Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 194 {Season 2: Ternyata Bukan Mimpi}


__ADS_3

Chloe bengong setelah sadar dari tidurnya. Entah berapa jam dia tak sadarkan diri, yang jelas, pemandangan yang terpampang di depan matanya ini berbeda dari langit malam dengan ribuan bintang berjatuhan.


Chloe menunduk, sejenak memandang pergelangan kanannya yang diperban. “Perban?” setelah meneguk salivanya, Chloe menoleh ke sekeliling kamar yang steril tersebut. Aroma obat menguar sampai ke indera penciumannya. Kiri dan kanannya terdapat tiga kasur dimana Midnight, Yumi, Edward, dan seorang wanita terbaring. Masing-masing di tubuh mereka memiliki perbanan sendiri.


“Eh? Aura mana?” menyadari ada yang janggal dengan kamar tersebut, Chloe spontan turun dari ranjangnya dan keluar kamar tersebut.


Baru saja berbelok, seseorang menabrak dirinya hingga membuatnya terjatuh menghantam lantai.


“Aduh!” celetuk Chloe meringis kesakitan.


“Chloe?”


Orang itu tanpa pikir panjang segera membantu Chloe berdiri. Dia menunduk dan memapah Chloe yang dia rasa masih mengalami kesulitan saat berdiri.


“Kau ini baru aja disembuhkan. Jangan maksain diri keluar dong!” omel orang itu pada Chloe.


Bukannya meminta maaf, Chloe justru tertegun mendengar suara orang itu yang terdengar familiar baginya. Bagaimana tidak? Orang yang tengah memapahnya saat ini tak lain adalah pacarnya, Black Aura.


Chloe bengong sambil mengerjab dua kali matanya. “Aura? Kau disini?”


Black Aura meneleng tak mengerti, “Apa maksudmu? Aku memang disini dari tadi,” tuturnya begitu.


“Ha? Masa sih?” sejenak, Chloe berpikir. Seingatnya… Black Aura yang dia lihat saat itu sudah…


Mungkin Black Aura yang menang. Huft… Makasih banget deh… Batinnya lega.


“Aura, sekarang jam berapa?”


Black Aura menoleh ke arah jam dinding yang terpajang di sebelah kulkas. Jarum pendeknya menunjukkan pukul satu sementara jarum panjangnya menunjukkan pukul enam.


“Setengah dua pagi,” katanya kemudian menghela nafas. “Kau itu masih belum pulih, Chloe. Sana! Tidur lagi!” perintahnya sambil mendorong punggung Chloe masuk ke dalam kamar tempat gadis itu tidur sebelumnya.


“Ish, apaan sih?! Aku baik-baik aja kok!” Chloe berbalik, kemudian menahan pintu yang hendak Black Aura tutup rapat.


“Kau mau kemana? Kenapa sampai serapat ini kau tutup pintunya?” tanya Chloe curiga. “Jangan bilang, kau punya pacar baru?” tambahnya semakin curiga.

__ADS_1


Black Aura memutar bola matanya malas, “Nggak usah yang aneh-aneh, Chloe. Pokoknya kau harus tidur sekarang! Urusan kencannya bisa kita lakukan kapan-kapan,” ucap Black Aura membuka pintunya, lalu mendorong Chloe pelan masuk ke dalam kamarnya.


“Kau mau kemana, Aura? Kenapa buru-buru sekali?”


“Kau tahu kan? Konflik dengan Legend Aura…” Black Aura menaikkan pundaknya singkat.


“Lagi? Lukamu bagaimana? Bukannya kau terluka parah waktu melawan kami?” tanya Chloe kali ini, curiganya teralihkan oleh kekhawatiran hiperbolanya.


Black Aura tersenyum. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri untuk membelai puncak kepala Chloe. “Ssstt… Cukup sampai disitu khawatirnya, Chloe. Kau lihat bukan? Aku yang sekarang lebih sehat dan kuat. Aku merasa diriku yang sekarang ini sudah terlepas dari semua rasa sakit yang kurasakan. Yah, meskipun mungkin…. Kedepannya kita bakal berubah…” kalimat Black Aura terjeda sebentar. Seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan tapi tak sengaja mulutnya melontarkan sedikit ekor dari rahasia tersebut.


Chloe menelengkan kepalanya penuh tanda tanya. “Aura? Apa maksudnya berubah? Maksudmu, bukan penampilan kita kan yang berubah?”


Black Aura tersenyum. Ya, hanya tersenyum tanpa respon apa-apa. Aura itu kemudian memandang tangan Chloe yang diperban itu.


