
Sesuai rencana Black Aura, malam ini, saat salju sebagian besar berjatuhan dan menutupi permukaan tanah, para remaja itu berjalan pelan di sekitar perumahan yang tidak mereka ketahui namanya. Yang jelas, rumah-rumah yang mereka lihat itu pasti masih ada yang menempatinya.
Suhu di luar juga tidak seramah dari yang mereka bayangkan. Sangat dingin. Meskipun mantel yang dikenakan sudah cukup tebal untuk melindungi permukaan kulit dari suhu rendah tersebut.
"Tunggu dulu... Aku sepertinya mengenal jalan ini." Ucap Chloe menyadari kejanggalan yang sedari menyelimuti pikirannya. Sebelumnya, dia sudah mengajukan pertanyaan mengenai "kemana mereka akan pergi, nantinya?". Tapi, Black Aura hanya mengabaikannya.
"Wah, jangan bilang kalau kita bakal tersesat!" Jacqueline mulai panik.
"Huhu... Sebenarnya kita mau kemana, sih? Perutku udah lapar. Badanku kedinginan. Oi, Aura! Katakan pada kami kemana kita akan pergi?!" omel Yumizuka.
Black Aura hanya diam dan tetap berjalan.
Karena tidak ada jawaban dari Aura itu, mau tak mau mereka harus mengikuti langkahnya sambil mengernyitkan kening mereka masing-masing.
"Aduh... Jalan apa ini? Perumahan apa yang dari tadi kita lewati? Chloe... Coba tanya dia!" bisik Jacqueline pasrah pada Chloe.
Chloe berdecak sebal, "Black Aura... Cepat beritahu kami!"
"Nanti juga bakal tahu." Balas Black Aura setelahnya.
Lantas, Chloe langsung memasang wajah cemberut.
"Jangan cemberut gitu. Seenggaknya, kau metasa senang karena dia merespon omonganmu." Bisik Yumizuka.
"Haha... Iya juga ya!" Chloe membalas sambil terkekeh.
Tak lama kemudian, ada sesuatu yang dengan cepat menarik perhatian Chloe. Sesuatu yang keberadaannya tak jauh dari Chloe. Dia tumbuh tanpa identitas yang jelas dan menampung salju yang berjatuhan dari langit.
Yap! Dia bukan benda mati melainkan, pepohonan yang tumbuh di depan rumah orang. Dari semua rumah yang dia lihat, hanya ada satu rumah yang lampu terasnya menyala seorang diri sedangkan lampu di dalam ruangannya tidak menyala. Mungkin saja, si pemilik rumah pergi dan hanya menyalakan lampu teras.
"Cuma di tempat itulah kita bisa menyusun rencana tanpa harus ketahuan oleh musuh." Ujar Black Aura tiba-tiba mengejutkan keempat temannya.
Tampaknya, Black Aura ingin memancing ingatan seseorang yang di saat bersamaan, orang tersebut sedang berpikir, mencari jawaban dibalik kejanggalan yang menyelimuti pikirannya.
Selang beberapa menit kemudian, Chloe akhirnya mendapatkan jawaban melalui petunjuk yang ia dapatkan. Yaitu, rumah berpagar dan lampu teras yang menyala.
Akan tetapi, jawaban itu justru membuatnya mematung heran.
“Lah? Kenapa kita ke sini?”
Black Aura tersenyum singkat menanggapi pertanyaan yang Chloe lontarkan padanya.
Tak hanya Chloe saja yang terlihat bingung, Jacqueline dan kedua Aura yang berdiri di belakangnya juga terlihat heran mendapati tempat yang mereka datangi itu.
Black Aura tersenyum melihat reaksi teman-temannya.
"Itu karena, hanya di tempat inilah kita bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman. Kita juga bisa focus menyusun rencana kita tanpa harus diserang tiba-tiba oleh musuh.” Jawab Black Aura.
"Ha?" Mereka semua menganga serempak menanggapi jawaban Black Aura.
Setelah menempuh perjalanan secara diam-diam, akhirnya mereka menemukan tempat yang menurut Black Aura adalah tempat yang aman. Tempat itu sangat jauh dari keramaian. Tempat yang beberapa hari yang lalu ditinggal sebentar oleh pemiliknya untuk mencari orang yang hilang untuk kedua kalinya. Tempat itu adalah…
“Ke rumahmu Chloe, dong?” Jacqueline memalingkan wajahnya pada Chloe yang sedari tadi berdiri heran meratapi kondisi rumahnya yang nyaris terlihat seperti rumah hantu. Sejak ditinggal pemiliknya, rumah itu jadi suram dan tak terawat.
