Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 80 {Sepele}


__ADS_3

~ Yuuhuuu! Satu episode menjelang season 2 ~


Chloe berhenti setelah beberapa menit kemudian berlari


tanpa tujuan dengan stok tenaganya yang sudah habis tak tersisa. Disusul Morgan


yang ikut merasakan lelah sampai nyaris saja pingsan menabrak tiang lampu di


depannya. Untung saja, Morgan bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Kalau tidak,


sudah memerah dari tadi tuh wajahnya.


“Aaarrgghh! Ini salahku! Kenapa aku malah membiarkannya


sendirian?!” sungut Chloe kesal usai mengacak-acak rambutnya disertai erangan


frustasi.


Morgan juga merasa demikian. Dia merutuki dirinya karena


hanya mengajak Chloe berbicara dan tanpa sadar mengabaikan keberadaan Black


Aura yang kala itu ikut menemani mereka berjalan meskipun Aura itu hanya


bermodal diam layaknya hutan.


Sekilas, Morgan ingat raut datar yang terpampang jelas


di wajah Aura itu. Black Aura sama sekali tidak menikmati waktu senggangnya


yang seharusnya ia lalui bersama dengan Chloe.


Kalau saja aku nggak menarik perhatian Chloe


dengan melukis, mungkin hari ini mereka berdua akan tersenyum seperti yang


mereka harapkan sejak awal. Batin Morgan diakhir helaan


nafas berat.


“Chloe, aku minta maaf. Semua ini salahku.” Ucap Morgan


dengan raut meminta maaf.


“Gapapa kok. Lagi pula, Black Aura kan Aura yang baik.


Dia juga belum mengerti yang namanya marah. Percayalah, saat kita menemukannya


nanti, paling wajah yang dia tunjukan itu wajah datar.” Sahut Chloe berusaha


menenangkan Morgan sementara dirinya jauh lebih kacau di dalam sana.


Aaargh! Apa-apaan kau ini, Chloe! Apa kau


sudah lupa dengan permintaanmu?! Bentak Chloe pada dirinya


sendiri. Dia sengaja memaki-maki dirinya karena yah… Tidak sengaja atau tidak


sadar telah mengabaikan sosok yang sangat dia sukai. Bahkan sosok itu ternyata


juga menyimpan rasa terhadapnya meskipun dia masih tahap belajar. Meski


demikian, Black Aura memiliki niatan untuk menggali lebih jauh serta berusaha


memahami beberapa perasaan yang baru sebagian dia peroleh. Aura sedatar dan


sedingin Black Aura ini tidak bisa ditebak dengan mudah sifatnya. Menurut Chloe


pribadi,Black Aura bisa saja menjadi pemaaf, bisa saja menjadi pendendam.


Teringat akan ocehan Aurora tentang dendam yang ia miliki disamakan dengan


Black Aura yang merupakan gambaran dari perasaan dendam. Sebetulnya, Chloe tidak


terlalu berpikir jauh kesana. Yang terpenting sekarang, dia harus menemukan


Black Aura di daerah kota yang luas dengan puluhan arah jalan tanpa ujung.


“Morgan… Kau mau kan temani aku?” tanya Chloe dengan


wajah memelas.


Morgan tersenyum hangat lalu mengangguk pelan. “Apapun


yang kau inginkan, tuan putri.” Balasnya yang otomatis membuat dada Chloe


berdebar-debar. Seketika, rona merah mewarnai pipi kiri dan kanan Chloe.


“Terima kasih, ya!” ucap Chloe malu-malu.


~


Di atas salju tebal, Black Aura berjalan pelan


meninggalkan jejak sepatunya di atas sana. Langit terasa semakin larut dalam


kegelapan, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, Black Aura


mengantar Rara pulang ke rumah Midnight lalu kembali melanjutkan perjalanannya


mencari Chloe dan Morgan.


Sepanjang jalan, pikirannya hanya kosong. Jangan samakan


dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Benak Aura itu tidak dipukul oleh


benda apapun yang dengan mudahnya dapat membuat Aura itu melontarkan sepatah


dua kata kekesalannya dengan apa yang telah dia alami hari ini.


Memang benar dia tidak menikmati apa yang telah


disajikan hari Senin. Namun, Black Aura juga tidak ingin menyalahkan jalan


dunia Chloe. Warnanya tidak selalu hitam putih, ada kalanya dunia itu menjadi


merah, kadang biru, kadang kuning. Seperti melodi yang memiliki tangga. Sebagai


pemain musik yang profesional, tidak selamanya dia menggunakan nada tinggi


untuk menghibur para pendengar yang saat itu kebetulan melintas atau

__ADS_1


benar-benar senang mendengarkan musiknya. Ada saatnya dia menggunakan nada


rendah sebagai ungkapan betapa birunya perasaannya kala itu.


