnya. Tapi, setiap pergerakannya bisa menjelaskan bagaimana perasaannya.
Sementara itu, Ibu Gunez terduduk lemas dengan wajah pucat. Ia memandang penuh ketidakpercayaan akan kenyataannya kali ini. Sepasang remaja bertarung di udara? Yang benar saja?
"Aku cuma bermimpi kan?" gumamnya merinding.
Setelah membanting cakaran, Devil Mask menendang wajah Dark Shadow hingga remaja itu menghantam keras tanah lapangan di bawahnya.
Dark Shadow terjatuh tepat di samping wanita itu. Alih-alih sekarat menahan rasa sakit, Dark Shadow mengambil kesempatan untuk menyapa wanita yang syok itu.
"Ah, hai Nona Eve! Maaf membuatmu menunggu. Jangan khawatir, aku pastikan pekerjaan ini selesai dan kita bisa makan malam ber..."
BUAK!
Entah dari mana, Devil Mask tiba-tiba muncul dan menendang kembali wajah Dark Shadow sampai mengundang jeritan keras dari Eve (Ibu Gunez).
"Astaga! Kalian! Hentikan pertarungan kalian! Kalian sudah kelewatan!" jeritnya.
Namun, Devil Mask tetap mengabaikannya dan fokus menghajar Dark Shadow. Seperti yang ia katakan, "kekerasan".
Dia menggunakan kemampuannya yaitu meningkatkan dan menurunkan kekerasan suatu benda atau serangan yang ia berikan.
Seperti saat menendang wajah Dark Shadow tadi, Devil Mask meningkatkan kekerasan ujung sepatunya hingga nyaris seperti berlian yang keras dan mahal.
"Hei! Cukup!" Eve berlari dan menengahi kedua Aura itu. "Ini bukan dunia kalian. Tolong jangan ganggu kami lagi! Kalau kalian punya masalah, jangan libatkan orang lain. Kami juga punya masalah sendiri." Tegasnya.
"Cih!" Devil Mask berdecak sebal. Akan tetapi, ia tidak bisa melawan perkataan Eve. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghentikan pertarungannya.
Eve menatap Devil Mask lalu menghela nafas. "Aku sudah aman kok. Terima kasih udah membebaskanku dari pria itu. Aku memang agak kaget, tapi percayalah. Aku tidak akan memberitahu hal ini pada semua orang. Tapi, aku tegaskan... Kalian segera pergi dari dunia kami. Selesaikan masalah kalian sendiri di dunia kalian dan jangan libatkan kami." Ungkap Eve dengan suara yang lembut.
Mendengar ucapan Eve, Devil Mask dan Dark Shadow hanya bisa terdiam. Di saat itu, Devil Mask sempat menangkap wajah Dark Shadow yang diwarnai rasa bersalah.
__ADS_1
Aku nggak paham. Kenapa semua ini bisa terjadi?
"Menunduklah, Eve..." Ucap Devil Mask lirih.
"Hmmm? Kenapa?"
"Kubilang menunduk!" Devil Mask segera menarik Eve dalam dekapannya dan menunduk menghindari ayunan pasak dari Dark Shadow.
"Kau ada benarnya juga Nona Eve. Tapi! Aku sangat membutuhkanmu! Aku butuh emosi dan mempelajari warna duniamu! Jahat sekali kau langsung mengusir kami! Kau pikir duniamu ini cuma milikmu, HA?"
Dark Shadow akhirnya terbawa emosinya sendiri.
Devil Mask menepuk jidatnya. "Sudah kubilang, bukan? Setiap orang punya perbedaan masing-masing. Kalau hanya berbicara, orang seperti dia nggak bakal dengerin. Makanya, akan kugunakan kekerasan." Jelas Devil Mask pada Eve.
"Pergilah! Urusanmu sudah selesai dengan dia. Gunez baik-baik saja."
Eve tersenyum. "Setelah kulihat-lihat... Kalian berdua juga berbeda. Genggamlah tanganku." Pinta Eve yang dituruti Devil Mask.
Ia menggenggam tangan Eve meskipun terdapat keraguan di dalamnya. Ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Eve, Devil Mask terkejut. Dari telapak tangan itu, ia bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang luar biasa dari seorang Eve.
