Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 91 {Season 2: Megawave}


__ADS_3

Di


suatu tempat di Carnater, terdengar suara peluru kosong serta tembakan yang


menggelegar di segala penjuru jembatan. Tak hanya tembakan, beberapa bola sihir


melayang-layang di udara dengan jumlah yang sulit sekali dihitung dengan kelima


jari manusia. Bola-bola sihir itu bergerak hanya dengan sekali ayunan tangan. Sedangkan


untuk menangkisnya dibutuhkan dua tangan.


Ethan


dan Midnight. Mereka berdua terjebak di dalam perangkap bola sihir Megawave.


Awalnya,


Midnight mengira cermin itu akan mengantarkannya langsung ke tempat dimana tiga


remaja itu berada. Akan tetapi, begitu kedua kaki mereka menyentuh tanah


Canater, saat itulah mereka dikejutkan oleh serangan bola sihir Megawave yang


main menyerang begitu saja. Tidak disangkanya, wilayah yang mereka datangi


bukanlah wilayah Asoka. Melainkan, wilayah gadis berambut merah. Untuk saat


ini, gadis berambut merah itu sedang tidak menguasai wilayah tersebut dan


digantikan oleh temannya. Ya, si pengguna bola sihir serta sniper jarak jauh


itu.


Sekarang,


Ethan bersembunyi sambil mengisi peluru pistolnya dengan terburu-buru. Sementara


itu, Midnight sibuk menangkis sembari menyerang balik serangan Megawave.


Sesekali,


peluru yang dimasukkan Ethan berjatuhan seiring rasa panik menyerang pikirannya


ditambah dengan rasa ketidakinginannya melihat Midnight yang harus menanggung


semua serangan Megawave tersebut. Mengingat Midnight yang meskipun rambutnya


dipotong pendek mirip laki-laki dan sering sekali mengecohkan mata perempuan


yang melintasi di sampingnya, tetap saja, dia seorang wanita yang memiliki


suara selembut hinata. Sebetulnya masih lebih lembut hinata ketimbang dirinya. Pokoknya,


Ethan merasa sudah semestinya bertanggung jawab melindungi Midnight hingga


akhir… Tunggu dulu! Jangan sekarang! Ethan masih mau hidup. Masih ada beberapa


mimpinya yang belum tercapai.


“Dunia


Carnater ini emang paling beda. Dimana-mana, orang disambut pakai salam,


senyuman… Lah ini! Pakai tembakan.” Cibir Ethan berusaha memberanikan dirinya


menatap ribuan bola sihir yang terus-menerus meluncur ke arah mereka. .


“Zaman


di dunia ini udah berubah. Kamu yang nggak tahu apa-apa mending diam aja deh.


Nggak usah banyak ngeluh! Toh, yang jadi pelindung bukan dirimu juga kok.”


cibir Midnight balik disela kesibukkannya menangkis ribuan bola sihir Megawave.


Karena muak menangkis terus, Midnight melempar boomerangnya jauh-jauh dan


menggantikannya dengan katana hitam pemberian Silentwave. Sayangnya, dorongan


tangan Midnight malah membuat boomerang itu terlempar semakin jauh. Bahkan,


ujung boomerang-nya tersebut tidak sampai melukai lengan kanan Megawave.


“Meleset


nggak tuh, boomerang-nya?” tanya Ethan menyipitkan kedua matanya, mencari


keberadaan boomerang yang kian memudar wujudnya termakan jarak. “Hmm… Meleset


kayaknya.” Gumam Ethan ragu.


Tanpa


Midnight sadari, salah satu peluru Megawave berhasil melukai lengan kanannya


hingga membuat wanita itu terkejut hingga nyaris saja membiarkan peluru yang


lain masuk ke zona setengah aman mereka.


“Ethan,


ayo lari!” Midnight menarik kerah kemaja Ethan sambil berusaha menghindari


serangan nonstop Megawave.


Akhirnya,


Midnight menemukan tempat yang aman dimana terdapat bongkahan batu besar dengan


tinggi kira-kira dua meter lebih yang kemungkinan besar bisa melindunginya dari


serangan Megawave. Meskipun Midnight tahu bahwa posisi Megawave saat ini berada


di udara dan memungkinnya untuk mengetahui dimana Midnight dan Ethan


bersembunyi saat ini.


Megawave


menemukannya. Tanpa bersuara, Aura itu mengeluarkan beberapa portal besar yang


disusul dengan ribuan bola sihir yang diarahkannya ke tempat yang acak.


“Mau


sampai kapan sembunyi terus?” lirih Megawave.


Midnight


tertegun ketika telinganya merespon suara Megawave yang semakin dingin itu.


Tidak ada yang berubah. Walaupun kenyataan Carnater sekarang sudah berubah,


sifat dingin Megawave masih sama seperti pertama kali Midnight bertemu


dengannya.


Cahaya


violet yang ditebarkan bola sihir Megawave menyilaukan mata Midnight. Idenya


habis dan Midnight tengah mencari cara agar bisa menahan serangan Aura


bertopeng visor itu.


