
~ Yuuhuuu! Satu episode menjelang season 2 ~
Chloe berhenti setelah beberapa menit kemudian berlari
tanpa tujuan dengan stok tenaganya yang sudah habis tak tersisa. Disusul Morgan
yang ikut merasakan lelah sampai nyaris saja pingsan menabrak tiang lampu di
depannya. Untung saja, Morgan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Kalau tidak,
sudah memerah dari tadi tuh wajahnya.
“Aaarrgghh! Ini salahku! Kenapa aku malah membiarkannya
sendirian?!” sungut Chloe kesal usai mengacak-acak rambutnya disertai erangan
frustasi.
Morgan juga merasa demikian. Dia merutuki dirinya karena
hanya mengajak Chloe berbicara dan tanpa sadar mengabaikan keberadaan Black
Aura yang kala itu ikut menemani mereka berjalan meskipun Aura itu hanya
bermodal diam layaknya hutan.
Sekilas, Morgan ingat raut datar yang terpampang jelas
di wajah Aura itu. Black Aura sama sekali tidak menikmati waktu senggangnya
yang seharusnya ia lalui bersama dengan Chloe.
Kalau saja aku nggak menarik perhatian Chloe
dengan melukis, mungkin hari ini mereka berdua akan tersenyum seperti yang
mereka harapkan sejak awal. Batin Morgan diakhir helaan
nafas berat.
“Chloe, aku minta maaf. Semua ini salahku.” Ucap Morgan
dengan raut meminta maaf.
“Gapapa kok. Lagi pula, Black Aura kan Aura yang baik.
Dia juga belum mengerti yang namanya marah. Percayalah, saat kita menemukannya
nanti, paling wajah yang dia tunjukan itu wajah datar.” Sahut Chloe berusaha
menenangkan Morgan sementara dirinya jauh lebih kacau di dalam sana.
Aaargh! Apa-apaan kau ini, Chloe! Apa kau
sudah lupa dengan permintaanmu?! Bentak Chloe pada dirinya
sendiri. Dia sengaja memaki-maki dirinya karena yah… Tidak sengaja atau tidak
sadar telah mengabaikan sosok yang sangat dia sukai. Bahkan sosok itu ternyata
juga menyimpan rasa terhadapnya meskipun dia masih tahap belajar. Meski
demikian, Black Aura memiliki niatan untuk menggali lebih jauh serta berusaha
memahami beberapa perasaan yang baru sebagian dia peroleh. Aura sedatar dan
sedingin Black Aura ini tidak bisa ditebak dengan mudah sifatnya. Menurut Chloe
pribadi,Black Aura bisa saja menjadi pemaaf, bisa saja menjadi pendendam.
Teringat akan ocehan Aurora tentang dendam yang ia miliki disamakan dengan
Black Aura yang merupakan gambaran dari perasaan dendam. Sebetulnya, Chloe tidak
terlalu berpikir jauh kesana. Yang terpenting sekarang, dia harus menemukan
Black Aura di daerah kota yang luas dengan puluhan arah jalan tanpa ujung.
“Morgan… Kau mau kan temani aku?” tanya Chloe dengan
wajah memelas.
Morgan tersenyum hangat lalu mengangguk pelan. “Apapun
yang kau inginkan, tuan putri.” Balasnya yang otomatis membuat dada Chloe
berdebar-debar. Seketika, rona merah mewarnai pipi kiri dan kanan Chloe.
“Terima kasih, ya!” ucap Chloe malu-malu.
~
Di atas salju tebal, Black Aura berjalan pelan
meninggalkan jejak sepatunya di atas sana. Langit terasa semakin larut dalam
kegelapan, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, Black Aura
mengantar Rara pulang ke rumah Midnight lalu kembali melanjutkan perjalanannya
mencari Chloe dan Morgan.
Sepanjang jalan, pikirannya hanya kosong. Jangan samakan
dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Benak Aura itu tidak dipukul oleh
benda apapun yang dengan mudahnya dapat membuat Aura itu melontarkan sepatah
dua kata kekesalannya dengan apa yang telah dia alami hari ini.
Memang benar dia tidak menikmati apa yang telah
disajikan hari Senin. Namun, Black Aura juga tidak ingin menyalahkan jalan
dunia Chloe. Warnanya tidak selalu hitam putih, ada kalanya dunia itu menjadi
merah, kadang biru, kadang kuning. Seperti melodi yang memiliki tangga. Sebagai
pemain musik yang profesional, tidak selamanya dia menggunakan nada tinggi
untuk menghibur para pendengar yang saat itu kebetulan melintas atau
__ADS_1
benar-benar senang mendengarkan musiknya. Ada saatnya dia menggunakan nada
rendah sebagai ungkapan betapa birunya perasaannya kala itu.
