
Pagi ini sangat berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Jika biasanya ia mengawali pagi dengan kesunyian di dapur, kini, paginya harus terasa berisik oleh cerewetan tiada henti dari Aoi dan Devil Mask.
Jika tidak dilerai oleh Jacqueline maka, perang mulut tersebut tidak akan berakhir. Bahkan Yumizuka sekalipun hanya mementingkan perutnya ketimbang menyeimbangkan suasana paginya kali ini.
Untuk Chloe, gadis itu hanya bisa menyengir heran sambil memegang sepasang garpu. Rasanya, ingin sekali ia turun tangan membantu Jacqueline. Tapi untunglah, perang tersebut sudah berakhir. Tentunya dengan ketukan dari punggung sendok sayur yang melayang tepat di ujung kepala Aoi dan Devil Mask.
"Jadi... Pagi kalian selalu seperti ini?" tanya Chloe pada akhirnya.
Jacqueline meniup punggung sendoknya lalu menjawab, "Yep! Sudah lima hari dan masih seperti ini. Ngomong-ngomong, dimana Aura-mu?"
"Aura-ku?" Chloe menelengkan kepalanya bingung.
"Black Aura." Jacqueline mengulangi kalimatnya yang diselingi dengan menarik rambut Devil Mask. Pria itu masih belum selesai menampar pipi Aoi.
"Aku nggak tahu... Tadi semalam dia bersamaku. Lalu paginya, dia menghilang." Jelas Chloe polos. "Devil Mask dan Yumizuka tau?"
"Kami nggak tahu apapun. Dia memang selalu seperti itu. Jika merasa tugas pertamanya sudah selesai, dia akan fokus dengan tugas yang lain dan melupakan tugasnya sebelumnya." Ungkap Devil Mask yang terlihat sangat memahami Black Aura.
"Eh?" Chloe terdiam.
"Sudahlah... Dia pasti akan kembali. Begitu sudah menemukan Devil Mask dan Yumizuka, Black Aura pasti pulang kok. Dan lagi... Sekarang kan hari..." Jacqueline merangkul Chloe sembari menahan omongannya. Menunggu sampai sahabatnya tahu maksud dari perkataannya tersebut.
"Hari apa?"
"Hari level up umur Aoi, dong!" seru Yumizuka bersemangat.
Aoi menghela nafas berat. "Jahat kau, Chloe. Hari ultahku saja, kau lupa." Katanya dengan wajah cemberut.
"Eehh?? Bukannya lupa! Karena jarang liat kalender, aku jadi nggak tahu hari apa kau berulang tahun!" Chloe berusaha membela dirinya meskipun nyatanya ia memang lupa. Artinya, dia berbohong.
"Alasan aja terus..."
"Beneran!"
"Stop! Daripada kelahi mending refreshing." Lerai Jacqueline. "Enaknya kemana? Yah, kita udah lama nggak jalan-jalan bareng. Ditambah lagi, kita jarang berbagi cerita. Aku jadi penasaran sama ceritamu, Chloe."
"Iya! Aku punya banyak hal yang ingin kuceritakan!"
"Gimana kalau di...."
"Tunggu!" Potong Chloe tiba-tiba. Devil Mask yang hendak berbicara itu langsung terdiam tanpa menyisakkan suara apapun.
"Ini dimana?"
"Rumahku." Balas Jacqueline ramah.
"Wah! Rumahmu seperti rumah para selebriti ya!"
"Tentu saja! Aku berusaha dan membelinya dengan uang tabunganku sendiri. Intinya, no no bantuan orangtua. Usiaku sudah dewasa dan aku harus mandiri!" tegas Jacqueline bangga.
Chloe yang mendengar pernyataan Jacqueline berdecak kagum. Matanya berbinar seperti karakter anime.
"Jangan sungkan ya! Karena ini rumahku, kalian bisa bebas menggunakan ruang apa saja! Asalkan tanggung jawab aja gunain ruangannya."
"Siap!" seru Chloe bersemangat.
Tiba-tiba, Aoi mendengus. " Sahabat kita memang nggak berubah ya! Kalau udah senang, dia terlihat seperti anak-anak."
"Setuju! Padahal saat pertama kali mengenalnya, aku sempat mengira dia gadis yang membosankan. Ternyata..."
"Hahaha! Dia lebih polos darimu, Jacqueline!"
"Kalian ini!" Gerutu Chloe ketika topik pembicaraan mereka mengait-ngaitkan dirinya.
Sementara itu, Devil Mask dan Yumizuka hanya sibuk dengan santapan pagi mereka. Karena diabaikan, mereka pun akhirnya melakukan hal yang sama. Mengabaikan tiga manusia yang tengah bersenda d
__ADS_1
"Jadi begitu ya...? Mereka kalau sudah bersama, pasti lupa dengan masalah mereka masing-masing. Aku jadi pusing melihat mereka." Komen Yumizuka sembari mengunyah salad Jacqueline tanpa seizin pemiliknya.
