Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 92 { Season 2: Perjalanan Panjang }


__ADS_3

“Perkenalkan namaku Grimoire. Atas perintah Lady Asoka, aku akan membantu kalian mencari teman manusia kalian yang tersesat.” Ucap Grimoire sambil menunduk penuh rasa hormat. Pertarungan sengit tadi terhenti begitu saja setelah Grimoire menerima surat yang Lady Asoka kirimkan padanya. Surat itu berisikan pesan pendek yang bertuliskan “Sudahi pertarunganmu dan bantulah manusia-manusia itu!”


Sebuah surat yang ditulis tangan langsung oleh Lady Asoka dituruti dengan baik oleh Grimoire.


Chloe menelengkan kepalanya heran. “Emangnya, ada manusia yang tersesat di dunia ini ya? Siapa?”


“Entah. Ikut alur aja deh! Toh, kau juga udah ketemu sama puja…” Aoi menghentikkan kalimatnya ketika mendapatkan tatapan membunuh dari Chloe. “Nggak jadi deh.” Aoi langsung mengubah jalan pikirannya dan diam sambil bersiul.


Sampai detik ini pun belum ada serangan kejutan dari Aura berkemampuan duri ini. Yang jelas, Chloe, Aoi, dan Jacqueline dibuat terkejut oleh perubahan sikap Grimoire yang mendadak diam dan penuh sopan santun. Dia bahkan meminta maaf pada Aoi karena telah melukai kaki kanannya lalu, memberikannya sebotol obat yang langsung menghilangkan luka di kaki Aoi. Bekas tusukan dan darah itu menghilang seketika begitu cairan dari obat itu dituangkan. Berguna juga, tapi Chloe dan kedua sahabatnya sama sekali tidak berniat membawa obat tersebut ke dunia nyata. Mereka tidak ingin terlihat mencolok hanya karena obat kecil tersebut dan membeberkan keberadaan dunia Carnater yang hingga saat ini belum ada satupun arkeolog maupun professor yang menemukannya.


“Kita beruntung ya!” celetuk Jacqueline ditengah perjalanan mengitari teritori Asoka.


Aoi dan Chloe menoleh bersamaan dengan raut bingung. “Apanya yang beruntung?” tanya Aoi.


“Bodoh! Bisa ke dunia fantasi itu sesuatu yang jarang terjadi lho! Nggak semua manusia bisa pergi ke dunia parallel. Bahkan, ilmuwan saja harus bersusah payah menciptakan mesin waktu atau mesin penghubung antar dimensi. Lah kita? Kita nggak perlu buat pun udah bisa langsung ke dunianya.” Jelas Jacqueline.


Barulah, Chloe dan Aoi paham maksud gadis berambut ungu panjang itu. Benar juga. Mendapatkan teman fantasi juga termasuk hal yang jarang terjadi di dunia nyata. Bagi Chloe, bisa berteman dengan Black Aura adalah karunia terindah yang pernah didapatnya seumur hidup. Chloe merasa dirinya jauh lebih hidup ketimbang sebelumnya. Dia rasa, dirinya yang sekarang justru lebih berani ketimbang yang lalu. Tentu semua ini berkat Black Aura dan pengalaman fantasi yang menuntunnya pada perubahan yang lebih baik lagi.


“Kalau dipiki lagi… Semuanya terjadi karena kita nggak sengaja menemukan buku misterius itu kan?” Aoi menimpali dengan tangan kanan di bawah dagunya. Pria itu berusaha memanggil beberapa potong ingatannya beberapa bulan yang lalu. Di saat bersamaan, Aoi merasa hatinya dibuat berat akan rindunya terhadap Yumi. Sebenarnya, Aoi sudah jarang bertemu Yumi. Aura itu tidak sering terlihat di rumah Midnight. Mungkin dia sedang menyelidiki sesuatu bersama Devil Mask.


Yah, sama kasusnya dengan Chloe meski berbeda cara menanganinya, Aoi memilih untuk fokus pada hubungannya dengan Jacqueline meski di lubuk hati terdalamnya, dia ingin sekali bercanda riang dengan Yumi. Gadis itu memang cerewet. Kalau dituruti, dia tidak akan menghentikkan omelannya sampai dirinya puas. Kemampuannya juga unik bagi Aoi. Dan, dari kemampuan itulah, Aoi bisa tahu hal-hal yang tidak Yumi sukai.


Yumi, kau dimana sekarang? Batin Aoi sedih.


Jacqueline tersenyum, “Buku itu… Isinya memang palsu, tapi, cara dia sanggup membawa kita ke dalam dunia yang nggak semua orang bisa memahami dunia itu. Jujur, aku bersyukur bisa bertemu Devil Mask. Rasanya, aku ingin sekali berbagi cerita lebih banyak dengannya. Hanya saja…”


“Hanya saja, kenapa Jacqueline? Ada apa dengan Devil Mask?” sambar Chloe penasaran.


