
DI tengah keramain kota serta bising-bising suara klakson yang bersahutan, Midnight berjalan cepat menuju mall tempat di mana Huke berada.Lima belas menit sebelumnya, Chloe sempat menghubunginya dan menceritakan semua yang dia lihat serta alami pada Midnight. Alhasil, Midnight langsung bergegas mengunci pintu rumahnya dan berlari menuju lokasi mall itu berada. Sekalian juga, dirinya tidak ingin kesehariannya diganggu oleh kehadiran perasaan Yuuki yang tidak ada ending-nya itu.
Baru akan berbelok, Midnight dibuat terkejut oleh Rara yang kebetulan berjalan lumayan terburu-buru dan nyaris saja menabrak Midnight.
Tentu saja, dengan kehadiran Rara yang sungguh mengejutkan itu membuat Midnight akhirnya melontarkan satu pertanyaan untuk gadis itu.
“Eh, Rara? Kau mau kemana sampai terburu-buru gitu?”
Rara dengan wajah meronanya, menyelipkan beberapa helai rambutnya di telinga kanannya. “Hmm, aku mau cari Minji. Udah dua bulan lebih dia nggak pulang-pulang. Yohan juga menghilang gitu aja.”
Benar juga ya… Rara belum tahu siapa identitas asli Yohan dan Minji. Astaga… Kenapa pakai acara dua identitas segala? Alay kali! Batin Midnight tak habis pikir. Padahal, dia tidak sadar bahwa dirinya juga melakukan hal yang sama dengan Ethan, Elena, dan Yohan.
“Udah dua bulan lebih dan kakakmu masih belum ketemu juga? Wah, ini sih, parah. Hm, Ra… Gimana kalau kamu ikut aku aja untuk sementara waktu?” tawar Midnight tanpa pikir panjang.
Mendengar usulan Midnight itu, Rara langsung tersipu malu dan tentu saja langsung menolak dengan sopan tawaran Midnight.
“Nggak papa, terima kasih. Aku udah punya rumah sendiri kok. Aku juga jago beladiri. Jadi, aku nggak perlu dilindungi,” tolaknya malu-malu. Rara menunduk memandang sepatu talinya, dengan wajah dipenuhi oleh rona merah.
Entah kenapa, Rara dengan posisi seperti itu terlihat sangat manis untuk dikatakan jago beladiri.
Midnight terkekeh, “Baiklah… Kalau gitu, aku duluan ya! Ada urusan penting yang harus aku selesaikan.”
“I-iya… Hati-hati, Midnight. Oh, sebentar, sebentar!”
Ketika Midnight hendak melanjutkan perjalanannya dengan berlari, langkahnya tiba-tiba terhenti dan nyaris saja membuat wanita berkacamata bulat itu tersandung karena ketidakseimbangan dia berdiri.
“Ada apa, Ra?” tanya Midnight shock.
“Uhm, Belakangan ini, aku nggak ada ketemu Chloe. Kau tahu dimana dia?”
“Oh, Chloe… Jangan khawatir. Dia baik-baik aja kok. Kau kalau mau ketemu dia, hubungi aku saja. Soalnya, dia menitipkan ponselnya padaku,” ucap Midnight sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rara di tengah keramaian para pejalan kaki.
__ADS_1
~
“Astaga… Mau sampai kapan aku pura-pura pingsan? Mana disini pengap lagi,” keluh Yumi yang terbaring di antara dua pria berbadan besar.
Memang, dia menuruti semua yang Midnight perintahkan padanya. Bahkan sebelumnya, dia juga berlagak sok hebat sampai meyakinkan Midnight bahwa pertarungan melawan Huke kali ini akan berakhir sebelum sore tiba.
“Hm? Kenapa jadi sunyi? Perasaanku tadi ada suara benda terlempar. Aura udah menang kah?” gumam Yumi berusaha mengintip dibalik lengan berotot pria botak di depannya.