"Yah... Bagaimanapun juga... Kita harus menghargai perbedaan. Setidaknya, kita mendapatkan informasi baru mengenai dunia ini." Balas Devil Mask yang nggak mau ambil pusing. Ia hanya menyeruput segelas susu. Tak ingin wajahnya terlihat oleh mereka.
"Dan teman?"
Pria bertopeng itu lagi-lagi mengangguk.
"Di rumahku aja rayainnya?" celetuk Jacqueline usai mendapatkan usulan dari Chloe yang disetujui oleh Aoi.
"Sederhana aja... Cukup makanan dan beberapa dekorasi kecil." Ujar Aoi kemudian tersenyum.
Chloe mengangguk-angguk. Sebuah ide muncul lagi di kepalanya dan tentu saja langsung ia utarakan ide tersebut. "Kita patungan aja gimana?"
"Patungan?" Yumizuka menyela tiba-tiba.
"Iya! Patungan!"
"Maksudmu... Kita jadi patung bersama?" Devil Mask menambahkan.
"Bukan b*go! Ngumpulin uang sama-sama! Kalau kalian punya, terserah kalian mau patungan apa tidak." jelas Jacqueline.
"Oalah... Lanjut."
"Kadang, aku merasa lucu melihat makhluk seperti mereka."
"Tapi, di sisi lain... Aku juga punya banyak pertanyaan mengenai mereka. Mereka itu sebenarnya apa dan tercipta dari mana? Dan buku ini..." Chloe mengeluarkan buku sejarah itu dan meletakkannya di atas meja makan.
"Kalian pasti menduga itu tulisan tangan Midnight kan? Sebenarnya bukan." Ucap Jacqueline seoalah dia mengetahui fakta dari buku tersebut.
Chloe terbelalak kaget, "Kau tahu siapa penulisnya?"
"Aku nggak tahu siapa penulisnya. Tapi, setelah Blacl Aura pergi, aku menyempatkan diri melihatmu. Aku melihat buku itu lalu kubaca isinya. Isinya melenceng dari apa yang selama ini Devil Mask ceritakan padaku. Aku juga menemukan 'ini'." Tak hanya penulis, Jacqueline juga memperlihatkan secarik kertas dan menyodorkannya langsung pada Chloe.
Chloe mengambilnya. Kemudian, membaca rentetan tulisan tersebut.
Begitu semua ini selesai, temui kami di Carmater. Namun berhati-hatilah... Musuh kalian tak hanya tiga dan sepuluh.
"Ah... Palingan cuma buku novel aja!" ujar Aoi.
"Hahaha..." Devil Mask tertawa datar dan kembali lanjut menyeruput segelas susu miliknya.
"Kita bahas surat ini nanti. Ayo, kita buat hari ini menjadi menyenangkan! Setelah itu... Barulah kita bahas tentang Aura." Chloe meletakkan surat tersebut dan beralih pada hal yang lain. Ulang tahun sahabatnya lebih penting baginya. Ditambah, ia ingin menikmati waktu bersama dengan Aoi dan Jacqueline. Bahkan, tanpa sadar... Ia melupakan dua orang temannya yang kini sedang tidak bersamanya.
Devil Mask yang mengetahui fakta bahwa Black Aura pergi tanpa seizin Chloe, memilih untuk diam. Yah, Aura itu sedang menjalankan misinya. Masih tersisa dua puluh lebih manusia yang dirasuki Aura. Jangan sampai, masalah itu melibatkan manusia dari negara lain.
Melelahkan!
~
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku dirawat disini?"
Morgan mengungkapkan pertanyaannya usai menemukan Black Aura yang berdiri tanpa suara di samping ranjang rumah sakitnya. Ya, sejak pertarungan kemarin, ia mengalami luka parah di bagian kepala. Untunglah, nyawanya masih bisa terselamatkan. Dan lagi, ia tidak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit.
"Aku... Menggunakan ini." Black Aura menunjuk kepalanya.
Morgan mendengus pelan melihat Black Aura. "Kau kesini... Untuk menjengukku?"
Black Aura seperti biasa tidak merespon.
"Chloe bagaimana kondisinya? Apa dia sudah siuman?"
"Lebih cepat darimu."
"Wah, baguslah! Padahal, sepertinya lukanya parah."
__ADS_1
"Morgan."
"Eh, ya?"
Sebelum melanjutkan omongannya, Black Aura menunduk. Ia memandang wajah Morgan lekat-lekat tanpa memperdulikan rona merah yang mewarnai wajah pria itu.
"Black Aura... Jangan terlalu dekat." Bisik Morgan yang merasa kurang nyaman.
