
Black Aura mematung menonton aksi nekat Chloe menghentikan Ayano dan Alter yang sedang sibuknya berkelahi. Benci mengakuinya tapi, Black Aura merasa kalau cara itu tentu saja tidak akan berhasil melerai mereka. Hanya dengan teriakan saja tidak cukup. Apalagi dengan toa. Mau sekeras apapun Chloe berteriak bahkan sampai mengorbankan pita suaranya, kakak beradik itu tidak akan berhenti melainkan mengusir dengan cara kasar orang-orang yang berusaha melerai mereka. Mereka paling tidak suka kalau ada orang lain yang mencampuri urusan mereka.
“Apa ha? Memangnya manusia sepertimu bisa menghentikan Aura seperti kami?” celetuk Ayano kesal, tidak senang dengan kehadiran Chloe yang berusaha melerai mereka.
“Kalau gitu, bunuh aja dia kak! Manusia nggak ada yang bisa dipercaya omongannya!” tambah Alter bersemangat. Sedari awal, niat dia selain membalas dendam pada Black Aura juga ingin menghabisi Chloe. Sekedar sebagai sandera agar bisa membungkam pergerakan Black Aura.
Chloe membelalak kaget, tak lama kemudian menyeringai. Dia mengubah pedang Black Aura menjadi canon panjang. Black Aura terpukau melihat senjata andalannya berkembang menjadi senjata yang lain di tangan kekasihnya.
Chloe dengan bersemangat menarik pelatuknya dan satu persatu peluru meluncur. Ada satu hal yang membuat serangan Chloe tertunda. Penghalang besar yang menjadi pelindung Alter dan Ayano. Penghalang itu muncul dengan sendirinya dan membuat kedua saudara itu melirik-lirik heran. Bertanya-tanya siapa yang melindungi mereka saat ini. Dan tidak disangkanya, Megawave-lah yang mengeluarkan pelindung itu.
Aura bertopeng visor dengan mata violet menyala tanpa mulut itu melangkah dalam diam. Kepalanya tertuju ke tempat di mana Chloe berdiri saat ini.
Merasa dirinya diperhatikan, Chloe akhirnya memilih kembali ke Black Aura keitmbang berdiri seorang diri di tengah-tengah ketiga Aura yang pandangannya teralihkan padanya.
Black Aura memutar kepalanya mengikuti arah Chloe berlari. Gadis itu kini bersembunyi dibalik punggung kekasihnya yang kebingungan. Lantas, Black Aura pun bertanya.
“Ada apa? Apa mereka mengganggumu?”
Chloe menggeleng cepat tapi wajahnya memperlihatkan raut ketakutan yang menggemaskan. “Kenapa mereka semua menatap ke arahku? Salahku apa memangnya?”
Kalau dipikir lagi, Black Aura sendiri tidak tahu jawabannya. Dia mengarahkan pandangannya ke arah Megawave dan saat itulah Aura itu menyadari sesuatu. Pertanyaan Chloe itu akhirnya terpecahkan oleh kehadiran Megawave.
Jangan-jangan, dia mengincar Chloe lagi? Batin Black Aura mendadak tak keruan. Aura itu segera mengeluarkan pedangnya sebagai bentuk antisipasinya terhadap serangan para Aura yang kerap kali menjadi kejutannya.
Black Aura menatap tajam ke arah Megawave yang jaraknya semakin dekat ke arah mereka. Aura itu masih diam. Sementara, Alter dan Ayano mendarat ke tanah. Memilih menyaksikan kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. ANtara Black Aura dengan Megawave. Bukan hal biasa kedua Aura itu bertatapan sengit.
Di belakang Megawave, Aoi menyusul. Sambil memegang pinggang kanannya seolah ginjalnya sedang bermasalah saat ini. Tampaknya, air mineral sangat ia butuhkan demi menjaga kesehatan ginjalnya.
“Maksudmu dia?” tanya Megawave begitu dirinya berhadapan dengan Black Aura.
Keduanya saling memamerkan tatapan sinis dan aura dingin. Black Aura sempat tertegun menyadari genggaman Chloe yang semakin erat termakan rasa takutnya.
“Iya. Bagaimana menurutmu?” balas Aoi dengan nafas terengah-engah.
Sejenak Megawave berpikir tanpa memperdulikan keberadaan Black Aura yang sudah bersiap menghajarnya apabila Aura bertopeng visor itu berani merebut Chloe dari tangannya.
Megawave mengamati penampilan Chloe dengan teliti. Dari puncak kepala sampai ujung sepatunya. Beda. Itulah kata yang Megawave simpulkan. Setelah itu, sorot matanya mengarah ke wajah ketakutan Chloe. Wajah itulah yang otomatis membuat Megawave larut dalam kerinduan yang kerap kali meremas hatinya.
