Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 124 {Season 2: Di Rumah Sakit}


__ADS_3

“Ayo, kita ke tempat Kenzo! Aku yakin dia ada di sekitar hutan ini!” ajak Okka yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari Midnight dan juga teman-temannya.


Sejenak, Midnight melirik arlojinya yang menunjukkan pukul satu siang. Tidak terasa waktu makan siang tiba juga. Karena terlalu fokus bertarung, mereka jadi lupa dengan perut mereka.


“Hmm… Sekarang waktu makan siang. Kurasa nanggung kalau kita tinggal makan siang. Chloe dan Black Aura juga pasti sibuk mengurus abangmu, bukan?” pandangan Midnight teralihkan ke Okka yang tersenyum kaku.


Beruntunglah, pertarungan sengit tadi tidak berlangsung lama sehingga tidak menyebabkan luka yang parah bagi mereka. Karena spesies Okka sekaran berubah menjadi setengah Aura, luka yang Okka alami langsung cepat sembuh. Namun, karena perbuatan Okka yang telah merugikan Aura di Carnater karena urusan pribadi, youtuber itu harus berurusan dengan Midnight dan juga Megawave. Perbuatannya akan ditindak lanjut setelah permasalahan mereka dengan Kenzo usai.


“Hei, youtuber! Setelah semua kekacauan yang kau perbuat sama abangmu, kalian berdua harus bertanggung jawab! Mulai sekarang, kalian harus ikut denganku dan jangan membantah!” tegas Midnight, titik.


Okka terkekeh, “Baiklah…”


“Selain itu, beritahu aku kronologi kalian sebelum dan setelah di dorong masuk ke Carnater,” tambah Midnight disertai tatapan tajamnya.


Aoi dan Jacqueline merinding dan memilih untuk bersembunyi di belakang Silentwave karena tidak ingin menjadi bagian dari tatapan tajam tersebut.


Midnight berjalan menjauhi remaja-remaja itu dan menyandar di batang pohon yang tumbuh tak jauh dari dirinya. Midnight membuka ponselnya berniat menelpon Chloe. Baru akan menekan kontak Chloe, sebuah notifikasi pesan yang Chloe kirimkan muncul. Midnight memutar malas bola matanya, mengurung niatnya menghubungi gadis berambut pirang itu.


Dari Chloe: “Midnight, kami butuh bantuanmu!”


Setelah membaca pesan itu, Midnight menyimpan ponselnya dengan tenang ke dalam saku cardigannya. “Silentwave, portal.”


~


Di dalam gedung rumah sakit, Chloe berlari sambil memapah Black Aura yang mengalami luka parah akibat pertarungannya melawan Kenzo. Sebenarnya, Chloe sudah berulang kali memaksa Aura itu untuk menggunakan kemampuan reverse itu. Dengan begitu, musuh sekuat apapun akan kalah karena rasa sakitnya Black Aura yang atur.


“Uh! Kenapa nggak gunakan aja kemampuan reverse itu? Sekarang kan kita udah tahu spesies dia manusia tapi ada setengah kalian-nya. Apa kau lupa kalau manusia itu unggul baik di Carnater maupun di dunianya? Mereka itu punya emosi. Nggak kayak dirimu yang datar!” omel Chloe panik. Tambah panik saat matanya menangkap tetesan darah merah kehitaman itu mengalir tanpa henti dari dari kepala, pundak kanan, dan lengan kiri Black Aura. Luka Aura itu parah sekali. Saat bertarung tadi, Black Aura sempat ngos-ngosan karena harus mengejar sambil menghindari serangan Kenzo yang gila itu.


“Oh, ya. Btw, pesanku tadi sudah kukirim ke Midnight,” katanya menambah. “Jawab pertanyaanku, Aura!”


“Payah, kan sudah kubilang karena lawan kita manusia,” balas Black Aura.


“Uh… Aku jadi takut lukamu akan semakin parah. Black Aura, bertahanlah! Akan kucari tempat yang aman!”


