
Chloe mematung memandang sosok yang selama ini ia kira tidak akan pernah lagi berjumpa dengannya. Sayang sekali, perkiraannya salah. Bersama Black Aura, Chloe memeluk erat lengan Aura itu dan melangkah pelan ke belakang. Kedua kakinya bergetar hebat saking tidak percayanya akan pemandangan yang ia lihat saat ini.
Kenapa baru sekarang? Begitulah pertanyaan yang terlintas di benaknya.
“Aura, ayo pergi,” lirih Chloe.
~
Beberapa menit yang lalu, Black Aura pergi sebentar untuk meminta izin dari Midnight bahwa mereka ingin menggunakan cermin Carnater untuk berkeliling sejenak di dunia nyata. Beruntung sekali mereka karena Midnight mengiyakan permintaan mereka.
“Tapi, jangan lama-lama ya! Urusan kita masih belum selesai di Carnater,” ujar Midnight waktu itu.
Chloe manggut-manggut mendengar keterangan dari Black Aura bahwa mereka diperbolehkan untuk pergi. “Kalau gitu, aku tidur dulu ya! Besok kita ke dunia nyatanya. Hm, kau tidur dimana, Aura?” tanya Chloe perlahan-lahan menarik selimutnya dan hendak memejamkan kedua matanya.
Black Aura tersenyum lembut. “Aku nggak tidur malam ini. Ada banyak hal yang harus kuperiksa. Jangan khawatir, sebelum kau sarapan nanti, aku sudah kembali ke mansion,” katanya setelah itu beranjak dari kasur menuju pintu kamar. Aura itu melambaikan pelan tangan kanannya sebagai bentuk perpisahan kecilnya dengan Chloe menjelang tidur.
“Good Night…” bisik Chloe akhirnya kesadarannya diambil alih kegelapan yang hampa.
Keesokan paginya, sesampai Chloe di ruang makan, dia terlihat terkejut melihat Black Aura yang tengah menyiapkan sarapan bersama Aoi. Lantas, kedua remaja itu tersenyum menyadari kehadiran Chloe diambang pintu ruang makan.
“Selamat pagi, Chloe!” sapa Aoi dan Black Aura bersamaan.
Chloe perhatikan menu sarapan mereka pagi ini adalah nasi goreng dan beberapa roti isi lainnya. Kelihatannya lezat sekali.
“Pagi, Ao. Pagi Aura! Semua ini kalian yang buat? Wow!” balas Chloe terkagum melihat usaha kedua remaja itu dalam menyiapkan sarapan.
“Sebenarnya yang masak itu Midnight, kami disuruh menyiapkan makanannya karena dia…”
“Sibuk,” Black Aura melanjutkan kata-kata Aoi.
Chloe mengangguk mengerti, “Gitu ya…” kemudian tersenyum jahil begitu mengetahui bahwa perkiraannya ternyata salah.
“Ah, memalukan! Kupikir kalian berdua yang memasak,” cibirnya yang kemudian mendapatkan serangan kejutan berupa roti tawar yang Black Aura lemparkan tepat di wajahnya yang baru saja ia bedaki itu.
Sontak, Chloe melompat ke belakang saking terkejutnya dan malah tersandung oleh kaki meja makan. Untunglah, Black Aura yang memiliki kemampuan teleportasi itu langsung menangkap Chloe.
“Astaga! Kau ini apa-apaan sih?! Pakai ngelempar roti segala! Kalau kepalaku kena lantai gimana?!” protes Chloe. Wajahnya memucat karena sempat mengira dirinya akan mati pagi itu juga. Tapi ternyata, nyawanya masih terselamatkan oleh pacarnya.
__ADS_1
“Ya, pecahlah,” jawab Black Aura lirih disertai senyuman manis yang mana terkesan mengerikan dimata Aoi.
Chloe membeku mendengar jawaban dari Black Aura. Tak lama kemudian, cepat-cepat dirinya menghapus pemikiran aneh yang terputar dibenaknya dan kembali ke meja makan.
Kali ini mereka bertiga duduk di kursi masing-masing. Tentunya berjejeran mengingat bentuk meja makan Midnight adalah persegi panjang. Sarapan sudah siap, minuman juga, dan sisanya sekarang menunggu yang lain turun untuk sarapan bersama.
Chloe berpikir sejenak, di Amerika nanti, kira-kira tempat wisata yang enak untuk mereka berkencan dimana ya? Chloe mamandang Black Aura yang saat itu sedang mendengarkan Aoi berbicara.
Duo laki itu membahas salah satu chef di jepang yang sangat Aoi kagumi. Aoi menceritakan semua prestasi serta keahlian chef itu dalam memasak makanan dari berbagai belahan dunia. Sangat berbakat gitu intinya.
Chloe terkekeh pelan, Hatinya merasa lega karena sampai saat ini masih bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dan juga dengan teman barunya.
Dia tidak menyangka bisa berteman dengan Midnight yang merupakan dosen di kampusnya itu sendiri. Selama ini, Chloe jarang menyapa Midnight kecuali kalau mereka saat itu berpapasan di jalan yang sama.
Jadi seperti itu ya, Midnight… Batin Chloe.
Semua kejadian yang ia alami bersama Aoi dan Jacqueline seolah adalah mimpi yang panjang baginya. Tapi, dilihat dari rasa dari petualangan yang ia lewati itu, semuanya terasa begitu nyata.
