
Di
suatu tempat di Carnater, terdengar suara peluru kosong serta tembakan yang
menggelegar di segala penjuru jembatan. Tak hanya tembakan, beberapa bola sihir
melayang-layang di udara dengan jumlah yang sulit sekali dihitung dengan kelima
jari manusia. Bola-bola sihir itu bergerak hanya dengan sekali ayunan tangan. Sedangkan
untuk menangkisnya dibutuhkan dua tangan.
Ethan
dan Midnight. Mereka berdua terjebak di dalam perangkap bola sihir Megawave.
Awalnya,
Midnight mengira cermin itu akan mengantarkannya langsung ke tempat dimana tiga
remaja itu berada. Akan tetapi, begitu kedua kaki mereka menyentuh tanah
Canater, saat itulah mereka dikejutkan oleh serangan bola sihir Megawave yang
main menyerang begitu saja. Tidak disangkanya, wilayah yang mereka datangi
bukanlah wilayah Asoka. Melainkan, wilayah gadis berambut merah. Untuk saat
ini, gadis berambut merah itu sedang tidak menguasai wilayah tersebut dan
digantikan oleh temannya. Ya, si pengguna bola sihir serta sniper jarak jauh
itu.
Sekarang,
Ethan bersembunyi sambil mengisi peluru pistolnya dengan terburu-buru. Sementara
itu, Midnight sibuk menangkis sembari menyerang balik serangan Megawave.
Sesekali,
peluru yang dimasukkan Ethan berjatuhan seiring rasa panik menyerang pikirannya
ditambah dengan rasa ketidakinginannya melihat Midnight yang harus menanggung
semua serangan Megawave tersebut. Mengingat Midnight yang meskipun rambutnya
dipotong pendek mirip laki-laki dan sering sekali mengecohkan mata perempuan
yang melintasi di sampingnya, tetap saja, dia seorang wanita yang memiliki
suara selembut hinata. Sebetulnya masih lebih lembut hinata ketimbang dirinya. Pokoknya,
Ethan merasa sudah semestinya bertanggung jawab melindungi Midnight hingga
akhir… Tunggu dulu! Jangan sekarang! Ethan masih mau hidup. Masih ada beberapa
mimpinya yang belum tercapai.
“Dunia
Carnater ini emang paling beda. Dimana-mana, orang disambut pakai salam,
senyuman… Lah ini! Pakai tembakan.” Cibir Ethan berusaha memberanikan dirinya
menatap ribuan bola sihir yang terus-menerus meluncur ke arah mereka. .
“Zaman
di dunia ini udah berubah. Kamu yang nggak tahu apa-apa mending diam aja deh.
Nggak usah banyak ngeluh! Toh, yang jadi pelindung bukan dirimu juga kok.”
cibir Midnight balik disela kesibukkannya menangkis ribuan bola sihir Megawave.
Karena muak menangkis terus, Midnight melempar boomerangnya jauh-jauh dan
menggantikannya dengan katana hitam pemberian Silentwave. Sayangnya, dorongan
tangan Midnight malah membuat boomerang itu terlempar semakin jauh. Bahkan,
ujung boomerang-nya tersebut tidak sampai melukai lengan kanan Megawave.
“Meleset
nggak tuh, boomerang-nya?” tanya Ethan menyipitkan kedua matanya, mencari
keberadaan boomerang yang kian memudar wujudnya termakan jarak. “Hmm… Meleset
kayaknya.” Gumam Ethan ragu.
Tanpa
Midnight sadari, salah satu peluru Megawave berhasil melukai lengan kanannya
hingga membuat wanita itu terkejut hingga nyaris saja membiarkan peluru yang
lain masuk ke zona setengah aman mereka.
“Ethan,
ayo lari!” Midnight menarik kerah kemaja Ethan sambil berusaha menghindari
serangan nonstop Megawave.
Akhirnya,
Midnight menemukan tempat yang aman dimana terdapat bongkahan batu besar dengan
tinggi kira-kira dua meter lebih yang kemungkinan besar bisa melindunginya dari
serangan Megawave. Meskipun Midnight tahu bahwa posisi Megawave saat ini berada
di udara dan memungkinnya untuk mengetahui dimana Midnight dan Ethan
bersembunyi saat ini.
Megawave
menemukannya. Tanpa bersuara, Aura itu mengeluarkan beberapa portal besar yang
disusul dengan ribuan bola sihir yang diarahkannya ke tempat yang acak.
“Mau
sampai kapan sembunyi terus?” lirih Megawave.
Midnight
tertegun ketika telinganya merespon suara Megawave yang semakin dingin itu.
Tidak ada yang berubah. Walaupun kenyataan Carnater sekarang sudah berubah,
sifat dingin Megawave masih sama seperti pertama kali Midnight bertemu
dengannya.
Cahaya
violet yang ditebarkan bola sihir Megawave menyilaukan mata Midnight. Idenya
habis dan Midnight tengah mencari cara agar bisa menahan serangan Aura
bertopeng visor itu.
