Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 18


__ADS_3

Derap langkah Chloe terhenti begitu bola matanya menemukan genangan darah biru dan hitam menggenang di penjuru jalan. Area pertokoan ini seolah tak bernyawa. Tidak ditemukan seorang pun yang berlalu lalang di sekitar toko-toko tersebut.


Chloe bertanya-tanya, "Dimana orang-orang ini? Ini cairan apa?".


Untuk menjawab pertanyaannya, Chloe maju beberapa langkah sampai kedua tapak sepatunya menginjak genangan kental berwarna hitam tersebut.


Amis. Cairan yang memiliki tekanan. Tiba-tiba, kedua matanya membulat sempurna menyambut cairan hitam ini tak lain adalah darah Black Aura.


"Ini.. Ini darah Black Aura!".


"Darah aura?" Morgan menyahuti.


Chloe mengangguk penuh keyakinan. "Cairan ini adalah darah mereka! Eh, Morgan!!! Apa yang kau lakukan?!".


"Buat story... Kenapa emang?" Tanya Morgan polos usai menjepret salah satu genangan darah berwarna biru.


Gemas akan tingkah Morgan, Chloe tanpa pikir panjang langsung merampas ponsel pria itu. "BUKAN SAATNYA MAIN HP!!".


"Biar semua orang tau kalau di negara kita ada kejadian kek gini." Bujuk Morgan dengan wajah memelasnya.


"GAK! Di saat seperti ini, bukan saatnya main medsos atau membatalkan suatu kejadian aneh. Orang-orang memang tak percaya kalau kejadian ini memang ada kalau kita ceritakan. Tapi jika kau sebar luaskan hanya akan jadi masalah besar! Percayalah!" Chloe berusaha sebisa mungkin menghentikan tindakan Morgan.


Mogran terdiam sejenak. Sebelum pada akhirnya, dilanjutkan dengan hembusan nafas beratnya.


"Fine... Fine... Aku bakal bahan diri sampai semuanya selesai. Jadi, apa yang harus kita lakukan disini?".


"Kita cari Black Aura!" tegas Chloe.


"Waahhh... Aku gak nyangka! Sekarang Udah Gak ada lagi 'kau' dan 'aku'! Sekarang hanya ada 'kita' berdua!!!" Ujar Morgan riang. Ia memejamkan kedua matanya saking sambil menggentak-hentakkan kedua kakinya senang.


Chloe menggeleng pening. Ia memilih untuk mengabaikan pria ini diserta ekspresi heran. Bahkan hal terkecil pun ia perhatikan juga ya...


"AWAS!!!" Jerit Morgan seraya menarik lengan Chloe demi menghindari pedang yang terlempar dengan kecepatan tinggi dan hendak melukai mereka.


BUK!


Mereka berdua terjatuh menghantan tanah. terbaring di atas tanah dengan Morgan yang kini memeluk erat tubuh Chloe. Sadar akan hal itu, Chloe spontan mendorong tubuh Morgan. Lalu bangun.


"Apa-apaan kau ini?!! Panggilan 'kita' masih belum cukup ya??!" bentak Chloe diiringi dengan hentakan kaki menahan rasa malu. Hampir seluruh wajahnya memerah padam.


"Eh? Jangan marah gitu dong! Kan niatku baik mau melindungi....".


Ketika sedang fokus dalam membela dirinya, sebuah sabit sempat melintas di tengah-tengah wajah kedua remaja tersebut. Otomatis, bola mata mereka teralih penuh pada sabit itu hingga ujungnya menancap di atap mobil.


Begitu tertancap, pundak mereka yang semula tenggang mengendur lega. Tak hanya lega, jantung mereka juga sempat dibuat berhenti sesaat.


"Sa-sabit??" celetuk Morgan ketakutan.


"Sabit hitam... Punya Black Aura kah?".


Entah dari mana asalnya, sebuah truk ikut terlempar mengarah mereka.


"Lari!!!" Jerit Chloe. Gadis itu sampai refleks menarik lengan Morgan demi menghindari bahaya yang kini menguji mereka.


Sebelum ajal menimpa mereka, Black Aura dengan kemampuan teleportasinya, segera mengambil sabitnya yang tertancap dalam diam di atap mobil. Kemudian berlari menghampiri pasangan remaja yang berlari ketakutan.


Kini Black Aura mengambil posisi Tepat di belakang pasangan remaja itu. Tanpa pikir panjang langsung menebas truk tersebut hingga terbelah menjadi dua bagian. Tak lupa, ia mengaktifkan kemampuan mata penghancurnya dan menghancurkan truk tersebut menjadi ribuan bahkan ratusan kepingan kecil.

