
Tak pernah terlintas sedikitpun oleh mereka melihat Black Aura memeluk seseorang selain Chloe. Inilab kali pertamanya Black Aura berterima kasih pada dirinya sendiri.
Aura itu memeluk erat kembarannya. Jujur saja, mereka berdua kelelahan selepas bertarung sengit menghajar satu sama lain. Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada gunanya pertarungan mereka itu.
“Kenapa kau berterima kasih padaku?” tanya kembarannya dengan suara lemah.
“Karena kau adalah aku. Meskipun kau tiruan, kau bisa menyadarkanku akan kejanggalan dalam pertarungan kita ini,” balas Black Aura lembut. Saat itulah, kembarannya dibaluti oleh cahaya lembut berwarna violet. Perlahan-lahan, wujudnya pecah berkeping-keping.
Black Aura yang menjadi kembarannya memejamkan kedua matanya. Air matanya mengalir bersamaan dengan sosoknya yang lama-kelamaan menghilang menyatu dengan langit.
Karena sosok yang Black Aura peluk itu adalah dirinya sendiri, Chloe segera menepuk pelan pundak Black Aura dan meminta izin pada Aura itu bahwa dirinya juga ingin memeluk kembarannya. Walaupun sebelumnya Black Aura kembaran itu sempat menyakitinya, Chloe dengan cepat melupakan perlakuan buruk Aura itu kemudian memaafkannya dengan memberinya kehangatan berupa pelukan.
“Hati-hati ya, di dunia sana,” bisik Chloe sambil menepuk pelan punggung kembaran pacarnya itu.
“Kau nggak marah?”
“Awalnya. Tapi sekarang udah nggak lagi kok. Justru, aku menikmati pertarungan kita tadi. Aku merasa, seperti sedang bersama Black Aura yang masih diam dulu,” ungkap Chloe.
Kembaran Black Aura itu tak lagi merespon melainkan sosoknya menghilang menjadi serpihan Kristal yang berterbangan di langit malam. Omong-omong, langit malam itu sudah berubah menjadi biru dengan ribuan bintang yang berserakan di atas sana. Chloe dan teman-temannya memandang langit tersebut. Entah kenapa, mereka merasa kehilangan hari ini. Seolah ada sesuatu yang hilang setelah berjam-jam bertempur dengan para Aura dan berakhir dengan keheningan yang menguasai malam.
Karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain memandang langit dengan tatapan sedih, Midnight melangkah kakinya dan menyarankan kepada mereka semua untuk beristirahat. Menurutnya prediksinya juga, dua hari kedepan tidak akan ada serangan Aura yang kehilangan kewarasannya atau yang mau membalaskan dendam mereka. Hari-hari mereka aman.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita liburan dulu? Aku mau kalian semua voting, liburan di Carnater atau di bumi?” usul Midnight.
“Eh? Beneran nih?” dari belakang mereka semua, terdengar suara Aoi yang terkejut mendengar tawaran yang terdengarnya menyenangkan untuk mereka dua hari nanti.
Midnight tersenyum hangat seraya mengangguk pelan kepalanya. “Beneran kok. Prediksiku nggak pernah salah, asal kalian tahu ya!” guraunya lepas itu melangkah menghampiri Ethan.
Chloe mengernyit bingung. Dia merasa familiar dengan pria yang sedang Midnight ajak bicara saat itu. Dari tingginya, gaya rambutnya, dan cara dia tersenyum. Bedanya kali ini, pria itu tidak mengenakan kacamata seperti yang sering ia kenakan saat bersama Chloe. Terakhir kali, pria itu berbicara dengan Chloe saat hendak menyelesaikan semua tugas kuliah Chloe semasa gadis itu bolos. Ah, mengingat saat-saat itu, Chloe jadi malu rasanya.
“Aura, Midnight lagi ngomong sama siapa? Kok kayak kenal mukanya?” bisik Chloe.