Diingat-ingat lagi, penampilan youtuber itu berubah drastis dan terlihat tidak jelas. Chloe jadi bingung harus mendeskripsikan Kenzo dengan apa. Terlebih lagi, tidak ada makhluk mitologi yang mirip dengan penampilannya. Tubuh pria itu dibaluti dengan armor yang keras dan tebal. Di kedua tangannya terdapat pedang yang panjang, menyatu dengan  armornya. Kedua kakinya dibalut oleh sepatu armor dengan roda di samping sepatunya. Mungkin digunakan Kenzo untuk mempercepat jalannya saat bertarung. Di bagian tulang ekornya tumbuh bermacam-macam ekor dari spesies yang berbeda. Ada ekor kalajengking, ekor serigala tapi teksturnya seperti Kristal, dan bulu merpati. Tak lupa dengan tanduk naga dan kambing di kepalanya. Tidak jelas bukan.


Di tengah aksi berlarinya, Chloe akhirnya menemukan ruangan yang kosong yang diklaimnya sebagai tempat terbaik untuk bersembunyi. Dengan langkah terburu-buru, gadis itu masuk bersama pacarnya yang semakin lemah. Saking lemahnya, Black Aura sampai kehilangan fokusnya dan jidatnya menabrak gantungan ubur-ubur yang digantung di pintu masuknya.


“Sorry! Nggak sengaja!” seru Chloe merasa bersalah. Gadis itu bangkit setelah menyandarkan Black Aura di dinding, kemudian menutup rapat pintu ruangan tersebut. Sekarang, situasi mereka bisa dikatakan aman dan jauh dari serangan Kenzo.


Saat duduk, Chloe merasakan jantungnya berdebar-debar. Rasa takutnya menguasai dirinya. Chloe menoleh kea rah Black Aura yang berusaha mengontrol nafasnya.

__ADS_1


Karena lawannya manusia, Black Aura jadi ragu ingin menyakitinya dengan kemampuannya. Alhasil, dirinya-lah yang remuk dibuat Kenzo. Omong-omong, Kenzo berubah menjadi gila saat bertarung menggunakan kekuatan salah satu Aura yang entah bagaimana cara dia mencuri kemampuan itu. Efek-nya membuat Chloe dan Black Aura terkejut bukan main. Lebih parah ketika Kenzo tiba-tiba marah dan mengeluarkan erangan kesakitan, kemarahan, dan juga isak tangis. Emosi pria itu tidak terkontrol sampai-sampai dirinya meledak dan berubah menjadi makhluk aneh. Yah, tubuh manusianya masih terlihat. Hanya saja dibaluti dengan armor.


Berulang kali Black Aura menghajarnya selalu berakhir dengan luka parah yang kembali pada Aura itu. Armornya terlalu kuat. Ditambah dengan dorongan dan tenaga Kenzo yang besar. Chloe jadi prihatin dengan kondisi Black Aura yang semakin parah. Parah karena bertarung melawan manusia.


Kalau begini terus, Black Aura bisa aja kan… Chloe tertegun dengan pemikiran negatifnya. Cepat-cepat, dia menggelengkan kepalanya demi menghilangkan pemikiran tersebut.


“Jangan berpikir begitu, kau mau aku mati?” tanya Black Aura sekalian bercanda demi mencairkan suasana yang canggung itu.


Chloe terbelalak mendengar omongan Black Aura barusan dan dengan cepat ia bantah. “Ya, nggaklah! Mana ada orang yang mau ditinggal pergi sama orang yang mereka sayangi! Aku kan, sayang…!” Chloe terdiam setelah matanya menangkap ekspresi lucu dari Black Aura.


Black Aura mendengus geli kemudian tertawa terbahak-bahak karena sukses membuat Chloe mengungkapkan sesuatu yang tidak seharusnya ia ungkapkan secara langsung.


“Apa yang lucu ha? Bagus, ulangi aja terus kebiasaan itu!” Chloe menggerutu kesal. Lalu, membuang pandangannya ke jendela luar.


“Maaf… Kukira kau suka diriku yang banyak omong,” balas Black Aura.


“Hehe, iya sih! Tapi, kau juga harus batasi kemampuanmu itu,” Chloe terkekeh.


