
Chloe bungkam. Dia sungguh tidak mengerti alasan mengapa Black Aura sampai membahas Ethan. Gadis itu pun terkekeh meskipun itu tidak lucu baginya.
“Ah, kau ini bicara apa Aura? Aku sama Ethan Cuma temenan aja kok. Jangan khawatir, perasaanku semuanya hanya untukmu!” Chloe menunjukkan jari saranghae-nya pada Black Aura. Namun, Aura itu tetap menghela berat nafasnya dan hendak berbalik ke tempat lain. Menyadari dirinya telah membuat Black Aura marah, Chloe segera beranjak dari karpet menghampiri pacarnya.
“Aura, kau marah?” tanya Chloe sambil memeluk Black Aura dari belakang.
Tidak ada respon dari Aura itu. Tapi, Chloe tetap berusaha menarik-narik Black Aura agar perhatiannya tertuju lurus padanya dan bukan ke sepasang sepatu boot barunya.
“Aura, kau marah ya? Jangan marah dong! Entar kau nggak ganteng lagi,” guraunya walau hasilnya nihil.
“Hah, kalau kau memang suka sama Ethan, katakan saja. Aku nggak marah kok,” respon Black Aura malas.
“Aura, kau cemburu ya? Sorry-lah! Aku tadi Cuma bercanda aja sama Ethan. Nggak ada maksud apa-apa kok,”
“Iya, bercanda-canda katanya. Tapi kok sampai bareng-bareng segala di pahanya,” cibir Black Aura kemudian berbalik memandang Chloe lekat-lekat. “Chloe, aku minta kau untuk jujur padaku dan juga dirimu. Aku nggak mau terus-menerus salah paham. Kalau kau memang suka sama Ethan, kau tinggal bilang padaku dan putus saja aku. Aku nggak keberatan karena aku nggak bisa merasakan sakit,” tambahnya meskipun ada sebagian katanya yang merupakan kebohongan.
Chloe terdiam. Dia memandang Black Aura disertai tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Black Aura berkata seperti itu? Apa dirinya sudah keterlaluan telah membuat Black Aura salah paham terus hingga akhirnya meminta Chloe untuk memutuskan ikatan mereka sebagai seorang kekasih?
Chloe menundukkan kepalanya dengan bibirnya yang bergetar. Padahal dia yang sudah membuat Black Aura kesepian. Tapi kenapa malah dirinya yang kesakitan. Chloe merasa sesak di dadanya. Perasaannya campur aduk. Terlepas semua itu, Chloe tetap saja tidak ingin ditinggal pergi Black Aura. Karena, setiap kali bersama Black Aura, dia bisa merasakan apapun yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Chloe masih ingin berubah. Dia ingin menjadi dirinya yang sebenarnya setiap kali Black Aura berada disampingnya.
“Kita nggak akan putus! Baik kau atau aku, kita akan terus bersama! Aura, aku sama sekali nggak punya perasaan sama Ethan. Aku menyayangimu. Cuma kau aja pria yang kusayangi,” tegas Chloe berusaha meyakinkan Black Aura.
Sayangnya, Black Aura ragu dengan perkataan Chloe. Sebenarnya, dia tidak ingin kepercayaannya dipermainkan. Disisi lain juga, dia tidak ingin menyakiti perasaan Chloe. Karena itulah, dia untuk kali ini memaafkan Chloe. Dia yakin, Chloe pasti bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Yah, setidaknya hanya pikiran itulah yang bisa Black Aura percayai.
__ADS_1
~
Aoi membaca koran yang ia temukan terkubur di dalam pasir pantai yang padat. Meskipun tulisannya pudar karena usia dan pasir yang lembab, Aoi masih bisa mengenali sedikit tulisan yang tertera di sana.
“Kira-kira, Koran ini bahas apa aja ya?” gumam Aoi sambil membuka lembar satu dan dua Koran tersebut. Sayang sekali, tidak ada satupun informasi yang bisa ia peroleh dari bahasa symbol tersebut. “Hm?” Aoi pun kembali berpikir. Sementara itu, Jacqueline yang baru selesai berenang di laut menghampiri pacarnya yang terlihat kebingungan. Tanpa pikir panjang, langsung saja dia tanyai masalah pacarnya tersebut.
