Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 41 (Kapal part1)


__ADS_3

Usai mengantar Eve dan Gunez pulang, Chloe dan kedua sahabatnya akhirnya mampir pulang ke rumah Jacqueline. Tangan mereka tentu saja tidak kosong. Mereka memiliki tiga ember berisikan kentang untuk dijadikan cemilan malam ini.


Sepanjang jalan, mereka bergurau riang dengan topik acak yang tentunya sanggup membuat mereka bertiga melampiaskan tawa mereka. Mereka bahkan baru menyadari bahwa langkah mereka yang beriringan itu, kini berdiri tepat di depan rumah Jacqueline.


"Dah sampai." Ucap Chloe lirih.


"Masuk?"


"Harus. Diluar dingin. Jangan sampai kita sakit gara-gara cuaca." Tegasnya. Jacqueline menghela nafas beratnya ketika hendak membuka pintu ruang tamunya. Aoi dan Chloe hanya memandang cemas Jacqueline sembari membawa beberapa ember berisikan kentang goreng.


"Tapi Jacqueline, gimana kalau kita menginap?" usul Aoi.


"Ogah... Aku udah punya rumah. Gak mau buang-buang uang lagi!" Balas Jacqueline jutek.


"Astaga..." Chloe menambahkan.


Jacqueline berbalik frustasi. Entah bagaimana cara menghilangkan perasaan buruknya itu.


"Huft... Entahlah, Chloe. Aku masih malu dimarahi di depan kalian. Tapi, perasaan itu sulit sekali hilang. Aku ingin istirahat bersama kalian tanpa..."


Belum selesai Jacqueline berbicara, mamanya- Rei sudah membukakan pintu untuknya. Tidak disangkanya, wanita itu terisak dan langsung memeluk Jacqueline diiringi dengan ucapan maafnya. Wanita itu meminta maaf beriringan air mata.


Chloe memandang ibu dan anak itu dengan cemas. Ia memandang Jacqueline yang masih terkulai lemas tangannya dan tampak tidak berkeinginan ingin membalas pelukan ibunya.


Tak hanya Rei, Scarlet menyusul dengan raut bersalah.


"Kak Jacqueline... Maaf untuk tadi. Aku bersalah. Memang salahku dari awal. Aku baru sadar..."


Jacqueline tidak merespon. Seluruh pandangannya ia jatuhkan ke tanah.


Scarlet tertegun. Ia kembali menunduk sambil mengelus lengan kanannya.


"Ayo, masuk! Mama barusan bikin sup buah." Ajak Rei. Ia bergeser sedikit memberi ketiga remaja itu ruang untuk masuk.


Saat pandangan mereka bertemu, Chloe dan Aoi mengangguk sopan disertai senyuman. Berbeda dengan Jacqueline yang memilih untuk menunduk. Langkah mereka sengaja diperlambat agar Rei dan Scarlet maju lebih dulu mendahului mereka.


"Aoi. Apa kita biarkan aja mereka bertiga dulu?" bisik Chloe sedikit melambatkan langkahnya agar menjauh dari ketiga wanita itu.


"Aku maunya begitu. Tapi, kalau kita tinggal Jacqueline dengan mereka, entar bakal jadi masalah. Karena aku pernah mengalaminya." Jelas Aoi.


"Benar begitu? Tapi kurasa... Mereka pasti baik-baik aja. Setidaknya beri mereka waktu sedikit saja. Selebihnya, baru kita temani Jacqueline lagi."


"Kalau kita biarkan Jacqueline, memangnya kita mau kemana selarut ini?"


"Ke ruang tamunya."


"Ahahaha terserahmu saja, deh!" Aoi terkekeh dan menyerah.


"Kalian kenapa nggak ke atas?"


Tanpa mereka sadari, Jacqueline rupanya menunggu mereka dengan raut datar.


"Naiklah..."


"Iya... Iya... Sebentar lagi kami ke atas! Hmmm... Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan pada Black Aura. Jadi... Aku keluar dulu." Seru Chloe berbalik. Derap langkahnya terburu-buru membuat Jacqueline semakin gelisah apabila hanya dirinya dan kedua anggota keluarganya yang berkumpul di dapur.


"Jangan lama-lama. Aku kesepian kalau nggak ada kalian." Ia membalas sedih. Kemudian melanjutkan langkahnya ke atas.