“Nanti aku cerita. Tapi janji ya! Moms your word!”


“Oke kalau gitu!”


Tampaknya, nostalgia mereka terhenti sampai disini. Mengingat sekarang adalah masanya dimana mereka harus mengikuti kemana langkah ketiga Aura itu pergi.

__ADS_1


Black Aura dan Captain hanya diam sembari fokus mengedarkan pandangan mereka ke berbagai arah. Dengan kemampuan mata pelacaknya, Black Aura mencari manusia yang tersesat itu. Dia harap, manusia itu tidak mencari masalah begitu mereka bertemu nanti.


Chloe melirik ke arah Black Aura. Wajahnya tak pernah berubah. Selalu saja datar. Tapi, wajah itulah yang sangat Chloes sukai. Wajah yang menunjukkan bahwa seperti itulah diri Black Aura yang asli.


“Mereka diam sekali kalau udah serius.” Gumam Chloe setelah itu terkekeh. Mungkin karena, baru pertama kalinya mereka menjalin kerja sama. Jika dilihat dari status mereka yang sebenarnya, Black Aura dan Grimoire itu masih musuh. Namun karena situasi sedang tidak memungkinkan untuk bertarung ditambah, dunia mereka ini diam-diam dalam bahaya akan kehadiran manusia itu. Mau tak mau, mereka harus bekerja sama. Bekerja sama dalam hal tidak menyebabkan kekacauan hebat di suatu daerah hingga menarik perhatian manusia itu untuk mendokumentasikan momen bertarung langka tersebut. Merepotkan sekali!


Chloe jadi semakin penasaran siapa sebenarnya manusia itu? Andaikata dia adalah seorang perempuan dengan tingkat percaya diri yang tinggi dan senang menggoda pria lain, saat itu juga Chloe harus menjadi benteng agar Black Aura tidak direbut olehnya.


“Black Aura…” Panggil Chloe ragu.


Black Aura menoleh ke belakang dengan raut datarnya yang khas. “Kenapa, Chloe?”


“Hmm… Nggak ada… Cuma mau bilang aja kalau kau jangan jauh-jauh amat dariku.” Kata Chloe. Sesudah itu menyengir kuda.


Black Aura nyaris ingin tertawa memandang cengiran Chloe. “Apa-apaan mukamu itu!” lirihnya sambil berusaha menahan tawanya. “Jangan khawatir, kau aman bersamaku.”


“Benar ya! Kau nggak bohong, kan?”


“Nggak, Chloe. Tapi, kau juga sama. Jangan abaikan aku lagi ya, kalau nggak mau ditinggalin.”


Meskipun begitu, Chloe merasa kagum dengan perkembangan Black Aura dalam berinteraksi dengan manusia sepertinya. Aura bermanik violet itu sudah pandai memilih-milih kata untuk menjawab pembicaraan orang lain. Bahkan dengan jawaban yang menusuk sekalipun.


Chloe menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan. Gadis itu berusaha untuk menstabilkan perasaannya dengan suasananya saat ini. Mumpung ada Black Aura di dekatnya, bagaimanapun caranya Chloe harus mempertahankan waktu kebersamaannya selagi ada. Chloe kapok berpisah dua bulan dengan Black Aura. Rasanya menyiksa sekali sendirian tanpa ditemani sosok yang disayanginya.


Tak terasa, perjalanan yang mereka tempuh bersama semakin lama semakin jauh. Istana yang sebelumnya mereka lewati itu tampak samar di mata mereka. Hanya bagian atapnya saja yang terlihat jelas.


Sebelum langkahnya sepenuhnya jauh dari teritori Asoka, Black Aura menyempatkan dirinya melirik ke salah satu jendela istana Asoka. Samar-samar, dia menangkap tatapan datar Lady Asoka yang saat ini sedang mengamati pergerakan mereka di bawah sana. Perempuan itu sampai detik ini, matanya selalu terlihat sembab. Black Aura sebenarnya prihatin dengan kondisi Asoka. Setiap hari dia menangis dan Black Aura sendiri tahu alasan dibalik tangisan overdosis-nya itu. Lady Asoka, dia perempuan yang kuat dan penyabar. Hanya itulah yang Black Aura tahu tentangnya. Selebihnya, diserahkan pada Grimoire yang lebih memahami kisah ratunya tersebut.


“Grimoire.” Panggil Black Aura.


Grimoire melirik tanpa ekspresi apapun alias datar. Bukan hal biasa namanya dipanggil Aura lain selain Lady Asoka. “Apa?”


“Jangan pernah berpisah dengannya, ya!” Ucap Black Aura yang langsung mendapat senyuman kecil dari Grimoire.