“Kau… Apa benar kau Chloe?” Aura itu mengangkat tangannya kemudian, menyentuh pipi Chloe yang tembem itu.
“Hmm… Namaku memang Chloe. Tapi, aku bukan Chloe yang kau maksud,” Chloe terkekeh, lalu menyengir kuda. Gadis itu menjawab ala kadarnya.
Lain dari Chloe, Black Aura menepis kasar tangan Megawave agar menjauh dari pipi kekasihnya. Seolah gadis itu hanya miliknya seorang. “Dia berbeda!” sarkasnya.
Megawave menyipitkan matanya kesal. “Aku tahu mereka beda. Tapi, kalau kau berada diposisiku, apa yang akan kau lakukan? APa yang kau rasakan?” serbu Megawave geram.
__ADS_1
“Sudahlah kalian… Jangan kelahi terus! Damai dikit kenapa?” lerai Chloe ragu.
Aoi yang sedari tadi bersama Megawave hanya memperhatikan Gerak-gerik Chloe. Dalam hatinya dia berkata, beda tapi dia masih punya kesamaan dengan ‘Chloe’ kami. Benar-benar di luar dugaan!
“Kalau nggak penting, sebaiknya jauhi dia. Dia nggak ada hubungannya denganmu!” lirih Black Aura disertai tatapan tajam siap terkam darinya.
“Oke… Kami pergi.”
Megawave menyerah. Aura itu memilih untuk mundur ketimbang berurusan lebih jauh dengan Black Aura. Megawave berbeda dengan adiknya, Aoi. Dia masih memikirkan posisi lawannya. Dia bukan type yang suka menyandera lawan.
“Kami juga akan mencari manusia yang kalian maksud,” tambah Megawav lagi sebelum akhirnya, sosoknya menghilang dilahap portal bersama Aoi.
Suasana mereka mendadak canggung. Chloe melirik ke arah Black Aura yang baru selesai membuang nafas lega. “Mereka semua kenapa? Aku penasaran, Chloe yang mereka maksud itu seperti apa? Apa dia benar-benar mirip denganku?”
Black Aura langsung menoleh ke arah Chloe. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan gadis elf yang disebut-sebut mirip dengan kekasihnya. Hanya saja, pertahanannya dengan cepat runtuh ketika melihat raut penasaran Chloe yang menggemaskan.
“Nanti ya… Kalau udah sampai ke markas kami.”
“Hehh? Kau punya markas?”
“Iya. Dan kurasa, pertarungan kita selesai sampai disini. Kau hebat, Chloe. Bisa melerai Alter dan Ayano,” puji Black Aura. Kemudian, dia menggenggam tangan Chloe lalu menciumnya. Wangi. Punggung tangan gadis itu lembut dan halus.
“Ayo, pulang!” ajaknya. “Ajak juga Aoi dan Jacqueline. Kalian bertiga pasti lelah, kan?”
“Lumayan. Tapi, kami memang butuh banget yang namanya tidur.”
“Hei! Masalah kita belum selesai! Jangan main kabur gitu dong!” teriaknya tak terima. Seperti anak kecil, dia meronta-ronta sampai merepotkan sang kakak yang harus memeluknya agar tidak lepas.
“Udah! Biarin aja napa sih?!” geram Ayano. Kesabaran Aura itu dengan cepat berubah menjadi kepalan tangan keras yang mengarah dengan cepat ke puncak kepala Alter.
Seketika, Alter pingsan hanya sekali pukulan di tangan sang kakak. Merepotkan sekali punya adik yang kepalanya hampir sekeras diamond.
“Oi, Aura!” panggil Ayano.
“Hm?”
“Cepat pergi! Kalau kau masih di sini, aku bakal kerepotan!”
Chloe mendengus geli. Tidak disangka kalau Aura itu tak jauh beda dengan manusia. Gadis itu menggenggam tangan Black Aura lalu menariknya pergi. Lelah rasanya berlama-lama di lingkungan luar. Ingin rasanya punggung ini bertemu dengan permukaan kasur yang empuk. Ditambah dengan bantal dan guling sebagai pelengkapnya.
“Ayo! Aoi dan Jacqueline pasti udah nungguin kita!”
“I-iya! Jangan cepat-cepat begitu! Kau lupa ya, kalau kakiku ini baru sembuh?” omel Black Aura sambil berusaha mati-matian menyusul langkah kaki Chloe. Gadis itu kalau sudah bersemangat sulit sekali dihentikan langkahnya. Dia seperti anak-anak yang menemukan tempat bermain yang luas. Antusiasmenya juga tak jauh beda dengan anak SD.