Aoi tersenyum, ia menghampiri Jacqueline dan menangkup wajah gadis itu dengan lembut. "Aku tunggu dibalik pintu."


"Okelah."


Mereka berdua pergi ke atas dan kembali pada urusan mereka.


~


Sebetulnya, Chloe agak khawatir dengan Jacqueline. Ia ingin menemaninya tapi, pasti ada yang ingin dibicarakan oleh Rei pada Jacqueline nantinya.


Devil Mask juga bilang kalau dia sudah mengajarkan sesuatu pada Jacqueline dan kami nggak perlu lagi ikut campur. Batinnya.


Chloe menghela nafas lelah lalu membuka pintu ruang tamu. Disana, ia menemukan Black Aura dan kedua temannya? Saudaranya? Terserahlah! Chloe tidak begitu mengerti dengan hubungan mereka.


"Kalian mau pergi lagi?"

__ADS_1


Chloe melemparkan pertanyaannya usai menutup pintu.


"Kami harus cepat-cepat mencari ibu kami." Balas Black Aura yang ikut menghampiri Chloe.


"Sepertinya ibu kami kunci dari masalah ini. Selama ini, kami hanya mengikuti apa yang menurut kami pantas dibunuh. Kami membunuh siapapun yang menurut kami bisa saja mengancam nyawa ibu dan Carmine." Timpal Yumizuka.


"Ah, Carmine! Aku justru penasaran dengan Carmine. Aku sudah dua atau tiga kali bermimpi tentang gadis itu. Sebenarnya, apa hubungannya denganku?" Sambar Chloe begitu mendengar nama Carmine.


Lantas, ketiga Aura itu langsung berpikir. Tampaknya, Carmine memberi beberapa petunjuk dari semua masalah ini.


"Aku nggak begitu ngerti dengan mimpi. Tapi... Apa Carmine memberi kami pesan lewat mimpi kalian? Apa pertemuan kita ini memiliki rahasia yang kuat di dalamnya?" Yumizuka bertanya disertai tatapan penuh tanda tanya pada Chloe dan kedua Aura di sampingnya.


"Bagaimanapun juga, aku akan membantu kalian. Aku yang manusia ini, bisa saja menemukan kunci di balik mimpi yang kualami. Ah, apa perlu aku ikut kalian melawan Legend Aura? Dengan begitu, mimpi itu akan berlanjut dan kemungkinan besar, ada jawabannya!" usul Chloe bersemangat.


"Ide bagus!" Devil Mask menjentikkan cakarannya setuju.


"Aku bersamanya. Kalian urus saja teman kalian." Black Aura tiba-tiba maju dan berdiri di samping Chloe.


"Benar. Kita punya pasangan masing-masing. Kita juga harus bertukar info." Chloe menambahkan diiringi dengan senyuman.


"Hmmm... Terserah apa katamu, manusia. Aku harap, kau tidak melakukan sesuatu yang aneh pada Aura!" ledek Yumizuka.


"Iya... Aku tahu! Ah, iya! Beberapa hari yang lalu, Rara bilang kalau kakaknya memiliki seorang pacar yang katanya memiliki hubungan erat dengan Legend Aura. Sial! Aku lupa namanya!"


"Apa? Kalau itu, kita harus cari cepat-cepat!" tegas Devil Mask yang terlihat panik.


"Aku akan menghubungi Rara besok. Dia bilang bahwa orang itu mencariku. Tapi, aku rasa... Dia mengincar kalian sebenarnya."


"Wah, aku merasa kasihan pada kalian. Bisa saja orang yang selama ini kalian percayai dan sayangi, akan menjadi orang yang akan mengkhianati kalian nantinya. Kami ini Aura, kami memiliki kemungkinan bisa merasuki kalian dan mengambil alih tubuh kalian." Jelas Devil Mask.


"Cerita kalian bisa berubah drastis jika hal itu sampai terjadi pada kalian. Makanya..." Black Aura terdiam.


"Yah... Mau bagaimana lagi? Aku juga nggak tahu ingin menyalahkan siapa? Tapi, setidaknya ada hal yang aku syukuri dari semua ini. Menjadi teman kalian itu sebuah hal yang baru." Ujar Chloe positif. Ia melirik Black Aura dengan tatapan mantap. Seperti mengisyaratkan padanya bahwa, semuanya akan baik-baik.


“Aku suka perkataanmu." Puji Black Aura


"Yang jelas, tugas kita saat ini membunuh Legend Aura. Dengan begitu, semuanya akan berakhir dengan cepat. Nggak ada konflik lagi dengan dunia ini.”