“Jujur saja, aku takut kalau itu sampai terjadi. Makanya, aku mengalihkan pikiranmu ke hal yang lain,” ungkap Black Aura dengan wajah khawatir. Tampaknya, yang ia katakan barusan itu asli dan tidak palsu. Dilihat dari raut khawatir Black Aura, Aura itu berpikir apa yang terjadi seandainya dia mati di tengah pertarungan melawan manusia bernama Kenzo itu. Sudah pasti, Black Aura akan melewatkan banyak hal penting bersama Chloe.


“Ah, benar juga. Kita kan di rumah sakit,” celetuk Chloe tiba-tiba.


Black Aura hanya diam sambil memperhatikan Chloe berjalan tergopoh-gopoh mencari obat dan kotak P3K untuk mengobati luka Black Aura.


Tidak sampai tiga menit, Chloe akhirnya menemukan kotak yang ia butuhkan itu. Beruntung sekali, isinya lengkap.


Chloe berjalan sambil bersenandung membawa kotak itu ke hadapan Black Aura. Saatnya menjadi dokter Chloe. Begitulah yang diucapkannya dalam hati. Tutup kotak itu Chloe buka dan kedua tangan Chloe mulai merogoh-rogoh isi kotak tersebut. Tidak peduli seberapa berantakannya obat di dalam kotak itu, Yang terpenting adalah, Chloe sudah menemukan perbanan dan betadin yang ia cari. Tak lupa dengan kapas dan juga cairan untuk membersihkan luka.


Chloe mendekati Black Aura sambil berperan layaknya dokter sungguhan.


“Kau masih ingat nggak waktu kita bertarung di tengah kota. Seingatku, ada Dark Fire, Dark Shadow, dan Dark Flower. Lalu, Dark Flower mengendalikan emosi orang-orang di kota itu. Kalau nggak salah, kau dan Morgan yang mengatasi orang-orang itu,” ujar Black Aura ketika lukanya tengah dibersihkan oleh Chloe.


Chloe berdehem, “Aku ingat. Waktu itu, aku pusing sekali. Sampai-sampai stress sendiri. Untunglah, Morgan pintar. Jadi, orang-orang itu langsung tumbang karena pengaruh obat tidur Morgan. Bisa-bisanya anak itu bawa obat tidur ya!” Chloe tertawa kecil menertawakan kelakuan Morgan di masa lalu.


“Dia ceroboh tapi berguna juga,”


“Oh, kalau itu aku nggak tahu,” Black Aura menundukkan kepalanya.


Sadar akan nada bicara Black Aura yang menurun, Chloe pun cepat-cepat mengubah topic pembicaraannya. Chloe baru ingat kalau Black Aura tidak suka dengan Morgan.


“Kau cemburu ya, kalau aku membahas Morgan?” tanya Chloe penasaran.

__ADS_1


Kalau tadi Chloe, sekarang Black Aura-lah memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Aura itu seakan tidak berminat membahas topic itu lebih jauh. “Kau harusnya sadar kan?”


“Iya, sih… Aku juga udah tahu itu. Karena itu aku bertanya. Aku mau tahu, apa aja yang tidak kau sukai dan yang kau sukai. Kalau yang kusuka, kentang, jalan-jalan, nonton bioskop, baca buku, dan… Berpetualang. Yang kubenci, Tukang bully, orang yang suka mengejek kesukaanku, dan orang yang suka diam-diam membaca PIKIRANKU!” Chloe menatap Black Aura dengan tatapan tidak suka sehingga Aura itu merasa tertohok akan tatapannya barusan.


“Baiklah… Sudah. Kemampuannya sudah dinonaktifkan,” ujar Black Aura.


“Benarkah? Fiuh, kenapa nggak dari kemarin coba? Pas lagi mepet aja baru dinonaktifkan. Nggak jelas kau, kadang.”


“Hahaha, aku Cuma senang aja melihatmu kesal. Lucu…”


Chloe tersentak dengan wajah yang tercat merah karena malu. Bisa-bisanya Aura itu memujinya dengan lisan dan tanpa sadar lagi. Walaupun jantungnya sedang berdisko ria dan kepalanya yang sakit karena pujian manis dari Black Aura tadi, tetap tidak mengurungkan niat Chloe mengobati sekaligus membaluti luka-luka Aura itu dengan perbanan. Mungkin ini akan jadi kali pertamanya Black Aura diperban. Sebab, Aura itu jarang menggunakan peralatan medis semacam itu. Black Aura lebih cenderung mengandalkan kemampuan memindahkan rasa sakitnya hanya ke Legend Aura. Kejam seperti ini pun, Black Aura seenggaknya masih memiliki hati pada manusia.