“Eh? Udah ada Devil Mask? Chloe juga ada…” gumamnya. Sejenak, dia berpikir. Apa perlu aku keluar dan membantu mereka? Tapi, aku nggak bisa keluar begitu aja. Soalnya, kemampuanku Cuma… Eh? Iya! Aku bisa narik perhatian Edward sama hantu itu ke arah lain. Lalu, Devil Mask sama Aura biar hajar Huke habis-habisan! Gila, pintar kali otakmu, Yumi
Yumi tersipu sendiri usai menyusun rencana buatannya sendiri. Yumi melihat ke sekitarnya mencari benda yang bisa ia gunakan untuk mengalihkan perhatian Edward dan hantu mamanya.
Tepat di sebelahnya, sebuah gantungan kunci lumba-lumba tergeletak begitu saja di atas lantai. Yumi menyeringai dan segera mengambil benda tersebut untuk dilemparnya ke arah restoran yang berdiri lumayan jauh darinya. Sekalian dirinya mengucapkan beberapa mantra sebelum gantungan itu ia lemparkan.
“Lima belas menit. Edward dan hantu mamanya… Restoran!”
Yumi pun melempar gantungan itu sekuat tenaga agar lemparannya bisa membuat benda tersebut melambung sangat jauh. Niatnya mau sampai ke dapur restoran itu. Akan tetapi, mengingat dirinya yang tidak memiliki bakat melempar sampai berpuluh-puluh kilometer, jadi, rasanya agak mustahil jika benda itu sampai masuk ke dapur restoran.
Tuk!
Edward dan hantu mamanya tertegun ketika indra pendengaran mereka merespon suara benda jatuh dari arah restoran yang berdiri sekitar 100 meter dari jarak mereka berdiri.
“Ada benda jatuh?” pikir Edward. Pada awalnya, dia enggan pergi untuk mengecek. Akan tetapi, ada sesuatu dari luar yang mendorong dirinya untuk memeriksa benda yang jatuh di dalam restoran itu bersama hantu mamanya.
Sementara Yumi yang sudah mengetahui bahwa lemparannya ternyata sampai masuk ke dalam dapur, barulah Yumi bisa bernafas lega dan kembali berakting layaknya orang pingsan.
“Bodo amat mau tiga lawan satu atau satu lawan tiga! Yang penting, pertarungan hari ini WAJIB siap sebelum sore!”
~
“Aura, buat penghalang!” perintah Devil Mask yang langsung dituruti Black Aura.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Black Aura segera mengeluarkan lima kartu sihir hanya dengan tangan kosongnya. Kemudian, kartu itu dia lempar ke atas dan meledak.
Area Mall yang besar itu diberi penghalang agar tidak ada seorangpun manusia yang masuk.
“Lho… Orang-orang ini pada kemana?” tanya Chloe terkejut begitu tahu lantai mall itu bersih dari orang-orang yang sebelumnya masih tak sadarkan diri.
“Mereka masih di bumi kok,” balas Devil Mask santai.
“Kitanya yang berpindah ke dimensi buatanku,” tambah Black Aura.
“Di-dimensimu? Woah, keren!” puji Chloe dengan bola mata birunya yang berbinar.
Huke berdecak sebal. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan secepat ini dibuat terpojok oleh Black Aura. Sebelumnya, dia berhasil membuat Black Aura sedikit terpojok meskipun Aura itu tetap unggul bagaimanapun caranya.
Tiga lawan satu, seperti yang Chloe katakan itu sama sekali tidak adil.
“Lihat, siapa yang curang sekarang,” cibir Huke. Kemudian menggerakkan kelima jarinya ke atas. Di ujung lima jarinya itu terdapat benang merah panjang serta di permukaan lantai mall muncullah lingkaran sihir itu bersamaan dengan tiga sosok Aura yang keluar.
Betapa terkejutnya Black Aura, Devil Mask, dan Chloe begitu ketiga sosok itu muncul full dari ujung kepala sampai kaki.
“Grimoire?” sebut Devil Mask heran.
“Dark Sport ada?!” Chloe terbelalak bukan main.
Sosok yang berdiri di sebelah Dark Sport sukses membuat Black Aura tak bisa berkata-kata. Black Aura jelas tahu siapa sosok yang bertopi office boy berwarna hitam bergaris hijau dan rambut pirang yang terurai panjang.
Manik hijau menyala gadis itu memandang Black Aura datar.
“Chloe…?”
~
__ADS_1