Ethan
membeku memandang lengan Midnight yang terluka. Ethan panik. Tapi bingung harus
berbuat apa. Dari dunia nyata, Ethan sama sekali tidak membawa kotak berisikan
obat-obatan serta peralatan medis yang bisa membantu meringankan rasa sakit
dari luka yang mereka terima.
“Oi,
kenapa kau diam aja? Ethan?” Midnight mengeryit heran memandang pria di
__ADS_1
sampingnya membeku karena panik. Bukan main nih orang. Yang terluka siapa, yang
panik siapa?
“Yang
benar saja?! Ethan! Bangun! Astaga… Panik sih, panik. Tapi ya, nggak sampai
membeku juga kali! Lihat situasi juga dong!” Midnight menggoncang-goncang kuat
tubuh Ethan yang kaku.
“Ethan!
Bangun! Kalau situasinya aman, damai, dan tentram, keputusan ada di tanganmu.
Mau membeku dua abad sekalipun nggak masalah!”
“Ethan!
Bangun! Kalau kau mati, siapa yang jaga Elena?! Kita belum menemukan Elena lho!
Ethan!!”
Mau
sekeras apapun teriakannya, Ethan masih bergeming di tempat. Midnight pasrah
sebelum akhirnya memutuskan untuk diam beberapa saat sambil menahan emosinya
yang tak lama lagi akan meledak.
Darah
di lengan kanannya mengalir tanpa henti. Tapi untunglah, tidak ada rasa sakit
yang di luka tersebut. Perlu diingatkan terutama untuk Ethan. Meskipun
kemampuan bertarung Midnight bisa dikatakan sadis sama halnya dengan Black
Aura, tetap saja wanita itu bukanlah Aura melainkan manusia yang kesabarannya
itu terbatas. Karena Ethan masih belum sadar juga, Midnight putuskan untuk
melayangkan sebuah tamparan kerasnya tepat di pipi kanan Ethan hingga membuat
pria melonjak kaget.
“BANGUN!”
seru Midnight kesal.
“Eh?
I-iya... Sorry, aku panik habisnya…” ujar Ethan dengan polosnya.
“Paniknya
nanti aja! Yang terpenting, bantu aku kalahin dia!” tunjuk Midnight semakin tak
sabaran menanggapi wajah polos Ethan.
“Biar
kuperjelas ya! Aura ini namanya Megawave. Dia bukan type yang mudah sekali
ditipu. Kemampuan bertarungnya juga nggak main-main.” Jelas Midnight yang
sebenarnya panik.
“Uhm…
Oke. Lukamu nggak papa?”
“Nggak
papa.”
“Syukurlah…
Jangan mati dulu ya! Janjimu belum kau tepati lho.”
iya! Nggak usah dibilang juga aku tahu!” Midnight membuang wajahnya ke arah
lain. Bosan terus-menerus dengan ocehan Ethan yang menginginkan Midnight
menceritakan seluruh kisah hidupnya serta penyebab kenapa dirinya bisa terlibat
dengan perang fantasi ini.
“Ethan,
pistolmu udah ready, kan?”
“Udah
kok! Tinggal tarik pelatuknya dan… BOOM!”
“Oke.
Kalau kau belum tahu, sebenarnya kelemahan terbesar Aura adalah serangan
manusia. Baik itu menggunakan fisik atau senjata, serangan manusia itu mampu
melumpuhkan Aura. Kau boleh menyerangnya tapi jangan sampai membunuhnya. Dia
punya keluarga. Dia menyerang kita karena kita masuk ke teritorinya tanpa
izin.” Jelas Midnight diakhiri dengan senyumannya.
Ethan
tampaknya memahami penjelasan yang diutarakan Midnight padanya. Pria itu
terkekeh, sembari menggaruk tengkuknya. “Kalau boleh jujur… Sebenarnya kau yang
sekarang ini benar-benar memi…”
“Lawan
dia!” potong Midnight jutek. Jari telunjuknya mengarah ke Megawave yang masih
melayang di sana. Mumpung Aura itu sedang malas bergerak, Midnight meminta
Ethan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada demi mengalahkan Aura bertopeng
visor itu. “Jangan main-main dengannya! Megawave itu punya kekuatan portal. Dia
bisa membuka portal sesuka hatinya. Oleh karena itu, aku minta kau dengarkan
semua penjelasanku. Setelah itu, kau boleh menghajarnya. Satu syarat, jangan
sampai membunuhnya! Paham?”
“Paham.
Lalu? Kau bakal ngapain?”
Midnight
tersenyum tipis menanggapi pertanyaan juga raut khawatir Ethan padanya.
“Bertarung dengamu.” Katanya.
Seketika,
wajah Ethan langsung memerah usai mendengar suara lembut nan halus dari sahabat
berkacamatanya itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya Ethan menaruh hati pada
Midnight. Hanya saja, Ethan takut ingin mengungkapkan perasaannya pada
Midnight. Apalagi mengingat Midnight yang katanya sudah bersuami namun suaminya
tersebut sudah lama meninggal. Entah apa penyebabnya tapi Ethan ingin
mengetahui seperti apa sifat mendiang suaminya tersebut. Memang tidak sekarang.