__ADS_1


Sadar akan ada yang berbeda dari suasananya, Chloe memutar badannya 360° mengarah pada sosok Black Aura yang sekarang berdiri tegap tak jauh dari dirinya.


"Black Aura!" Serunya penuh syukur diiringi dengan beberapa langkah kaki yang menuntunnya menuju teman Auranya.


Saking senangnya, gadis itu melompat dan memeluk erat Black Aura.


"Black Aura!! Akhirnya aku menemukanmu!!" Chloe terharu usai menemukan sosok yang padahal baru beberapa menit yang lalu berpisah. Ia tak segan-segan mengeratkan pelukannya sehingga membuat nafas Black Aura menjadi sesak.


Dari jauh, Morgan hanya memandang datar seraya menghampiri kedua pasangan yang tengah bermesraan itu.


"Jadi ini yang kau maksud, 'Black Aura'?" tanyanya santai.


Lantas, Black Aura langsung mengalihkan pandangannya pada Morgan. Seperti biasanya, remaja itu tak bisa lepas dari raut datarnya.


"Chloe... Dia siapa?" tanya Black Aura singkat. Hmm, tampaknya ia tak senang dengan kehadiran Morgan yang begitu tiba-tiba.


Mendengar suara Black Aura yang dingin itu, otomatis membuat pelukannya merenggang.


"Oh, dia ini... Katanya sih, dia sekampus denganku." jawab Chloe antusias. Entah apa yang membuatnya sesenang itu. Apa karena keberadaan Black Aura yang sudah ia anggap langka itu membuatnya sangat bahagia? Lihat saja dari raut wajah dan senyuman yang terukir lebar di wajahnya. Jelas sekali gadis ini menyambut hangat sosok remaja Aura ini.


"Kok 'katanya', sih??" Morgan tak terima.


Chloe membalasnya dengan kekehan kecilnya sayangnya tidak bertahan lama karena saat ini, Chloe memfokuskan dirinya pada Black Aura.


"Btw.. Dimana musuhmu? Kau lagi bertarung ya?" Tanya Chloe penasaran. "Wajahmu... Penuh darah..." lanjutnya mendadak khawatir untuk sesaat.


Black Aura tersenyum tipis. "Sebenarnya...".


"OOH! JADI MEREKA BERDUA ITU TEMANMU YA??".


entah darimana asalnya suara lantang itu hingga membuat ketiga remaja ini terfokus penuh pada suara yang cempreng nan serak itu.


Yui. Gadis yang baru saja dihajar habis-habisan oleh Black Aura, tampak sangat kelelahan. Nafasnya tak stabil beriringan dengan darah birunya yang terus mengalir dari pundak, tangan, dan bagian pinggang. Intinya, penampilannya saat ini jauh lebih berantakan dari sebelumnya.


"Kau... Kau lawan gadis itu?!" celetuk Morgan tak percaya.


Black Aura melirik kearah Morgan. "Diluar dia memang perempuan. Tapi, di dalam dia adalah laki-laki. Yah... Tenang saja... Aku gak melukai gadis itu." Jelas Black Aura setelah itu, ia kembali fokus melanjutkan pertarungannya.


"Akan kuakhiri semua ini..." Ujarnya.


Tiba-tiba, darah hitam yang menggenang di sekitar mereka bergerak dengan sendirinya menghampiri Black Aura. Perlahan-lahan, mereka merambat naik dari kakinya.


"TEKNIK FINAL YA?! BAIKLAH!" Yui mengeluarkan pedangnya kemudian ia tancapkan di lantai gedung bagian rooftop. Gedung itu retak dengan sendirinya. Memunculkan tetesan air yang tak lama lagi akan menghancurkan gedung bertingkat 10 itu.


"TUNGGU DULU! GEDUNG ITU! ITU GEDUNG PERKANTORAN!! BLACK AURA.." Jerit Chloe khawatir. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap Black Aura dan berharap agar remaja itu bisa melindungi orang-orang yang bekerja di dalam gedung yang tak lama lagi akan hancur.


Tenanglah...


Chloe tertegun. Wajah yang pucat itu sulit melepaskan diri memandang sosok Black Aura yang tak lama lagi akan berubah menjadi makhluk diluar bayangan Chloe.


Keheningan berhasil mengambil alih suasana mereka. Dimana tak ada satupun dari mereka yang berani menyeruakan sepatah dua kata dari mulut mereka.


Entah mata mereka yang salah atau memang kenyataan, langit biru di bawah kendali siang itu berubah menjadi merah darah. Awan kumulus yang menghiasi langit saat itu menghitam dengan sendirinya.


