Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 184 {Season 2: Saudara Tiri}


__ADS_3

“Lama nggak jumpa, Chloe…” pria itu memperlihatkan seluruh wajahnya yang tadinya tertutup karena posisi kepalanya menunduk menghadap sepasang sepatu bootnya.


Chloe yang semulanya ketakutan sekaligus gemetar hebat menanggapi kehadiran pria itu berubah menjadi datar raut wajahnya. Perasaannya yang naik turun itu mendadak lurus tepat di garis x nol.


“Oh, jadi kau sengaja menidurkan orang lain agar kau bisa bertemu denganku?” tanyanya dingin.


“Hm? Kau kenal dia?”


Sebelum pria itu menjawab pertanyaan Chloe, Black Aura lebih dulu bertanya karena dirinya tidak mengerti dengan situasi seperti ini. Yang terlintas di benak Black Aura saat ini adalah, dirinya akan menghabisi Legend Aura misterius yang merasuki pria itu. Tapi anehnya, pria itu ternyata mengenal Chloe.


Hal ini memperkuat bukti bahwa pria dihadapannya sedang tidak dikendalikan oleh Legend Aura melainkan mereka bekerja sama. Wah, bahaya sih, kali ini.


Sebelumnya juga, Black Aura sudah menghubungi Devil Mask untuk datang ke mall. Karena, belum semua kemampuan dari Legend Aura yang Black Aura ketahui. Mengingat sebelumnya dia pernah berhadapan dengan Aurora yang kemampuannya sukses mengejutkan Black Aura. Yah, waktu itu sih, dia terlalu meremehkan acting Aurora sebagai Aura yang lemah. Sekalinya pindah orang dan menguasai Chloe… Oke,cukup.


Chloe menoleh kearah Black Aura singkat. Selain dingin, Black Aura bisa menangkap sisi ketakutan di balik raut dingin tersebut. Seolah ada yang mengganggu pikiran gadis itu.


“Aku mengenalnya. Dia orang yang kuceritakan semalam itu, Aura…” lirih Chloe.


“Jadi, gimana?”


“Yah, kayak biasanya, kau basmi Aura di dalam dia dan sisanya biar aku selesaikan masalahku dengannya. Cih! Kenapa harus dia sih?” gerutu Chloe dengan kedua tangannya terkepal keras seolah ingin menonjok wajah pria itu tapi tak bisa karena jarak.


“Oh, jadi pria di sampingmu itu Aura?” celetuk pria misterius itu. Dia masih menyeringai disertai. Sampai akhirnya di memperlihatkan wajahnya pada Chloe dan Black Aura.


“Kau masih ingat namaku, kan Chloe?” tanyanya kemudian mengeluarkan tongkat dengan mahkota raja di atasnya.


“Heh? Dia yang mana lagi?” Black Aura terbelalak melihat senjata yang pria itu keluarkan.


Sejauh ini, Legend Aura yang dia lawan tidak ada satupun dari mereka yang menggunakan senjata tongkat dengan mahkota raja. Yang ia tahu baru Dark Flower tapi mahkotanya berupa kelopak bunga.


Nggak mungkin dia Huke…


“Kalau nggak salah, kau yang namanya Black Aura itu kan? Aku dengar kau yang paling kuat di antara kelompokmu. Oh, bukan… Aku dengar Midnight yang paling kuat dan kau yang kuat kedua kan?” basa-basi pria itu.


Black Aura tidak merespon. Aura itu mengeluarkan pedangnya. Baginya, pria di hadapannya ini sudah jelas harus dia bunuh. Mengingat mereka yang tidak sengaja menemukan mayat seorang pria ditemukan terduduk kaku di dalam lift. Sudah pasti pelakunya adalah orang yang Chloe kenal ini.


“Btw, kita belum kenalan ya! Perkenalkan, namaku Edward. Aura yang ada di dalam diriku ini namanya adalah… Huke,” pria bernama Edward itu akhirnya memperkenalkan dirinya.


Seketika, Black Aura yang mendengar nama ‘Huke’ itu terbelalak kaget. Akan tetapi, kagetnya tidak hanya sampai disitu saja.

__ADS_1


Saat Edward mengatakan, “Aura itu sudah mati dan kekuatannya, sepenuhnya menjadi milikku,” barulah Black Aura dibuat terkejut bukan main.


“Kenapa terkejut? Takut mati ya, karena lawanmu sekarang adalah manusia?” goda Edward. “Oh, ya, Chloe! Kau tahu? Alasan kenapa aku ada disini dan kenapa aku bisa tahu kalau kau dan Black Aura bakal kesini, kau tau nggak?”


“Ha? Jadi kau udah tahu?” balas Chloe. Lebih tepatnya, Chloe sebenarnya enggan mau membalas omongan saudara tirinya. Mengingat masa indah remajanya direnggut oleh Edward dan ibu tirinya tentunya,


Chloe tahu bahwa pilihan dia ingin membunuh Edward bukanlah pilihan yang bagus. Selain itu, dia juga penasaran dengan alasan Edward datang ke Amerika.


“Yap! Aku tahu semuanya! Bahkan kematian Lucas sekali…”


Belum selesai Edward menyelesaikan omongannya, sebuah sepatu melayang tepat mengenai wajahnya. Edward reflex mundur selangkah karena kaget mendapat serangan kejutan yang sepele tersebut.


“Jaga mulutmu, anak manja!” umpat Chloe.


“Oh, gitu ya? Mentang-mentang kita nggak sedarah, seenak jidatmu aja main menganggapku begitu. Kan, sudah keputusan papamu mau menikah dengan mama,” balas Edward semakin memancing amarah Chloe.


“Cih!”