“Jadi maksudmu, tempat di mana kita bertemu Aoi dan Midnight di rumahku?”
Black Aura mengangguk.
“Eh? Kenapa harus rumah Chloe? Kenapa nggak di rumah Jacqueline aja yang jauh dari keramaian?” protes Yumizuka langsung.
“Jacqueline tidak sendirian. Masih ada kemungkinan kalau ibu dan adiknya akan datang berkunjung.” Jelas Devil Mask.
"Tapi, bukannya aneh? Kenapa kita harus ke rumah Chloe sementara, Aoi dan ibu belum tentu ke sini?" Yumizuka menatap Black Aura curiga. "Pasti ada maksud lain dibalik rencanamu."
Black Aura tidak merespon kecuali memandang dingin pada Yumizuka.
“Tapi, bukankah ide bagus bersembunyi di rumah Chloe? Aku yakin, tidak satupun dari Legend Aura yang melintas di perumahan ini. ” Devil Mask berusaha meluruskan pikiran Yumizuka yang berbelok-belok entah kemana. Akan tetapi, gadis itu justru semakin penasaran dan curiga.
Cepat-cepat, Yumizuka menyangkal. "Nggak mungkin! Legend Aura itu lebih gila daripada kita. Mereka bisa saja menyamar jadi orang lain seperti berpura-pura menjadi tukang pengantar pizza."
__ADS_1
Black Aura berdecak sebal bersamaan dengan Devil Mask yang menepuk keningnya. Tidak akan ada habisnya berdebat dengan Yumizuka. Gadis itu akan terus memancing sampai dirinya
mendapat jawaban yang memuaskan.
Sementara itu, kedua gadis manusia yang berdiri dekat dengan mereka itu hanya melongo keheranan. Menonton Yumizuka dan Devil Mask yang berdebat sementara Black Aura yang mengusulkan ide itu hanya memandang sambil mendengarkan lagu.
“Ah... Kalian. Hentikan perdebatan ini. Kalau terus-terusan di luar rumah, kami yang manusia bisa sakit.” Ucap Jacqueline sembari memisahkan Devil Mask dan Yumizuka yang saling bertatapan tajam.
"Jadi, apa alasanmu, Black Aura?" Chloe bertanya pada akhirnya.
“AHA! Aku tahu alasannya!" Yumizuka tiba-tiba berseru usai menepuk tangannya satu kali.
"Apa?" Black Aura semakin dingin memandang Yumizuka.
Yumizuka menyeringai seakan jawaban yang baru saja terlintas di benaknya dapat membuat Black Aura malu.
"Alasan kenapa dia membawa kita ke sini adalah untuk membahagiakan Chloe, benar begitu Aura?” Yumizuka membuka kedua matanya dan memperlihatkan bola matanya berwarna hijau daun.
Black Aura menghela nafas singkat lalu bertanya pada Jacqueline yang otomatis terkejut.
"Kemarin dia makan apa?"
"Hmm... Kemarin dia makan kentang, sih. Woilah, mau sampai kapan kita di luar terus? Chloe! Cepat buka pintunya!" suruh Jacqueline setelah itu mengomel karena masalah dingin.
"Okelah kalau gitu. Aku buka pintu dulu, ya!" izin Chloe yang kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya untuk membuka pintu rumahnya yang terkunci.
Setelah Chloe meninggalkan mereka untuk sesaat, Black Aura tertegun mendapati sinyal yang baru saja terlintas di benaknya. Tak hanya dia, Devil Mask dan Yumizuka juga ikut merasakan sinyal itu.
"Sinyal apa ini?" celetuk Yumizuka dengan menyiapkan raut penuh kewaspadaan.
"Sinyal apa? Ponselku ada sinyalnya, kok." Ujar Jacqueline setelah memeriksa sinyal ponselnya.
"Sinyal berwarna biru." Devil Mask berusaha mendeskripsikan ciri-ciri sinyal tersebut.
"Hangat tapi dingin. Jangan-jangan..." Black Aura terdiam sejenak sebelum pada akhirnya berlari mencari sumber sinyal itu muncul.
"Hei, Black Aura! Mau kemana?!" teriak Chloe yang menyadari derap langkah Black Aura yang semakin menjauh.
