
Sesudah masalah bioskop tadi, Chloe membeli Black Aura jus jeruk untuk menenangkan perasaan Aura itu.
Black Aura menerima jus itu dengan tenang, lalu menyeruputnya pelan. Dia menoleh ke sekitarnya yang sangat ramai akan orang-orang yang berlalu lalang masuk ke berbagai toko di dalam mall itu.
Diperhatikannya toko pakaian yang disana mayoritas kaum ibu-ibu yang menguasai tempat tersebut. Sementara kaum pria ada sebagian yang memenuhi toko alat musik dan sebagian alat elektronik.
Di sana juga ada pusat permainan. Entah kenapa, Black Aura jadi sedikit terpancing ingin memainkan salah satu permainannya.
“Kau mau main? Ayo!” ujar Chloe santai.
Mereka berdua pun masuk ke pusat permainan tersebut dan mencoba semua permainan yang tersedia di dalamnya. Salah satu permainan yang sukses membuat Black Aura betah dan ingin bermain terus adalah melempar basket masuk ke dalam ring-nya.
Dengan memberi sedikit jarak antara dirinya dengan Black Aura, Chloe diam-diam merekam momen dimana Black Aura yang sudah sangat keasyikan melempar basket. Hebatnya, semua basket yang Black Aura lempar tak ada satupun yang meleset. Semuanya masuk ke dalam ring.
“Dia hebat juga bermain basket. Apa perlu aku mengajaknya bermain basket bersama Aoi dan Jacqueline?” pikir Chloe setelah itu tertawa kecil mendapati salah satu bola basket terpantul dari dinding dan menghantam wajah Black Aura.
Melihat hal itu, Chloe sama sekali tidak khawatir dan justru membiarkan Black Aura berdiri dengan caranya sendiri. Dia tahu bahwa luka yang disebabkan bola itu masih bisa Aura itu tanggung. Selagi bukan manusia yang menyerang Aura itu.
Rekamannya pun selesai. Chloe cepat-cepat menyimpan ponselnya lalu menyerbu leher Black Aura. Gadis itu dengan manja melingkar kedua tangannya di leher Aura itu sehingga membuat Black Aura sedikit merasa sesak.
“Astaga...” celetuk Aura itu datar. Black Aura menoleh ke samping tepat dimana wajah manis Chloe berada. Chloe tersenyum sangat lebar di depannya.
Hal itu membuat Black Aura berpikir bahwa dirinya sukses membuat Chloe bahagia dan ingin terus membuat gadis itu bahagia sampai melewati batas dari kebahagiaan tersebut.
“Aku tahu kau merekamku, Chloe,” ucap Black Aura sinis.
“Eh? Masa? Dari tadi aku Cuma main instagram kok,” bohong Chloe tapi tetap tidak bisa menutupi kebohongan tersebut karena Black Aura sudah terlanjur curiga dengan gerak gerik Chloe yang sedari tadi tak bisa berhenti tertawa.
“Bohong.”
“Nggak kok.”
“Hmm?” tampaknya, Black Aura masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya terhadap Chloe. Karena itulah, Chloe menyerah dan menyerahkan videonya pada Black Aura.
“Aku nggak nyangka kau hebat juga bermain basket,” pujinya.
__ADS_1
“Hebat? Masa sih?”
“Yup. Lain kali, mau nggak kita main basket sama-sama?” usul Chloe yang tak perlu satu menit menunggu pun sudah mendapatkan anggukan kecil dari Black Aura.
Di balik pilar, seseorang diam-diam mengamati mereka. Meskipun kondisi lantai dua mall saat itu ramai sekali, tampaknya tak ada satupun orang yang menggubris tindakan aneh orang yang berdiri di balik pilar tersebut.
Orang itu memandang serius sosok Chloe yang sedang memaksa Black Aura untuk menuruni eskalator. Orang itu berdecak kesal.
“Jadi kau disini ya?”
~
Dring… Dring…
Black Aura tersentak kaget menyadari ponsel di dalam saku celananya berdering. Lantas, Aura itu segera menyalakan ponselnya karena berpikir bahwa deringan itu berasal dari kontak orang-orang yang ia kenali.
Rupanya Devil Mask. Aneh, tapi, tidak ada salahnya mengangkat panggilannya.
Chloe yang sibuk mengunyah burger itu menelengkan kepalanya penasaran.
Kelihatan dari jauh, Aura itu sedang berbicara dengan Devil Mask yang berada di seberang sana. Chloe yang belum menghabiskan burgernya hanya bisa diam dan memandang pacarnya yang sibuk berbicara dengan Devil Mask.
Suasana restoran ini lumayan ramai. Beruntunglah tidak ada desak-desakan di dalamnya. Aroma dari kentang goreng yang digoreng nguar-nguar menyerbu hidung Chloe. Hanya dengan aroma itu, Chloe bisa menebak dan menarik rasa nyaman yang keberadaannya sulit dilihat dengan mata telanjang.
Chloe memejamkan kedua matanya, kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Tanpa ia sadari, dia telah terlelap untuk beberapa saat sebelum akhirnya terbangun dan dibuat terkejut minta ampun oleh kondisi mall yang dia lihat dengan mata kepalanya berantakan. Benar-benar seperti kapal pecah!