Chloe terkekeh pelan. Akan tetapi, perkataan kedua Aura itu justru membuat Chloe merasa cemas. Dadanya seakan berat mendengarnya. Ingin sekali ia menyatakan kurang setuju namun, yang ia takutkan jika perkataannya


hanya akan membuat masalah mereka semakin besar.


“Chloe.” Black Aura menunduk dengan memerengkan kepalanya. Memandang Chloe dalam-dalam.


Seolah merasakan apa yang Chloe rasakan tapi tidak yakin bisa membuat gadis itu merasa lebih tenang. Oleh karenanya, Black Aura memperlihatkan senyuman singkatnya. Singkat tapi manis untuk Chloe.


“Aku suka senyumanmu.” Bisik Chloe menyembunyikan mata yang nyaris saja ingin membeberkan air mata.


Black aura tidak merespon. Ia kembali berdiri tegak lalu menunjuk jam tangan Chloe. Chloe terkejut langsung mengangkat lengan kirinya. Jam 10.30.


“Sudah malam. Aku tidur dulu ya! Selamat malam semua!” Chloe pamit diiringi dengan beberapa langkah menuju pintu. Sekilas, ia melihat Black Aura melambaikan pelan tangannya sebagai bentuk perpisahan singkat menjelang tidur.


Chloe jadi merasa tenang melihatnya. Bersamaan dengan itu, ia juga berdebar-debar. Di antara suasana dingin itu, ia masih bisa merasakan kehangatan hanya karena lambaian kecil dari Black Aura.


Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali kau menemani tidurku malam ini…


Cklek!


Pintu masuk rumah Jacqueline tertutup rapat. Ketiga Aura itu menghela nafas bersama-sama kemudian, kembali pada topic mereka sebelumnya. Masing-masing menundukkan kepala mereka dan saling mengangguk tegas sebelum pada akhirnya berpisah.


~


Entah bagaimana dirinya bisa terbangun di lorong kapal? Kapal yang terbengkalai dan pastinya seisinya berantakan tak terurus.


Black Aura bangkit sambil menggeleng pelan kepalanya. Agak pening sedikit. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Hanya menemukan lorong kapal yang kosong dan usang. Beberapa kaca jendelanya ditemukan retakan. Ada pula yang sudah pecah.


"Kenapa aku bisa disini?" pikir Black Aura heran. "Chloe? Bukannya dia bersamaku tadi?"


Tak ingin membuang waktu siangnya di kapal, Black Aura akhirnya berjalan sambil mengaktifkan kekuatan matanya. Memeriksa seisi kapal dan berharap ia tidak sendirian di dalam sana. Di samping itu juga, ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya.


"Hmm?"


Black Aura terbelalak mendapati pedang digenggamannya patah. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa? Yang ia tahu, tak ada Aura yang bisa mematahkan pedangnya. Sepanjang hidupnya. Bahkan Dark Fire tidak bisa.

__ADS_1


Tak hanya pedang, jari kanannya juga! Dari tengah menuju kelingkingnya menghilang. Seperti ada yang menggigit jarinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukannya aku bersama Chloe... Dan... kami di cafe?"


Sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menjawab pertanyaannya, Black Aura memutuskan untuk menyusuri lorong tersebut.


Baginya, dunia tempat Chloe tinggal jauh lebih menakutkan ketimbang dunianya yang terlihat sangat monoton. Itu karena, ia merasakan banyak sekali emosi dan beragam raut manusia. Ketika melihat lorong yang sepi itu, ia menebak pasti Chloe akan ketakutan melihatnya. Terutama saat sedang sendirian. 


DRAK! DRAK!


Spontan langkahnya terhenti. Ia menoleh cepat ke belakang dan merasakan betapa heningnya siang itu. 


Suara itu terdengar dari sana. Apa aku harus mengeceknya? Batin Black Aura setengah ragu. Namun tetap saja, pilihannya adalah berbalik dan mengecek suara tersebut. Seakan ada seseorang yang terkunci di suatu ruangan. 


“Di kapal ini… Agak mustahil ada manusia di dalamnya. Kalau bukan Aura…” Ia berhenti bergumam saat ingatannya terputar ke beberapa jam yang lalu. Lebih tepatnya saat dia dan Chloe masih di dalam cafe. Gadis itu sempat menceritakan kisah seram mengenai mansion besar.


