Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 112 {Season 2: Aurora}


__ADS_3

Dua puluh menit sebelum kejadian di lantai tiga…


Setelah mendapatkan izin dari Black Aura, ketiga remaja itu dengan senang hati bergegas menuju dapur yang berada di lantai lima mansion. Meskipun sebelumnya sempat mengeluh karena harus menempuh perjalanan lumayan panjang dan memakan waktu. Belum makan apa-apa, malah waktu duluan yang mereka makan. Bisa-bisanya seperti itu.


Selama di perjalanan, mereka disambut oleh koridor mansion yang sangat panjang. Semakin lurus ke depan, semakin gelap ujungnya. Di samping mereka terdapat puluhan pintu yang tertutup rapat. Chloe heran, apa Mansion sebesar ini penghuninya cuma lima orang? Lantas, bagaimana cara mereka membersihkan puluhan ruangan ini hanya dengan lima orang sedangkan empat orang itu adalah Aura yang gemar sekali keluar rumah untuk bertarung.


Chloe mendesah malas. Pikirannya tak bisa lepas dari Black Aura yang mendadak tak ingin diajak itu. Yah, Chloe paham sedikit kepribadian Aura itu dan Chloe menganggap Black Aura itu Aura introvert. Bukan hal mudah baginya berinteraksi dan bersenang-senang dengan para manusia. Ditambah lagi dengan penggalan kalimat yang pernah ia lontarkan sebelumnya kalau dia tidak bisa bertahan terlalu lama di keramaian.


Padahal kan, Cuma tiga orang aja. Mungkin dia lagi mikirin rencana buat cari manusia-manusia itu. Pandangan Chloe, ia alihkan ke platform koridor. Di sana ada lampu tapi tidak menyala.


“Gelap kali,” lirih Aoi merinding.


“Iya…” balas Chloe. Nadanya terdengar tidak bersemangat sehingga menyadarkan Aoi dan Jacqueline akan kejanggalan pada sahabatnya tersebut.


“Ada apa, Chloe?” tanya Jacqueline khawatir.


Tapi, gadis itu hanya membalasnya dengan helaan nafas berat. Chloe yang saat ini bingung dengan apa yang ia rasakan. Mungkin bosan.


“Kalau ada sesuatu yang menjanggal di hatimu, katakan saja pada kami,” ucap Jacqueline menambahkan.


“Itu… Aku Cuma bingung aja gimana caranya agar seperti kalian. Di mataku, kalian ini akrab banget. Entah sebagai sahabat atau pacar, kalian akrab banget pokoknya,” ungkap Chloe langsung ke inti.


Mendengar hal itu, Aoi dan Jacqueline tersenyum. Segeralah mereka mendekati Chloe, merangkul pundak gadis itu. “Kalau itu yang ingin kau tanyakan, katakan saja. Hm, tapi kau nggak iri kan?” ujar Aoi sambil terkekeh.


Chloe menggeleng pelan. “Aku nggak iri kok. Aku udah dapetin sesuatu yang kuinginkan. Jadi, tidak ada gunanya lagi aku merasa cemburu akan sesuatu. Ao… Jacqueline… Aku Cuma takut kalau ikatanku sama Aura nggak bakal berlangsung lama.”


“Ah, jangan berpikiran negatif! Kami yakin, kalian itu pasangan yang serasi. Selain itu, kalian saling melengkapi. Kau yang polos tapi berenergi dan Black Aura yang diam tapi kaku di keramaian. Kalian bisa melengkapi plus minus kalian,” jelas Jacqueline.


“Kalian benar. Selama ini aku selalu saja minder. Padahal, sesuatu yang aku punya itu justru langka.”


“Maka karena itulah…”


Gruukk…


Aoi membeku dengan senyuman manis yang dengan cepat berubah menjadi kaku. Pipi pria jepang itu memerah karena malu. Sisi manis yang sering Aoi sembunyikan itu akhirnya timbul ke permukaan dan membuat kedua gadis di depannya menjerit. Memuji keimutan wajah sahabat jepang mereka.