Jika biru dekat dengan kesedihan maka, warna yang sedang


mewarnai diri Black Aura ini adalah ungu. Berbeda dengan manic violetnya yang


selalu tampil indah kemanapun Aura itu melirik. Ungu yang dia rasakan kental


sekali negatifnya. Seakan menjelaskan bahwa itulah yang disebut sebagai


kecemburuan.


Black Aura mencengkram erat mantelnya. Dia merasakan


sakit di dadanya. Lebih sakit dari luka yang dia rasakan ketika dihajar oleh


serangan yang diluncurkan Legend Aura padanya. Luka yang disebabkan oleh


manusia jauh lebih menyakitkan.


Waktu seakan berpihak pada keheningan. Fakta bahwa waktu


layaknya pedang yang menghunus apapun yang ada di depannya tanpa memandang


seberapa indah dan pilunya keadaan lingkungan di sekitarnya. Black Aura yakin,


perasaan cemburu ini pasti akan tersapu cepat jika dia mengikuti alur waktu.


Akan tetapi, dalam lingkaran sepuluh jam itu, perasaan sakit di dadanya belum


juga pudar.


“Apa-apaan rasa sakit ini?” gumam Black Aura datar.


Perlahan-lahan, dampak yang dia peroleh dari dunia Chloe mulai mendominasi


dirinya. Black Aura merasakan perbedaan lain di dalam dirinya. Seperti halnya


manusia yang menangis karena merasakan perih di hatinya, Black Aura turut


merasakan hal yang serupa seperti manusia di dunia itu.


Hati ya? Mungkin inilah yang ia peroleh. Entah hati itu


berupa organ atau sekedar ungkapan yang digunakan sebagai gambaran dari


perasaan, yang jelas, Black Aura merasa hatinya telah dilukai oleh sesuatu. Cengkramannya


semakin kuat setiap kali benaknya melukis sosok Chloe bersama Morgan tengah


berbincang berdua tanpa memperdulikannya yang saat itu juga ingin nimbrung dan


berbaur setidaknya.


Di tiang lampu jalan, Black Aura menempelkan tubuhnya


dengan kedua matanya yang berlinang air mata. Tangan kanannya belum bisa


berpisah dengan kain mantel yang tak lama lagi sobek dibuatnya. Faktor emosi,


makanya tangannya merasa bimbang ingin membebaskan kain mantelnya atau tidak.


Setetes demi tetes, air mata itu mulai berjatuhan dan


membentuk genangan kecil sementara di atas salju yang dingin. Di bawah cahaya


yang terbatas, Black Aura hanya bisa merenung sembari mempelajari serta


membiarkan sakit itu menyerangnya hingga membuat air matanya mengalir tanpa


henti.


Diabaikan. Kalimat itulah yang terlintas cepat di benak


Black Aura. Penyesalan? Bagaimana dengan kalimat itu?


Perasaannya kacau. Terus terang, Black Aura lemah dalam


menstabilkan kembali jalan perasaannya. Seperti benang merah. Namun kali ini,


benang itu terlalu lama terlilit hingga menjadi sebuah ikatan tanpa celah yang


tidak dapat mengembalikan rupa benang itu menjadi lurus seperti awal.


Di sekitarnya, tidak ada seorangpun yang melintas


kecuali ribuan salju yang mengambil alih pekerjaan hujan. Black Aura teingat akan


kalimatnya yang tidak pernah membutuhkan bantuan siapapun selama dirinya masih


bisa berdiri. Akan tetapi, bagaimana dengan masalah yang satu ini? Tampaknya,


Aura itu membutuhkan sandaran yang dapat mengembalikan emosinya menjadi lurus


dan stabil seperti sepuluh jam yang lalu.


Dia kesepian.


Dia membutuhkan seseorang yang dapat mengubah warna ungu


itu menjadi kuning.


Black Aura terisak perlahan. Dia kesulitan menghentikan


air matanya. Meskipun dia benci mengakui dirinya yang terlihat cengeng saat


ini, tapi, air mata dan rasa sakit di dadanya itu adalah fakta. Fakta yang


hanya diketahuinya seorang. Baik Devil mask, Midnight, dan lainnya, tidak ada


satupun yang tahu.


Tiba-tiba, Black Aura mendengus. Padahal tidak ada yang


lucu tapi Aura dengan gampangnya mendengus geli bersamaan dengan air matanya


yang mengalir deras di pelupuk mata kirinya.