__ADS_1


Tidak perlu dijelaskan lebih jauh pun Grimoire sudah tahu maksud dari perkataan musuhnya itu. Sampai kapanpun, bahkan hingga akhir hayatnya sekalipun, Grimoire akan selalu berada di sisi Lady Asoka. Mengingat nama “Asoka” dan kenyataan yang diterima Lady Asoka bertolak belakang dengan makna namanya, mau bagaimanapun situasinya, Grimoire akan terus mencari cara untuk mengukir senyuman di wajah ratunya tanpa harus melukai wajahnya dengan duri miliknya. Karena sesungguhnya, ratunya itu sangat takut dengan benda tajam seperti pisau, duri, dan pedang. Ratunya juga tidak suka istilah ditusuk dari belakang. Sebab, diri lain Asoka di dunia nyata sudah berulang kali dikhianati dan ditusuk oleh orang-orang terdekatnya. Rasa sakit yang dialami diri lain Asoka itu menjalar langsung ke Lady Asoka itu sendiri. Sampai-sampai, Black Aura turun tangan mengatasi kesedihan juga rasa sakit gadis itu.


“Nggak perlu kau bilang, aku sudah tahu, kok.” Balas Grimoire setelah satu menit lebih keheningan memenuhi kepalanya dan dia disadarkan oleh tiupan angin yang menerpa halus wajahnya.


Chloe mengernyitkan keningnya heran. Gadis itu diam-diam mengamati Grimoire dan Black Aura yang berjalan beriringan. Dilihat dari dekat, mereka tampak seperti seorang teman. Ditambah lagi dengan penampilan Grimoire yang tak kalah kerennya dari Black Aura.


Aaaaa daisuki!!! Jerit Chloe dalam hati dan tanpa dia sadari, isi hatinya terbaca oleh Black Aura.


“Dia kenapa lagi coba?” batin Black Aura heran.


Ah, aku jadi penasaran mereka abis ngomongin apa? Chloe memejamkan kedua matanya seraya menahan perasaan sukanya agar tidak meleber ke udara. Hati Chloe hanya untuk Black Aura. Tidak ada pria lain yang bisa mengisi hatinya selain Black Aura.


Melihat Black Aura berbicara dengan Grimoire saja sudah membuat jantung Chloe berdisko ria. Apalagi berbicara dengannya langsung? Udah disita polisi duluan tuh jantungnya.


Menurut Chloe, Black Aura itu jarang sekali terlihat berinteraksi dengan Aura lain. Seingatnya, setiap kali bertemu dengan Aura lain bahkan rekannya sekalipun, Black Aura selalu memasang wajah datar. Kalau berbicara, dia hanya mengeluarkan tak lebih dari lima belas kata. Aura itu irit sekali kalau berbicara. Pengecualian untuk Chloe yang sukses memancing emosi Black Aura sampai membuat Aura itu mengomel panjang lebar.


Hahaha! Ingin tertawa rasanya setiap kali mengingat memori itu.


“Oh, ya! Lady Asoka yang kalian maksud itu lagi dimana sekarang? Kok nggak muncul-muncul?” tanya Jacqueline mengejutkan ketiga Aura itu. Saking penasarannya, gadis itu melirik-lirik cepat ke kiri dan kanan. Lepas itu, ke atas dan ke bawah. Ke bawah mau lihat apa coba?


Grimoire tersenyum menanggapi pertanyaan yang diutarakan gadis berambut ungu panjang itu. “Ratu sedang di istana. Di waktu seperti ini, biasanya ratu tidur atau berdiam diri di dalam kamarnya sambil menulis.” Jelas Grimoire. Ramah lingkungan sekali suaranya. Jacqueline sampai salting dibuatnya. Aoi yang berjalan di sampingnya menatap pacarnya cemburu. Dengan sikunya, dia menyenggol lengan kiri Jacqueline bermaksud menyadarkan gadis itu akan keberadaannya.


“Ck! Apaan sih! Iya, iya! Aku masih ingat kau itu pacarku.” Gerutu Jacqueline, menyilang kedua tangannya menahan kekesalannya.


“Mukamu itu lho! Nggak usah pakai blushing napa!” balas Aoi dibakar api cemburu.


Jacqueline berdecak sebal “Dirimu aja kali yang berlebihan. Aku ‘kan’ cewek. Ya, wajarlah bisa nge-blushing! Emangnya cowok? Digituin dikit aja udah salah paham! Asal kau tahu ya! Lebih parah salah paham ketimbang salah tingkah!” omel Jacqueline.


“Awas aja kalau kau sampai kepergok sama cewek lain terus kelahi sama aku ngandalin logika! Hari itu juga kita PUTUS!” ancam Jacqueline bagaikan panah yang langsung menusuk dada Aoi secara tak langsung. Saking kesalnya, gadis itu sampai menekankan kata ‘putus’ di depan Aoi. Yang sabar ya, Ao…


“Astaga Jacqueline…” Seperti biasanya, Chloe hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi tingkah laku kedua sahabatnya itu.


Semoga saja, hubungan kalian langgeng terus sampai ke pelaminan nanti dan… Jangan lupa undang aku ya!

__ADS_1


-          Chloe


~


__ADS_2