Jalan yang mereka pijaki itu berubah menjadi genangan darah setinggi lutut pria dewasa.


"Apa-apaan dunia ini?" ujar Morgan kebingungan diikuti dengan langkah mundur sebanyak 5 kali.

__ADS_1


"Black Aura...?" Chloe bertanya ragu. Namun, ia mengalami hal aneh yang memaksa kedua matanya dan seluruh otot-ototnya melemas.


Sebelum benar-benar ingin menghabisi lawannya, Black Aura menyempatkan diri menghampiri Chloe.


Ia memeluk tubuh Chloe lembut seraya membisikkan sebuah kalimat. "Semuanya akan baik-baik saja. Akan kuwujudkan semua yang kau inginkan... Bersabarlah...".


Dalam sekejap, pandangan Chloe kabur usai mendengar kalimat pengantar tidur dari Black Aura. Keseimbangan tubuhnya menjadi tidak stabil dan berakhir tenggelam di dalam banjit darah.


Morgan yang melihat hal itu otomatis berlari. Ia berusaha sebisa mungkin meraih tangan Chloe yang sebentar lagi akan lenyap dilahap genangan darah. Sayangnya, Black Aura menghadangnya dan melakukan hal yang sama layaknya Chloe.


Ia menarik Morgan kasar kemudian memeluknya.


"Tidurlah... Bergadang tidak akan membuatmu memilikinya." Bisiknya disertai tatapan menusuk darinya.


Kedua matanya membulat sempurna tak percaya.


"Kau...!".


Belum sempat Morgan menyelesaikan perkataannya, Black Aura main menjauhkan tubuh Morgan lalu menendang perutnya sekuat tenanga layaknya dirinya menendang para Legend Aura.


Alhasil, Morgan terlempar cukup jauh menghantam keras dinding salah satu toko dan membuatnya kehilangan kesadaran untuk beberapa saat.


Merasa aman dan tidak ada yang mengganggu, Black Aura berbalik menatap Yui serius.


"Sekarang dunia hanya milik diriku seorang..." ucapnya.


"Ha?" Yui menelengkan kepalanya.


"Sudah kubilang sebelumnya, kan? Kau yang gak tau pasti kemampuanku sebaiknya berhati-hatilah. Gak akan ada satupun musuh yang bisa lepas dariku...".


Seakan yang diucapkannya adalah peringatan terakhir, Black Aura mengayunkan sabitnya ke atas tepat di depan gedung kantor yang seharusnya ia lindungi. Akibat tebasan tadi, Hampir separuh dari gedung terbelah


Serpihan Kaca jendela gedung itu menyebar ke berbagai arah. Sehingga mengharuskan Yui untuk berpindah mencari tempat aman untuk dipijaknya.


"Apa-apaan ini?! Bukannya gadis itu bilang..." Yui membeku.


Raut wajahnya menjadi sangat pucat. Ketakutan menguasai pikirannya. Pergerakannya juga berhenti tanpa sebab. Seperti ada yang menahan dirinya.


Tidak lupa dengan pikirannya yang semrawut mendapati sosok Black Aura yang kini menggenggam pedang besar dengan ribuam serbuk hitam kecil menyelimuti pedangnya. Ia menyeringai lebar bagaikan pembunuh.


"Ini duniaku... Gak akan ada korban jiwa yang melayang. Selain aura seperti kalian. Ingat itu baik-baik!".


Tidak ingin waktunya terbuang lama, Black Aura segera meluncurkan pedangnya hingga menembus tubuh Yui dan menciptakan cipratan darah segar yang lumayan banyak.


Gadis itu mengerang kesakitan menahan rasa sakit yang sepertinya sudah tak mungkin lagi ia tahan.


Akhirnya, Yui pun terpaksa kehilangan nyawanya di kala pedang Black Aura itu masih menancap di tubuhnya dan enggan untuk lepas.


Tidak ada kesan apapun yang bisa diungkapkan Black Aura. Seringainya memudar perlahan. Manik violet tak bernyawa itu terpaku lurus pada darah biru Yui yang masih mengalir.


tes... tes...


Dalam diam, sebuah air mata mengalir dari pelupuk mata kirinya. Menembus bercak darah hitam yang nyaris memenuhi wajahnya, lalu terjatuh dan menyatu dengan banjir darah yang menggenang saat itu.


Perasaannya bercampur aduk. Senang, lega, sedih, dan menyesal. Terus terang, baginya... Dunia Chloe terlalu melelahkan meskipun hanya untuk mengespresikan apa yang dirasakannya saat itu hingga kini.


"Haah... Kekuatan ini benar-benar membuang tenagaku saja...".

__ADS_1


~


__ADS_2