"Oh." Black Aura mundur dua langkah.
"Nggak sejauh itu juga. Kalau ada hal penting yang ingin kau bicarakan, katakan saja! Jangan sungkan di depanku." Ucap Morgan heran. Yah, ia bingung saja. Tidak biasanya, Black Aura mau berbicara dengannya. Ia pikir, Black Aura tidak menyukainya dan enggan untuk berkomunikasi dengannya.
"Kau... Tadi sungkan."
"Bukan sungkan! Aku nggak nyaman!"
"Oh. Kau nggak ngerasa sakit?"
"Nggak lagi kok! Sepertinya hari ini, aku pulang ke rumah. Ada apa memangnya?"
"Aku sarankan, sebaiknya tugasku tak ada campur tangan darimu." Ucap Black Aura. Kali ini, nada dan aura bicaranya tak terkesan dingin. Seperti saat berbicara dengan Chloe.
Morgan mengerti tapi, cukup terkejut dengan perubahan sikap Black Aura terhadapnya.
"Kau nggak membenciku lagi?" Morgan bertanya sekedar memastikan.
"Bukan benci. Aku bahkan nggak tahu pasti rasanya menjadi pembenci itu seperti apa." Balas Black Aura yang kemudian disusul dengan helaan nafasnya. Dunia ini membingungkannya.
"Unik ya! Sekilas penampilan kita sama tapi dunia kita berbeda. Eh, kau kesini apa nggak ketahuan sama perawat?"
"Nggak. Tapi, ada salah satu orang yang dirawat di sini memiliki Aura aneh. Yah, semoga dia tidak berulah."
"Ah, iya... Ini kan, rumah sakit. Bakal bahaya kalau Aura itu sampai berulah." Ucap Morgan yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari Black Aura.
Terus terang, Black Aura merasa nyaman berbagi bersama Morgan. Awalnya ia agak ragu untuk berbicara dengan Morgan. Tapi, pria itu menerima seluruh ucapannya dengan senang hati. Jadi, lanjutkan saja tidak ada salahnya kan?
"Setelah, menjengukku... Kau akan kembali bertarung?"
"Entahlah... Tergantung lawanku mau bertarung atau tidak. Tapi, sejauh ini mereka semua mau membunuhku."
Morgan mendengus geli. "Seperti superhiro! Kebiasaan menciptakan banyak musuh. Hati-hati ya! Jangan lupa untuk terus pulang selama kau masih memiliki orang yang memikirkanmu." Ucap Morgan kemudian mengakhiri pembicaraan mereka dengan senyuman.
Black Aura terdiam. Ia memandang senyuman Morgan yang sangat manis itu. Ia bertanya-tanya dalam benaknya. Kenapa Morgan bisa semudah itu memperlihatkan senyumannya? Ah, satu lagi!
Orang yang memikirkanku? Chloe?
Walaupun tak begitu mengerti, Black Aura tetap berbalik dan hendak meninggalkan Morgan sendirian. Kelihatannya, sudah saatnya dia mengakhiri perbincangan singkat nan hangat tersebut bersama Morgan. Ep! Sebelum pergi untuk sepenuhnya, Black Aura menyempatkan dirinya untuk berpamitan.
"Cepatlah sembuh dan jauhi kami ya! Nyawamu itu jauh lebih berharga lo..." Ucapnya.
Morgan menggangguk mantap. Akan tetapi, ia justru agak terbelalak. Entah benar atau tidak, Kedua matanya menangkap sekilas senyuman tipis yang terukir di wajah Aura di depannya. Sampai pada akhirnya, ia menghilang dan tidak menyisakan apapun.
Morgan menghela nafas lega. Selain puas dan senang dengan senyuman tipis itu, menikmati cahaya pagi yang menembus tirai-tirai kamarnya juga membuat dirinya tenang. Di dalam hatinya, ia berharap...
Semoga Chloe bisa melihat senyuman itu sebelum tangannya melambai berat kepergiannya.
Begitulah yang ia batinkan di dalam hatinya.
Di luar rumah sakit, tepatnya di bagian rooftop-nya, Black Aura duduk sembari memandang dengan seksama bayangannya melalui genangan air. Entah dari mana asalnya genangan tersebut, yang jelas, dia sangat senang dengan senyuman yang dia ukir sebelumnya.
"Chloe pasti ingin melihat senyuman ini..." Black Aura bergumam. Pikirannya teralih pada Chloe yang sangat menantikan senyumannya. Yah, sejak memikirkan Chloe, Black Aura semakin lama tidak fokus dengan apa yang seharusnya ia kerjakan saat ini.
"Bisa tersenyum dan tertawa..." Ujarnya. "Kalau aku bisa seperti itu, apa Chloe akan lebih bahagia?"
~
__ADS_1