Ethan


membeku memandang lengan Midnight yang terluka. Ethan panik. Tapi bingung harus


berbuat apa. Dari dunia nyata, Ethan sama sekali tidak membawa kotak berisikan


obat-obatan serta peralatan medis yang bisa membantu meringankan rasa sakit


dari luka yang mereka terima.


“Oi,


kenapa kau diam aja? Ethan?” Midnight mengeryit heran memandang pria di

__ADS_1


sampingnya membeku karena panik. Bukan main nih orang. Yang terluka siapa, yang


panik siapa?


“Yang


benar saja?! Ethan! Bangun! Astaga… Panik sih, panik. Tapi ya, nggak sampai


membeku juga kali! Lihat situasi juga dong!” Midnight menggoncang-goncang kuat


tubuh Ethan yang kaku.


“Ethan!


Bangun! Kalau situasinya aman, damai, dan tentram, keputusan ada di tanganmu.


Mau membeku dua abad sekalipun nggak masalah!”


“Ethan!


Bangun! Kalau kau mati, siapa yang jaga Elena?! Kita belum menemukan Elena lho!


Ethan!!”


Mau


sekeras apapun teriakannya, Ethan masih bergeming di tempat. Midnight pasrah


sebelum akhirnya memutuskan untuk diam beberapa saat sambil menahan emosinya


yang tak lama lagi akan meledak.


Darah


di lengan kanannya mengalir tanpa henti. Tapi untunglah, tidak ada rasa sakit


yang di luka tersebut. Perlu diingatkan terutama untuk Ethan. Meskipun


kemampuan bertarung Midnight bisa dikatakan sadis sama halnya dengan Black


Aura, tetap saja wanita itu bukanlah Aura melainkan manusia yang kesabarannya


itu terbatas. Karena Ethan masih belum sadar juga, Midnight putuskan untuk


melayangkan sebuah tamparan kerasnya tepat di pipi kanan Ethan hingga membuat


pria melonjak kaget.


“BANGUN!”


seru Midnight kesal.


“Eh?


I-iya... Sorry, aku panik habisnya…” ujar Ethan dengan polosnya.


“Paniknya


nanti aja! Yang terpenting, bantu aku kalahin dia!” tunjuk Midnight semakin tak


sabaran menanggapi wajah polos Ethan.


“Biar


kuperjelas ya! Aura ini namanya Megawave. Dia bukan type yang mudah sekali


ditipu. Kemampuan bertarungnya juga nggak main-main.” Jelas Midnight yang


sebenarnya panik.


“Uhm…


Oke. Lukamu nggak papa?”


“Nggak


papa.”


“Syukurlah…


Jangan mati dulu ya! Janjimu belum kau tepati lho.”


iya! Nggak usah dibilang juga aku tahu!” Midnight membuang wajahnya ke arah


lain. Bosan terus-menerus dengan ocehan Ethan yang menginginkan Midnight


menceritakan seluruh kisah hidupnya serta penyebab kenapa dirinya bisa terlibat


dengan perang fantasi ini.


“Ethan,


pistolmu udah ready, kan?”


“Udah


kok! Tinggal tarik pelatuknya dan… BOOM!”


“Oke.


Kalau kau belum tahu, sebenarnya kelemahan terbesar Aura adalah serangan


manusia. Baik itu menggunakan fisik atau senjata, serangan manusia itu mampu


melumpuhkan Aura. Kau boleh menyerangnya tapi jangan sampai membunuhnya. Dia


punya keluarga. Dia menyerang kita karena kita masuk ke teritorinya tanpa


izin.” Jelas Midnight diakhiri dengan senyumannya.


Ethan


tampaknya memahami penjelasan yang diutarakan Midnight padanya. Pria itu


terkekeh, sembari menggaruk tengkuknya. “Kalau boleh jujur… Sebenarnya kau yang


sekarang ini benar-benar memi…”


“Lawan


dia!” potong Midnight jutek. Jari telunjuknya mengarah ke Megawave yang masih


melayang di sana. Mumpung Aura itu sedang malas bergerak, Midnight meminta


Ethan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada demi mengalahkan Aura bertopeng


visor itu. “Jangan main-main dengannya! Megawave itu punya kekuatan portal. Dia


bisa membuka portal sesuka hatinya. Oleh karena itu, aku minta kau dengarkan


semua penjelasanku. Setelah itu, kau boleh menghajarnya. Satu syarat, jangan


sampai membunuhnya! Paham?”


“Paham.


Lalu? Kau bakal ngapain?”


Midnight


tersenyum tipis menanggapi pertanyaan juga raut khawatir Ethan padanya.


“Bertarung dengamu.” Katanya.


Seketika,


wajah Ethan langsung memerah usai mendengar suara lembut nan halus dari sahabat


berkacamatanya itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya Ethan menaruh hati pada


Midnight. Hanya saja, Ethan takut ingin mengungkapkan perasaannya pada


Midnight. Apalagi mengingat Midnight yang katanya sudah bersuami namun suaminya


tersebut sudah lama meninggal. Entah apa penyebabnya tapi Ethan ingin


mengetahui seperti apa sifat mendiang suaminya tersebut. Memang tidak sekarang.