“Mukamu kenapa?” tanya Jacqueline santai. Gadis itu main merampas handuk yang tergeletak di meja kecil tanpa meminta izin dari pemiliknya. Aoi yang melihat tingkah tak sopan Jacqueline hanya bisa geleng-geleng kepala. Pria itu memilih untuk diam selagi dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan handuk merah jambu itu.
“Nggak ada. Udah puas berenangnya?”
Jacqueline melirik lautan sejenak, kemudian kembali pada Aoi disertai dengan gelengan kepala singkat. “Belum. Ao, ayolah main! Nggak seru tahu Cuma berjemur doang sambil baca Koran!” cibir Jacqueline tak lama kemudian berbalik ke laut dan berenang bersama Okka.
Dari kejauhan, Aoi bisa menyimpulkan bahwa pacarnya ini mudah sekali berbaur dengan orang lain. Tidak seperti dirinya yang akan berbaur melalui perantara seseorang.
“Kau alergi laut beneran ya?”
“Astaga… Bikin kaget aja,” ujar Aoi sambil mengelus pelan dadanya. “Iya, kulitku agak sensitif sama air,” tambah Aoi beranjak bangun dari posisi duduknya. Kini, pandangan mereka berdua bertemu meskipun Aoi harus menundukkan wajahnya lantaran tingginya dengan Midnight berselisih 5cm.
“Ooh, mau snack? Aku bawa banyak nih! Sekalian ngobrol juga…” tawar Midnight.
“Boleh kok! Kebetulan sekali, aku masih punya banyak pertanyaan untukmu,” balas Aoi, tersenyum lebar.
“Ha? Jadi, wawancara kita sebulan yang lalu belum selesai ya?”
__ADS_1
“Iya. Habisnya waktu itu, kau kelihatan buru-buru sih. Sama… Aku mau nanya soal Emma dan benang merah itu. Juga rencanamu selanjutnya.”
Mendengar antusiasme Aoi terhadap rencana Midnight ke depannya membuat Midnight menghela nafas berat. Bukankah sudah dia katakan? Rencana yang akan datang nanti, Midnight tidak akan lagi melibatkan remaja-remaja itu. Bahkan jika mereka harus memaksa sampai mempermainkan perasaan Midnight. Bagaimanapun juga, keputusan Midnight sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
“Kau lupa ya? Rencanaku ke depannya, kalian udah nggak boleh ikutan lagi. Kau masih nggak kapok ya, ditusuk sama Grimoire?” tanya Midnight resah. “Kalau kau mati, siapa yang mau tanggung jawab?”
“Hmm…” Aoi bungkam. “Yah, maaf-maaf, kami naif waktu itu…”
“Haah… Intinya, jangan samakan hidup kalian dengan fiksi,” tegas Midnight setelah itu mengalihkan seluruh pandangannya ke laut. Benar-benar menenangkan. Tidak ada hewan apapun yang membelah lautan itu. Bahkan sirip hiu sekalipun.
Hah… Aku nggak yakin sama ritualnya…
“Mama…” panggil Silentwave dari belakang. Aura itu membawa amplop kecil yang Midnight yakini berisi kertas dengan rangkaian tulisan yang sudah dituliskan si pengirimnya. Walau Midnight tidak tahu siapa yang mengirimnya, yang jelas, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan surat itu.
“Surat? Dari siapa? Darimana kau mendapatkannya?”
“Nggak tahu. Aku menemukannya di kotak bekal mama,” jawab Silentwave seraya memberikan surat itu pada ibunya.
“Kotak bekalku? Yah, makananku jadi basi dong,” gumam Midnight malas. Wanita itu merobek kasar amplop itu. Benar saja, isinya kertas. “Sesekali dong, isinya uang.”
Midnight pun mulai membaca isi surat tersebut. Hanya sebuah pesan singkat, padat, dan jelas.
Perhatian kentang gorengnya!
__ADS_1
“Hah?” Midnight mengernyit tak mengerti. "Eh, sumpah! Yang ngirim pesan ini kayaknya ngajak baku hantam deh?!"
~