[Flash back] Pukul 09.45.


“Sahabatmu lama sekali.” Celetuk Black Aura malas. Karena bosan, ia mengenakan headphone dan mendengarkan beberapa lagu di dalamnya. Salah satunya, Aurora. 


Chloe cemberut usai menyeruput setengah gelas boba. “Dia perempuan. Maklum kalau dia lama.”


“Tapi, kenapa kau nggak selama dia?”


“Itu karena aku Chloe. Make-up bukan hal yang wajib bagiku. Cukup bedak dan… Ah, yang penting aku terlihat cantik  dan wangi saja.”


“Kau manis. Bukan cantik. Kata-kata itu terlalu umum.”


“Ooh begitu kah? Fufu… Aku senang mendengarnya.”Chloe menunduk tersipu malu. Kalau sudah berurusan dengan pujian, terutama dipuji oleh sosok yang ia sukai, apa tidak berdebar-debar hatinya. Gadis itu memang lemah terhadap Black Aura. 


“Black Aura… Kau pernah mendengar cerita seram?”


“Seperti apa?”Black Aura bertanya disertai lirikan malas pada Chloe. 


“Pastinya, cerita itu yang bisa membuat seseorang ketakutan. Terutama untuk orang yang benar-benar takut dengan hantu.”Jelas Chloe sedikit berbangga diri. Ia menduga, pasti Black Aura tidak tahu arti dari kata ‘seram’ dan ‘hantu’. Menurutnya juga, Aura itu tidak mengenal rasa takut. 


“Hantu?”


“Iya! Dia berbeda dari manusia dan Aura. Tapi, dia juga menyerupai manusia dan hanya manusia tertentu yang bisa melihat mereka. Seperti yang memiliki indra keenam. Oh, ya! Kalau menurut mereka yang bisa melihatnya, penampilan hantu itu random sih. Ada yang nggak sempurna dan ada yang mirip tapi mereka nggak memperlihatkan kaki mereka.”


“Aku nggak ngerti bahasamu.”


“Huft… Hantu itu tak kasat mata. Mereka itu tercipta dari jiwa manusia yang matinya nggak tenang. Hmmm… Itu sih, kata Aoi. Aku sih, percaya aja.” Chloe menyilangkan lengannya dan berpikir. Tak lama kemudian, ia melanjutkan kalimatnya menyadari Black Aura yang ingin mengetahui kelanjutannya.


“Orang sepertiku tentu saja nggak bisa lihat. Tapi, hantu itu bisa saja mengganggu kita dengan menggerak-gerakkan benda di sekitarnya. Agar kita yang tidak bisa melihatnya—menyadari keberadaannya. Contohnya di mansion yang sudah lama terbengkalai. Mansion yang mewah itu dulunya ditinggali oleh keluarga besar. Entah karena masalah apa, mereka meninggalkan mansion tersebut. Pernah masuk berita bahwa ditemukannya mayat seorang gadis remaja yang sudah tak terbentuk lagi rupanya.” Beber Chloe. Kemudian, tawanya meledak sesaat mendapati betapa seriusnya Black Aura mendengarkan ceritanya.


“Astaga! Kau percaya?” tanya Chloe yang masih tertawa.


“Iya.”


“Ah, Black Aura! Yang kuceritakan cuma fiksi belaka. Nggak nyata sama sekali.”


“Dasar.”


Chloe yang sulit menghentikkan gelak tawanya langsung mengambil nafas singkat kemudian, membuangnya. “Rara udah datang. Aku kesana ya!”


[Selesai]


Kembali ke detik sekarang dimana Black Aura bergumam mengenai hantu.


“Hantu ya? Sejauh ini, aku nggak tahu bagaimana penampilan hantu itu.” Gumamnya. Mengingat pedangnya patah, ia segera mengubahnya menjadi sabit. Pedangnya akan pulih setelah melewati 25 menit dari sekarang. 


Tap!


Kini, Black Aura berdiri di depan pintu yang bergetar-getar gagangnya.


Tanpa pikir panjang, ia menggenggam gagang pintu yang berkarat. Akan tetapi, ia mendadak menarik kembali tangannya ketika lukanya secara tidak sengaja menyentuh besi berkarat tersebut. 


Akhirnya, Black Aura memutuskan menendang pintu itu hingga terpental menghantam dinding.


"Hah?"


~

__ADS_1


__ADS_2