"Kalian masuk aja, dulu!" seru Devil Mask tiba-tiba lalu berlari mengejar Black Aura.
Jacqueline terbelalak. Awalnya, dia berniat untuk menarik lengan Aura itu. Tapi apa daya, tangan kecilnya itu terlalu lambat untuk meraih Aura tersebut.
"Huft... Jadi, kita bagaimana?" Jacqueline menghela nafas melirik Yumizuka yang sudah tidak ada di sampingnya.
"Loh? Yumi? Astaga... Kalau udah di buka pintunya, bilang dong! Senyap-senyap aja kalian ini!" omel Jacqueline setelah melirik ke kiri dan kanan lalu menemukan pintu rumah Chloe yang telah terbuka lebar.
Pintunya saja yang terbuka, pemiliknya entah kemana perginya. Yah, karena tidak ada siapapun di sampingnya, Jacqueline memutuskan untuk melangkah masuk dan menghangatkan dirinya. Satu hari ini benar-benar melelahkan hanya untuk mencari satu orang yang hilang.
Jacqueline dalam hati mencemaskan Aoi. Dia khawatir jika sesuatu yang tak beres menghampiri pria itu. Dan lagi, dari semua laki-laki yang pernah ia jumpai, hanya Aoi saja yang mampu membuatnya luluh. Meskipun dirinya dan Aoi harus menggali sedalam mungkin fakta bahwa mereka telah menjalin hubungan sebagai seorang kekasih dari Chloe.
Jujur saja, Jacqueline tidak tahu apakah Chloe menyimpan perasaan yang sama terhadap Aoi atau tidak? Sampai saat ini, Jacqueline masih menyusun rencana sambil mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan rahasianya pada Chloe.
"Jacqueline?"
Panggilan Chloe yang polos itu sukses membuat Jacqueline tersadar dari lamunannya yang kosong tak berwarna. Cepat-cepat, Jacqueline melirik ke arah Chloe yang berdiri tak jauh darinya.
Ya, di dalam ruang tamu yang lumayan luas ini, hanya ada mereka berdua yang menghuninya. Masing-masing saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah dua katapun. Hingga pada akhirnya, Chloe-lah yang memutuskan untuk bersuara.dan mengajak Jacqueline ke ruang makan untuk makan malam.
"Jangan khawatir, Aoi kita pasti akan baik-baik saja." Ucap Chloe entah apa maksudnya. Tapi, yang Jacqueline pahami, gadis itu bemaksud ingin menghiburnya yang merasa cemas.
"Iya... Aku hanya... Ah, Chloe! Kau masak apa? Entah kenapa, aku lagi mau ngemil es krim." Balas Jacqueline yang diam-diam mengubah topik pembicaraan mereka.
Tampaknya, Chloe tidak menyadari kejanggalan tersebut. Seperti biasanya, dia merespon ucapan Jacqueline selagi dirinya bisa menjawab dan mengerti maksud omongan gadis itu.
"Sedingin ini mau makan es krim? Yang benar saja? Kau bilang tadi kedinginan."
"Nggak jadi... Mendadak, jadi mau es krim coklat. Yah, untuk meredakan perasaan cemas ini, aku harus memakan es krim agar kembali seperti semula."
"Begitu ya? Hmm..." Chloe tak lagi terlihat curiga.
__ADS_1
Karena tidak ada lagi yang mau dibicarakan, Chloe dan Jacqueline melanjutkan langkah mereka menuju dapur.
~
Dapur yang sudah lama ia tinggali itu kembali memancarkan getaran hangat saat Jacqueline menyalakan api kompor dan meletakkan Teflon di atasnya. Gadis berambut ungu itu dengan santai menuang beberapa adonan pan cake.
Chloe yang duduk mengawasi pergerakan sahabatnya dari meja makan, terheran. Hari sudah malam dan menu makanan yang akan mereka nikmati nanti adalah menu sarapan di pagi hari. Padahal sebelumnya, Jacqueline memintanya untuk membuatkan es krim moci. Akan tetapi, dia berubah pikiran dan mengubah seleranya menjadi pan cake.
Selain Jacqueline, ada Yumizuka bersama mereka. Aura itu tidak melakukan apa-apa. Sedari tadi hanya berkeliaran karena dikuasai oleh rasa ingin tahunya. Yah, mungkin karena baru pertama kalinya Yumi bertamu ke rumah Chloe.