Pengunjung restoran yang awalnya sedang menikmati hidangan restoran itu, semuanya terbaring lemah di atas lantai restoran yang kosong. Tak hanya restoran, para pengunjung yang tengah berkunjung di berbagai toko dalam mall itu ikut-ikutan terbaring. Sungguh aneh, karena hanya dirinya seorang yang siuman. Lalu… Dimana Black Aura?
“Jangan bilang ada Legend Aura?!” curiga Chloe celingak-celinguk panik.
Setelah berkeliling mall sepuluh menit, Chloe akhirnya menemukan Black Aura yang sedang menunduk memandang surat yang Aura itu temukan terselip di bawah pot bunga.
Tanpa pikir panjang, Chloe memanggil Black Aura seraya melangkah menghampiri Aura itu. Chloe antara senang dengan ketakutan seandainya sosok yang jelas terlihat seperti Black Aura itu ternyata bukanlah Black Aura. Yang selalu terlintas di benaknya adalah Black Aura yang tak pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun.
Chloe menepuk pundak Aura itu sampai-sampai mengejutkan orangnya yang sangat fokus membaca isi surat.
__ADS_1
“Astaga… Chloe! Bisa tidak jangan bikin kaget orang?” tanya Black Aura syok.
Chloe cemberut, “Habisnya, aku takut kalau kau ini ternyata palsu. Btw, mall ini kenapa? Kenapa semua orang pingsan di lantai? Kenapa Cuma aku aja yang bangun?” hantam Chloe dengan sejumlah pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
Black Aura menghela singkat, “Ini pasti dari Legend Aura. Tapi, Devil Mask bilang kalau mereka lagi pada menghilang. Dia sudah mencari ke berbagai tempat yang sepi dan ramai tapi, tetap saja nggak menemukan mereka. Mungkinkah, mereka bakal muncul kalau aku ada di dunia ini?” pikir Black Aura kemudian yang tak disangkanya mendapatkan respon konyol dari Chloe.
Gadis itu mendengus seolah mengejek pemikiran Black Aura barusan. “Masa iya, Legend Aura menghilang karena kau tiba-tiba menghilang? Aneh nggak sih?”
“Terserah tapi instingku bilang begitu,” balas Black Aura disertai raut malas di wajahnya. “Nah, ketawa aja terus.”
Chloe yang kesulitan menghentikan tawanya itu pada akhirnya menyerah dan beralih fokus ke kejanggalan kali ini. Selain khawatir, Chloe juga senang lagi-lagi dirinya akan berhadapan dengan Legend Aura. Chloe bahkan penasaran dengan siapa musuh yang akan mereka hadapi nantinya.
“Mikir apa kau?” tanya Black Aura datar. “Jangan mikir yang enggak-enggak! Sekalina luka baru tahu rasa kau,” cibir Black Aura berdiri lalu melangkah keluar toko bunga. Saat melangkah, Aura itu tak lupa menggandeng tangan Chloe agar gadis itu tidak tertinggal.
Cih, jadi memang benar. Mereka nggak bakal bergerak kalau aku nggak ada di dunia ini. Berarti memang benar kalau mereka mengincar nyawaku. Mereka pasti berencana membunuhku lalu Devil Mask, dan terakhir Captain dan Yumi. Begitu kami habis, Yuuki atau Emma bisa aja mengambil Midnight dan…
Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Black Aura menghentikan langkahnya. Manik violetnya gemetar hebat saat dirinya tidak sengaja berpapasan langsung dengan dinding dalam lift yang diwarnai oleh bercak besar berwarna merah. Tepat di bawah dan di depan bercak itu, ada seorang pria terduduk kaku dengan lubang lumayan besar di pundak kanannya.
Chloe yang melihat itu pemandangan mengerikan seperti itu reflex menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara Black Aura ikut menutup mata Chloe dengan kedua tangannya agar pemandangan mengerikan itu tidak terngiang-ngiang di kepalanya.
“Black Aura… Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ada yang mati disini?” bisik Chloe ketakutan. Dia yang pada awalnya antusias ingin melawan Legend Aura mendadak ciut setelah melihat darah pria misterius itu yang tersebar hampir seluruh dinding dalam lift.
Black Aura yakin, kalau pria itu mati bukan karena lift melainkan perbuatan Legend Aura yang diam-diam berbaur di dalam ramainya lautan manusia.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi, intinya…” manik violetnya menoleh dengan cepat ke belakang. Disana, barulah Black Aura menemukan pelakunya.
Seorang pria yang terlihat sangat muda itu menyeringai lebar di hadapan mereka sambil menggenggam rantai.
Tak hanya Black Aura yang lumayan terkejut mendapati kehadiran pria misterius itu, Chloe yang berdiri di belakang Black Aura tak kalah terkejutnya melihat pria dengan wajah yang sangat familiar di mata Chloe.
Wajah yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu, akhirnya mereka dipertemukan kembali tapi tidak dengan momen-momen yang indah seperti di film.
“Kenapa… Dia ada disini?!” lirih Chloe ketakutan.
~
__ADS_1