Suatu saat setelah semua masalah ini berakhir.
__ADS_1
Aku
nggak menyangka, Yoru yang aku kenal bisa berubah hingga sejauh ini.
Dilihat
dari posisi berdiri dan kedua tangan yang dikepal, Midnight kelihatannya sudah
membulatkan tekadnya untuk bertarung.
“Silentwave…”
lirihnya disertai senyuma seringai lebarnya.
Saat
itulah, Silentwave muncul di depan Midnight dengan panah busur besar di genggamannya.
Aura itu mengarahkan lima belas panahnya ke atas dengan sasarannya adalah
Megawave.
“Hai,
musuh lama…” Silentwave melepaskan panahnya, membiarkan mereka meluncur dengan
bebas sembari mengeluarkan panah yang lain.
“Aku
mengandalkanmu, Silentwave…” ucap Midnight usai dua kali tepukan di pundak
Silentwave. Setelah itu, Midnight memejamkan kedua matanya. Wanita itu
membiarkan Silentwave dan Ethan meyerang sesuka hati mereka asalkan tidak
membunuh Megawave saja. Sebab, ada banyak pertanyaan yang ingin Midnight
tumpahkan langsung padanya.
“Siip!
Dengan begini, semuanya akan beres!” seru Ethan bersemangat seraya membalikkan
badannya, kemudian menarik pelatuk pistolnya.
Tiga
lawan satu. Dipandangan Midnight rasanya terlihat curang. Namun, karena
perbedaan spesies dan juga fakta bahwa mereka ini manusia, Midnight jadi
memaklumi hal tersebut. Selagi naitnya bukan membunuh melainkan, ingin mewawancarai
Megwave.
“Megawave…”
Mendadak,
Midnight merasa dunia di sekitarnya berhenti ketika seluruh pandangannya
tertuju penuh pada Megawave yang saat ini sedang menyerang balik serangan
Silentwave dan Ethan. Aura bertopeng visor dengan syal yang melayang di
belakang lehernya terlihat berkarisma di mata Midnight. Terkadang, Midnight
secara tidak sengaja menaruh hati pada Aura itu meski dirinya sudah berjanji
untuk tidak menyukai pria lain selain suaminya. Suara dentuman, peluru,
ledakan, semuanya lenyap dalam dinding lamunan Midnight yang kuat.
Aura
itu sama sekali tak bersalah. Sejak awal, Megwave adalah Aura yang baik. Dia
juga salah satu Aura yang selama ini menjaga adiknya.
Sekarang,
perang yang dibawa Legend Aura ke dunia Carnater telah menghapus segela
kenangan indah yang dirangkai ketiga gadis SMA itu bersama Aura-aura
kesayangannya. Kenangan yang tidak semua anak bisa mengalaminya. Tiga sahabat
dengan hobi dan masalah yang berbeda.
“Benar
juga ya… Hubungan kalian sudah lama terputus. Kira-kira, kawan-kawanmu yang
lain gimana kabarnya, ya? Apa mereka semua baik-baik saja?” Dalam hatinya, Midnight berbicara. Hatinya bergetar hanya dengan
memandang Megawave dari kejauhan. Midnight tersenyum getir. Pemandangan penuh
kekacauan itu terlihat kabur karena air mata.
Dalam
diam, Midnight menangis. Kepalanya tertunduk dengan wajah yang ditutupi kedua
tangannya.
Midnight
merasakan sesak dan lehernya tercekik setiap kali berusaha menahan suara isak
tangisnya agar tidak diketahui Ethan dan Silentwave.
Hitam.
Sebab Midnight memejamkan kedua matanya.
Gelapnya
warna hitam itu dengan lembut memperlihatkan beberapa potong ingatan Midnight
yang nyaris saja pudar dari benaknya. Wanita itu seakan dibawa kembali ke masa
lalu yang membahagiakan. Masa-masa dimana dirinya yang saat itu berprofesi
sebagai guru di salah satu SMA Jepang dan sempat menjadi wali kelas di kelas 12.
Selain mengajar, saat itu Midnight juga diam-diam mengawasi salah satu murid di
kelasnya. Seorang gadis berambut pendek ikal kemerahan. Gadis itu mengenakan
kacamata bulat sama sepertinya.
“Afra…”
Midnight
mengusap air matanya di sudut matanya. Tidak, bukan saatnya untuk bersedih!
Masa
lalu hanya akan menjadi penganggu bagi Midnight. Karena itulah… Yang namanya
masa lalu, biarlah berlalu.
Baik
indah maupun pahit, sekiranya masa lalu itu menghambatnya untuk bergerak,
Midnight sebisa mungkin meninggalkannya tanpa lupa mengucapkan selamat tinggal
padanya.
Afra,
kalau semua masalah ini sudah selesai, kakak janji akan menemanimu berlibur ke
Amerika…
~
__ADS_1