"Kekerasan itu tidak baik, lo. Meskipun dengan bicara saja tidak akan membuahkan hasil, aku kalau jadi kau memilih untuk diam dan mengabaikannya. Perlahan menjauh dari sesuatu yang membuat dirimu merasa tidak aman." Ucapnya.
Tak hanya kehangatan, Devil Mask juga mendapati hal dirinya sembuh dari luka yang Dark Shadow sebabkan.
"Apa ini? Padahal dia hanya manusia biasa tapi... Kenapa lukaku bisa sembuh dengan cepat?"
Eve terkekeh. "Pergilah! Selesaikan masalah kalian dulu. Aku tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik."
"Baik!" Setelah mendapatkan obat dari Eve, semangat Devil Mask kembali membara mengalahkan suhu dingin malam itu. Tampaknya, keberuntungan berpihak padanya.
Akan kukalahkan dia setelah itu, kita makan malam sama-sama!
Ia membangkitkan cakaran di tangannta dan maju dengan kecepatan penuh. Dark Shadow yang melihat perlakuan lembut dari Eve pada Devil Mask merasa iri.
"Nggak adil!" Ia menusukkan pasak ke tanah disusul dengan lima belas pasak yang keluar dari bayangan milik Eve. Kelima belas pasak itu bergerak cepat dan hendak menusuk Eve dari belakang.
TUK!
Eve menyipitkan matanya mengira bahwa pasak itu berhasil melukainya. Tapi ternyata, tidak pada kenyataannya.
"Begitu ya? Jadi itu kekuatan aslimu, Devil Mask?"
BUAK!
Dark Shadow menendang, Devil Mask menahan serangannya dengan lengannya.
"Aura!"
Tidak disangka-sangka, Black Aura muncul dibelakang Dark Shadow dengan Gunez yang masih berpegang dengannya. Bersama pedang kesayangannya, Black Aura menebas punggung Dark Shadow tanpa ampun hingga Aura itu mengerang kesakitan.
"Bagus! Disegel mati aja, Black Aura!" teriak Jacqueline bersemangat di belakangnya.
Devil Mask terbelalak senang menanggapi kehadiran Jacqueline yang tidak terduganya itu.
"Jacqueline!" serunya senang.
Merasa namanya dipanggil, Jacqueline menoleh cepat pada sumber suara dan tersenyum lembut. Perasaannya yang sebelumnya kacau, telah terobati saat bersama Black Aura. Saling berbagi satu sama lain sampai akhirnya berada di lapangan tempat Devil Mask bertarung.
Kembali pada Black Aura. Setelah menghajar Dark Shadow, Black Aura menggunakan segel yang tertulis di pedangnya. Kemudian, ia tusuk Dark Shadow hingga Aura itu benar-benar menghilang.
Black Aura bangun dari duduknya diiringi dengan helaan nafas miliknya. Ia pun berbalik dan menghampiri Devil Mask juga lainnya.
"Ayo, pulang." Ajaknya.
"Tu-tunggu. Kalian ini sebenarnya apa? Bagaimana bisa manusia seperti kalian..."
__ADS_1
"Mereka bukan manusia, bu. Mereka ini Aura. Dari dunia lain dan tak sengaja ke sini. Sebenarnya, ini adalah rahasia. Jadi, tolong rahasiakan." Sela Jacqueline lembut.
Eve yang pucat itu mencoba menenangkan diri. Sembari menggendong Gunez yang Black Aura berikan padanya dan mengucapkan "terima kasih."
"Jadi begitu ya...? Hahaha, aku agak aneh saja dengan dunia ini. Belum lama ini, aku banyak menemukan orang berperilaku aneh di sekitarku. Yah, selama mereka tidak membahayakan nyawa anakku, aku biarkan saja." Jelas Eve.
"Luka kalian parah. Mau kuobati? Kebetulan, rumahku dekat dari sini." Tawar Eve.
"Ah, nggak papa, Bu Eve. Mereka ini pria yang tangguh! Luka seperti ini bagi mereka kecil." Tolak Jacqueline tersipu malu.
Kurang aja...
Batin Devil Mask sambil mengepalkan tangannya.
