
Keesokan paginya…
Chloe asyik meng-scroll beberapa artikel yang terpampang jelas di layar ponselnya. Tidak ada artikel yang menarik hari ini. Karena itulah, gadis itu menghela nafas lelah.
Ngomong-ngomong soal artikel, Chloe jadi teringat artikel lama yang membahas kasus kecelakaan mobil yang menimpa abangnya dua tahun yang lalu. Kalau tidak salah saat itu, ada orang lain selain abangnya yang ikut tewas dalam kecelakaan tersebut. Dia seorang perempuan berusia 23 tahun.
Polisi menduga, kecelakaan tersebut terjadi akibat kelalaian sang pengemudi- perempuan berusia 23 tahun itu. Tidak diketahui apa hubungan perempuan itu dengan Lucas. Anehnya, keduanya terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Chloe yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memandang keramaian tersebut dari kejauhan. Sirine ambulan dan polisi bertebaran di mana-mana. Beberapa anggota medis meluncur, dengan sigap mendatangi jasad dua remaja yang telah tewas itu.
Chloe tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana luka yang dialami Lucas karena, hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh kain putih. Tangannya terkulai lemas, begitu pula tubuhnya.
Gadis itu hancur di tengah keramaian. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan kehilangan sosok yang sangat berharga dalam hidupnya begitu cepat. Sosok yang selalu menjadi obat di kala dirinya sedih dan kesepian. Sosok abang yang selalu menjadi pelindungnya dari segala kejahatan dunia luar, baik lingkungan maupun manusia yang menempati lingkungan itu sendiri.
Sebulan setelah kematian abangnya, dia menemukan sepucuk surat di dalam kotak posnya. Anehnya, surat tersebut tidak diketahui siapa pengirimnya.
Chloe tercengang ketika membuka dan membaca surat tersebut. Surat itu berisikan pernyataan seseorang yang meyakini bahwa kematian Lucas, abangnya bukan karena kecelakaan melainkan pembunuhan. Entah dengan alasan apa si pengirim menulis itu?
Sampai sekarang, Chloe masih ingat rentetan tulisan itu.
Abangmu sudah lama tewas sebelum kecelakaan itu terjadi.Tapi jangan khawatir, cepat atau lambat pembunuhnya pasti akan kutemukan.
Begitulah yang dituliskan pengirim misterius itu padanya. Itulah sebabnya, gadis yang terlihat polos dan cengeng ini memiliki dendam yang sangat kuat dan kental terhadap si pembunuh itu. Sampai sekarang, keberadaan pembunuh itu masih belum diketahui. Chloe juga belum mendapatkan surat baru dari si pengirim itu mengenai sampai dimana usahanya mencari si pembunuh.
BRAK!
Chloe tersentak kaget mendengar suara meja yang ditepuk keras oleh seseorang.
"Astaga... Jacqueline! Bikin kaget saja.” seru Chloe setengah membentak Jacqueline.
“Cih! Makanya, jangan melamun terus, dong! Entar dirasuki Devil Mask baru tahu rasa!” balas Jacqueline setelah itu tertawa terbahak-bahak.
Chloe mendengus geli, "Halah!"
“Hei, kalian! Sarapan dulu sebelum berpetualang!” seru Rara sambil menyiapkan beberapa menu sarapan di atas meja.
“Sandwich…” gumam Chloe yang terlihat bingung.
“Hmm? Kenapa? Nggak suka sandwich, ya?” tanya Rara.
Chloe menggeleng cepat. “Bu-bukan…”
“Oh, maaf ya! Tanpa sadar, aku membuat sarapan yang biasanya kubuat bersama Minji tanpa memberitahu kalian.”
“Nggak apa-apa… Sesekali kami memakan sarapan yang berbeda. Ya, kan, Chloe?” tanya Jacqueline seolah ingin menarik Chloe untuk menghargai sarapan yang telah dibuat Rara.
Sebetulnya, Jacqueline tahu bahwa Chloe masih belum nyaman dengan kebiasaan Minji yang sudah melekat pada Rara. Meskipun begitu, Rara sudah menyiapkan sarapan dan bagaimanapun juga harus dihabiskan.
Chloe menghela nafas berat kemudian, mengangguk. “I-iya. Sandwich juga makanan orang Amerika. Jadi, tidak masalah, kok.” Balas Chloe ala kadarnya.