Tapi, memang benar yang dia katakan… Papa waktu itu…


“Oi, jangan bengong,” Black Aura menepuk pelan pundak Chloe bermaksud agar pikiran gadis itu tidak terlalu terpaku pada masa lalu.


Chloe  mengangguk pelan.


“Oh, ya? Kau nggak penasaran gitu gimana kabar papa sama mama?”


“Hm?” Chloe dan Black Aura secara bersamaan mendongak menatap datar ke arah Edward yang kelihatannya sudah tak sabar ingin menghajar mereka.


Chloe bisa menebak, ada perasaan dendam yang tersimpan di dalam diri Edward. Tak hanya Edward, Chloe sendiri juga punya perasaan seperti itu. Rasa dendam yang selama ini ia pendam.


Pertanyaan terbesar Chloe sejauh ini adalah; siapa yang membunuh Lucas?


Sisanya hanyalah dendamnya terhadap keluarga dia baru. Chloe merasa Black Aura, Midnight, Aoi, dan Jacqueline, adalah tempatnya untuk pulang. Tempat pulang yang sebenarnya.


“Kabar keluargamu ya? Memangnya, ada muka aku peduli? ADA NGGAK?!”


Edward terkekeh. “Kau marah ya? Maaf deh, kalau masa remajamu hancur. Aku kan masih kecil waktu itu… Jadi…”


BUAK!

__ADS_1


Black Aura dengan cepat menendang pinggang pria itu hingga terpental masuk ke dalam toko buku yang berada di samping mereka.


“Biar aku yang urus. Chloe, kau lebih baik panggil Devil Mask,” Black Aura menyerahkan ponsel Chloe yang diam-diam dia ambil untuk menyimpan kontak Devil Mask.


“Lah? Tapi, lawanmu itu manusia. Memangnya kau bisa? Kalau kau luka parah kayak ngelawan Aurora dulu gimana? Aku nggak mau kejadian itu terulang lagi!”


“Aku juga pikir begitu. Tapi, aku lebih mengkhawatirkanmu yang manusia. Pokoknya, Chloe pokoknya kau harus keluar dan hubungi Devil Mask!” tegas Black Aura yang Chloe rasa tidak bisa lagi dibantah.


Akhirnya, Chloe terpaksa pergi keluar mall dan membiarkan Black Aura berhadapan dengan adik tirinya, Edward.


“Cih! Belum puas ya, hancurin masa laluku?” gumam Chloe kesal.


Sementara di dalam mall. Kericuhan muncul di setiap toko di sana. Mulai dari Edward yang melempar patung manekin perempuan ke arah Black Aura, kemudian dibalas dengan tendangan Black Aura yang mengarah tepat di samping wajahnya.


Serangan Black Aura kali ini terkesan tidak ada toleransinya sama sekali. Entah apa alasannya tapi Edward berpikir, bahwa Black Aura sedang membalaskan dendam Chloe terhadapnya.


Edward menyeringai, “Ternyata, fantasi itu benar-benar ada ya! Btw, kau udah berapa lama pacaran sama Chloe? Dua tahun kah? Tiga tahun?” basa-basinya tapi tidak digubris Black Aura.


“Kayaknya, Chloe benci kali sama aku. Mungkin aku salah, tapi, nggak semudah itu aku ngaku kalau diriku salah. Kau tahu? Kecemburuan cewek itu mengerikan. Apalagi kalau mereka udah dendam. Keknya, seribu cara yang ada bakalan mereka pakai semua demi membalas dendam mereka gitu,” oceh Edward dan masih tidak direspon Black Aura.


Black Aura kini mengeluarkan sabitnya lalu menebas Edward. Tidak peduli dengan spesies Edward yang manusia atau bukan, bagi Black Aura, apapun yang sudah terkontaminasi dengan Aura tidak masalah jika mereka dihajar dengan senjata Aura itu sendiri.


“Auw! Sakit, Aura!” seru Edward.


Saat Black Aura melihat darah yang mengalir dari pinggang sampai ke pundak kiri atas, warnanya merah bercampur hijau tosca. Di sana ada darah Huke tapi tidak dengan jiwanya.


Black Aura semakin bertanya-tanya, sebenarnya, kemana Legend Aura itu pergi? Kenapa Huke udah mati? Kenapa kekuatannya bisa ada sama anak ini?


Di tengah lamunannya yang sudah otomatis membuat Black Aura tak fokus, Edward dengan sigap menyeran Black Aura dengan melayangkan mahkota raja itu tepat di kepala bagian kiri Black Aura.


Alhasil, Aura itu terpental sangat keras sampai dirinya menabrak mesin minuman. Mesin itu rusak bersamaan dengan beberapa kaleng soda, jus, dan minuman berperisa lainnya menghantam kepala Black Aura.


Sakit. Sudah pasti sakit. Karena lawannya saat ini adalah manusia berkekuatan Aura. Black Aura tidak mengerti maksud kata-kata Edward tentang dirinya yang sudah lama mengawasi Chloe. Memangnya kapan? Dan dimana? Apa benar dia mengawasi Chloe sampai harus repot-repot ke Carnater?


Sebenarnya Edward ini punya hubungan apa dengan Yuuki? Astaga, saking banyaknya pertanyaan yang terlintas di benaknya, Black Aura sampai pusing sendiri harus melakukan apa selanjutnya agar dirinya bisa menumbangkan Edward.


Pria itu menyeringai sambil memainkan tongkatnya. Black Aura yakin kalau tongkat itu milik Huke. Mengingat Huke jarang sekali mengeluarkan senjata. Aura itu lebih dominan menggunakan kemampuannya yaitu meniru kemampuan Aura lain ketimbang mengeluarkan kekuatan aslinya.


“Huke…”

__ADS_1


~


__ADS_2