Jika biru dekat dengan kesedihan maka, warna yang sedang
mewarnai diri Black Aura ini adalah ungu. Berbeda dengan manic violetnya yang
selalu tampil indah kemanapun Aura itu melirik. Ungu yang dia rasakan kental
sekali negatifnya. Seakan menjelaskan bahwa itulah yang disebut sebagai
kecemburuan.
Black Aura mencengkram erat mantelnya. Dia merasakan
sakit di dadanya. Lebih sakit dari luka yang dia rasakan ketika dihajar oleh
serangan yang diluncurkan Legend Aura padanya. Luka yang disebabkan oleh
manusia jauh lebih menyakitkan.
Waktu seakan berpihak pada keheningan. Fakta bahwa waktu
layaknya pedang yang menghunus apapun yang ada di depannya tanpa memandang
seberapa indah dan pilunya keadaan lingkungan di sekitarnya. Black Aura yakin,
perasaan cemburu ini pasti akan tersapu cepat jika dia mengikuti alur waktu.
Akan tetapi, dalam lingkaran sepuluh jam itu, perasaan sakit di dadanya belum
juga pudar.
“Apa-apaan rasa sakit ini?” gumam Black Aura datar.
Perlahan-lahan, dampak yang dia peroleh dari dunia Chloe mulai mendominasi
dirinya. Black Aura merasakan perbedaan lain di dalam dirinya. Seperti halnya
manusia yang menangis karena merasakan perih di hatinya, Black Aura turut
merasakan hal yang serupa seperti manusia di dunia itu.
Hati ya? Mungkin inilah yang ia peroleh. Entah hati itu
berupa organ atau sekedar ungkapan yang digunakan sebagai gambaran dari
perasaan, yang jelas, Black Aura merasa hatinya telah dilukai oleh sesuatu. Cengkramannya
semakin kuat setiap kali benaknya melukis sosok Chloe bersama Morgan tengah
berbincang berdua tanpa memperdulikannya yang saat itu juga ingin nimbrung dan
berbaur setidaknya.
Di tiang lampu jalan, Black Aura menempelkan tubuhnya
dengan kedua matanya yang berlinang air mata. Tangan kanannya belum bisa
berpisah dengan kain mantel yang tak lama lagi sobek dibuatnya. Faktor emosi,
makanya tangannya merasa bimbang ingin membebaskan kain mantelnya atau tidak.
Setetes demi tetes, air mata itu mulai berjatuhan dan
membentuk genangan kecil sementara di atas salju yang dingin. Di bawah cahaya
yang terbatas, Black Aura hanya bisa merenung sembari mempelajari serta
membiarkan sakit itu menyerangnya hingga membuat air matanya mengalir tanpa
henti.
Diabaikan. Kalimat itulah yang terlintas cepat di benak
Black Aura. Penyesalan? Bagaimana dengan kalimat itu?
Perasaannya kacau. Terus terang, Black Aura lemah dalam
menstabilkan kembali jalan perasaannya. Seperti benang merah. Namun kali ini,
benang itu terlalu lama terlilit hingga menjadi sebuah ikatan tanpa celah yang
tidak dapat mengembalikan rupa benang itu menjadi lurus seperti awal.
Di sekitarnya, tidak ada seorangpun yang melintas
kecuali ribuan salju yang mengambil alih pekerjaan hujan. Black Aura teingat akan
kalimatnya yang tidak pernah membutuhkan bantuan siapapun selama dirinya masih
bisa berdiri. Akan tetapi, bagaimana dengan masalah yang satu ini? Tampaknya,
Aura itu membutuhkan sandaran yang dapat mengembalikan emosinya menjadi lurus
dan stabil seperti sepuluh jam yang lalu.
Dia kesepian.
Dia membutuhkan seseorang yang dapat mengubah warna ungu
itu menjadi kuning.
Black Aura terisak perlahan. Dia kesulitan menghentikan
air matanya. Meskipun dia benci mengakui dirinya yang terlihat cengeng saat
ini, tapi, air mata dan rasa sakit di dadanya itu adalah fakta. Fakta yang
hanya diketahuinya seorang. Baik Devil mask, Midnight, dan lainnya, tidak ada
satupun yang tahu.
Tiba-tiba, Black Aura mendengus. Padahal tidak ada yang
lucu tapi Aura dengan gampangnya mendengus geli bersamaan dengan air matanya
yang mengalir deras di pelupuk mata kirinya.
