Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 148 {Season 2: Masalah Baru (Part 2)}


__ADS_3

Derap langkah seorang gadis di tengah hutan yang berusaha mencari jalan keluar terdengar semakin jelas. Mengingat hanya dirinya seorang yang menjadi satu-satunya makhluk hidup yang melintasi hutan tak bernyawa tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Chloe yang sudah berulang kali melanggar kata-kata Black Aura. Ya, gadis itu tidak pernah memikirkan resiko yang akan menimpanya. Tidak ada pertimbangan di kepalanya. Bahkan, tindakan yang ia lakukan saat ini ia lakukan tanpa pikir panjang. Bagi Chloe, keselamatan Aoi dan Jacqueline adalah prioritas utamanya. Dan karena itulah, dia sampai lupa dengan Black Aura. Semudah itu dia lupa akan kehadiran pacarnya yang tak sengaja ia tinggal itu.


Nafas Chloe semakin lama-semakin tak beraturan. Tersengal-sengal dan tampaknya, dia membutuhkan segelas air putih untuk meredakan dahaga yang sedari tadi menyiksa kerongkongannya. Chloe melirik ke atas, kadang ke belakang untuk memeriksa apakah ada seseorang yang mengikutinya dari belakang atau tidak.


Chloe saat ini hanya terpaku pada kedua sahabatnya yang masih tak sadarkan diri di bawah sana. Bersama Megawave yang hingga saat ini masih diragukan Omongannya.


Di depannya ada batang besar. Chloe dengan mudahnya melompat di atas batang tersebut lalu berlari zig-zag menghindari jamur-jamur raksasa di sekitar tanah yang menjadi jalannya menuju dunia luar.


“Tunggulah aku, Aoi… Jacqueline! Aku akan segera kesana!” ucap Chloe. Nafasnya terasa sesak. Karena lelah. Akan tetapi, bukan saatnya lagi untuk duduk sambil meluruskan kedua kakinya. Tidak ada kata pendinginan yang terlintas di kepalanya. Yang ada hanyalah bayang-bayang mengerikan tentang Megawave yang bisa saja menjadi monster mengerikan di hadapan Aoi dan Jacqueline.


Mata Chloe seketika terpejam sangat erat. Meskipun tak nyata, bagi Chloe, bayangan itu sangatlah mengerikan. Memang benar dan fakta bahwa manusia seperti mereka itu lemah. Tapi, jika keajaiban menyertai mereka, Chloe rasa itu bukan masalah.


Terlalu cepat berlari, Chloe sampai tidak memperhatikan kecepatan berlarinya hingga ujung sepatunya menghantam jamur besar di depannya. Alhasil, Chloe pun tersandung dengan wajahnya yang terseret bersamaan dengan pasir di permukaan tanah tersebut.


Chloe bangkit sambil menyemburkan pasir yang masuk ke dalam mulutnya. Pahit.


“Astaga, selalu aja kesandung!” gerutu Chloe. Gadis itu kembali bangkit lalu melanjutkan kegiatan berlarinya yang sempat terjeda karena hal sepele.


Di depannya, ada tiga jalur. Chloe terdiam di tempat dengan kepala meneleng ke kanan. Sesungguhnya, dia benci jika harus diberi tiga pilihan. Kalau dua pilihan mungkin tidak ada salahnya. Jika pilihan pertama membawanya ke jalan yang salah, maka Chloe bisa berbalik dan memilih jalan terakhir. Tapi ini, tiga jalur!


Chloe cemberut dan merasa bodoh atas tindakannya main pergi begitu saja tanpa memberitahu Black Aura kemana dirinya akan pergi. Saat nama pacarnya terlintas, barulah Chloe membelalak dan terkejut. Seolah dirinya baru saja melakukan aksi bodoh yang telah merugikan dirinya sendiri tapi dia tidak sadar.


Lantas, Chloe menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Astaga… Black Aura!” serunya. Panik, dia mulai panik sekarang. “Kenapa aku meninggalkannya! Harusnya aku tunggu dekat pohon tadi! Harusnya aku diam!”


Gadis itu mulai mengoceh-ngoceh tak jelas saking paniknya. Sekarang, dia sadar. Kalau keberadaannya di hutan sama sekali tak ada gunanya. Dia tak jauh beda dengan turis ceroboh yang nekat masuk ke hutan padahal sudah dilarang keras oleh orang yang mengenal betul daerah tersebut.


“Aduh! Ponselku…” Chloe merogoh saku celananya. Tidak ada notifikasi apapun yang tertera di layar ponselnya.


“Dia tidak menelponku?”