Suatu saat setelah semua masalah ini berakhir.

__ADS_1


Aku


nggak menyangka, Yoru yang aku kenal bisa berubah hingga sejauh ini.


Dilihat


dari posisi berdiri dan kedua tangan yang dikepal, Midnight kelihatannya sudah


membulatkan tekadnya untuk bertarung.


“Silentwave…”


lirihnya disertai senyuma seringai lebarnya.


Saat


itulah, Silentwave muncul di depan Midnight dengan panah busur besar di genggamannya.


Aura itu mengarahkan lima belas panahnya ke atas dengan sasarannya adalah


Megawave.


“Hai,


musuh lama…” Silentwave melepaskan panahnya, membiarkan mereka meluncur dengan


bebas sembari mengeluarkan panah yang lain.


“Aku


mengandalkanmu, Silentwave…” ucap Midnight usai dua kali tepukan di pundak


Silentwave. Setelah itu, Midnight memejamkan kedua matanya. Wanita itu


membiarkan Silentwave dan Ethan meyerang sesuka hati mereka asalkan tidak


membunuh Megawave saja. Sebab, ada banyak pertanyaan yang ingin Midnight


tumpahkan langsung padanya.


“Siip!


Dengan begini, semuanya akan beres!” seru Ethan bersemangat seraya membalikkan


badannya, kemudian menarik pelatuk pistolnya.


Tiga


lawan satu. Dipandangan Midnight rasanya terlihat curang. Namun, karena


perbedaan spesies dan juga fakta bahwa mereka ini manusia, Midnight jadi


memaklumi hal tersebut. Selagi naitnya bukan membunuh melainkan, ingin mewawancarai


Megwave.


“Megawave…”


Mendadak,


Midnight merasa dunia di sekitarnya berhenti ketika seluruh pandangannya


tertuju penuh pada Megawave yang saat ini sedang menyerang balik serangan


Silentwave dan Ethan. Aura bertopeng visor dengan syal yang melayang di


belakang lehernya terlihat berkarisma di mata Midnight. Terkadang, Midnight


secara tidak sengaja menaruh hati pada Aura itu meski dirinya sudah berjanji


untuk tidak menyukai pria lain selain suaminya. Suara dentuman, peluru,


ledakan, semuanya lenyap dalam dinding lamunan Midnight yang kuat.


Aura


itu sama sekali tak bersalah. Sejak awal, Megwave adalah Aura yang baik. Dia


juga salah satu Aura yang selama ini menjaga adiknya.


Sekarang,


perang yang dibawa Legend Aura ke dunia Carnater telah menghapus segela


kenangan indah yang dirangkai ketiga gadis SMA itu bersama Aura-aura


kesayangannya. Kenangan yang tidak semua anak bisa mengalaminya. Tiga sahabat


dengan hobi dan masalah yang berbeda.


“Benar


juga ya… Hubungan kalian sudah lama terputus. Kira-kira, kawan-kawanmu yang


lain gimana kabarnya, ya? Apa mereka semua baik-baik saja?”  Dalam hatinya, Midnight berbicara. Hatinya bergetar hanya dengan


memandang Megawave dari kejauhan. Midnight tersenyum getir. Pemandangan penuh


kekacauan itu terlihat kabur karena air mata.


Dalam


diam, Midnight menangis. Kepalanya tertunduk dengan wajah yang ditutupi kedua


tangannya.


Midnight


merasakan sesak dan lehernya tercekik setiap kali berusaha menahan suara isak


tangisnya agar tidak diketahui Ethan dan Silentwave.


Hitam.


Sebab Midnight memejamkan kedua matanya.


Gelapnya


warna hitam itu dengan lembut memperlihatkan beberapa potong ingatan Midnight


yang nyaris saja pudar dari benaknya. Wanita itu seakan dibawa kembali ke masa


lalu yang membahagiakan. Masa-masa dimana dirinya yang saat itu berprofesi


sebagai guru di salah satu SMA Jepang dan sempat menjadi wali kelas di kelas 12.


Selain mengajar, saat itu Midnight juga diam-diam mengawasi salah satu murid di


kelasnya. Seorang gadis berambut pendek ikal kemerahan. Gadis itu mengenakan


kacamata bulat sama sepertinya.


“Afra…”


Midnight


mengusap air matanya di sudut matanya. Tidak, bukan saatnya untuk bersedih!


Masa


lalu hanya akan menjadi penganggu bagi Midnight. Karena itulah… Yang namanya


masa lalu, biarlah berlalu.


Baik


indah maupun pahit, sekiranya masa lalu itu menghambatnya untuk bergerak,


Midnight sebisa mungkin meninggalkannya tanpa lupa mengucapkan selamat tinggal


padanya.


Afra,


kalau semua masalah ini sudah selesai, kakak janji akan menemanimu berlibur ke


Amerika…


~

__ADS_1


__ADS_2