“Lelah…” ujarnya bersamaan dengan suaranya yang hanyut
__ADS_1
tersapu angin di malam hari.
~
“Lo? Aura?” Midnight menatap bingung pada Black Aura
setelah membuka lebar pintu ruang tamunya dan mendapati Aura itu berdiri di
depannya dengan wajah datar.
Saat itu, jam dinding menunjukkan pukul sebelas pas.
Black Aura kembali ke rumah tapi tidak bersama Chloe. Lalu, ke manakah gadis
itu sekarang? Dan kenapa hanya Black Aura seorang yang kembali? Midnight patut
mempertanyakan kedua hal tersebut namun terhalangi oleh raut datar Black Aura.
“Dimana Silentwave?” tanya Black Aura tanpa basa-basi.
“Silentwave? Dia di dalam. Tu-tunggu dulu! Kenapa kau
tiba-tiba menanyakan Silentwave? Dimana Chloe? Bukankah seharusnya kau
bersamanya?” Midnight bertanya dengan wajah penuh tanda tanya. Dia penasaran,
apa yang sudah terjadi pada Black Aura dan Chloe.
Black Aura menghela nafasnya lalu tersenyum meski
rasanya sedikit aneh. Dia tidak langsung menjawab semua pertanyaan Midnight.
Seperti biasanya, dia menundukkan dirinya demi menyamakan tingginya dengan
wanita berkacamata itu. “Aku ingin pergi. Ada banyak hal yang perlu
kuselesaikan. Ibu juga tahu sendiri, kan?”
“Maksudmu, pergi ke Carnater? Untuk apa? Kenapa tidak
kau nikmati saja liburan singkatmu bersama Chloe? Bukankah kalian dekat?”
protes Midnight.
“Sekarang bukan waktunya bersantai bagiku. Aku berbeda
dengan ibu dan juga Chloe. Sejak awal, aku bukan manusia seperti kalian dan
asalku juga bukan dari dunia ini. Ibu tahu bukan? Masih ada tiga anggota
keluarga kita yang masih terjebak di sana? Carnater yang sekarang tidak sesepi
yang dulu. Aku ingin secepatnya membunuh semua Legend Aura itu.” Ungkap Black
Aura.
“Tapi kenapa harus sekarang? Kau mau pergi sendiri ke
sana?”
Black Aura mengangguk. “Jangan beritahu Chloe kalau aku
mau pergi.”
“Eh?” di balik kacamata bulatnya, Midnight membelalakkan
matanya.
Sepertinya memang ada yang tidak beres diantara Chloe
dan Black Aura. Sebenarnya, Midnight ingin menanyakan banyak hal mengenai alasan
kenapa Black Aura mendadak ingin pergi ke Carnater sedangkan di Carnater itu
keadaannya tidak seramah di dunianya. Aura-aura yang berasal dari jiwa manusia
itu berkumpul di wilayah acak. Midnight menduga, mereka memiliki teritori
masing-masing dan bersifat labil serta agresif.
“Aura, kumohon… Dengarkan aku! Keadaan di Carnater tidak
sestabil dulu. Para pendatang dari duniaku ini tidak selemah yang kau kira.
Yah, aku tahu kau punya kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapapun. Tapi,
pikirkan perasaan Chloe juga. Kulihat, hubunganmu dengan Chloe semakin erat
hari ke hari. Jadi, kenapa tidak kau nikmati saja liburan ini meskipun
sebentar?” bujuk Midnight. Kedua ujung bibir wanita itu membentuk garis
lengkung ke bawah. Bukan berarti dia kecewa dengan keputusan Black Aura,
melainkan perasaan sedih dan rasa sakit yang tengah menyerang Aura di depannya
itu.
Midnight bisa merasakan bagaimana sakitnya Aura itu. Midnight
sadar, tidak mudah bagi Black Aura mentoleransi rasa sakit yang dia rasakan
ini. Karena, manusia dan Aura itu berbeda. Kesabaran mereka dan tindakan mereka
dalam menghadapi perasaan mereka yang sedang tidak bagus itu juga tidak sama.
Midnight menduga, rasa sakit itu muncul disebabkan oleh
ulah manusia yang tidak lain adalah Chloe diikuti dengan beberapa penyebab
lainnya.
Terlalu larut dalam pikirannya, tanpa Midnight sadari,
Aura itu sudah meletakkan kepalanya di pundak kanannya seraya mengatakan
sesuatu yang langsung membuat Midnight menyerah menentang Aura itu.
“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Jadi, sekarang
atau nanti?”
__ADS_1
“Lima menit lagi…”
~