Dalam petualangan fantasi ini, Chloe telah menentukan siapa orang yang membuatnya takut jika dirinya sampai kehilangan orang tersebut. Orang itu…
Selang beberapa menit menunggu, mereka bertiga mendengar suara langkah kaki dari beberapa orang hendak menghampiri ruang makan. Lantas, Aoi, Black Aura, dan Chloe berhenti dari aktivitas mereka masing-masing saat Midnight dan yang lainnya satu persatu mulai memasuki ruang makan diiringi dengan perbincangan hangat di pagi hari dari Okka dan Kenzo.
Jacqueline juga terlihat sangat akrab dengan mereka sehingga topic pagi ini tidak terasa membosan bagi mereka.
“Lho, kau udah mandi, Chloe?” tanya Jacqueline sedikit terkejut dengan penampilan Chloe yang terlihat segar hari ini. Biasanya gadis itu mandi sekitar jam setengah delapan.
Chloe nyengir, “Intinya aku mau jalan-jalan dulu ke Chicago. Biasalah…”
Jacqueline membalas senyum itu dengan raut menggoda di wajahnya. Dia tahu maksud sahabatnya itu dan memilih untuk tidak mengetahuinya lebih lanjut karena, di dalam lingkaran mereka ini, Pasti akan ada yang diam-diam mengikuti mereka dan mengusik kebersamaan mereka.
Jadi, Jacqueline hanya mengatakan, “Bersenang-senang ya! Kalian berdua itu cocok! Jangan sia-siakan waktu kalian juga ya!” katanya memberi semangat pagi pada Chloe dengan tepukan ringan di punggung Chloe.
Midnight yang memperhatikan interaksi Jacqueline dengan Chloe hanya senyum-senyum sambil memikirkan beberapa orang yang masalahnya sampai saat ini belum terselesaikan.
Orang-orang itu adalah Elena, Emma, Rara, dan Yuuki. Hilangnya Legend Aura semuanya sudah dia serahkan pada Devil Mask. Sisanya tinggal mengurus empat masalah tersebut.
Midnight yakin bahwa masalah ini tak akan semudah dengan masalah Carnater yang tengah ia tangani ini.
__ADS_1
Di balik kacamata bulatnya, Midnight menoleh kearah Black Aura yang serius menatap jendela luar. Tidak ada kejanggalan disana kecuali wajah Aura itu yang diam-diam memperlihatkan raut khawatir di dalamnya. Di luar memang jelas Nampak datar. Dan orang-orang biasa yang tidak begitu mengenal dekat pasti akan mengira kalau Aura itu sedang melamun. Akan tetapi, raut datar yang menghadap jendela itu bukanlah lamunan semata bagi Midnight.
Midnight bisa merasakan sedikit sisi Carmine di dalam Black Aura. Baik dari cara dia berbicara dan berinteraksi. Dari semua Aura Megavile, hanya Black Aura yang paling mencerminkan sifat Carmine.
Tidak ingin sarapan mereka terbuang sia-sia kehangatannya, Midnight dengan ramah mengajak mereka menyantap hidangan pagi tersebut. Tentunya sambil diiringi dengan percakapan ringan yang dimulai dari Midnight.
“Aura, ayo, dimakan!” ajak Chloe mendorong pelan piring berisikan satu sandwich yang masih utuh.
“Iya, nanti aku makan.”
“Aku maunya sekarang. Kalau nanti nggak enak,” tegas Chloe disertai senyuman manisnya.
Black Aura menghela pelan, kemudian menuruti omongan Chloe.
Saat hendak mengambil garpu, tangan Black Aura tidak sengaja bertabrakan ringan dengan Ethan. Reflex, Black Aura segera menjauhkan tangannya dari pria itu.
“Oh, maaf. Aku nggak maksud mengganggumu kok. Ngomong-ngomong, tanganmu dingin juga ya! Aku jadi penasaran, kalau kau dan Chloe bergandengan rasanya pasti dingin,” godanya sambil terkekeh kecil.
“Eh? Iya, Kau pakai sarung tangan besi kah?” Kenzo ikut menimpali sampai-sampai kepalanya celingak-celinguk nggak jelas hanya demi memperhatikan tangan Black Aura.
“Ah, sudahlah… Daripada membahas soal itu, aku ada tawaran buat kalian yang mau pulang cepat ke bumi.,” ucap Midnight mengganti topic pembicaraan mereka.
“Heh? Balek cepat? Memangnya siapa yang mau balik cepat?” kaget Jacqueline dan Aoi.
Midnight tersenyum lalu menunjuk Chloe dan Black Aura.
“Eh, kau mau balik cepat? Lalu ritualnya?” tanya Aoi.
“Untuk sementara, ritualnya biar ku diskusikan dengan Megawave. Soalnya, kita nggak boleh sembarangan mainin ritual. Selain itu juga, aku berpikir, kalian ini butuh refreshing. So, aku perbolehkan siapapun yang mau pulang untuk jalan-jalan atau kalau memang mau pulang dan nggak kembali pun nggak masalah,” jelas Midnight bersemangat.
“Wah, begitu ya! Mau dong!” seru Okka dan Jacqueline.
“Jadi, kita pakai apa pulangnya?” tambah Kenzo penuh tanda tanya.
“Cermin Carnater,” jawab Chloe.
~
__ADS_1