Chloe mendengus geli, disusul dengan ledakan tawa renyahnya menanggapi bunyi perut Aoi yang lapar. “Maaf, maaf… Ayo, kita sarapan dulu!” ajaknya. Di sisi lain merasa bersalah.

__ADS_1


“Kayaknya kau dan Chloe harus tingkatkan lagi sifat jujur kalian. Kalau nggak, nanti kalian malu,” tutur Jacqueline


“Hahaha, kayak Aoi!”


“Apa-apaan sih, kalian?!”


“Oh, ya, ngomong-ngomong soal ritual itu… Apa benar harus kita yang melakukannya?” tanya Jacqueline mengalihkan perhatian sahabatnya.


Chloe berpikir sejenak. “Makanya itu, aku mau ngajak Black Aura tapi orangnya nggak mau. Kan bingung.”


“Oh, jadi karena itu kau nanya kami. Jangan khawatir, Black Aura nggak bakal selamanya dingin. Sama kayak manusia, pasti dia berubah,” jelas Aoi. Tanpa mereka sadari, dapur yang mereka cari sekarang ada di depan mereka. Dapur dengan pintunya yang terbuka lebar. Saat itulah, senyuman mereka mekar bagaikan bunga.


“Akhirnya sampai!”


“Yuuhuu! Jadi kita bakal sarapan apa nih?” Chloe membuka satu persatu lemari yang tersedia di dapur itu. Semua lemarinya penuh akan snack dan juga bahan-bahan makanan seperti bumbu serbaguna. Dua kotak bergambar mie instan di lemari bagian bawah. Benar-benar lengkap.


Saat Jacqueline membuka kulkas, gadis itu menemukan dua puluh kotak bolu coklat. Ehe? Kalian kejam-kejam tapi makannya yang lembut-lembut. Kok lucu.


“Hei, kalian! Lihat!” panggil Jacqueline.


“Bolu?” Chloe menelengkan kepalanya heran.


“Banyak banget! Kira-kira, boleh ambil satu nggak… Whoa, astaga!”


Tinggal lima centi tangan Aoi menyentuh kotak bolu tersebut, telinga ketiga remaja itu merespon suara pecahan dinding dari lantai bawah. Getaran yang diberikan suara itu merambat sampai lantai atas layaknya gempa bumi. Chloe terjatuh kehilangan keseimbangannya. Aoi dan Jacqueline menyusul sebelum akhirnya berdiri lagi dengan dibantu oleh Aoi. Meja, lampu, pot veronica, dan beberapa kotak bolu coklat berjatuhan di depan mereka. Beruntunglah, tidak ada satupun bendanya yang menghantam kepala mereka.


“Ada apa ini? Kenapa bergetar semua?!” seru Chloe panik. “Tunggu, jangan-jangan ada pertarungan di bawah?”


Tanpa pikir panjang, Chloe berbalik seraya menghamburkan langkahnya ke lantai bawah. Meninggalkan Aoi dan Jacqueline yang meneriaki namanya tapi diabaikan.


Di dalam koridor yang bergetar itu, Chloe berlari. Gadis itu tidak memikirkan detak jantungnya yang memiliki batasan lantaran semangat empat limanya akan goncangan di lantai bawah itu membuatnya terbayang akan pertarungan sengit dan seru yang akan menjadi tontonannya nanti.


Chloe menyeringai, bersamaan dengan keringatnya yang bercucuran deras. Ketidak sabaran telah merengkuh dirinya. Gadis itu memaksa kedua kakinya menuruni ratusan anak tangga tanpa memperdulikan keselamatannya. Selama dia tidak tersandung, semuanya akan baik-baik saja.


~


“Suara  itu…” Black Aura tertegun. Tak lama kemudian tersenyum seolah dirinya sudah lama menduga akan kehadiran sosok di dalam tubuh Ethan ini. Ya, sejak Ethan dan Midnight menginjakkan kaki mereka di depan pintu masuk mansionnya. Sejak Ethan memeluk Midnight, saat itulah Black Aura dengan sigap keluar perpustakaan. Bergegas menuju lantai dua dan menemukan Midnight dengan matanya yang sembab karena menangis. Black Aura tidak langsung mengejutkan mereka, Aura itu memilih untuk diam sambil mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan.

