Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 223


__ADS_3

Darah hitam bercampur merah milik Ghostwave mengalir deras membasahi rerumputan kecil termasuk ujung sepatu Black Aura.


Secepat ini refleksnya? Batin Ghostwave yang diam-diam tersenyum sambil menahan sakit akibat tebasan Black Aura tadi.


Black Aura hanya memandang Aura itu dengan tatapan dingin yang menusuk. Menganggap bahwa permainan yang dilakukan Ghostwave seharusnya sudah selesai hari ini.


"Gimana rasanya? Sakit kan?" tanya Black Aura dingin yang kemudian mengangkat tangannya keatas. Tangan itu menggenggam sebilah pedang yang akhirnya menembus punggung Ghostwave yang kemudian disusul dengan ledakan darah.


Saat itu juga, akibat ledakan yang melukai parah punggungnya, Ghostwave pun tumbang dan lagi-lagi darahnya menggenang rerumputan di pekarangan rumah Chloe.


Black Aura menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menoleh ke belakang menyadari seseorang memperhatikan gerak-geriknya.


Siapa lagi kalau bukan Ethan. Pria itu memperlihatkan ekspresi sangat-sangat terkejut usai menonton pemandangan yang sangat tidak pantas diperlihatkan anak kecil. Bahkan orang yang memiliki phobia terhadap darah pun bisa pingsan dibuatnya.


"Apa?"


"Ah, bukan apa-apa... Kau masih Aura yang kami kenal kan?" tanya Ethan sekedar memastikan. Meski kali ini Ethan berusaha menutupi rasa takutnya dengan tatapan serius, kakinya tetap tidak berhenti bergetar di balik gorden ruang tamu Chloe.


Mendengar pertanyaan Ethan, Black Aura tersenyum. Sangat tipis. "Ya. Aku... Masih Aura yang kalian kenal. Kau ini? Morgan Atau Ethan?"


Ah, dia menyindirku...


Ethan pura-pura batuk setelah mendengar nama samaran disebut Black Aura. Malu tapi memang itu nyatanya.


"Terserah kau mau panggil aku apa. Lagi pula, Chloe kan... Tunggu, kau tau dari siapa nama kalau nama asliku, Ethan?"


"Rahasia... Bukannya Chloe belum tau identitas aslimu?"


"Eng aku lupa. Gara-gara terlalu lama jagain kau yang tidur."


Ethan melangkahkan kakinya dan menghampiri Black Aura yang bersimbah darah penampilannya. Pria itu menyeringai kecil sambil mendekatkan wajahnya di hadapan Black Aura.


"Btw, kau sanggup gak ketemu sama Chloe nanti?"


"Sanggup. Kenapa emangnya?" Black Aura memincingkan matanya. Sebenarnya Black Aura mulai kepincut kesal oleh ekspresu Ethan yang seolah menantangnya itu.

__ADS_1


"Nggak ada. Cuma kau nggak tau ya kalau aku yang sudah menemani Chloe yang sedih menunggumu bangun." sindir Ethan.


"Yah, gimana ya... Bisa dibilang, hubunganku sama Chloe itu terbilang dekat dan..." seketika omongannya terjeda ketika Ethan menyadari ujung pisau yang tinggal 5cm lagi menyentuk dagunya.


"Diam atau kupotong lidahmu!" ancam Black Aura. "Kau nggak sadar ya? Kalau adikmu sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya?"


"Eng, iya sih... Tapi yah, aku ini manusia. Wajar bukan kalau aku sedih? Karena itulah aku mencari hiburan dengan berkomunikasi dengan perempuan yang kau anggap pacarmu itu..." balas Ethan sambil menjulurkan lidahnya.


"Oh... Begitu ya?"


Pisau yang tadi hendak menembus dagu Ethan, Black Aura simpan. Lagi-lagi, Black Aura menghela nafas karena selain lelah dengan mimpi yang membuatnya tertidur selama tiga hari tertidur, dia harus lelah menanggapi Ethan yang suka sekali memancing amarahnya. Tidak tahu apa maksud Ethan menyindirnya saat ini yang jelas...


DUAK!


"Argh! Apa-apaan kau, Aura?!" seru Ethan setelah menerima tendangan yang Black Aura lancarkan di bagian perutnya. Gara-gara tendangan itu punggung Ethan sama memecah pot bunga Chloe.


