
“Chloe? Ada manusia yang mirip banget kayak Chloe pacarmu?” Jean mengulangi kalimat Megawave barusan.
Megawave mengangguk pelan. Akan tetapi, malah direspon dengan tawa masam dari Jean yang sama sekali tidak mempercayai omong kosong itu. Gadis itu sudah melewati masa-masa sulit dimana dirinya harus dipisahkan secara paksa dengan sahabatnya bernama Afra dan terjebak dalam hari-hari menyedihkan dimana dirinya mau tak mau harus merelakan kepergian Chloe. Chloe, pacar Megawave dan Afra merupakan satu-satunya sahabat yang mengerti dia. Selain Chariot dan Aoi, kedua gadis itu adalah teman curhatnya di kala Chariot tidak bersamanya.
“Jangan bercanda deh, Meg. Nggak lucu sumpah. Aku tahu kau sedih. Tapi, jangan sampai halusinasi juga,” balas Jean. “Dan bodohnya, kau malah bekerja sama dengan Midnight. Udah tahu mereka jahat sama kita…”
“Jean. Mereka sama sekali nggak jahat. Semua ini salah paham kita. Dunia Carnater ini memang tempat tinggal mereka. Jadi kurasa, wajar kenapa mereka kerap kali menyerang kita. Kau masih ingat tsunami yang Yui buat dan bebasnya arwah-arwah yang dibenci? Semua itu kalau bukan karena Megaville, kita nggak akan selamat. Aku sadar, pesta yang meriah dan bianglala di mana-mana itu juga ulah kita. Kau baru sadar kalau kehadiran Yui, Afra, dan Rini di dunia ini hanya akan menimbulkan bencana bagi dunia Carnater. Rupanya, kita selama ini hanyalah pendatang yang mengaku sebagai pahlawan. Kita juga nggak gitu beda dengan Legend Aura. Tapi nggak sampai melukai warga sipil,” ungkap Megawave.
Jean diam. Dia sama sekali belum mengetahui tiga fakta yang baru saja Megawave jelaskan itu.
“Jadi, sejak awal kita memang pengganggu? Jadi selama ini kita antagonist?”
“Ini bukan soal antagonist atau protagonist. Aku Cuma mau kita bekerja sama dengan Megaville itu. Midnight pernah bilang padaku kalau kita memang sudah diperbolehkan tinggal di dunia ini. Akan tetapi, kita juga harus mematuhi peraturan yang ada di dunia ini. Dan peraturan itu sudah dihapus oleh Afra. Masalahnya itu,” Megawave membuang nafas kasar. Megawave sebenarnya terkejut minta ampun setelah mengetahui tiga fakta yang selama ini wanita itu sembunyikan.
“Begitu ya? Tapi, kenyataan kalau pedang Black Aura itu sampai melenyapkan pacarmu… Bagaimanapun juga, mereka harus bertanggung jawab! Yang terlibat itu nyawanya Chloe! Selain itu, kita nggak tahu apa-apa tentang perang itu! Tahu-tahunya, kota kita sudah hancur dan semua warga sipil disini tewas! Lalu, sebagian dari kita mendadak menghilang! Chariot bertingkah aneh, Aoi berkeliaran membalas dendam, Asoka dan kelompoknya hilang kewarasan mereka!
“Bagaimana bisa kita mengurus dua hal itu? Melindungi dunia dan membantu Megaville! Memangnya kita bisa? Cukup lindungi saja dunia ini dari makhluk luar. Kita juga nggak ada sangkut pautnya dengan perang ini. Perang ini muncul karena masalah Megaville dengan Legend Aura itu kan? Sementara kita jadi korban! Kalau sejak awal semua masalah ini berasal dari Megaville, kita sebaiknya bunuh saja mereka! Aku… Aku nggak akan pernah memaafkan mereka karena telah melenyapkan Chloe. Bagaimanapun juga, mereka harus bertanggung jawab! Kalau mereka bisa membunuh, maka kita bisa!” tegas Jean yang sudah tak sanggup lagi menampung dendamnya.
Rasa kehilangan dan amarah itu mendominasi pikirannya. Keinginan untuk balas dendam itu timbul dengan sendiri. Padahal, bukan seperti itu sifat aslinya. Di mata Megawave, Jean adalah gadis yang pendiam namun tidak menutup kemungkinan dia itu gadis yang ramah. Dia pendengar dan penasihat yang baik. Siapapun betah bersamanya. Sayang, sejak perang di Carnater itu, Jean jadi terpengaruh oleh pemikiran negative. Apalagi waktu itu, secara kebetulan, dia menjadi saksi mata dimana dia melihat Black Aura mencabut pedangnya dari dada Chloe yang sudah tak lagi bernyawa.
Saat itulah, air matanya mengalir bersamaan dan mengering dengan cepat oleh panas yang berasal dari hujan bola api milik Dark Fire. Jean masih ingat tatapan datar dari Black Aura kala itu. Tidak ada sedikitpun raut duka di wajah Aura bermanik violet itu.
__ADS_1
Setelah mencabut pedangnya, Black Aura langsung membopong tubuh Chloe dan membaringkan gadis itu di atas taman yang berisikan puluhan bunga veronica yang terlihat segar meskipun situasi dan suhu disekitarnya berbanding terbalik dengan bunga tersebut.
Jean sadar bahwa keberadaannya yang lumayan jauh dari posisi Black Aura berdiri itu disadari cepat oleh Aura itu. Sontak, Jean berlari meninggalkan tempat tersebut seraya mengambil jalan memutar agar dirinya tidak bertemu dengan Black Aura langsung. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara marah, sedih, dan kehilangan itu beradu sengit hingga membuat air matanya pecah.