Black Aura yang tadinya sibuk memandang langit, teralihkan dengan cepat atensinya ke arah pria yang saat itu tertawa mendengar lelucon Midnight. Seketika, Aura itu terbelalak begitu mengetahui siapa sosok yang sedang berdiri disana ditambah dengan senyuman yang menurut Black Aura itu sangat menjengkelkan. Intinya, sejak awal bertemu sampai pertemuannya saat ini, Black Aura masih sulit menerima kehadiran pria tersebut. Paling benci jika pria itu sampai mengajak Chloe berjalan-jalan entah ke mana tempatnya sampai-sampai membuat Chloe dengan mudah melupakan dirinya.
“Dia teman ibu semasa SMP. Ibu mengenalnya dengan nama Ethan. Tapi kita mengenalnya dengan nama Morgan,” jelas Black Aura malas.
Black Aura menepuk jidatnya pelan. “Morgan itu nama samarannya. Nama aslinya adalah Ethan. Aku lupa nama panjangnya. Intinya, Ethan dan Minji yang kau kenal itu mereka adalah saudara kandung,” tukas Black Aura selepas itu kembali memandang langit sambil berusaha melepas kekesalannya usai membahas nama seseorang yang tidak ia sukai.
“Heh? APA?!” Chloe terbelalak. Tubuhnya mematung seolah sulit menerima kenyataan itu. Bersaudara kandung dengan Minji katanya? Lagi-lagi, kenapa semua orang yang ia kenali itu memiliki koneksi dengan Minji?
Uh, apa sebaiknya aku menjauh aja dari Morgan? Pikir Chloe tak enak.
Yah, dilihat dari suasana malam ini, tampaknya tidak akan ada lagi yang namanya pertarungan. Mengingat penampilan mereka yang acak-acakan serta sebagian perut mereka yang berbunyi, Midnight menyuruh remaja-remaja itu untuk pergi ke mansionnya untuk menikmati makan malam. Setelah itu, barulah mereka membersihkan diri dan tidur di kamar yang sudah Midnight tentukan.
__ADS_1
Sungguh hari yang melelahkan ya!
Black Aura sendiri yang bukan manusia saja merasa ingin tumbang seiring banyaknya tenaga dan kekuatannya yang terkuras. Meskipun begitu, Aura itu tetap menikmati hari-harinya. Selama ada Chloe disampingnya, segala kesulitan yang dihadapi terasa begitu mudah.
Satu senyuman dari Chloe sama dengan ribuan kekuatan yang disalurkan Midnight padanya.
Selama di perjalanan, Black Aura asyik berdiskusi dengan dirinya. Kalau tidak salah dengar, Midnight ingin mengajak mereka berlibur ke pantai. Pantai adalah perbatasan antara daratan dan lautan, sudah pasti kegiatan yang berhubungan dengan air bakalan ada disana. Saat melihat Chloe yang tengah membaca novel online di ponselnya, terlintas cepat di benak Black Aura mengenai papan seluncur dan air kelapa. Kira-kira, Chloe suka tidak ya, dengan kedua hal yang ada di benaknya tersebut?
Tak hanya benda-benda di pantai, masih ada dua hal lain yang patut Black Aura pikirkan agar dirinya tidak kehilangan Chloe.
Manik violetnya melirik dengan tak suka ke arah Ethan dan Megawave yang berjalan di belakangnya. Kedua orang itu besar kemungkinan bisa menarik perhatian Chloe.
“Cih! Kalau mereka berani menyentuh Chloe, hari itu juga…”
Mereka akan kusingkirkan!
~
“Jadi, begitu? Yah, gagal lagi deh,”
Di dalam kamar yang gelap itu, Emma duduk berhadapan dengan cermin besar yang memantulkan sosoknya yang sangat berantakan. Seperti orang yang frustasi dengan hidupnya, tapi memang begitulah kenyataannya. Setelah dirinya mendorong kekasihnya dari gedung dan mengambil alih pikiran Legend Aura, Emma kali ini berniat untuk membunuh Midnight. Yah, walau sampai detik ini masih belum terpikirkan caranya, Emma sudah mendapatkan gambaran kematian wanita berkacamata bulat itu.
__ADS_1
“Seperti yang kau bilang Yuuki, malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan…”
~