“Kenapa baru sekarang mencariku?!” tanya Black Aura bersamaan dengan pedang yang ia tancapkan kesar tepat di samping Chloe.

__ADS_1


Chloe tersentak kaget. Gadis itu terkejut minta ampun mendapati kilatan pedang Black Aura di sampingnya. “Heh?! A-Aura…?” kini, Chloe bingung harus berkata apa menanggapi kehadiran Black Aura yang begitu tiba-tiba. Tak salah lagi, Aura itu pasti melacak keberadaannya lalu memnggunakan kemampuan teleportasinya untuk mengejar Chloe.


“Kenapa kau pergi sendirian? Bukannya udah kubilang, tunggu di dekat pohon itu!” telunjuk Black Aura mengarah ke bukit tempat dimana pohon yang dia maksud itu berada.


Sementara, Chloe hanya meneguk salivanya sambil ketakutan. Dia tidak mengerti dengan ekspresi Black Aura sekarang. Wajah Aura itu terlihat datar namun tidak dengan suaranya yang terkesan tegas. Seperti ada penekanan di setiap katanya. Selain itu, Chloe merasakan ada sedikit kekhawatiran di balik wajah datar tersebut.


“Maaf… Habisnya, aku khawatir dengan Aoi dan Jacqueline,” ungkap Chloe dengan raut meminta maaf.


Sayang, wajah memelas itu tak lagi bisa meluluhkan kekesalan Black Aura. Tangan kanannya masih terkepal keras mengingat Chloe yang sudah berulang kali tidak mendengarkan kata-katanya. Main bertindak seenaknya di tempat yang gadis itu ketahui.


“Kenapa baru sekarang minta maaf? Kau tahu sendirikan? Ini duniaku. Duniaku nggak sebaik duniamu. Disini banyak kekerasan. Sekali ketemu Aura, Monster, kau bakal ngelakuin apa, ha?” serbu Black Aura saking kesalnya dia saat ini.


Chloe sendiri hanya bisa menunduk, merasa bersalah. Tidak ada keberanian apapun untuk menatap wajah datar Black Aura. Dari suaranya, Aura itu bisa dikatakan marah.


“Iya, aku tahu… Tapi, kan… Aku khawatir sama temanku! Aku nggak tau kenapa kami tiba-tiba bisa tertidur,” sial, aku nggak tahu mau ngomong apa.


“Ha?”


“Eh? I-itu… ARGH! Black Aura nyebelin! Nyebelin banget! Aku kan cewek! Ya, wajarlah kalau aku khawatir! Masa nggak boleh sih, mengkhawatirkan teman? Kalau Aoi, Jacqueline kenapa-kenapa gimana?!” seru Chloe tak tahan lagi.


“Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana? Aku harus bilang apa pada Jacqueline? Aku harus bilang apa pada Aoi? Sementara kau dan teman-temanmu kesini tanpa izin ibu kan? Oke, aku hargai karena kau mau bertemu denganku. Tapi, kalau akhirnya bakal begini… Aku nggak tahu lagi,” Black Aura menutup mulutnya setelah sejumlah kekesalan di dalam hatinya, ia lampiaskan dihadapan Chloe. Kali ini, dia merasa tidak masalah melampiaskan amarahnya pada Chloe. Setidaknya, yang dia inginkan adalah, gadis itu mendengarkan perkataannya. Selebihnya, terserah pada gadis itu mau berbuat apa.


“Jadi, kau kecewa? Kau udah nggak suka aku lagi? Gitu?” kali ini, pertanyaan Chloe-lah yang sukses membuat Black Aura bungkam. “Katakan padaku, apa yang kau rasakan sekarang!”


Black Aura berdecak sebal, “Bodoh! Kau nanya apa sih?!”


Pedang yang ia tancapkan di samping Chloe, ia cabut dan menghilang. Lagi-lagi, gadis itu membuatnya kesal. Kekesalan yang Chloe perbuat ini seakan tidak ada kata berakhirnya. Black Aura merasa dirinya terus menerus dipancing. Padahal sepele, tapi…


“KATAKAN PADAKU, KAU BENCI AKU KAN! AKU JAUH-JAUH KESINI KARENA KANGEN, RINDU, PENGEN KETEMU DENGANMU, TAPI SIKAPMU MALAH BEGINI!” bentak Chloe bersamaan dengan air matanya yang memecah karena tak sanggup lagi menahan emosi dan juga rasa sakit akan perkataan Black Aura barusan.


“KAU BODOH! BODOH BANGET! JAHAT! JAHAT! JAHAT!” Chloe meneriaki amarahnya sambil berulang kali memberi pukulan keras. Pundaknya bergetar.