"Maaf tapi ini untukmu..." Black Aura melempar sepucuk surat ke arah Ethan sebelum akhirnya berteleportasi dengan membawa mayat Ghostwave.


"Eh, Aura! Tunggu seben..."


Ethan menghela nafas berat. "Btw, surat apa ini?" dia membuka bungkus amplop itu lalu membaca isi surat tersebut.


"Eh? I-ini..."


"Udah sampai!"


Perhatian Ethan dengan cepat teralihkan ke arah mobil Aoi yang terparkir di depan rumah Chloe. Akhirnya tiga sahabat itu sampai juga. Hanya saja, mereka terlambat karena Black Aura sudah lebih dulu pergi.


"Sampai juga kalian..." gumam Ethan sedikit lega.


~


Aoi segera mengerem mobilnya setelah atap rumah Chloe terlihat jelas di kedua mata mereka.


Tanpa pikir panjang, Chloe segera membuka pintu mobil Aoi kemudian berlari menuju teras rumahnya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya dia melihat pekarangan rumahnya berantakan. Beberapa tanaman yang tertanam di pot itu berserakan. Puluhan ranting pohon mewarnai rerumputan hijau rumahnya dan... Seorang pria berambut pirang yang saat itu berdiri seorang diri sambil menggenggam sepucuk surat.


"Ethan?" ujar Chloe memiringkan kepalanya.


"Astaga, berantakan sekali," timpal Jacqueline sambil membenarkan deru nafasnya usai berlari kecil menyusul sahabatnya.


Ethan yang sadar akan keberadaan ketiga sahabat itu menoleh ke mereka lalu tersenyum kaku. "Pacarmu udah bangun, Chloe."


Chloe terbelalak bukan main sampai tidak sadar. "Udah?! Mana dia?" serunya melirik ke kiri dan kanan dengan ekspresi gembira.


"Dia udah bangun?! Lalu, dimana dia sekarang??" tanyanya bersemangat sambil melirik ke kira dan kanan mencari Black Aura.


"Aku nggak tahu dia kemana. Pas aku keluar, terasmu udah berantakan aja. Eng, aku sempat nengok dia membunuh Legend Aura hitam. Tapi... Gak lama kemudian dia pergi dan memberiku 'ini'," ungkap Ethan sembari menunjukkan surat yang sudah ia baca isinya.


"Hah?! Terus, orang misterius itu?"


"Ah, orang misterius itu Legend Aura hitam yang udah bikin Black Aura tidur. Menuruku gitu sih... Tapi, jangan khawatir, dia udah mati dibunuh Black Aura tadi. Terus, dibawa pergi sama pacarmu entah kemana..." beber Ethan. "Gimana kalau kita cari sekarang?"


"Ya, udah! Ayo!" seru Aoi bersemangat seolah dia tidak merasa kesulitan sama sekali. Sudah mengemudi puluhan kilometer dan sekarang harus mengemudi lagi.


Akhirnya, keempat remaja itu mau tak mau masuk ke dalam mobil dan mencari keberadaan Black Aura saat ini.


Chloe hanya bisa menghela nafas saat ini. Padahal sudah senang mengetahui Black Aura sudah bangun, tapi dia harus menunggu beberapa menit lagi untuk menemukan Black Aura yang entah kemana perginya saat ini.


Midnight, Megawave, Okka, dan Kenzo sedang di Carnater untuk melakukan ritual. Midnight berubah pikiran. Wanita itu tidak jadi meminta bantuan Chloe dan kedua sahabatnya untuk melakukan ritual karena dirasa ketiga remaja itu belum memenuhi syarat.


"Jacqueline, Eden kemana?" tanya Chloe satu menit setelah memperhatikan jendela mobil.


"Dia lagi mencari Aura sekarang. Yumi juga. Wah, bakal seru nih hari ini!" celetuk Jacqueline tersenyum penuh percaya diri.


"Eh? Jadi daritadi kau chatingan sama Eden??" celetuk Aoi kaget.


"Iya, honey... Aku gak mau cuma kita aja yang sibuk. Aku mau semua orang sibuk! Ahahahaha!"


Aoi yang duduk disamping Jacqueline itu hanya bisa memutar malas kedua matanya menanggapi gelak tawa setengah jahat setengah tak jelas dari kekasihnya. Yah, terserah dia saja.

__ADS_1


~


__ADS_2