“Lelah…” ujarnya bersamaan dengan suaranya yang hanyut

__ADS_1


tersapu angin di malam hari.


~


“Lo? Aura?” Midnight menatap bingung pada Black Aura


setelah membuka lebar pintu ruang tamunya dan mendapati Aura itu berdiri di


depannya dengan wajah datar.


Saat itu, jam dinding menunjukkan pukul sebelas pas.


Black Aura kembali ke rumah tapi tidak bersama Chloe. Lalu, ke manakah gadis


itu sekarang? Dan kenapa hanya Black Aura seorang yang kembali? Midnight patut


mempertanyakan kedua hal tersebut namun terhalangi oleh raut datar Black Aura.


“Dimana Silentwave?” tanya Black Aura tanpa basa-basi.


“Silentwave? Dia di dalam. Tu-tunggu dulu! Kenapa kau


tiba-tiba menanyakan Silentwave? Dimana Chloe? Bukankah seharusnya kau


bersamanya?” Midnight bertanya dengan wajah penuh tanda tanya. Dia penasaran,


apa yang sudah terjadi pada Black Aura dan Chloe.


Black Aura menghela nafasnya lalu tersenyum meski


rasanya sedikit aneh. Dia tidak langsung menjawab semua pertanyaan Midnight.


Seperti biasanya, dia menundukkan dirinya demi menyamakan tingginya dengan


wanita berkacamata itu. “Aku ingin pergi. Ada banyak hal yang perlu


kuselesaikan. Ibu juga tahu sendiri, kan?”


“Maksudmu, pergi ke Carnater? Untuk apa? Kenapa tidak


kau nikmati saja liburan singkatmu bersama Chloe? Bukankah kalian dekat?”


protes Midnight.


“Sekarang bukan waktunya bersantai bagiku. Aku berbeda


dengan ibu dan juga Chloe. Sejak awal, aku bukan manusia seperti kalian dan


asalku juga bukan dari dunia ini. Ibu tahu bukan? Masih ada tiga anggota


keluarga kita yang masih terjebak di sana? Carnater yang sekarang tidak sesepi


yang dulu. Aku ingin secepatnya membunuh semua Legend Aura itu.” Ungkap Black


Aura.


“Tapi kenapa harus sekarang? Kau mau pergi sendiri ke


sana?”


Black Aura mengangguk. “Jangan beritahu Chloe kalau aku


mau pergi.”


“Eh?” di balik kacamata bulatnya, Midnight membelalakkan


matanya.


Sepertinya memang ada yang tidak beres diantara Chloe


dan Black Aura. Sebenarnya, Midnight ingin menanyakan banyak hal mengenai alasan


kenapa Black Aura mendadak ingin pergi ke Carnater sedangkan di Carnater itu


keadaannya tidak seramah di dunianya. Aura-aura yang berasal dari jiwa manusia


itu berkumpul di wilayah acak. Midnight menduga, mereka memiliki teritori


masing-masing dan bersifat labil serta agresif.


“Aura, kumohon… Dengarkan aku! Keadaan di Carnater tidak


sestabil dulu. Para pendatang dari duniaku ini tidak selemah yang kau kira.


Yah, aku tahu kau punya kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapapun. Tapi,


pikirkan perasaan Chloe juga. Kulihat, hubunganmu dengan Chloe semakin erat


hari ke hari. Jadi, kenapa tidak kau nikmati saja liburan ini meskipun


sebentar?” bujuk Midnight. Kedua ujung bibir wanita itu membentuk garis


lengkung ke bawah. Bukan berarti dia kecewa dengan keputusan Black Aura,


melainkan perasaan sedih dan rasa sakit yang tengah menyerang Aura di depannya


itu.


Midnight bisa merasakan bagaimana sakitnya Aura itu. Midnight


sadar, tidak mudah bagi Black Aura mentoleransi rasa sakit yang dia rasakan


ini. Karena, manusia dan Aura itu berbeda. Kesabaran mereka dan tindakan mereka


dalam menghadapi perasaan mereka yang sedang tidak bagus itu juga tidak sama.


Midnight menduga, rasa sakit itu muncul disebabkan oleh


ulah manusia yang tidak lain adalah Chloe diikuti dengan beberapa penyebab


lainnya.


Terlalu larut dalam pikirannya, tanpa Midnight sadari,


Aura itu sudah meletakkan kepalanya di pundak kanannya seraya mengatakan


sesuatu yang langsung membuat Midnight menyerah menentang Aura itu.


“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Jadi, sekarang


atau nanti?”

__ADS_1


“Lima menit lagi…”


~


__ADS_2