Black Aura yang tadinya marah dengan tindakan ceroboh Chloe, jadi terdiam dan merasa bersalah.

__ADS_1


“Bu-bukan! Kenapa pertanyaanmu selalu saja melenceng? Coba sekali aja jangan memperumit masalah!”  balas Black Aura tak mau kalah.


“Kau yang bikin perasaanku melenceng! Oke, aku tahu kesimpulannya. Kau Aura yang tekenal kejam, nggak punya hati, aku benar nggak? Kau emang jahat sih. Rupanya memang benar yang orang lain katakan. Kau jahat,” ucap Chloe sinis.


Mendengar perkataan Chloe yang satu ini, Black Aura merasa hatinya baru saja diserang oleh ribuan paku kecil hingga tembus. Sakit. Sakit. Black Aura kira, gadis itu berbeda dari orang lain yang selalu menganggapnya sebagai Aura paling kejam. Namun nyatanya, Chloe sendiri mudah termakan oleh omongan orang.


Black Aura terdiam. Bibirnya kelu bersamaan dengan pundaknya yang bergetar hebat. Dia tidak menyangka kalau pacarnya itu akan mengatakan hal yang menurutnya juga tak kalah kejamnya dengan perbuatannya di masa lalu.


“Aku kira, kau sejak awal mau bersamaku. Tapi, kenapa pas aku datang kesini… Kau bahkan nggak tersenyum pas aku datang ke sini! Kau memang nggak punya perasaan, Black Aura. Susah ya, berhubungan sama pembunuh sepertimu. Susah banget,” kata-kata Chloe semakin kesini, semakin terdengar menyakitkan bagi Black Aura.


“Kenapa diam? Bukannya tadi kau banyak ngomong ya?” tanya Chloe sekedar mengetes Black Aura yang mendadak tak bersuara Aura itu terdiam di hadapannya.


Chloe tidak menyadari ada air mata yang menggenang di mata kiri Aura itu. Tapi yah, karena sudah terlanjur kesal, Chloe memilih untuk mengabaikannya dan berlalu meninggalkan Black Aura sendirian. Kali ini, Chloe tidak memiliki minat apapun untuk berjalan di samping Black Aura.


“Jangan mencariku lagi!” tegas Chloe sebelum akhirnya, benar-benar meninggalkan Black Aura seorang diri di dalam hutan. Kini, gadis itu tak lagi ragu dalam memilih jalur yang akan menjadi jalan keluarnya dari hutan. Setelah tiga kali menarik nafas, Chloe pun mengambil jalan tengah dan berjalan mengikuti jalur yang ada.


Hening. Suara langkah kaki Chloe perlahan-lahan memudar seiring jauhnya kedua kaki gadis itu berjalan.


Black Aura yang masih menunduk di tempat itu, mengangkat kepalanya. Lalu menyeka air mata yang mengalir di pipi kirinya.


Sekarang, gadis itulah yang meninggalkannya. Kalau dulu dirinya yang meninggalkan Chloe karena masalah sepele, sekarang, gadis itulah yang meninggalkannya. Lagi-lagi karena masalah sepele.


“Jangan mencariku lagi!”


Kalimat itu terdengar menyakitkan bagi Black Aura. Akan tetapi, di lain sisi, Black Aura merasa ada yang aneh dengan kalimat itu.


Black Aura tersenyum tipis meskipun hatinya merasa nyeri dan sakit hanya dengan mengukir senyuman tersebut. Tidak peduli seberapa banyak gadis itu menyakitinya, Black Aura tetap bersikeras untuk selalu berada disampingnya. Black Aura akan membuktikan pada Chloe kalau dirinya masih mencintai Chloe. Perasaan itu tak akan pernah pudar. Sampai saat dimana Chloe menyakitinya dengan perkataan dan wajah yang sinis.  Dan, Black Aura juga yakin, kalau Chloe sebenarnya masih mencintainya. Hanya saja, kekesalan seorang gadis dan juga suasana hatinya yang buruk itulah yang mendorong Chloe sampai mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.


Well, Black Aura pikir, rasa sakitnya kali ini masih bisa diobati. Entah apa obatnya, tapi Aura itu berusaha untuk memahami situasi Chloe saat ini.


sKata-kata, “Jangan mencariku lagi,” itu terkesan aneh bagi Black Aura. Yang mana, Black Aura sendiri mengerti maksud sebenarnya dari kalimat itu bahwa Chloe, pacarnya ini masih ingin bersamanya.


Karena itulah, jawaban Black Aura adalah, “Bukan berarti kita putus kan?”

__ADS_1


~


__ADS_2