Aura itu menghela pelan, “Chloe, jaga dirimu ya!”


Kali ini, kejanggalanlah yang mengambil alih pikir Chloe. Disusul dengan keringat dingin yang mengalir di permukaan pipi Chloe yang halus. Situasi yang hening serta beberapa kalimat yang Black Aura lontarkan itu sukses membuat Chloe bertanya-tanya sekaligus merasakan kekhawatiran hebat di dalam dirinya.


“Black Aura, apa maksudmu ‘jaga diriku’? Kau mau kemana memangnya? Kalau kau pergi, aku juga ikut!” paksa Chloe. Perasaannya campur aduk sekarang. Tak Cuma kekhawatiran, penasaran, dan kejanggalan tapi juga, ada ketakutan yang berusaha merebut sedikit bagian-bagian terkecil dalam benak Chloe.


Aura itu masih tersenyum di hadapan Chloe. Meskipun berlinang air mata, Black Aura berusaha mempertahankan senyumannya itu dengan aktivitas kecil lainnya. Seperti mengusap puncak kepala Chloe untuk kedua kalinya dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


“Aura… Kau nggak akan pergi kan? Besok kita jalan-jalan, kan?” bisik Chloe sambil terisak.


Perasaan ini… Kenapa aku jadi sesedih ini? Maksudnya apa? Ada apa dengan Black Aura sampai-sampai mau memelukku seerat ini?


Chloe melirik kearah Black Aura. Chloe bisa merasakan kehangatan dari kedua tangan Black Aura yang melingkar di pinggangnya.


“Chloe, pesanku untukmu… Jangan terlalu lama tidur dan bengong, ya!”


“Hm? Kenapa tiba-tiba gitu?”


“Nggak ada…. Aku Cuma, takut kau melupakanku. Itu saja…”


Mendengar pernyataan Black Aura tersebut, Chloe hanya bisa terkekeh menanggapinya. Gadis itu mengira bahwa Black Aura saat ini sedang bercanda atau mungkin ingin menggombalinya.

__ADS_1


“Ya, nggak mungkin dong! Kau kan pacarku. Mana mungkin aku… Eh?”


Belum selesai omongannya, Chloe dibuat terkejut oleh sosok Black Aura yang tadinya dia peluk, tiba-tiba menghilang entah kemana.


“Lho Black Aura? Aura? Kau dimana? Aura! Kau nggak mungkin kan jadi debu!” teriak Chloe. Lama-kelamaan, panik pun menyerang.


Wajah Chloe berubah pucat. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya dimana Black Aura saat ini? Secepat itukah dia menghilang?


“Aura? Auraaaaa! Kau dimana?! Aura!!”


Teriakan Chloe menggema sampai ke ujung lorong. Persetan dengan getaran yang dihasilkan teriakannya, Chloe bersikeras mencari keberadaan Black Aura sampai akhirnya, dirinya terbangun dari dunia mimpi yang membuat kepalanya dipenuhi oleh tanda tanya.


Ya, sebuah tetesan darah kecil mendarat tepat di depan matanya dan jatuh ke permukaan keramik yang dingin.


Chloe tertegun dan sempat membeku selama satu menit. Gadis itu berusaha mencerna benda apa yang baru saja jatuh di hadapannya.


Chloe duduk setengah jongkok hanya demi tetesan darah yang menggenang di permukaan lantai yang dia pijak tersebut. Darah itu hitam tapi ada sedikit campuran warna merah.


Ketika ujung telunjuk Chloe mencolek tetesan kecil darah itu, saat itulah dunianya berubah. Semuanya retak dengan cepat.


Chloe sontak mundur beberapa langkah saking terkejutnya dengan kejutan yang diberikan retakan tanpa suara itu.


“A-apa ini?”


Prang!


Semua pecah.


Terkoyak sudah semua rasa penasaran serta rasa terkejut itu begitu sepasang mata gadis itu mau tak mau harus melihat pemandangan yang dia kira hanyalah mimpi belaka.


Chloe terbelalak bukan main ketika seluruh penglihatannya secara otomatis terfokus pada sosok remaja yang berusaha berdiri menggunakan pedangnya yang sebenarnya retak.


Nafas remaja itu tak beraturan seiring banyaknya luka yang ia terima dari serangan beruntun Chloe, Midnight, Devil Mask, Yumi, Edward, mamanya, Dark Sport, dan Grimoire.


Di atas sana, Huke menyeringai lebar. Dia percaya sekali kalau hari ini, kemenangan berpihak padanya.

__ADS_1


~


__ADS_2