Dalam hatinya, Black Aura merutuki dirinya karena menyamakan kekasihnya dengan anak SD yang polos.
__ADS_1
“Eh? Udah siap bertarungnya?” Jacqueline menghampiri Chloe lalu menyambut kehadiran sahabatnya dengan raut gembiranya.
Chloe mengangguk girang. “Yap! Sekarang, kita istirahat dulu!”
“DImana?” Aoi menimpali. Pria jepang itu baru saja selesai membaca manga kesukaannya. Manga yang sebenarnya tidak pantas dibaca Jacqueline.
“Markas kami,” Black Aura tersenyum tipis.
Di tengah ributnya suara ketiga remaja itu, Black Aura mendongakkan kepalanya ke langit. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya namun, berusaha ia tutupi. Teringat akan memori masa lalu dimana dirinya menemukan pedangnya berlumuran darah berwarna biru laut. Darah itu benr-benar membekas di benaknya. Darah milik gadis elf yang menyandang status sebagai kekasih Megawave.
Mengerikan rasanya membayangkan bagaimana dirinya kehilangan sosok orang yang sangat ia cintai. Dulu, dulu sekali Black Aura telah kehilangan sosok perempuan yang menjadi kekuatannya dikala dirinya lelah menghadapi masalah-masalah yang ia temui. Dia sendiri saat itu tidak begitu mengerti dengan masalah yang manusia alami. Tugasnya hanyalah menghajar Aura-aura yang menurutnya mengusik dirinya atau mengganggu keseimbangan dunia Carnater. Seketika, Black Aura bingung. Untuk apa dia melakukan tindakan yang melelahkan itu?
Sejujurnya, Black Aura merasakan perasaan kehilangan yang sama dengan Aoi, Alter, dan Megawave rasakan. Kehilangan sosok yang disayangi itu amat menyakitkan. Terlebih lagi, hanya sosok itulah yang bisa mengisi kekosongan hidup mereka selama ini.
Black Aura memejamkan matanya sambil melambungkan harapan setinggi-tingginya. Salah satu perubahan yang Black Aura rasakan saat ini adalah ketika dirinya mengharapkan sesuatu yang bahkan seumur hidupnya tak pernah sekalipun ia lontarkan kalimat-kalimat batin penuh harapan itu. Sejak mengenal Chloe dan melihat gadis itu berulang kali mengharapkan sesuatu yang mustahil tapi akhirnya, keinginan mustahil itu terkabul, membuat Black Aura termotivasi ingin melakukan hal yang sama dengan yang Chloe lakukan setiap hari.
Dia rasa, tidak apa-apa kan kalau makhluk fantasi sepertinya mengharapkan sesuatu? Fantasi dan kenyataan itu bisa saja saling berkaitan. Seperti halnya ikatan dirinya dengan seorang gadis dari dunia luar. Dunia yang ia sebut sebagai dunia nyata. Dan Gadis itu menyebut dunianya sebagai dunia fantasi.
Black Aura membuka matanya perlahan. Seolah dirinya baru terbangun dari tidurnya yang panjang. Keinginannya hanya ada satu dan itu sudah umum baik lisan maupun tulisan.
Keinginan yang setiap orang miliki dalam hal bercinta.
Manik violetnya mengarah ke tempat dimana Chloe berdiri itu. Gadis itu tertawa, berbicara, dan berbuat jahil pada kedua sahabatnya. Chloe terlihat bahagia.
Senyuman kecil terukir di wajah tampannya. “Aku akan melindungimu selama kau hidup di sini, sekarang.”
Bagaikan bunga. Yang pada awalnya hanyalah tunas kecil tak berdaya, kemudian mengikuti putaran musim yang beragam, dia tumbuh dan mekar menjadi bunga yang indah. Saat itulah Black Aura bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai olehnya. Oleh mahasiswa polos yang terkadang suka memancing emosinya.
Hanya gadis itulah yang bisa mengisi kekosongan hati, jiwa, dan keseharian Black Aura.
“Chloe…”
Di tengah serunya berbincang, dengan cepat perhatian Chloe teralihkan oleh Black Aura yang memanggil namanya.
“Ya? Oh! Aura mau pulang ya?”
Chloe menepuk keningnya. “Oi! Jangan ngobrol terus! Kasihan pacarku udah nungguin!”
“Ish, alay-lah kau…” gurau Jacqueline disusul dengan ledakan tawanya. Ledakan itu menular ke Aoi.
“Mana pacarnya dari dunia fantasi lagi. Gila…”
“Apaan sih, kalian? Iri bilang!”
Ketiga remaja itu kembali tertawa. Setelah itu melangkahkan kaki mereka serempak menuju markas Hari ini terasa melelahkan tapi juga menyenangkan.
__ADS_1
~