“Kau mau sampai kapan terluka terus? Kau nggak capek ya?”


Black Aura menggeleng. Rasa sakit ini seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia layaknya sahabat  bagi Black Aura di kala suka dan duka. Karena dulu Black Aura tidak memiliki emosi dan hanya merasakan rasa sakit, rasa itulah yang Black Aura klaim sebagai temannya. Tanpa dia sadari, rasa sakit yang diterimanya bisa memberinya inspirasi seperti serangan yang semakin bervarian, kemudian dengan kemampuan itu, dia bisa berbagi rasa sakit dengan lawannya.


“Aku nggak tahu. Tapi bukankah rasa sakit itu selalu bersama kita? Semua perasaan negatif itu berawal dari rasa sakit kan?”


“Iya sih… Black Aura, kalau kembali ke duniaku nanti, kita jalan-jalan yuk! Aku ingin kau juga bisa bersenang-senang denganku,” ungkap Chloe. Karena terlalu asyik mengobrol, Chloe tidak sadar kalau dia sudah selesai membalut semua luka Aura itu dengan perbanan. “Wah, udah siap aja…”


“Iya… Aku juga baru sadar. Makasih ya, Chloe!”


“Sama-sama…”


Black Aura bangkit dan memandang dirinya di depan cermin yang kacanya pecah sepertiga. Meskipun pecah, penampilannya masih bisa ia deskripsikan. Perbanan yang dibaluti di kepalanya, tangannya… Rasanya sejuk.


Sebelum kembali duduk bersama Chloe, Black Aura menoleh ke sekelilingnya. Kamar pansien yang dulunya steril dengan bau obat-obatan yang menyengat itu sudah tak lagi sama seperti yang dulu. Para dokter, suster, dan juga pasiennya menghilang entah kemana. Terlebih lagi, terdapat banyak sekali bercak darah para pasien Carnater di dalam ruangan itu.


Black Aura bertanya-tanya, apakah Legend Aura itu sampai masuk ke dalam rumah sakit dan membuat kekacauan? Tentu tidak kan?


“Ada apa?”


Chloe yang merasa aneh dengan raut khawatir Black Aura langsung mengajukan pertanyaan. Gadis itu ikut berdiri dan menemani Aura itu memandang seisi ruangan yang berantakan itu. Kasur pasiennya terbalik dan ada pula yang patah, obat-obatannya berserakan melundung entah kemana, dan peralatan yang digunakan untuk operasi berceceran di lantai. Begitu matanya menyorot ke gunting dan suntikan, saat itulah Chloe mendapatkan sensasi mengerikan dari kedua benda tersebut. Gadis itu menempel di lengan Black Aura. memejamkan matanya seerat mungkin karena suntikan adalah phobia terbesarnya.


“Kau takut suntikan?”


“Iya… Aku punya pengalaman nggak menyenangkan dari benda itu. Oh, ya… Dimana Kenzo? Dia kelelahan mengejar kita?” Chloe melirik ke luar jendela yang tidak menampilkan apa-apa. Tidak ada bahaya apapun di luar rumah sakit. Sekarang, pertanyaannya ada di dalam rumah sakit. Black Aura menduga kalau Kenzo tengah berjalan mengendap-endap sambil mengintip di balik kaca setiap ruangan. Karena ukuran tubuhnya yang besar, Kenzo sepertinya harus menunduk.


“Sepertinya, kita harus keluar. Kalau ketemu Kenzo pun, mau nggak mau harus kita lawan. Tapi, kalau kau kelelahan biar aku aja yang melawannya,” ujar Black Aura sambil menggeser pintu kamar pansien itu. Aura itu berjalan keluar dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi bersama Chloe yang mengekornya dari belakang.


Begitu mereka keluar dari kamar, terdengar suara tembok yang dicakar dari lantai bawah. Sebelumnya, lokasi mereka berdua saat ini berada di lantai lima dan gedung rumah sakit itu berlantai tujuh.

__ADS_1


“Dia dibawah,” lirih Black Aura.


~


__ADS_2