Untunglah, Rara tidak lagi terlihat murung. Gadis itu dengan ringan menari-nari di dapur. Tangan kanannya menggenggam kotak susu yang ia ambil dari kulkas. Lalu, menuangkan beberapa liter susu coklat itu ke dalam gelas kaca. Chloe dan Jacqueline hanya memperhatikan gerakan manis Rara. Chloe akui, sifat Rara mirip sekali dengan ibu rumah tangga. Senyumannya juga. Jika dia menyunggingkan senyuman, orang manapun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati.
Sahabatnya ini orang yang ramah, humoris, dan peduli. Rara juga ahli dalam ilmu beladiri. Salah satunya taekwondo. Bagi Chloe, Rara adalah gadis paling sempurna yang pernah ia lihat. Menurutnya, akan menjadi kesalahan terbesar jika gadis itu mengatakan iri pada dirinya yang tidak sesempurna itu.
“Yang lain mana?” celetuk Jacqueline yang menyadari dapur milik Chloe yang begitu hening.
“Sebentar, akan kupanggilkan mereka.” Ujar Chloe beranjak dari kursi, lalu menuruni tangga.
Pertama, dia menghampiri kamar Black Aura. Kamar Aura itu terletak paling dekat dengan dapur. Makanya, Chloe tidak perlu repot-repot berteriak seperti yang dilakukan Jacqueline ketika membangunkan Devil Mask dan Yumi. Agak lucu saja melihat makhluk fantasi seperti mereka bisa tertidur lelap layaknya manusia pada umumnya.
“Black Aura… Bangun! Ayo, sarapan!” seru Chloe disertai ketukan pintu ringan. Ngomong-ngomong soal mengetuk pintu, Chloe jadi teringat adegan film romantis yang pernah ia tonton bersama Jacqueline. Adegan yang memperlihatkan seorang wanita yang menyandang status sebagai seorang ibu, tengah mengetuk pintu kamar anaknya yang masih terlelap. Mengingat saat itu adalah hari senin, wanita itu tidak ingin anak laki-lakinya melewati tiga menit waktu terpentingnya sebelumnya sekolah. Yaitu, sarapan.
Ketukan yang dilayangkan ibu itu benar-benar halus seperti kasih sayangnya yang tak akan pernah pudar melawan arus waktu.
__ADS_1
Chloe terdiam. Tangan kanannya terkulai lemas. Membayangkan bagaimana dirinya di masa depan nanti? Chloe merasa, masa depannya masih semu sama seperti mimpi. Pintu di depannya membuatnya berpikir, apa yang akan terjadi ke depannya jika Black Aura membukakan pintu tersebut. Jujur saja, ada hal yang Chloe takutkan. Tapi untuk saat ini, dia tidak ingin memikirkannya.
Cklek…
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan raut terkejut Black Aura. “Chloe?”
“Ayo, sarapan!” ajak Chloe tersenyum hangat.
Black Aura mengangguk patuh. Dia menutup pintu dan berjalan menuju dapur bersama Chloe. Seperti biasanya, wajahnya terlihat datar.
Sambil berjalan, Black Aura bertanya. “Kapan kita mencari Aoi?”
“Setelah sarapan. Tapi, sebelum mencari Aoi, kita harus ke rumah Minji untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar mengunci diri di rumah atau tidak.” Chloe menghembuskan nafas setelah membahas Minji. Masih berat rasanya tapi, dia tidak punya pilihan.
“Gimana kalau kita buat dua kelompok? Kelompok pertama mencari Aoi dan Minji. Kelompok dua mencari Midnight. Bagaimana menurutmu?”
“Sebaiknya kau tanya saat kita semua berkumpul. Saat ini, pikiranku rumit dan penuh. Haahh… Aku rindu dengan Aoi entah kenapa.”
Black Aura terdiam sejenak. Sejak kehadiran Rara semalam, Chloe terlihat berbeda. Gadis itu terlihat kaku. Baik dalam mengekspresikan wajahnya maupun tindakannya. Mungkin, karena Minji yang ikut terlibat juga.
“Jangan anggap aku nggak ada dong.” Ucap Black Aura yang dengan cepat membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Aku ada di sini. Kalau kau ingin bercerita, kau bisa mengandalkanku. Aku senang kalau kau berbicara denganku.” lanjutnya datar.
