Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 190 {Season 2: Keputusan}


__ADS_3

Pertarungan sengit pun berlangsung setelah serangkaian basa-basi singkat dari Devil Mask dan Black Aura dengan Huke, yang dilanjutkan dengan kejutan kecil dari kemampuan Huke yang sukses membuat pertarungan ini meledak layaknya perang dunia.


Huke yang saat ini berdiri terbalik di langit-langit mall itu bertanya-tanya mengenai keberadaan Edward dan hantu mamanya.


Padahal, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai tapi mereka malah menghilang begitu saja.


“Yah, seenggaknya aku punya kalian bertiga,” katanya diakhiri dengan senyum licik.


Grimoire melompat ke berbagai meja makan sambil melempar lima durinya di sembarang tempat. Sedangkan Devil Mask, Aura itu fokus menangkis semua duri itu sembari menggores lantai, meja, yah… Intinya benda-benda yang ada di sekitarnya.


“Cih, masih 25 goresan,” keluhnya kemudian meluncur menghindari duri panjang yang nyaris saja menembus topengnya.


“Aura! Dimana Chloe?” teriak Devil Mask.


Black Aura menoleh ke samping mencari letak keberadaan Devil Mask. “Aku nggak tahu!”


Karena lawannya adalah Dark Sport dengan tangan ogre yang besar, Black Aura tidak bisa selamanya fokus ke berbagai arah. Dia harus memposisikan semua penglihatannya pada serangan Dark Sport yang super cepat itu. Belum lagi dengan menahan pukulannya yang tidak kira-kira.


Dua bulan yang lalu, Dark Sport memukul Black Aura sampai membuat Aura itu terpental hingga menghancurkan salah satu museum.


Dan kalau nggak salah juga, dia juga suka sama Ethan. Tambah Black Aura dalam hati.


Cukup dengan Ethan dan memori dua bulan yang lalu, sekarang Black Aura melompat ke belakang menghindari pukul Dark Sport yang disusul dengan tendangan yang mengarah ke wajah Black Aura.


Beruntunglah, Black Aura bisa menghindari kedua serangan tersebut.


“Jadi, ada berita baru tidak tentang kehidupanmu? Aku dengar, kau punya pacar,” basa-basi Dark Sport sambil melayangkan tinjuannya.


Black Aura segera mengeluarkan sabit dan menahan pukulan tersebut. serangan kejutan lagi dimana kelima jari dari tangan Ogre Dark Sport menembakkan beberapa rudal yang celah untuk menghindarinya sangat sempit sekali untuk Black Aura hindari.


Alhasil, Black Aura terlempar dengan sejumlah luka bakar di tubuhnya. Sakit memang, tapi tidak separah saat dia menjentikkan jarinya dan memindahkan rasa sakit serta lukanya ke tubuh Dark Sport.


“Argh! Curang!” seru Dark Sport tak terima. Aura itu tumbang karena kaget usai merasakan rasa sakit sepuluh kali lipat di tubuhnya.

__ADS_1


Entah dari mana asalnya, Chloe—pacar Megawave itu muncul. Gadis elf itu berdiri di belakang Dark Sport kemudian menyembuhkan Aura itu dengan sihir penyembuhnya.


Wajahnya terlihat sangat datar seakan tidak memiliki jiwa di dalam tubuhnya. Yah, jika dilihat lebih jelas lagi, pelan-pelan terlihat ada lima belas benang merah tipis yang melilit tangan, kaki, dan leher Chloe.


Selama si pengendalinya masih ada, maka pertarungan ini tidak akan ada habisnya.


Sebenarnya bukan pertarungannya yang menjadi masalah besar bagi Black Aura, akan tetapi, keberadaan Chloe—pacar Megawave ini yang membuat Black Aura sedikit tidak leluasa bergerak. Entah apakah dirinya mengalami trauma sejak pedangnya secara tidak sengaja tertancap di dada Chloe, Black Aura merasa agak ragu ingin mengeluarkan pedang sejak saat itu. Apalagi di depan gadis lemah sepertinya. Terutama pacarnya sendiri, Chloe.


Dilihat bagaimanapun juga, Chloe dan Chloe—pacar Megawave sangat mirip. Perbedaannya terletak pada spesies dan potongan rambut mereka saja.


“Chloe…”


Tidak ada reaksi apapun dari wajah gadis elf itu. Tatapannya datar dan kosong, hampa seolah tidak bisa merasakan apapun.


“Kenapa Cuma dia yang diam?”


“Itu karena, Chloe yang ada di depanmu itu bukan Chloe yang waktu itu nggak sengaja terbunuh. Aku mengambil sampel darahnya dan aku menciptakan klonnya. Lumayan bukan? Dia itu medis terhebat di Carnater,” ungkap Huke yang saat ini duduk santai di atas etalase kue sambil menyantap cupcake yang ia ambil dari dalam etalase tersebut.


Black Aura memicingkan matanya ke arah Huke, kesal. Selain memanfaatkan Aura yang sudah mati, Aura itu juga keterlaluan memanfaatkan manusia yang sudah mati juga.


