
“Mereka udah mati?”
Huke tersenyum mengangguk. Sungguh, baru kali ini Black Aura melihat Huke setenang ini. Ditambah dengan senyuman Aura itu. Berbeda dari yang pertama kali ia lihat, Huke yang melayang di tengah hebatnya kobaran si jago merah itu memperlihatkan ekspresi datarnya.
Baik dirinya, Devil Mask, ataupun Yumi selalu mengira kalau Huke adalah salah satu anggota Legend Aura yang tidak memiliki minat untuk bertarung. Setiap kali terlibat dalam suatu pertarungan sengit, terserah apakah itu kelompok atau perorangan, Huke selalu berdiri diam di belakang Yuuki atau diam di tempat dan hanya mengandalkan kekuatannya untuk mengalahkan musuh.
Pernah Huke turun tangan membantu Dark Fire melawan Devil Mask di Carnater. Tak sampai lima menit pun, Aura itu kembali ke tempat dimana dia berdiri dan kembali mengeluarkan kekuatannya untuk meringankan beban Dark Fire juga beban dirinya.
Midnight menyebut Huke sebagai Aura yang irit sekali bergerak. Selalu mengandalkan kekuatan atau makhluk hidup disekitarnya.
Bahkan hari ini pun, huke juga menggunakan manusia sebagai alat dia untuk melawan Black Aura,
Oh, juga dia dengan Yuuki batin Black Aura.
“Kau takut?” tanya Huke menantang.
Soal takut ya? Sebenarnya tidak ada ketakutan yang mengusik batin Black Aura. Hanya saja, kekhawatirannya akan kekalahan.
Black Aura tidak menyebut khawatir itu sama dengan takut. Karena itulah, Aura itu hanya diam tidak merespon pertanyaan Huke sebelumnya. Black Aura memandang sekitarnya yang benar-benar hening. Tidak ada suara apapun selain tetesan darah yang masih mengalir disampingnya.
Suara tapak sepatu Chloe sampai saat ini belum terdengar sedikitpun. Yah, sebenarnya bagus bagi Black Aura jika Chloe tidak terlibat dalam pertarungan ini. Gadis itu bagaimanapun beraninya dia berhadapan dengan Legend Aura, tetap saja tubuhnya lemah.
Black Aura memejamkan kedua matanya serapat mungkin. Secara otomatis, senyum seringai terbayang jelas di tengah hitam yang menguasai indra penglihatan Black Aura.
Senyuman itu, Black Aura yakin, kalau senyuman itu ada hubungannya dengan menghilangnya Legend Aura. Tapi, kalau tidak salah ingat, pemimpin mereka—Dark Fire sudah mati dilawan Silentwave dan Midnight. Lalu, Dark Shadow yang mati dilawan Devil Mask, dan Dark Flower yang mati karena dia lawan.
Aurora mati dua kali dan Black Aura yakin 100% kalau Aura gila itu tak akan lagi hidup.
“Aura, aku datang kesini mau menyampaikan pesan Emma untuk Midnight. Jadi, dengarkan baik-baik ya!” katanya.
Huke menarik nafas kemudian membuangnya pelan. Mulutnya terbuka dan akhirnya mengungkapkan pesan yang Emma bisikkan di telinga Aura itu beberapa jam yang lalu.
“Kalau kau mau sahabatmu selamat, datanglah ke tempatku lima hari lagi. Kalau tidak… Ya, kau tahu sendiri lah,” begitulah pesan Emma yang diucapkan ulang oleh Huke.
“Oh,” respon Black Aura singkat.
“Nah, karena pesan sudah kusampaikan, jadi, nggak ada salahnya kita bertarung kan? Aku udah lama nungguin momen dimana kita bertarung lagi. Aku penasaran dengan seberapa kuatnya dirimu yang sekarang,” ujar Huke sambil mengeluarkan katana panjang dengan ujung katannya yang terdapat boneka voodoo yang diikat.
Black Aura mengernyit heran. “Kau mau mengusir hujan ya?” tanya Black Aura biasa saja.
__ADS_1
“Nggak kok. Justru mau mengendalikan mereka berdua. Keduanya terikat dengan boneka voodoo ini. jadi, yah… Bisa dibilang kau melawan arwah orang yang sudah mati dan melawan mayat.
“Selama ini, kau belum tahu kemampuanku yang sebenarnya kan?” tanya Huke semakin lebar senyumannya.
Melihat senyuman itu saja sudah membuat Black Aura merasa risih. Belum lagi jika nanti tawa Aura itu meledak begitu dirinya puas telah menghajar Black Aura sampai babak belur.
Berdasarkan pengalaman Black Aura, hampir semua anggota Legend Aura tertawa setiap kali mereka puas melihat luka-luka yang telah mereka perbuat pada musuh bebuyutan mereka, Megavile.
“Kau dari tadi banyak bicara aja, Huke,” ujar Black Aura akhirnya bersuara juga setelah beberapa menit dia habiskan dengan mendengarkan dan diam.
Setelah dipikir-pikir lagi, diam dan hanya mendengarkan Huke sama saja dengan membuang waktu kencannya dengan Chloe. Ditambah lagi dengan kehadiran Edward dan wanita hantu itu.
Tentu saja, sebentar lagi akan ada pertarungan sengit antara dirinya dengan Huke. Setiap kali terlibat dalam pertarungan, Black Aura tak pernah bisa menghindari dirinya dari situasi tersebut.
Alhasil, seperti sekarang ini dimana Black Aura akhirnya terpaksa mengeluarkan pedangnya dan maju. Kemudian, berteleport di belakang Huke dan menebas punggungnya.