“Ah, benar juga ya! Maaf, terkadang pikiranku nggak jelas. Yah, gimana ya? Aku itu…” Chloe memejamkan matanya seperti ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya. Secepatnya, Chloe segera berterus terang agar sesuatu yang menjanggal itu tidak terlupakan karena arus waktu.
“Black Aura!” panggilnya dengan menutup kedua matanya.
“Ya?”
“Kau suka aku, kan?”
Saat mendengar pertanyaan itu, Black Aura tersedak. “Oi, oi... Kenapa kau menanyakan itu?” tanyanya sambil terbatuk-batuk.
“I-itu karena… Iss! Jawab dulu pertanyaanku!” paksa Chloe yang sudah tak kuat menahan rona merah yang semakin membara, baik di wajahnya maupun dadanya.
Black Aura menghela nafas lalu, tersenyum. “Maaf ya… Pertanyaanmu terlalu sulit untuk kujawab. Kalau kau ingin mengetahui jawabanku, aku minta, kau jangan pernah berhenti tersenyum.”
“Loh? Kenapa begitu?” Chloe menelengkan kepalanya.
Aura itu tersenyum, “Ayo, makan!” ajaknya mengalihkan perhatian.
“Oi! Jangan gitu, dong!”
Sambil melangkah meninggalkan Chloe, senyuman jahil terukir di wajahnya. Diam-diam, Black Aura menertawakan gadis yang tengah diselimuti rasa penasaran akibat perbuatannya menanyakan pertanyaan bodohnya pada Black Aura.
~
Minji bersandar di dinding teras rumahnya sambil menunggu seseorang yang hendak menjemputnya. Outfit yang ia kenakan hari ini membuatnya terlihat seperti gadis introvert yang baru saja dipertemukan dengan dunia luar. Ya, Minji mengenakan oversized hoodie hitam, celana jins panjang dan topi. Dia juga mengenakan kacamata hitam agar wajahnya tidak mudah dikenal oleh siapapun.
Dari arah barat, telinganya merespon suara deru mesin motor. Dia melirik sekilas dan menemukan sosok gadis yang tengah duduk di motor tanpa melepaskan helm-nya.
Entah malu atau karena dia malas berbicara, gadis itu menyuruh Minji untuk menghampirinya menggunakan isyarat tangannya. Dengan patuh, Minji menuruti isyarat tersebut.
“Kau gadis yang mengganggu Yuuki kemarin, kan?” tanyanya membuat Minji jengkel.
“Ya. Kenapa?”
“Nggak ada. Cuma memastikan saja, takutnya salah alamat.” Ujarnya sambil menyerah helm satu lagi pada Minji. Gadis yang mengenakan helm itu melirik ke sekitarnya. Memerikasa apakah ada orang lain yang mengamatinya dari jauh.
“Kau sendirian, kan?” tanya gadis itu.
“Ya.” Jawab Minji sekadarnya. Dia terlihat tidak bersemangat pagi ini. Wajahnya masih terlihat pucat tapi, jejak air mata semalam sudah menghilang dari wajahnya. Setelah melewati malam dengan penyesalan, Minji membulatkan tekadnya untuk berani menerima kesalahannya. Meskipun, dia tidak begitu yakin dengan pilihannya semalam saat bersama Yuuki.
__ADS_1
“Oh, ya! Namaku Emma.” Gadis itu menggeser kaca helm-nya ke atas dan memperlihatkan kedua matanya yang indah itu.
Oh, dia orang sini, toh. Batin Minji. Kemudian, dia memperkenalkan dirinya.
“Namaku Park Minji.”
“Orang korea yang kuliah di sini, ya? Ngomong-ngomong, apa kau mengkhawatirkan kekasihmu?” kali ini, gadis bernama Emma itu mengalihkan topic pembicaraannya.
“Kau tahu Yohan?” Minji menatap sinis setelah memakai helm yang dipinjamkan Emma.
“Ini berita bagus untukmu.” Katanya.
“Apa maksudmu?”
“Cih, aku nggak berbohong. Mulai hari ini, kau dan Yohan…”
Minji terbelalak kemudian, menunduk. Dia menggigit ujung bibirnya sambil menahan kekesalannya.