__ADS_1


“Kalian mudah sekali tertipu. Memalukan!” ejek sosok di dalam tubuh Ethan. Untuk kali ini, sosok itu tidak mengendalikan tubuh mangsanya melainkan menggunakan telepati untuk berkomunikasi dengan Black Aura. Ethan sendiri bisa mendengar suara seorang gadis dari dalam dirinya. Lagi-lagi, yang hinggap di alam bawah sadarnya adalah Aura bergender perempuan. Dia heran. Sebenarnya apa hal menarik darinya yang membuat Aura-aura itu tertarik hinggap di dalam alam bawah sadarnya.


“Aura…” bisik Ethan langsung menyadarkan Black Aura dari lamunannya.


“Hm?”


“Sebenarnya siapa lagi di dalam diriku? Kenapa aku selalu diikuti sih?” adu Ethan takut. Seingatnya, semasa kecilnya ia tidak pernah sekalipun datang ke tempat pemakaman. Bangunan terbengkalai ataupun salah satu ruangan sekolah yang dirumorkan memiliki penunggunya saja sama sekali tak pernah ia kunjungi.


Ethan menepuk jidatnya. Baru ingat kalau Aura dan hantu itu berbeda.


“AURA! MINGGIR! NANTI KAU KENA SERANG!”


Teriakan lantang milik seorang gadis sukses menarik perhatian Ethan dan Black Aura. Tanpa pikir panjang, Black Aura segera melompat ke belakang menghindari Ethan. Sedangkan Ethan, dia berusaha bangun akan tetapi, pria itu malah kehilangan kesadarannya.


Sosok Chloe dan Black Aura yang berdiri di hadapannya mendadak buram di mata Ethan. Tubuhnya sempoyongan seperti kehilangan banyak darah.


“Chloe…” lirihnya tak lama kemudian tubuhnya ambruk.


Saat tubuhnya melemah, barulah sosok itu memperoleh kesempatan untuk mengambil alih tubuh Ethan.


“Morgan!” pekik Chloe namun langkahnya ditahan oleh Black Aura. “Dia dalam bahaya,” tambah Chloe dengan raut memelas seolah meminta tolong Aura itu untuk segera menyelamatkan Ethan.


“Jangan khawatir, aku akan menyelamatkannya,” respon Black Aura yang terlihat fokus memperhatikan Ethan yang berlagak aneh. Sepertinya, sosok di dalam tubuh Ethan itu berusaha untuk menyesuaikan jiwanya dengan mangsanya.


“Akhirnya ketemu!” serunya lantang. Jari telunjuknya ia arahkan ke Midnight sambil berkata, “Aku menemukanmu!”


“Sudah kuduga, aku yang diincar.”


Bola mata Midnight berotasi malas. Padahal, Yuuki sudah jelas-jelas dalam keadaan kritis saat ini. Ternyata kondisi seburuk itu tidak bisa disamakan dengan tingkat kewarasan Auranya. Hah, mau sampai kapanpun, bagi Midnight, Yuuki hanya akan menjadi manusia yang sangat membebaninya.


“HAHAHAHA! HATI-HATI LHO! SEKALI KEDIP, KALIAN SEMUA AKAN KUPINDAHKAN KE TEMPAT LAIN!” suaranya terdengar semakin besar bahkan nyaris menyerupai gema.


Karena mengganggu, Black Aura langsung memainkan pedangnya. Sayangnya terlambat. Sosok Ethan yang berdiri dengan seringai jahat itu berganti  menjadi pohon tua yang gersang. Aura itu kaget dan jatuh menabrak batang pohon. Setelah jatuh, Black Aura mendengar suara gaduh di belakangnya. Seperti ada tiga orang remaja yang terjatuh bersamaan, lalu menghantam rerumputan liar yang gersang.


“Mereka juga?” gumamnya heran.


~

__ADS_1


__ADS_2