Huke yang menyadari kehadiran Black Aura itu dilindungi cepat oleh Edward dengan katana yang Huke pinjamkan untuk Edward.
Benar saja, senyuman Aura itu semakin lama semakin lebar dan terkesan memandang rendah dirinya yang tak pernah mengenal sedikitpun kemampuan Huke.
Yah, bodo amat sebenarnya bagi Black Aura. Selama ada rasa sakit, musuh sekuat apapun bisa ia tumpaskan.
“Oh ya, Aura! Jadi, bagaimana rasanya diserang sama hantu?” tanya Huke sambil mengendalikan Edward dengan kelima jarinya untuk bertarung melawan Black Aura.
“Eh? Merah?” Black Aura tertegun mendapati benang merah yang melilit tangan dan kaki Edward. Black Aura merasa sangat familiar dengan benang tersebut. Akan tetapi, dimana dia menemukannya?
Tunggu, kalau nggak salah… Itu benang yang Chloe dan ibu temukan, kan?
Black Aura segera mundur cepat menghindari tendangan Edward yang berasal dari samping. Di saat terdesak seperti itu pun, Black Aura masih tidak bisa lepas dari pikirannya mengenai benang merah yang sempat terlihat mengendalikan kelompok Asoka, Yui, Megawave dan Aurora.
Jangan bilang, dalang yang menyebabkan Aura-aura di Carnater kehilangan kewarasan adalah Huke?
“Begitu ya? Jadi, kau yang mengendalikan Aurora waktu itu? Kau yang mengendalikan semua Aura yang ada di Carnater?” tanya Black Aura seraya menangkis tebasan pedang dari Edward.
Huke mengangguk penuh percaya diri. “Yap! Aku melakukannya demi Yuuki. Aku ini kan asalnya dari perasaan Yuuki, jadi nggak ada salahnya aku melakukan apa yang kumau demi mendapatkan tujuanku,” katanya enteng.
Cukup dengan jawaban Huke, sekarang Black Aura tinggal fokus mengalahkan Huke dan mengakhiri pertarungannya hari ini. Dengan mengeluarkan sabitnya lalu menebas mama Edward yang hendak memukulnya dengan tongkat kasti.
Sebelum sabit itu melukai mama Edward, Huke sudah lebih dulu menjauhkan wanita itu serangan Black Aura.
__ADS_1
“Kau beruntung, ya. Perasaanmu bisa diterima,” katanya disaat bersamaan mengendalikan Edward untuk menyandung kaki Black Aura dengan kaki kanannya.
Bruk!
Black Aura terjatuh setelah kakinya berhasil disandung oleh Edward dan kini, ujung tongkat kasti tak lama lagi mencium pipi kiri Black Aura.
Black Aura tersentak dan berteleport menjauh dari Edward dan ibunya,
Nafasnya tak beraturan. Benar-benar pertarungan yang menguras tenaga. Black Aura melirik ke kiri dan tidak disangkanya, Edward sudah lebih dulu di depan wajahnya.
Dengan jarak yang terbilang sangat tipis itu, Edward memanfaatkan jarak tersebut untuk menghajar Black Aura. Hasilnya, Black Aura terpental menabrak etalase yang berisikan kue-kue tart.
Sayang sekali kuenya.
“Cih!” Baru membuka matanya, tingkat kasti dengan cepat menyerbu wajahnya hingga lagi-lagi, Black Aura harus kembali terdorong dan mendapatkan luka yang lumayan parah di bagian wajah.
Sehabis mama Edward, sekarang, tiba giliran Huke untuk mengakhiri pertarungannya. Dengan sejuta keyakinan bahwa dirinya mampu membunuh Black Aura, Aura itu mengeluarkan delapan bola sihirnya, kemudian melemparkan semuanya kearah Black Aura.
“Target Lock!” serunya bersamaan dengan ledakan yang muncul di dalam café kue yang sepi.
“Target Lock, ya?”
BUM!
Huke melayang cepat dan menghantam dinding samping lift, Suara tabrakannya lumayan besar sampai-sampai menggetarkan kaca jendela mall.
Black Aura mengusap darah yang mengalir dari kepala sampai ke pipi kanannya. Hitam bercampur merah warnanya.
Kali ini, tidak ada toleransi lagi Black Aura. Selama mereka mengancam maka, saat itu juga nyawa mereka sepenuhnya ditentukan oleh Black Aura.
Black Aura mengaktifkan kemampuan mata penghancurnya tanpa terkecuali. Menargetkan dada kiri Huke dan menghancurkannya.
“Gila!” Huke terkejut bukan main mendapati dirinya yang terluka begitu parah.
Tak tanggung-tanggung, Black Aura dengan kemampuan teleportnya, langsung menendang kepala Huke dan membiarkan Aura itu terlempar menabrak patung manekin yang mengenakan dress pernikahan.
“Cih! Marah ya?” Huke yang merasa tak senang dirinya diserang begitu mudah, memutuskan untuk turun tangan. Dibantu dengan Edward dan mamanya, mereka bertiga serempak menghajar Black Aura.
“Lemah kali pakai bawa dua orang,” ejek Black Aura dingin. Aura itu juga tak kalah kesalnya lantaran luka yang dia dapat itu justru lebih parah dari yang Huke punya. Karena itulah, Black Aura membuka portal, berniat menyerang mereka dengan ribuan pedang yang sudah ia persiapkan.
__ADS_1
“Jangan nyesel kalau kalian mati!” ucap Black Aura dingin.
~