"Begitu ya... Yah, setidaknya... Kami selamat dan tidak ada lagi yang menggangguku. Gunez bilang padaku, kalau sifatku belakang ini semakin aneh. Aku tidak sadar dan seolah aku tertidur tanpa sebab. Saat aku terbangun, barulah aku merasakan perbedaan pada diriku."
"Perbedaan? Seperti apa?" tanya Devil Mask menelengkan kepalanya.
"Mungkin sejak Dark Shadow...? Sejak dia memasuki tubuhku, aku mendadak jadi kutu buku. Sehari-hari, aku hanya membaca novel dan aku pernah membaca diariku tentang isi hatimu terhadap suamiku. Itulah yang Gunez katakan. Tapi, kegiatan seperti memasak dan bersih-bersih rumah tetap kujalankan." Tambahnya.
Jacqueline dan kedua Aura itu cukup kaget mengetahui yang Dark Shadow lakukan selama ini. Dia sudah profesional dalam menguasai tubuh dan bahkan kegiatan sehari-hari Eve.
"Ah! Aku baru ingat! Saat aku tertidur, aku sempat melihat kalau tanganku seakan memudar namun tidak terlalu kuat untuk menghilang. Saat aku mendongak ke atas, aku kaget melihat portal yang terbuka lebar di atasku. Aku melihat dunia monoton yang terbalik menurutku. Disana, ada banyak sekali makhluk seperti kalian.
"Senjatanya beragam dan... Ada sepasang kekasih disana. Mereka melihatku dan memberiku isyarat seperti "minta tolong". Apa mungkin, mereka manusia yang nggak sengaja terjebak disana?" ungkap Eve panjang lebar. Sepanjang itu, tapi dia merasa sangat menikmatinya.
"Manusia? Dulu pernah ada manusia tinggal di tempat kami. Ibu kami, Midnight dan adiknya, Carmine." Balas Black Aura.
"Wah? Jadi pernah ada ya, manusia yang berpetualang ke dimensi lain? Aneh sih..."
"Tapi, sekarang... Ibu kami menghilang tanpa jejak disini dan adiknya sudah lama meninggal. Sebenarnya ada banyak yang membuat kami bingung belakangan ini. Makanya, kami harus menemukan ibu kami terlebih dahulu." Timpal Devil Maks.
"Oh, jadi itulah alasan kalian kesini?"
Black Aura dan Devil Mask mengangguk.
"Tunggu dulu! Barusan kalian bilang, 'Carmine'? Aneh! dua minggu yang lalu, aku selalu memimpikan gadis bernama Carmine." Sambar Jacqueline setelah mendapatkan ingatannya kembali.
"Chloe juga." Black Aura membalas.
"Nanti aja kita bahas gadis itu! Sebaiknya, Ibu Eve harus diantar pulang." Devil Mask akhirnya mengalihkan perhatian mereka dan berjalan menghampiri Eve. Gunez sudah tertidur dalam pelukannya.
"Ah, iya! Aku sampai lupa sama kalian. Ayo!"
Mereka berempat segera meninggalkan sekolah. Jangan lupakan malam yang semakin larut dan merendah suhunya. Kaki mereka yang berjalan itu serasa menggigil hebat dibuatnya.
"Ugh! Dinginnya!" celetuk Jacqueline.
"JACQUELINE!!!" suara teriakan dua orang muncul tepat di depannya. Tak jauh dari dirinya saat ini.
Jacqueline terbelalak senang. "Chloe! Aoi!" Gadis itu spontan berlari dan memeluk kedua sahabatnya.
"Kau nggak papa?" tanya Chloe cemas.
"Alah, nggak papa dia pun. Lihat, nggak ada luka sama sekali." Ledek Aoi yang dibalas dengan tamparan Jacqueline.
"Elu ya! Hahahaha! Kalian kangen akuh ya??"
"Aku sih, kangen." Chloe membalas terus terang. Akan tetapi, saat sepasang mata birunya mendapati sosok Black Aura yang berdiri jauh di depan sana, kakinya tanpa sadar berlari dan memeluk Aura itu.
Black Aura terkejut usai mendapatkan pelukan kuat dari Chloe. Pelukannya makin hari semakin erat.
"Kau lama sekali." Ucap Chloe lirih. Ia masih bertahan dengan pelukannya.
"Iya... Maaf membuatmu menunggu, Chloe."
__ADS_1
~