Di samping itu, dia berusaha memperingatkan dirinya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama di depan gadis benama Emma ini.
~
Setelah menghabiskan sarapan, Chloe, Jacqueline, Rara, dan ketiga Aura itu berdiskusi mengenai rencana mereka hari ini. Black Aura mengusulkan untuk membagikan dua kelompok untuk mencari orang-orang yang mereka cari secara terpisah.
Devil Mask juga mengatakan, akan sangat merepotkan jika mereka berenam berkumpul di satu tempat. Andai saja mereka terkena jebakan musuh, sulit bagi mereka mencari jalan keluar. Mengingat, lawan mereka kali ini sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
Kelompok pertama terdiri dari Chloe, Black Aura, dan Rara. Mereka bertiga mencari Midnight dan Minji. Sisanya kelompok dua yang mencari Aoi.
Di depan rumah Chloe, kelompok dua bergerak lebih dulu meninggalkan kelompok pertama. Chloe dan Rara terlihat berdiskusi dengan tenang. Dengan Black Aura yang berdiri di belakang Chloe, memperhatikan perdebatan yang untungnya berjalan dengan baik tanpa adanya cekcok dari kedua gadis itu.
Sesuai yang dikatakan Rara di dapur sebelumnya, gadis itu meminta mereka untuk menghampiri rumahnya dan menemui Minji. Memastikan apakah Minji benar-benar mengunci diri di dalam rumah atau tidak.
“Pintunya sepertinya dikunci.” Gumam Rara mengkerutkan keningnya setelah berusaha membuka pintu rumah Minji namun pintu tersebut sepertinya dikunci dari dalam oleh kakaknya. Sebelumnya, Rara sudah memanggil nama kakaknya berulang kali namun tidak ada jawaban.
“Coba kau telpon lagi? Mana tahu dia mengangkatnya?” usul Chloe.
“Baiklah…” Rara menuruti cepat usulan Chloe dan segera menghubungi kakaknya.
Karena malas menunggu, Black Aura main mendobrak pintunya dan akhirnya, pintu tersebut berhasil terbuka lebar.
Betapa terkejutnya mereka mendapati kondisi ruang tamu yang kacau. Disana, terlihat beberapa jebakan tikus yang berceceran. Lalu, cairan berwarna kuning yang membasahi lantai ruang tamu tersebut dan benang yang diikatka di bawah kaki meja dan kursi.
Chloe langsung menebak bahwa, semua perangkap ini adalah hasil dari perbuatan Minji sebagai antisipasi apabila ada penyusup atau maling masuk ke dalam rumahnya. Dengan hati-hati, ketiga remaja itu menyelinap masuk.
“Cairan ini… Wangi karbol?” Chloe memandang heran pada cairan berwarna kuning itu. Dia kira, cairan itu sejenis… Yah, begitulah… Tidak perlu dijelaskan pasti sudah tahu,
“Minji selalu memasang jebakan sebelum pergi. Di dalam rumahnya, ada banyak sekali dokumen penting yang ayahnya simpan. Aku tidak pernah membukanya.” Tutur Rara.
Kali ini, mereka bertiga menaiki beberapa anak tangga setelah berjuang susah payah melewati jebakan Minji.
Lorong di lantai dua terlihat sangat menyeramkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Karena ketakutan, kedua gadis itu menyuruh Black Aura untuk berjalan di depan mereka.
“Cih, kau yang punya rumah!” gerutu Black Aura.
“Maaf-maaf… Sebentar lagi kita sampai kok.” Ujar Rara dengan senyuman kaku seakan ingin meminta maaf pada Black Aura sekaligus berterima kasih telah melindungi mereka dari kegelapan.
Akhirnya, sampailah mereka di depan pintu yang menghubungkan mereka dengan kamar Minji. Pintu setinggi dua setengah meter itu tertutup rapat hingga membuatnya terlihat seperti kamar berhantu.
“Bukalah…” bisik Chloe.
Rara mengangguk pelan. Setelah menarik nafas, gadis itu menggenggam gagang pintu tersebut. Merasa detak jantungnya membaik, Rara membuka pintu tersebut.
Pintu itu kini terbuka lebar. Serempak, mereka bertiga terkejut mengetahui isi ruangan tersebut.
__ADS_1
~