“Sumpah, aku heran sama manusia kadang,” ujar Black Aura menghindari salah satu rudal yang hampir menggores pipinya.


Pelan-pelan tapi sudah pasti langkahnya semakin cepat menghampiri Dark Sport yang hendak menghancurkan lantai tiga itu dengan sekali pukulan. Demi menghindari kerusakan yang parah, Black Aura segera menebas Dark Sport, lalu menusuk Aura itu dengan lima belas panah yang telah ia luncurkan.


“Ha!”


Tak tanggung-tanggung, Black Aura juga menendang Dark Sport  sampai Legend Aura itu tersandung oleh kaki Chloe yang sengaja dia panjangkan sebelum langkah tak teratur Legend Aura itu mengenainya.


Hasilnya, Dark Sport tersandung dan berakhir dengan luka goresan yang sangat dalam usai mendapatkan tebasan dari cakaran Devil Mask yang sudah ia pertajam berulang kali.


“Aura, kita juga harus membunuh Chloe. Kalau nggak, Dark Sport dan Grimoire bakal hidup terus!”


“Ha? Membunuhku?” celetuk Chloe tak terima mendengar ucapan Devil Mask.

__ADS_1


“Bukan kau,” sambar Devil Mask dingin.


“Aku… Aku nggak bisa,” balas Black Aura ragu.


“Kenapa?” tanya Chloe penuh tanda tanya.


Devil Mask yang sudah mengetahui alasan mengapa Black Aura menolak membunuh gadis elf itu menepuk pelan jidatnya.


“Itu udah setahun yang lalu, Aura! Dia yang di depan kita ini bukan yang asli. Yang asli udah nggak ada!” paksa Devil Mask sambil menarik lengan jaket hitam Black Aura.


“Hei! Kemana semua sifat kejammu itu? Kau menyesal?”


“Cih! Bukan urusanmu…”


“Tentu saja urusanku! Aura, dengar! Chloe itu beda denganmu. Dia pemaaf. Hatinya lembut. Dia antonym darimu, Black Aura! Kalau kau membiarkan Chloe itu hidup, kapan kalian bakal berkencan? Kau lihat bukan? Pacarmu, Chloe juga namanya—udah menunggumu TEPAT disampingmu! Kau tinggal pilih, mau Chloe pacarmu atau pacar Megawave?!” omel Devil Mask lama-lama geram dengan Black Aura yang mendadak tak bisa diandalkan karena rasa bersalahnya.


Memang fakta bahwa pedang yang tertancap di dada Chloe—pacar Megawave adalah pedang milik Black Aura. Akan tetapi, bukan Black Aura-lah yang melempar pedang tersebut melainkan Huke yang waktu itu sedang menangkis ratusan hujan pedang dari Black Aura. Ya, tentu saja, dengan strategi hujan pedang seperti itu, sudah pasti ada satu dari ratusan pedang itu yang terlempar dan melukai orang yang berlalu-lalang di sekitar kota itu.


“Yang Devil Mask bilang itu benar, Aura! Kau pilih aku atau dia?” timpal Chloe menarik lengan kanan Black Aura. “Kalau kau pilih Chloe itu, kapan kita pacaran? Kapan kita bersenang-senang? Aku udah nggak sabar banget mau bersenang-senang denganmu!” bujuk Chloe dengan raut memelas.


“Chloe…” Black Aura menunduk dengan isi kepala yang rumit.


“Aura, percayalah… Dia sudah memaafkanmu. Kau lihat, bukan? Meskipun dia hanya klon buatan Huke, dia tetap punya sedikit perasaan serta ingatannya sewaktu masih hidup dulu. Kau lihat sendiri, kan? Dia nggak menyerangmu sama sekali,” beber Chloe berharap sekali agar pacarnya itu mau menuruti perkataannya.


Sungguh, ini rumit sekali bagi Black Aura. Semua orang menganggap dirinya sebagai Aura terkejam. Akan tetapi… Apa-apaan rasa bersalah ini? Apakah pantas, dirinya yang kejam dan dingin ini kalah dari rasa bersalah? Setelah ratusan hari dia lewati dan tak pernah terlepas dari pertarungan sengit bahkan kematian Aura-aura di sekitarnya, baru kali inilah, Black Aura kalah dari rasa bersalahnya sendiri. Ini menyebalkan.


Tapi, demi Chloe pacarnya juga. Demi kebahagiaan gadis itu dan juga kenangannya… Black Aura akhirnya memutuskan untuk memilih pacarnya.


Yah, Chloe segalanya bagi Black Aura.


“Aura… Kau nggak bakal mengecewakanku lagi, kan?” tanya Chloe mungkin ini pertanyaan pertama sekaligus menjadi pertanyaan yang terakhir sebelum pilihan yang Black Aura pilih menjadi keputusan mereka antara akan berpisah atau tetap bersama.


~

__ADS_1


__ADS_2