“Wah… Buku ini tebal sekali.” Kata Yumizuka yang langsung menarik perhatian kedua remaja yang tengah sibuk dengan dunia mereka di dapur.
Jacqueline menelengkan kepalanya dan mematikan api kompor tersebut. Dia berjalan dengan raut penasaran menghampiri Yumi. Chloe yang awalnya malas akhirnya memutuskan untuk membuang sifat jelek tersebut.
“Ini novel buatan kakakku. Kau masuk ke kamarnya, ya?” tanya Chloe curiga.
Yumi menyengir lebar. Jelas sekali dia type orang yang sulit untuk berbohong. “Iya. Karena, kamarnya wangi sekali. Saat aku masuk, rupanya, buku-buku itu pengharumnya.” Jawab Yumi.
“Kakakmu? Lucas?” Jacqueline bergumam sambil memandang Chloe.
“Iya. Aku lupa, kau sudah bertemu dengannya atau belum.”
“Bu-bukan begitu. Entah kenapa, saat mendengar nama kakakmu… Aku merasa ada yang menggangguku.” Ungkap Jacqueline sambil menggosok-gosokkan tangannya. Entah apa maksudnya tapi, Chloe langsung memahami hal yang mengganggu Jacqueline.
Wajahnya berubah menjadi datar sama seperti Black Aura. "Madu."
"Madu?"
Chloe mengangguk setelah menyebut kata 'madu' yang langsung membuat Jacqeline dan Yumi bingung.
"Eh, nggak apa-apa, kok. Jacqueline, cepat selesaikan masak pan cake-nya. Aku udah lapar." Seakan baru saja mengucapkan sesuatu yang salah, Chloe tanpa pikir panjang mengubah topik pembicaraan mereka. Namun, Jacqueline masih tidak berkutik dan memginginkan penjelasan dari Chloe.
"Jangan ubah topik, Chloe. Jelaskan padaku apa maksudnya!"
"Ah, nggak... Aku tiba-tiba melamun."
Di saat bersamaan, Black Aura dan Devil Mask muncul. Mereka berdua terpaku pada suasana canggung yang ditebarkan ketiga gadis yang sedari tadi ada di dapur.
"Ada apa ini?" tanya Black Aura.
Chloe menggeleng seoalh tidak terjadi apa-apa. "Bukan apa-apa, kok."
Jacqueline menghela nafas. Akhirnya, dia kembali ke kegiatan memasaknya karena berpikir, Chloe belum sanggup menceritakan masalahnya padanya.
"Ayo, duduk! Pan cake-nya sebentar lagi siap." seru Jacqueline menyuruh mereka duduk seakan dirinya adalah ibu dari keempat teman-temannya.
Masing-masing menarik kursi makan mereka dan duduk. Suasana canggung tadi masih menyelimuti mereka hingga pan cake tersebut dihidangkan di atas meja.
Chloe mengernyitkan keningnya heran. Apa-apaan suasana ini?
"Kalian. Kenapa diam saja?" tanyanya.
"Sedang beradaptasi di lingkungan baru." Jawab Devil Mask seraya menuangkan sirup mapel di atas pan cake tersebut.
"Hmm... Jacqueline, kenapa wajahmu seperti itu?"
Pertanyaan Yumi sukses mengalihkan pandangan ketiga remaja yang hendak menyantap pan cake menjadi ke Jacqueline yang cemas.
"Kau mencemaskan Aoi?" Chloe meletakkan garpunya dan menyelimuti punggung tangan gadis itu dengan tangannya. "Aku juga." Tambahnya.
Gadis berambut ungu itu hanya tersenyum kecil tanpa memberi respon apapun. Dia hanya merasa sedikit tenang dengan kehangatan yang Chloe berikan. Akan tetapi, dibalik senyumannya itu ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Bukan. Aku..."
"Sudahlah, Jacqueline. Aku tahu kau mencemaskan Aoi. Namanya juga pacaran ya, wajarlah kalau kau mencemaskannya secara berlebihan." Yumizuka menyela cepat tanpa memikirkan ucapan Jacqueline.
Jacqueline terbelalak kaget. " Yumizuka!"
Aura itu hanya terkekeh sedangkan Chloe, gadis itu membeku di tempat sambil berusaha mencerna ucapan Yumizuka sebelumnya.
__ADS_1
"Eh? Kalian berdua pacaran? Kau dan Aoi?" tanya Chloe polos.