“Aku akan memaafkan mereka kalau Chloe bisa hidup lagi,” ucap Jean titik. “Nggak perlu pakai ritual. Mungkin, kita bisa membalas Megaville itu dengan ideku.”
Megawave memandang penuh tanda tanya kearah Jean yang memasang seringai jahat di wajahnya.
“Kalau ada kembarannya bahkan mirip sekalipun, kenapa nggak kita permainkan saja ingatannya? Bisa jadi, Chloe yang kau temui itu adalah reinkarnasi Chloe pacarmu bukan?”
~
Kenzo menoleh ke belakang mencari keberadaan Midnight karena omongannya tadi tidak ditanggapi cepat oleh wanita berkacamata bulat tersebut. Dia pun memanggil Midnight dengan nada malas.
“Midnight… Oi… Kau dimana? Kenapa nggak ngerespon pertanyaanku sih?”
Sama seperti tadi, masih tidak ada jawaban dari Midnight. Kenzo membuang nafasnya. Mengamati kolam terus menerus itu bukan hal yang menarik untuk ditonton. Menghibur saja tidak. Sebab itulah, Kenzo bangkit dan beranjak menuju kursi taman tempat Okka membaca buku. Selama di perjalanan tadi, Silentwave tidak sengaja menginjak buku dan Aura itu juga tidak sadar kalau kakinya itu telah menginjak jendela dunia.
Okka yang menyadari keberadaan buku tersebut, cepat-cepat menyelamatkannya. Hanya buku biasa dengan tulisan simbol yang tidak begitu ia pahami. Akan tetapi, setiap halamannya memiliki gambar. Gambar itu seenggaknya bisa membantu Okka memahami apa maksud cerita yang ditampilkan buku itu padanya.
Halaman pertama sampai kelima memperlihatkan lukisan seperti sketsa pensil. Tiga orang gadis dengan background yang berbeda-beda. Gambar pertama mirip dengan Lady Asoka. Di belakangnya terdapat banyak sekali tumpukan buku dan beberapa orang yang berjalan sempoyongan layaknya zombie. Gambar kedua, seorang gadis berambut ikal dengan background pesta dibelakangnya. Gambar terakhir, sebuah ombak besar layaknya tsunami dan seorang gadis berkopiah hitam. Rambut pirang dengan poni kanan yang panjang itu menutupi mata kanannya. Ditambah dengan kain seperti kain pengantin yang menutupi wajah mempelai wanita itu tumbuh di bawah kopiah hitamnya dan menutupi punggungnya sampai pinggang. Gadis dengan latar belakang tsunami itu memasang wajah tak senang. Seolah, gadis itu sedang menatap tidak suka dengan orang yang membuka halaman buku bagian dia muncul.
__ADS_1
Okka menelengkan kepalanya. Gambar di buku itu terasa nyata. Selain Lady Asoka, Okka dan Kenzo belum pernah sekalipun bertemu dengan gadis berambut merah ikal dan berkopiah hitam. Keberadaan mereka sampai saat ini masih misteri. Namun, ada beberapa bukti seperti genangan air yang dangkal tapi lebar di taman yang Kenzo temukan barusan serta taman bermain yang hancur itu. Okka rasa, kedua benda itu ada hubungannya dengan kedua gadis misterius tersebut.
“Apa ini… Buku sejarah Carnater yang asli? Tapi, siapa yang menulisnya?” gumam Okka sambil mengamati rupa buku yang tampak tua tersebut.
“Aku yang membuat buku itu.”
Suara seorang wanita muncul di belakang Okka. Okka terkejut dan otomatis menoleh ke belakang tempat dimana suara itu berasal. Rupanya Midnight.
“Di mana kau menemukan buku ini?” tanyanya langsung ke inti.
“Tadi di jalan. Btw, cewek rambut ikal ini siapa ya? Apa dia ada hubungannya dengan taman bermain yang hancur ini?” Kebetulan ada penulisnya, Okka tancap gas saja mengajukan pertanyaannya.
“Ada,” balas Midnight singkat karena dia sama sekali tidak tertarik membahas perempuan tersebut. “Omong-omong, kalian mau pulang ke dunia nyata kapan? Nggak mungkin kalian disini terus menerus. Kalian juga udah di cap sebagai buronan di tempat ini,” jelas Midnight datar. Wanita berkacamata bulat itu bangkit dari posisi duduknya setelah merasa puas melihat pemandangan taman yang kacau tak beraturan tersebut.
“Kau benar juga. Nggak ada tempat yang senyaman di rumah. Tapi, aku dan Kenzo nggak punya tempat untuk pulang disana,” ujar Okka sedih. Bersamaan dengan itu, rambutnya tertiup oleh angin yang berasal dari barat. Rambut coklatnya berkibar layaknya bendera dan itu mengingatkan Midnight pada sosok remaja yang hendak melenyapkan dirinya di bawah jembatan.
Midnight menelan salivanya susah payah, berusaha menjauhkan dirinya dari kenangan masa lalu yang sangat kelam. Memang yang dialami dan dirasakan dua youtuber itu 11/12 dengannya. Midnight juga tidak mungkin mencampuri urusan keluarga youtuber itu. Sehingga mau tidak mau, Midnight mengambil jalan tengah yang pada akhirnya, resiko itu berujung ke perasaan. Perasaan orang yang telah merugikan youtuber itu dan juga dendam.
“Kalian itu youtuber kan? Kalau penghasilan kalian bisa mencukupi kalian atau bahkan lebih, kalian bisa kan tinggal di apartemen atau kos? Kalau nggak bisa, kalian bisa tinggal di rumahku tapi ada banyak syarat yang harus kalian patuhi,” tegas Midnight.
~
__ADS_1